Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Rasanya Jadi Ibu 2 Anak

Assalamu'alaikum...

Sepanjang proses menjadi ibu bagi dua orang jagoan kecil, aku mengalami roller coaster berbagai macam perasaan. Antara bahagia dan baper datang silih berganti.


Dari yang awalnya merasa ingin kasih adik buat mas Z, sampai perasaan 'kasihan ya mas Z masih kecil perhatiannya harus terbagi'. Ini dia timeline perjalanan perasaanku sebagai seorang ibu*. Juga di akhir nanti ada tips abal-abal dariku supaya nggak ada sibling rivalry antara mas Z dan adiknya.

*nggak semua ibu pasti merasa apa yang kurasakan yaaa

Sebelum Hamil Adiknya Mas Z: Berharap

Dari mulai datangnya haid pertama saat Z berusia 13 bulan (oh ya, mungkin karena efek memberi ASI, haid ku datangnya lama banget, baru datang 13 bulan pasca melahirkan), aku dan suami sudah memutuskan nggak pakai KB-KB-an. Toh dulu mas Z juga didapatkan dengan perjuangan program hamil. Takut kualat kalau pakai KB malah susah hamil lagi.

Ke Jepang sama Z, Oktober 2017... sebulan sebelum positif hamil.

Kami pun penasaran, sepertinya asik juga kalau mas Z ada adiknya. Beberapa kali mencoba test pack, belum hamil-hamil juga. Strip satu terus. Sabar ya mas Z, belum rejekimu mendapat adik... Padahal kami pengen memberi teman untuk Z.

Saat Tahu Hamil Adiknya Z: Bahagia dan Baper

Alhamdulillah! Ternyata ada rejeki juga mas Z bisa punya adik! Kala itu mas Z sudah 2 tahun, sedang proses toilet training dan sapih.

Perut mulai membuncit, saatnya memberi tahu Z kalau dia akan mempunyai adik. Karena berharap nggak akan terjadi sibling rivalry, aku tetap membiarkan Z gentle weaning, nggak serta merta stop ASI walaupun hamil. Ada kecemasan, kalau tiba-tiba distop menyusui dengan alasan "kasihan adeknya di perut" seperti yang dibilang banyak orang, nanti Z malah sebal dengan calon adiknya.

Baca: Drama ASI Part 4 - Proses Gentle Weaning

Saat hamil itu, entah mengapa sepertinya Z jadi lebih ngalem. Makan yang dulunya sudah bisa sendiri, kini maunya disuapi. Kalau tidur, maunya sambil peluk ibu. Pasca sapih, ritual tidur malam harus didongengin ibu, peluk-peluk dan cium ibu. Kalau tengah malam terbangun, maunya kembali peluk ibu lagi.

Kedekatanku dan Z saat hamil, ternyata membuatku baper. Seringkali perasaan sedih muncul. Terbayang gimana nanti ya kalau sudah ada adiknya? Sempatkah kami berpelukan tiap malam? Atau aku akan sibuk menyusui adiknya? Nggak terasa tiap kali mikirin Z, air mata pun menetes. Huks... kasihan Z, umurnya masih 2 tahun sudah harus belajar berbagi ibunya.

Lewat DM di Instagram, banyak ibu-ibu yang memberi semangat. Bahwa kalau ada 2 anak, kasih sayang ibu bukannya dibagi 2, tapi DIKALI 2. Aku sedikit terhibur. Tapi lalu baper lagi. Iya kasih sayangnya dikali 2, tapi perhatiannya tetap dibagi 2 kan? Huhuhuuuu...

Ada pula DM dari beberapa ibu dengan 2 anak, yang bercerita betapa sulit transisi saat adik lahir. Ada yang anak pertamanya merasa sedih karena bundanya kini selalu tidur hadap adik (karena menyusui), bahkan ada yang anak pertamanya kabur ke rumah nenek sambil bilang, "Ayah dan ibu sudah nggak sayang lagi sama aku..." Ya Allah...

Semua akan berubah dengan adanya anggota keluarga baru.

Saat Adiknya Lahir... Minggu Pertama: Berat

Minggu pertama merupakan masa terberat. Selain kondisi fisik ibu yang terasa babak belur (apalagi aku ada problem pelvic pain yang luar biasa sakit) dan emosional belum stabil, Z pun mulai harus beradaptasi dengan adik barunya.

Setelah Z terpaksa dipisah dengan ibu saat di menginap RS, Z jadi agak pendiam. Saat adik sudah di rumah, kakung membantu jemur adik di lantai 2 rumah kami, karena sinar matahari bisa masuk ke lantai atas. Lalu kakung menggendong adik turun. Mas Z yang melihat, langsung minta gendong kakung juga. Mulai cemburu sama adiknya :)

Malam hari, ketika mau tidur, Z merasa sedih karena ada adik di sebelah ibu. "Ibu bobok mana? Di deket adek?" Lalu ia menangis meraung-raung. Bapake langsung mengambil adek, menggendongnya keluar kamar. Memberi kesempatan ibu untuk hanya mengeloni mas Z.

Dalam hati, rasanya seperti patah hati.

Namun keesokan paginya, saat bangun mas Z langsung merangkak menuju adiknya. Ibu memperhatikan, penasaran Z mau ngapain. Lalu Z tiduran di sebelah adik sambil pegang tangan adik. Ibu bersyukur sekali, drama tadi malam mas Z cemburu sama adik nggak berlanjut.

Oiya, pernah sedih juga saat naik mobil bersama-sama, aku memangku adik, dan Z menolak keras duduk di car seat. Z menggelendot di sampingku. Diam-diam aku mbrebes mili. Rasanya seperti mengkhianati Z dengan memangku adik, bukan Z lagi...

Setelah Adik Lahir... Minggu Kedua: Beradaptasi

Di akhir minggu kedua, kehidupan seperti mulai tertata kembali. Walau ada kejadian ditinggal ART dadakan pulang kampung, namun rasanya semua dapat diatasi. Adik yang masih sering tidur, membantu ibu bisa menemani Z main. Badan ibu yang mulai pulih, membantu ibu untuk kembali melakukan rutinitas menemani Z jalan-jalan bersepeda pagi / sore. Yah meski menemani Z membuat badan ibu terasa remuk redam di malam harinya. Tapi dengan itu, mood Z kembali membaik dan nggak selalu uring-uringan di rumah.

Z naik sepeda, adik bobo di stroller...
Sayangnya, per minggu kedua ini, Z nggak mau kemanapun tanpa ada ibunya. Padahal dulu sudah sering diajak pergi sama eyangnya, sama pakde budenya, sekarang kalo ada yang ngajak pergi dia tanya, "Ibu ikut?"

Z mulai posesif sama ibu, sepertinya dia trauma dengan kejadian terpaksa dititipkan dan diinapkan di rumah ipar dan mertua waktu lahiran adik.

Setelah Minggu Keempat: Bahagia dan Banyak-banyak Sabar :P

Saat adik berusia sebulanan, Z sudah mulai sayaaaang banget sama adiknya (apalagi saat umur 2 bulan). Hasrat uyel-uyel adik makin tinggi. Pipi adik ditowel-towel, dicium-cium. Ibu senang sih... tapiiii itu adik jadi kebangun terus dari tidurnya, hahaha. Itulah kenapa harus banyak-banyak sabar.



Saat ini rasa 'kasihan Z mau punya adik' yang muncul saat hamil, sudah hilang... Malah ibu jadi suka ngomelin Z karena tingkahnya aneh-aneh. Lompat-lompat di kasur padahal ada adik tidur. Tiba-tiba minta mimik ibu lagi (tentu nggak kuturuti, ngga mau tandem huhuhuuuu). Atau saat ibu mimikin adek, Z minta pipis atau pup. Atau saat lagi khusyuk ganti popok penuh pup, Z minta ibu ambilin susu ultra mimi padahal Z bisa ambil sendiri. Waduuuu stok sabar ibu kudu dibanyakin deh.

Kadang kalau melihat Z, ibu pikir dia sudah besar. Ibu berharap Z bisa 'dewasa'.

Padahal Z itu belum 3 tahun lho bu!

Waktu ke mall sama kakung uti, adik dititipkan ke kakung uti sementara ibu menemani Z ke toilet. Sambil bergandengan tangan, Z melompat-lompat riang dan tertawa sama ibu. Ibu pun diselimuti perasaan haru lagi. Ya Allah, kadang ibu 'lupa' kalau Z ini juga masih kecil. Masih butuh banget perhatian ibu.

Betul saran dari banyak orang, tetap luangkanlah waktu untuk ibu me time sama kakak! Meski yaaaa kadang malah kakaknya nggak mau kalo nggak sama adik :D

Yang Aku dan Suami Lakukan Supaya Nggak Terjadi Sibling Rivalry

Sekarang, bersyukur banget Z sudah sayang sama adik. Belum ada rebut-rebutan mainan karena adik masih kecil banget hehehe. Tapi ini beberapa hal yang aku dan suami lakukan untuk meminimalisir rasa cemburu Z pada adiknya.

  1. Sejak hamil nggak pernah menjadikan "adik" sebagai alasan saat melarang Z melakukan sesuatu. Misalnya, "ibu nggak bisa gendong, kasihan adiknya di perut" atau "Z jangan nenen lagi, kasihan adiknya". Tapi gunakan kalimat seperti, "Perut ibu makin besar dan berat, sekarang sudah mulai nggak kuat gendong Z... kalau gendong, ibu bisa sakit trus masuk rumah sakit, nanti nggak ada yang temani Z tidur..."
  2. Kerjasama dengan suami saat jam tidur malam tiba. Misalnya saat ibu butuh mengeloni Z, bapake gendong adik. Perlahan mulai dibiasakan ritual tidur sambil ada adik. Misal tetap mendongeng untuk Z sambil menyusui adik.
  3. Menyiapkan kado-kadoan untuk Z, agar dia nggak merasa 'kenapa banyak kado buat adik tapi buat aku nggak ada?'
  4. Mengarahkan Z memberi izin baju dan mainannya kelak dipakai adik. "Z, baju Z yang ini udah kekecilan. Nanti dipinjemin ke adik ya?"
  5. Menceritakan betapa senangnya punya adik, yang masih kecil belum bisa ngapa-ngapain, kalau sudah besar bisa jadi teman main. Bisa melalui dongeng ngarang sendiri, atau pas kebetulan lihat lagu di youtube (ada versi little baby bum) tentang seorang anak mau punya adik. Memberi contoh tetangga yang anaknya lebih dari 1, wah senang ya ada temannya.
Pokoknya tetap berusaha adil dan jaga perasaan si kakak deh :)

Sore ini, sambil cium-cium adik, Z bilang ke ibu,
"Bu, Z sayang sama adek..."

Aih, ibu meleleh nak...

Selasa, 04 September 2018

Kisah Kelahiran Adik Z

Assalamu'alaikum, dear blog...
Tanggal 14 Juli jadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku. Hari ketika adik lahir, dan aku resmi jadi ibu-ibu (tadinya ibu aja :p kalo anak 3 ibu-ibu-ibu yaaa hahaha jayusss). Beginilah ceritanya...



13 Juli 2018
Setelah berminggu-minggu mengalami kontraksi harapan palsu, hari Jumat itu rasa kontraksinya mulai agak melilit. Tapi masih nggak teratur waktunya. Padahal tanda-tanda sudah dekat melahirkan 'kan apabila jeda kontraksi mencapai 5 menit sekali dan terjadi selama 1 jam ya. Kontraksiku kadang mencapai 6 menit sekali, lalu hilang dan muncul lagi 1 jam kemudian.

Tapi suami dan aku punya feeling, ini jangan-jangan udah dekat waktunya. Besok agenda kita kudu santai, jaga-jaga kalo ada 'kejadian' besok. Mertua sempat minta diantarkan ke halal bihalal keluarga hari Sabtu, namun ditolak secara halus oleh suami, karena takutnya harus siaga.

14 Juli 2018
Benar saja ada kejadian! Jam 7 pagi saat berdiri dari kasur, terasa ada aliran tapi bukan pecah ketuban. Saat dicek, oalah ada (maaf) lendir darah segar. My mucous plug! Aku langsung mandi pagi dan diskusi sama suami, mending langsung ke RS atau tunggu kontraksi makin intens. Sambil browsing apa yang harus dilakukan saat terjadi hal seperti ini, diputuskan kami ke RS karena darah tetap mengalir (pakai pembalut nifas donk - untung sudah disiapkan).

Kekhawatiran pertama adalah: gimana dengan Z? Kami nggak pengen bawa Z ke UGD RS. Sementara dia ga mungkin mau ditinggal dengan bibik yang baru kerja belum sebulan di rumah. Dan mertuaku sedang jadi panitia halal bihalal keluarga, kami nggak mau bikin panik.

Alhamdulillah kejadian ini di hari Sabtu, adikku sedang menginap di rumah. Kami titipkan Z pada adikku. Z diajak keliling naik motor, sementara aku dan suami ke RS.

Sebelum ke RS kami sempat mampir McD dulu untuk beli sarapan. Burger McD adalah ngidam terakhirku hahahaha. Kami juga kan harus ada energi buat menghadapi hari yang nggak terduga ini.

Kalau mau melahirkan di RS Antam Medika, apabila obgyn sedang praktek, kami harus ke ruang praktek dulu. Namun bila nggak ada praktek, kami harus menuju UGD untuk dicek bidan. Karena itu hari Sabtu, kami pun ke UGD.

Cek tekanan darah oleh dokter jaga, lalu cek posisi bayi, pembukaan, dan cek kontraksi oleh bidan. Ternyata sudah bukaan 2. Bidan konsultasi via telpon dengan obgynku dr. Susanti, dan aku diminta rawat inap.

Alhamdulillah nyaman banget di RS Antam ini. Sekitar pukul 10.30 siang kamar rawat inap sudah siap. Akupun masuk kamar untuk beristirahat sambil menunggu kontraksi makin intens. Suami pulang ke rumah untuk belanja berbagai kebutuhan (beli sabun mandi, cemilan, minuman kotak untuk persediaan di RS), memandikan Z, dan menyiapkan baju-baju Z untuk menginap di eyangnya nanti malam (salah ibu nih, cuma menyiapkan tas ibu ke RS tapi nggak siapkan baju Z).

Sendirian di kamar RS nggak bisa tidur, coba-coba gerakan yoga untuk merangsang bayi turun ke panggul agar lebih cepat lahiran. Berhubung ngga bawa yoga mat jadi di sofa aja.

Z dijemput oleh ipar agar bisa bermain dengan sepupunya. Mbak ipar (doula Windy) sempat datang ke kamarku di Antam, ngajarin berbagai gerakan yoga dan rebozo agar perut terasa lebih nyaman. Kata ipar, berhubung aku masih cerewet dan masih napsu makan berarti lahirannya masih lama wkwkwk.

Lalu ipar meninggalkanku untuk mengajak Z ke mall (dari tadi Z hanya di luar RS bersama sepupunya, Z lihat air mancur dan disuapin makan siang oleh pak suami). Melalui foto-foto di whatsapp keluarga, Z pun tampak senang main di mall. Namun jujur di RS itu aku mellow banget mikirin Z. Bisa gak ya Z melalui malam ini tanpa ibunya? Dia kan belum pernah semalam pun nggak sama ibuk. Lalu gimana perasaan Z nanti ketika bertemu lagi dengan ibuk, eh udah ada adeknya. Pokoknya mellow banget lah berasa kasihan sama Z.

Jam 1.30 siang cek pembukaan, masih pembukaan 2 menuju 3. Kepala bayi sudah lebih turun. Yah lumayan lah ada kemajuan dikit. Oiya siang itu napsu makanku menggila, makanan RS 1 tray habis ludes padahal porsinya banyak banget.

Jam 4 rasa mules makin melilit. Tapi masih bisa ditahan. Mertua yang baru pulang dari halal bihalal bingung, kok aku masih bisa cengengesan.

Namun menjelang jam 5 mukaku sudah makin kecut. Kontraksi sudah mulai datang hampir 5 menit sekali. Tiap aku ke kamar mandi, aku minta ditemani suami, karena saat 'gelombang' tiba-tiba datang, duh berdiri pun ngga sanggup, sakitnya bikin pengen nangis.

Cek bukaan jam 5 sore, oh sudah bukaan 5. Bidan bilang, setelah ini prosesnya bisa sangat cepat. Kalau sudah nggak tahan, aku diminta ke ruang melahirkan di seberang ruang rawat inap. Sebaiknya sebelum nggak tertahankan sih, agar masih kuat jalan ke ruangan tersebut.

Jam 6 sore, azan maghrib berkumandang. Makin sakit ya Allah. Aku bergegas solat sambil duduk, pak suami pun segera solat. Lalu kami berjalan ke ruang melahirkan.

Pukul 6.30 malam. Bukaan 6. Tiap kontraksi datang, aku pengen menjerit tapi gak boleh. Ingat napas. Ingat napas. Simpan energi. Sempat nangis kesakitan lalu nyesal karena hidung jadi ingusan bikin susah napas hahaha. Bidan-bidan yang baik membantu pijat punggungku tiap kontraksi datang.

Pukul 7 malam. Keringat membanjiri tubuh, sensasinya luar biasa. Istirahat dari gelombang kontraksi hanya bisa sekitar 1-2 menit, lalu ia datang lagi. Pembukaan pun berjalan makin cepat. Bukaan 7, bukaan 8...
Sampai pukul 7.30 tiba-tiba sudah bukaan 9. Aku menjerit, "Aduuuhhh ga tahan pengen ngedeeeen!!!!" Dan obgynku dokter Susanti tiba-tiba sudah masuk ruangan.

"Kalo mau ngeden sudah boleh nih mbak..." kata bu dokter.

Aku pun dipandu bidan untuk tarik napas dan ngeden. Rasanya seperti percaya ga percaya percaya, oh... sudah tiba waktunya ya?

Sepertinya ada 3x kali mengejan sekuat tenaga, bayipun mbrojol! Bapak suami menangis bahagia, "Alhamdulillaah..."

Permintaan kami untuk delay cord clamping dipenuhi obgyn, hingga tali pusat berhenti berdenyut. Sayang permintaan IMD agak missed karena DSA pro ASI yang diincar, nggak bisa hadir Sabtu malam itu. Dokter jaga yang menggantikan mungkin kurang paham prosedur IMD, sehingga nggak langsung meletakkan adik di dada ibu setelah lahir. Adik dibersihkan dulu, diukur badan dan prosedur-prosedur lain. Setelah bersih baru adik diletakkan di dada hanya selama beberapa menit lalu diambil lagi 'agar gak kedinginan'. Tapi waktu itu aku sudah lemas sekali, jadinya ya udah deh ya... nanti lagi belajar menyusuinya kalo sudah di kamar.



Oiya saat adik diletakkan di dada itu, obgyn menjahit bagian bawahku yang terobek saat mengejan tadi. Nggak pakai episiotomi seperti saat kakak Z dulu, tapi terobek juga...

Jam 9.30 malam aku dan bayi masuk ke kamar untuk beristirahat. Ternyata aku mengalami pelvic pain yang sangat menyakitkan, mungkin gara-gara posisi mengangkang saat lahiran tadi membuat engsel panggulku bergeser (lagipula ada kan namanya hormon relaxin yang membuat otot panggul lebih meregang agar mudah melahirkan). Gara-gara pelvic pain ini aku nggak bisa jalan, dan sakit sekali membuka tutup otot pahaku.

Saat hendak menyusui adik, aku sampai harus dibantu suami mengambilkan adik untuk diletakkan di pangkuanku karena aku nggak bisa mengambil adik di kasur bayinya, meski kasur adik tepat di sebelah kasurku. Untuk berguling hadap kanan kiri saja selangkangan dan panggulku sakit luar biasa. Huhuhu. Alhamdulillah ada pak suami yang selalu siaga.

Malam itu, kakak Z menginap di rumah kakak ipar, kecapekan habis main ke mall sama sepupunya.

Hari kedua di RS
Pagi hari, saat obgyn visite, beliau bilang, "Ibu kalau sudah mau pulang dari RS boleh lho..."

Whatttt??? Nyantai banget nih obgyn hahaha. Tapi karena pelvic pain ku sakit sekali, kuutarakan aku lebih baik di RS dulu. Lalu obgyn pun bilang, coba besok ke fisioterapi saja (karena Minggu tidak ada praktik fisioterapi), hari ini kembali rawat inap sambil tunggu visite DSA.

DSA pun datang, dan memberi banyak wejangan soal perawatan bayi. Beliau sangat pro ASI, dan menasihatiku nggak usah kuatir kuning meski golongan darahku berbeda dengan adik (yang penting rhesus-ku bukan rhesus negatif). "Ibu fokus aja ke naikin BB bayi ya! Susui sampai payudara kosong!"

Siangnya kakak Z datang bersama mertua dan ipar. Kupikir Z bakal lari memelukku atau heboh bertemu ibunya lagi. Namun ternyata ia malah diam aja seperti jaga jarak. Terasa ada yang berbeda, hiks. Mungkin dia juga sedang meredam perasaannya yang tiba-tiba punya adik baru dan bapak ibunya di RS.

Drama juga ketika Z diajak pulang oleh eyang-eyangnya. Ia nggak mau pulang. Mau sama ibu, katanya. Lalu sama suami diajak ke rumah dulu, untuk mandi dan mengambil baju-baju tambahan. Di rumah, Z dijemput ipar. Menurut cerita suami, Z menangis histeris, maunya sama bapak aja. Huhuhu kalau teringat masa itu jadi mellow deh. Kasihan sama Z yang sedih banget dipisah sama bapak ibunya. Tapi nggak mungkin juga Z nginap RS, kan. Dan di RS aku sangat butuh kehadiran suami karena pelvic pain-ku sebegitu parahnya aku bahkan butuh bantuan untuk ke toilet dan mengangkat bayi saat menyusui.

Hari ketiga di RS
Aku mencoba fisioterapi, rasanya biasa aja sih, nggak ada perbaikan. Disarankan, fisioterapi dilakukan 7 hari berturut-turut. Tapi kok males ya. Kalau pengalaman lahiran kakak Z dulu, dalam 7 hari pelvic pin berangsur hilang. Oh yes, keluhan pelvic pain ini juga ada di kelahiran pertama tapi gak separah kelahiran kedua. Aku berharap pelvic pain yang sekarang pun bisa sembuh sendiri.

Suami sudah nggak sabar ingin segera jemput Z untuk pulang ke rumah. Kangen berat sama Z, dan kasihan karena kemarin Z nangis kejer waktu berpisah sama bapake. Obgyn dan DSA bilang, kalau nggak ada apa-apa, kami sudah boleh pulang. Namun adik belum tes bilirubin karena bilirubin hanya bisa dites +48 jam pasca kelahiran, yang berarti nanti malamnya.

Karena banyak pertimbangan, kami memutuskan pulang saja hari itu. Nggak tega kalau Z rewel lagi, terisah sama bapak ibunya. Adik akan dites bilirubin minggu depannya saat kontrol pertama pasca pulang dari RS. Reaksi kakak Z saat dijemput bapake? Sumringah! Senang banget! Di RS ia semangat cuci tangan dan bertemu adiknya.

Senin siang itu, kami pun resmi pulang ke rumah, menjadi sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak :)