Minggu, 08 April 2018

Drama ASI: Proses Sapih (The End)

Assalamualaikum buibuk pembaca...

Sesulit mengawalinya, sulit pula melepaskannya bagiku. Itulah proses menyusui :) Nggak disangka, melihat drama-drama memperjuangkan ASI di awal kehidupan Z, akhirnya bisa tercapai 2 tahun menyusui.

Menyusui Z dimanapun saat bayi


Sejak beberapa bulan sebelum Z berusia 2 tahun, aku sudah browsing-browsing metode penyapihan. Gentle weaning (Weaning With Love - WWL) adalah satu-satunya cara yang menurutku tidak menyakitkan, baik buatku maupun Z. Sungguh aku berharap, di akhir masa menyusui, Z akan dengan ikhlas bilang, "Bu, Z sudah besar, sudah gak mimik ibu..."
Ternyata proses weaning ini butuh berbulan-bulan, dan tanpa disangka dalam prosesnya, aku hamil pula hehehe.

Beginilah timeline nya.

Dari 3 bulan sebelum Z 2 tahun, tiap mau tidur dan beberapa kali dalam seminggu, ibu 'mensugesti' Z bahwa Z sudah jadi anak besar, bisa makan minum macam-macam, dan nggak perlu minum susu ibu lagi. Z akan berhenti menyusui di umur 2 tahun.

Menuju 2 tahun, frekuensi menyusui secara alami mulai berkurang. Menyusui hanya pada saat mau tidur, atau bila di kendaraan. Pokoknya banyak sugesti kalau mau nyusu, hanya di kamar atau di kendaraan. Alhamdulillah Z udah gak pernah minta mimik di tempat umum. Kecuali kalau pas di mall dia udah ngantuk berat, pasti merengek minta cari baby room untuk nyusu dan bobok.

Usia 2 tahun tiba. Ternyata masih belum ada progress yang berarti. Z tetap belum rela melepas ASInya... di kala itu, sering coba nego-nego dengan Z tiap dia minta sesuatu. Misalnya sore minta Yakult. Oke Z boleh Yakult tapi nanti malam gak mimik ya. "Iya bu!! Aci gak mikmbuk!!" Kata Z yakin. "Mau Yakult apa mimbuk?" Ibu memastikan. "Yakult!!!"

Malamnya dia meraung-raung minta mimik dan gak kukasih. Kuingatkan, tadi sore kan Z udah minum Yakult. Dan dia nangis terus, kugendong-gendong, segala macam cara nggak meredakan tangisnya. Karena lelah, akhirnya mimik lagi deh hahaha. Langsung terlelap deh.

2 tahun 1 bulan. Ternyata aku hamil. Dari hasil browsingan, menyusui saat hamil tetap aman dilakukan. Bahkan para netizen (ecieee netizen) yang membalas IG story ku banyak yang cerita kalau mereka berhasil melewati fasi Nursing While Pregnant (NWP) hingga anak kedua lahir. Nantinya setelah lahir, si anak pertama biasanya akan mengikhlaskan ASInya karena rasa pun udah berubah. Oke bismillah kuputuskan tetap WWL dan nggak memutus ASI secara tiba-tiba.

Banyak deh orang yang menyarankan dikasih brotowali lah, obat merah lah... tapi aku belum tega karena secara psikologis, aku tau Z masih sangat belum rela kalau ASInya di stop mendadak.

Sementara itu... menyusui saat hamil itu sangat menyakitkan, sodara-sodara!!! Nyeri banget di puting, karena area tersebut jadi sensitif saat hamil. Kadang sambil menahan nyeri, sambil bilang ke Z, "Z, ibu mimbuknya sakit... Z sebaiknya segera berhenti mimbuk ya.. karena Z juga sudah mimbuk 2 tahun, dari sejak bayi belum bisa makan apa-apa. Sekarang makanan Z udah banyam, bisa makan es krim, yogurt... (sebut semua makanan kesukaan Z).."

Pernah juga coba sistem kalender. Tiap ditanya, Z kapan berhanti mimbuk? Z pasto jawab, "2 minggu!!" Tiap hari ditanya, gituuu terus jawabnya :)) Lalu ibu kasih lihat kalender dan diberi timeline, dilingkari tanggal berhenti mimik nya, 2 minggu dari hari ini.

Tiap hari dia nanya kalender, mana yang berhenti mimbuk? Oh ini, dia tunjuk lingkaran merahnya.

Ndilalah 2 hari menjelang tanggal tersebut, Z sakit diare akut, sampe demam tinggi beberapa hari, yang mana maunya cuma nemplok ibu dan nyusu aja. Berat badannya turun drastis waktu itu. Hiks sedih deh. Terlupakan lah urusan sapih menyapih ini. Menyusui sepanjang hari.

Setelah sembuh, proses kembali ke penyapihan makin berat. Umur kandungan ibu yang kian bertambah, serta Z yang menuntut terus mimbuk. Ah... seperti kembali mensugesti dari awal. Tambah lagi, kalau mau menidurkan, ibu makin sulit gendong-gendongnya. Nggak kuat cyiiin. Akhirnya nen lagi nen lagi.

Secara ajaib, saat Z berusia 2 tahun 3 bulan, ia bisa tidur malam tanpa mimik. Didongengkan hingga mengantuk, digaruk-garuk punggungnya, dipuk-puk, ia bisa tidur. Ibu bersyukurrr sekali. Hanya tidur siang yang sulit tanpa mimik. Kalau mau nggak mimik, ya gak tidur siang hahaha. Ibu galau, masa anak 2 tahun 3 bulan sudah mulai nggak tidur siang. Tapi berhubung ibu capek juga meladeni main seharian, ibu butuh tidur siang. Sekalinya nemplok nen, bobok siang dehhhh... win-win solution menurutku saat itu, yang butuh istirahat.

Akhirnya Z berusia 2 tahun 4 bulan. Sempat ada 3 hari tanpa nen (termasuk weekend, saat dia asik main bersama sepupunya sehingga nggak tidur siang/nggak mimik). Sampai di hari ke 4 histeris minta mimik saat tidur siang. Lagi-lagi akhirnya ibu ngasih karena memang sudah kehabisan energi untuk mengalihkan tangisannya.

Sore setelah mimik yang terakhir itu, sorenya ibu kontrol obgyn, usia kehamilan 5 bulan. Ibu kaget, karena sakit di perut bawah dan sakit punggung bawah yang ibu rasakan seminggu terakhir, kata obgyn merupakan kontraksi. Salah satu penyebabnya, ya karena rangsangan pada puting (obgyn baru tahu ibu masih belum kelar menyapih) dan angkat beban berat (termasuk gendong-gendong Z). Ibu pun disuruh bed rest tiap kali terasa kontraksi datang.

Z... sepertinya kali ini terpaksa memang harus disapih yaa...

Malam itu, Z minta mimik. Dan ibu jelaskan, kalau ibu makin sakit jika Z mimik ibu. Kalau ibu sakit dan masuk rumah sakit, Z nggak ada teman mainnya.

Malam itu, Z pun berkaca-kaca. Kami berpelukan. Ibu tawarkan untuk menggaruk punggungnya, puk puk, apapun selain mimik dan gendong. Terasa banget sih sedihnya Z meski ia nggak nangis meraung-raung. Pada akhirnya Z pun tidur.

Ternyata, mimik di Kamis siang sebelum ke obgyn itu, adalah mimik terakhirnya Z :')
Hari-hari berlalu, kadang Z masih suka teringat minta mimik. Ibu jelaskan lagi, Z kan sudah gak mimik yaa... dan alasan-alasan lainnya. Terhitung sampai hari ke 10 dia masih terkadang minta mimik sebelum tidur. Alhamdulillah masih bisa dialihkan dengan cara lain.

Hingga hari ini, terhitung sudah 16 hari Z nggak mimik ibu. Ibu bangga, nak :') Z sudah besar yaaa... ternyata bisa berakhir juga proses penyapihan ini.

Bahkan Z pun sekarang suka cerita-cerita, nanti kalau dedek bayinya lahir, bisanya cuma mikmbuk (istilah dia untuk mimik-ibu). Z juga dulu cuma bisa mikmbuk. Hehehe. Udah gak kangen nyusu ya nakkk...

Salah satu manfaat yang terasa dengan WWL ini adalah, karena pengurangan frekuensi menyusuinya terjadi bertahap dan secara alami, akupun nggak mengalami drama bengkak ASI yang biasa dialami ibu-ibu saat menyapih. Sepertinya ASInya memang sudah jauh berkurang dan si anak hanya mencari kenyamanan aja dengan menyusu. Tapi lumayan lah ibu nggak harus berurusan dengan demam dan bengkak ASI.

Dengan sukses disapihnya Z, ada tantangan berikutnya, yaitu menidurkan Z. Dulu sekalinya nempel nyusu, dia bisa langsung bobok. Sekarang proses ngeloninnya bisa panjaaaang sekali, didongengin sampai mulut ibu berbusa, garuk punggung, puk puk, minta didongengin lagi, lalu ujung-ujungnya minta main keluar kamar lagi. Hihihihi. Motherhood! :D