Kamis, 29 November 2018

Cara Praktis Merawat Kulit dengan Natural Honey Hijab Hydra Fresh

Assalamu’alaikum teman-teman...

Jujur aja ya, sejak dulu, aku termasuk jarang melakukan perawatan kulit secara rutin. Adaaa aja alasannya. Saat kuliah terlanjur capek dengan tugas-tugas kuliah yang nggak jarang membuat begadangan. Pagi-pagi berangkat ke kampus naik angkot berpanas-panas, malas pakai pelembab karena bikin lengket. Eh saat jadi ibu setelah melahirkan, kembali semakin jarang merawat kulit. Sehabis ngelonin anak tidur, bawaannya ikut ketiduran. Lupa kalo ada skincare di meja. Lupa kalo kulit haus dan butuh perhatian. Paling rajin merawat kulit sebelum pernikahan aja, hahaha. Siapa yang sama kayak aku? Apa jangan-jangan aku aja yaa? *cari teman
Akibatnya udah pasti kulit jadi kering, kusam dan kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya. Apalagi sekarang aku juga sering aktif ajak anak main keluar rumah, tapi lupa pakai UV protection. Gosong deh sebagian kulit yang nggak ketutup baju panjang hijab. Pelik banget ya masalah kulit perempuan berhijab. Pakai sunblock lengket ke baju panjang, nggak pakai sunblock jadinya belang.


Minggu, 18 November 2018

Satu Hari di Bogor: Wisata Kuliner dan Staycation di Novotel

Assalamu'alaikum!

Sewaktu adik masih berusia 2 bulan dan bapake dinas keluar kota, kakung uti datang untuk menemani ibuk di rumah. Kami memutuskan berwisata ke Bogor, kota nostalgia masa mudanya kakung uti, dan ibuk yang pernah tinggal di sana hingga usia 10 tahun. Horeeee, kakak Z dan adik Z jalan-jalan.

MasyaAllah tabarakallah...

Awalnya kami ingin memperlihatkan rusa di Istana Bogor kepada kakak Z. Tapi sayang, waktu itu sekeliling pagar Istana Bogor ditutup spanduk sehingga sama sekali tidak terlihat apa yang ada di halamannya. Kakak Z agak kecewa. Tapi tenang, kakak Z, nanti kita cari hotel yang ada kolam renangnya ya! Tapi sekarang mari kita jajan dulu...

Minggu, 30 September 2018

Tips Merawat Kulit Bayi dari Community Gathering With Ariston

Assalamualaikum!

Ada pengalaman lucu nih terkait urusan mandinya baby Z dulu. Kata bidan RS, memandikan bayi 'kan harus pakai air hangat. Suatu ketika si bayi pup di air saat dimandikan! Walah, buyar deh mandi air hangatnya. Banjir pup! Berhubung dulu belum punya water heater, nggak sempat merebus air lagi untuk menggantikan air hangat isi pup tersebut (antara mau nangis dan ketawa deh). Akhirnya bayiku langsung dibanjur air dingin dari keran... Byurrr! Duh kasihan kamu baby Z :p

Kalau punya bayi, selain urusan menyusui atau memberi nutrisi untuk bayi, masih ada urusan perawatan tubuh bayi yang perlu diperhatikan. Termasuk mandi. Kulit bayi yang masih sensitif tentu perlu perlakuan khusus. Di awal lahiran anak pertama, aku takut memandikan bayi lho. Badannya masih kecil dan terlihat lemah. Mau dicemplungin ke bak mandi bayi, takut pegangnya licin, takut airnya kepanasan, juga sebaliknya takut airnya terlalu dingin. 

Di event Community Gathering with Ariston Thermo Indonesia hari Sabtu, 7 September 2018 lalu, aku dan ibu-ibu lainnya belajar banyak mengenai perawatan kulit bayi dan jadi paham bahwa produk water heater Ariston dapat membantu ibu lebih mudah dan nyaman memandikan bayi. Acara inilah jawaban dari kekhawatiran ibu-ibu dalam urusan merawat kulit bayi :) Makasih udah diundang yaaaa, Mommies Daily!

Sumber foto: Instagram @mommiesdailydotcom
Event ini menghadirkan dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK, PhD, FINSDV, FAADV dari Indonesian Pediatric Dermatologist, Mr. Jacopo Guazzarotti, Marketing & Project Sales Ariston, Ms. Nina Fidyastuti Pratiwi, BM Ariston Thermo Indonesia, dan ibu muda selebriti Putri Titian. Apa aja sih yang dibahas?

Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Rasanya Jadi Ibu 2 Anak

Assalamu'alaikum...

Sepanjang proses menjadi ibu bagi dua orang jagoan kecil, aku mengalami roller coaster berbagai macam perasaan. Antara bahagia dan baper datang silih berganti.

Dari yang awalnya merasa ingin kasih adik buat mas Z, sampai perasaan 'kasihan ya mas Z masih kecil perhatiannya harus terbagi'. Ini dia timeline perjalanan perasaanku sebagai seorang ibu*. Juga di akhir nanti ada tips abal-abal dariku supaya nggak ada sibling rivalry antara mas Z dan adiknya.

*nggak semua ibu pasti merasa apa yang kurasakan yaaa

Sebelum Hamil Adiknya Mas Z: Berharap

Dari mulai datangnya haid pertama saat Z berusia 13 bulan (oh ya, mungkin karena efek memberi ASI, haid ku datangnya lama banget, baru datang 13 bulan pasca melahirkan), aku dan suami sudah memutuskan nggak pakai KB-KB-an. Toh dulu mas Z juga didapatkan dengan perjuangan program hamil. Takut kualat kalau pakai KB malah susah hamil lagi.

Ke Jepang sama Z, Oktober 2017... sebulan sebelum positif hamil.

Kami pun penasaran, sepertinya asik juga kalau mas Z ada adiknya. Beberapa kali mencoba test pack, belum hamil-hamil juga. Strip satu terus. Sabar ya mas Z, belum rejekimu mendapat adik... Padahal kami pengen memberi teman untuk Z.

Selasa, 04 September 2018

Kisah Kelahiran Adik Z

Assalamu'alaikum, dear blog...
Tanggal 14 Juli jadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku. Hari ketika adik lahir, dan aku resmi jadi ibu-ibu (tadinya ibu aja :p kalo anak 3 ibu-ibu-ibu yaaa hahaha jayusss). Beginilah ceritanya...



13 Juli 2018
Setelah berminggu-minggu mengalami kontraksi harapan palsu, hari Jumat itu rasa kontraksinya mulai agak melilit. Tapi masih nggak teratur waktunya. Padahal tanda-tanda sudah dekat melahirkan 'kan apabila jeda kontraksi mencapai 5 menit sekali dan terjadi selama 1 jam ya. Kontraksiku kadang mencapai 6 menit sekali, lalu hilang dan muncul lagi 1 jam kemudian.

Tapi suami dan aku punya feeling, ini jangan-jangan udah dekat waktunya. Besok agenda kita kudu santai, jaga-jaga kalo ada 'kejadian' besok. Mertua sempat minta diantarkan ke halal bihalal keluarga hari Sabtu, namun ditolak secara halus oleh suami, karena takutnya harus siaga.

14 Juli 2018
Benar saja ada kejadian! Jam 7 pagi saat berdiri dari kasur, terasa ada aliran tapi bukan pecah ketuban. Saat dicek, oalah ada (maaf) lendir darah segar. My mucous plug! Aku langsung mandi pagi dan diskusi sama suami, mending langsung ke RS atau tunggu kontraksi makin intens. Sambil browsing apa yang harus dilakukan saat terjadi hal seperti ini, diputuskan kami ke RS karena darah tetap mengalir (pakai pembalut nifas donk - untung sudah disiapkan).

Kekhawatiran pertama adalah: gimana dengan Z? Kami nggak pengen bawa Z ke UGD RS. Sementara dia ga mungkin mau ditinggal dengan bibik yang baru kerja belum sebulan di rumah. Dan mertuaku sedang jadi panitia halal bihalal keluarga, kami nggak mau bikin panik.

Alhamdulillah kejadian ini di hari Sabtu, adikku sedang menginap di rumah. Kami titipkan Z pada adikku. Z diajak keliling naik motor, sementara aku dan suami ke RS.

Sebelum ke RS kami sempat mampir McD dulu untuk beli sarapan. Burger McD adalah ngidam terakhirku hahahaha. Kami juga kan harus ada energi buat menghadapi hari yang nggak terduga ini.

Kalau mau melahirkan di RS Antam Medika, apabila obgyn sedang praktek, kami harus ke ruang praktek dulu. Namun bila nggak ada praktek, kami harus menuju UGD untuk dicek bidan. Karena itu hari Sabtu, kami pun ke UGD.

Cek tekanan darah oleh dokter jaga, lalu cek posisi bayi, pembukaan, dan cek kontraksi oleh bidan. Ternyata sudah bukaan 2. Bidan konsultasi via telpon dengan obgynku dr. Susanti, dan aku diminta rawat inap.

Alhamdulillah nyaman banget di RS Antam ini. Sekitar pukul 10.30 siang kamar rawat inap sudah siap. Akupun masuk kamar untuk beristirahat sambil menunggu kontraksi makin intens. Suami pulang ke rumah untuk belanja berbagai kebutuhan (beli sabun mandi, cemilan, minuman kotak untuk persediaan di RS), memandikan Z, dan menyiapkan baju-baju Z untuk menginap di eyangnya nanti malam (salah ibu nih, cuma menyiapkan tas ibu ke RS tapi nggak siapkan baju Z).

Sendirian di kamar RS nggak bisa tidur, coba-coba gerakan yoga untuk merangsang bayi turun ke panggul agar lebih cepat lahiran. Berhubung ngga bawa yoga mat jadi di sofa aja.

Z dijemput oleh ipar agar bisa bermain dengan sepupunya. Mbak ipar (doula Windy) sempat datang ke kamarku di Antam, ngajarin berbagai gerakan yoga dan rebozo agar perut terasa lebih nyaman. Kata ipar, berhubung aku masih cerewet dan masih napsu makan berarti lahirannya masih lama wkwkwk.

Lalu ipar meninggalkanku untuk mengajak Z ke mall (dari tadi Z hanya di luar RS bersama sepupunya, Z lihat air mancur dan disuapin makan siang oleh pak suami). Melalui foto-foto di whatsapp keluarga, Z pun tampak senang main di mall. Namun jujur di RS itu aku mellow banget mikirin Z. Bisa gak ya Z melalui malam ini tanpa ibunya? Dia kan belum pernah semalam pun nggak sama ibuk. Lalu gimana perasaan Z nanti ketika bertemu lagi dengan ibuk, eh udah ada adeknya. Pokoknya mellow banget lah berasa kasihan sama Z.

Jam 1.30 siang cek pembukaan, masih pembukaan 2 menuju 3. Kepala bayi sudah lebih turun. Yah lumayan lah ada kemajuan dikit. Oiya siang itu napsu makanku menggila, makanan RS 1 tray habis ludes padahal porsinya banyak banget.

Jam 4 rasa mules makin melilit. Tapi masih bisa ditahan. Mertua yang baru pulang dari halal bihalal bingung, kok aku masih bisa cengengesan.

Namun menjelang jam 5 mukaku sudah makin kecut. Kontraksi sudah mulai datang hampir 5 menit sekali. Tiap aku ke kamar mandi, aku minta ditemani suami, karena saat 'gelombang' tiba-tiba datang, duh berdiri pun ngga sanggup, sakitnya bikin pengen nangis.

Cek bukaan jam 5 sore, oh sudah bukaan 5. Bidan bilang, setelah ini prosesnya bisa sangat cepat. Kalau sudah nggak tahan, aku diminta ke ruang melahirkan di seberang ruang rawat inap. Sebaiknya sebelum nggak tertahankan sih, agar masih kuat jalan ke ruangan tersebut.

Jam 6 sore, azan maghrib berkumandang. Makin sakit ya Allah. Aku bergegas solat sambil duduk, pak suami pun segera solat. Lalu kami berjalan ke ruang melahirkan.

Pukul 6.30 malam. Bukaan 6. Tiap kontraksi datang, aku pengen menjerit tapi gak boleh. Ingat napas. Ingat napas. Simpan energi. Sempat nangis kesakitan lalu nyesal karena hidung jadi ingusan bikin susah napas hahaha. Bidan-bidan yang baik membantu pijat punggungku tiap kontraksi datang.

Pukul 7 malam. Keringat membanjiri tubuh, sensasinya luar biasa. Istirahat dari gelombang kontraksi hanya bisa sekitar 1-2 menit, lalu ia datang lagi. Pembukaan pun berjalan makin cepat. Bukaan 7, bukaan 8...
Sampai pukul 7.30 tiba-tiba sudah bukaan 9. Aku menjerit, "Aduuuhhh ga tahan pengen ngedeeeen!!!!" Dan obgynku dokter Susanti tiba-tiba sudah masuk ruangan.

"Kalo mau ngeden sudah boleh nih mbak..." kata bu dokter.

Aku pun dipandu bidan untuk tarik napas dan ngeden. Rasanya seperti percaya ga percaya percaya, oh... sudah tiba waktunya ya?

Sepertinya ada 3x kali mengejan sekuat tenaga, bayipun mbrojol! Bapak suami menangis bahagia, "Alhamdulillaah..."

Permintaan kami untuk delay cord clamping dipenuhi obgyn, hingga tali pusat berhenti berdenyut. Sayang permintaan IMD agak missed karena DSA pro ASI yang diincar, nggak bisa hadir Sabtu malam itu. Dokter jaga yang menggantikan mungkin kurang paham prosedur IMD, sehingga nggak langsung meletakkan adik di dada ibu setelah lahir. Adik dibersihkan dulu, diukur badan dan prosedur-prosedur lain. Setelah bersih baru adik diletakkan di dada hanya selama beberapa menit lalu diambil lagi 'agar gak kedinginan'. Tapi waktu itu aku sudah lemas sekali, jadinya ya udah deh ya... nanti lagi belajar menyusuinya kalo sudah di kamar.



Oiya saat adik diletakkan di dada itu, obgyn menjahit bagian bawahku yang terobek saat mengejan tadi. Nggak pakai episiotomi seperti saat kakak Z dulu, tapi terobek juga...

Jam 9.30 malam aku dan bayi masuk ke kamar untuk beristirahat. Ternyata aku mengalami pelvic pain yang sangat menyakitkan, mungkin gara-gara posisi mengangkang saat lahiran tadi membuat engsel panggulku bergeser (lagipula ada kan namanya hormon relaxin yang membuat otot panggul lebih meregang agar mudah melahirkan). Gara-gara pelvic pain ini aku nggak bisa jalan, dan sakit sekali membuka tutup otot pahaku.

Saat hendak menyusui adik, aku sampai harus dibantu suami mengambilkan adik untuk diletakkan di pangkuanku karena aku nggak bisa mengambil adik di kasur bayinya, meski kasur adik tepat di sebelah kasurku. Untuk berguling hadap kanan kiri saja selangkangan dan panggulku sakit luar biasa. Huhuhu. Alhamdulillah ada pak suami yang selalu siaga.

Malam itu, kakak Z menginap di rumah kakak ipar, kecapekan habis main ke mall sama sepupunya.

Hari kedua di RS
Pagi hari, saat obgyn visite, beliau bilang, "Ibu kalau sudah mau pulang dari RS boleh lho..."

Whatttt??? Nyantai banget nih obgyn hahaha. Tapi karena pelvic pain ku sakit sekali, kuutarakan aku lebih baik di RS dulu. Lalu obgyn pun bilang, coba besok ke fisioterapi saja (karena Minggu tidak ada praktik fisioterapi), hari ini kembali rawat inap sambil tunggu visite DSA.

DSA pun datang, dan memberi banyak wejangan soal perawatan bayi. Beliau sangat pro ASI, dan menasihatiku nggak usah kuatir kuning meski golongan darahku berbeda dengan adik (yang penting rhesus-ku bukan rhesus negatif). "Ibu fokus aja ke naikin BB bayi ya! Susui sampai payudara kosong!"

Siangnya kakak Z datang bersama mertua dan ipar. Kupikir Z bakal lari memelukku atau heboh bertemu ibunya lagi. Namun ternyata ia malah diam aja seperti jaga jarak. Terasa ada yang berbeda, hiks. Mungkin dia juga sedang meredam perasaannya yang tiba-tiba punya adik baru dan bapak ibunya di RS.

Drama juga ketika Z diajak pulang oleh eyang-eyangnya. Ia nggak mau pulang. Mau sama ibu, katanya. Lalu sama suami diajak ke rumah dulu, untuk mandi dan mengambil baju-baju tambahan. Di rumah, Z dijemput ipar. Menurut cerita suami, Z menangis histeris, maunya sama bapak aja. Huhuhu kalau teringat masa itu jadi mellow deh. Kasihan sama Z yang sedih banget dipisah sama bapak ibunya. Tapi nggak mungkin juga Z nginap RS, kan. Dan di RS aku sangat butuh kehadiran suami karena pelvic pain-ku sebegitu parahnya aku bahkan butuh bantuan untuk ke toilet dan mengangkat bayi saat menyusui.

Hari ketiga di RS
Aku mencoba fisioterapi, rasanya biasa aja sih, nggak ada perbaikan. Disarankan, fisioterapi dilakukan 7 hari berturut-turut. Tapi kok males ya. Kalau pengalaman lahiran kakak Z dulu, dalam 7 hari pelvic pin berangsur hilang. Oh yes, keluhan pelvic pain ini juga ada di kelahiran pertama tapi gak separah kelahiran kedua. Aku berharap pelvic pain yang sekarang pun bisa sembuh sendiri.

Suami sudah nggak sabar ingin segera jemput Z untuk pulang ke rumah. Kangen berat sama Z, dan kasihan karena kemarin Z nangis kejer waktu berpisah sama bapake. Obgyn dan DSA bilang, kalau nggak ada apa-apa, kami sudah boleh pulang. Namun adik belum tes bilirubin karena bilirubin hanya bisa dites +48 jam pasca kelahiran, yang berarti nanti malamnya.

Karena banyak pertimbangan, kami memutuskan pulang saja hari itu. Nggak tega kalau Z rewel lagi, terisah sama bapak ibunya. Adik akan dites bilirubin minggu depannya saat kontrol pertama pasca pulang dari RS. Reaksi kakak Z saat dijemput bapake? Sumringah! Senang banget! Di RS ia semangat cuci tangan dan bertemu adiknya.

Senin siang itu, kami pun resmi pulang ke rumah, menjadi sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak :)

Minggu, 01 Juli 2018

Ketika Bumil Ke Dubai, Pakai Kursi Roda...

Assalamu'alaikum!
Bulan April lalu, sesuai rencana beberapa bulan sebelumnya, aku dan keluarga berwisata ke Dubai. Kota tersebut kami pilih dengan alasan: 1. Ibu bapak ingin melihat Dubai; 2. Aku dan suami sudah pernah ke sana sehingga bisa jadi 'tour guide'; dan 3. Karena aku sudah pernah ke sana, gak perlu terlalu 'ngoyo' merancang itinerary yang padat, apalagi kondisiku sedang hamil 'kan ga boleh capek-capek juga.

The Plans & The Dramas

Nggak disangka, beberapa minggu sebelum keberangkatan, ketika kontrol obgyn aku dinyatakan mengalami kontraksi dini dan kalau sedang 'kumat' (yang mana tiap hari bisa kumat hingga 5x kontraksi) disarankan bedrest oleh obgyn. Bagaimana mau bedrest ya, karena meski di rumah saja, aku juga momong Z yang sedang di fase toddler. Maunya minta ditemani main. Sehingga saran untuk bedrest seperti terlupakan dalam 3 hari.

Nggak disangka, seminggu sebelum berangkat ke Dubai, muncul flek (blood spotting) yang ditakutkan! Langsung deh aku dan suami cek ke obgyn lain untuk second opinion, dan saat di USG memang sudah terlihat kontraksinya (padahal waktu itu usia kandungan masih 24 weeks - masih terlalu jauh untuk lahiran!). Kontraksi dini ini, risikonya adalah kelahiran prematur. Beda ya dengan kontraksi palsu / Braxton Hicks. Untungnya obgyn santai saja. Aku diberi obat anti kontraksi, dan diberi ijin bepergian jauh asalkan nggak banyak jalan dan berdiri.

Senin, 11 Juni 2018

Ibu Hamil Berpuasa Bebas Panas Dalam

Assalamu'alaikum!

Bulan Ramadhan kali ini menjadi spesial buatku karena aku dalam kondisi hamil 7-8 bulan. Menjelang Ramadhan tiba, sempat ada kekhawatiran apa aku bisa kuat puasa dengan kondisi hamil besar, dimana bayi dalam perut sedang tumbuh pesat. Apa aku bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisinya? Apa aku bisa berpuasa dengan nyaman?

Bumil ngidam... sayap ayam krispi :p Gorengan lagi!

Ternyata alhamdulillah sampai minggu keempat ini Allah memberi kekuatan. Meski di minggu pertama berpuasa, terjadi kontraksi di perut yang cukup mengkhawatirkan, setelah konsultasi dengan obgyn ternyata itu akibat dehidrasi. Jadi disarankan apabila setelah beristirahat, kontraksi perut tetap ada, tandanya itu harus berbuka dan minum air. Namun bila kontraksi hilang saat istirahat, silakan lanjutkan berpuasa.

Obgyn juga mengingatkan untuk memenuhi kebutuhan minimum 2 liter air dalam sehari, dikejar dari buka puasa hingga sahur. Disuruh minum sampai kembung! :D

Awal puasa, menu makanan diusahakan sehat-sehat. Takjil home made aja, sederhana seperti es blewah, es cincau, atau kolak pisang. Makanan pun lengkap karbo, protein dan sayur.

Haloooo nasi padang!

Tapi makin hari makin pusing mikirin menu buka dan sahur, akhirnya mulai suka jajan-jajan deh hiihihiii... Halo nasi Padang berlemak (jujur, menu ini paling nggak bisa nolak buat nambah-nambah deh!), juga gorengan abang-abang! Entah kenapa ya bakwan sayurnya abang-abang lebih enak daripada bakwan sayur home made -_-"

Pas makannya sih enak.... tapi satu jam setelah itu....

Muncullah ketidaknyamanan dalam berpuasa yang kedua: Panas Dalam!

Rabu, 06 Juni 2018

Berkenalan Kembali Dengan Bio Oil

Assalamu'alaikum, blog..

Beberapa bulan lalu, aku dan Z berkesempatan hadir di event peluncuran Bio Oil kemasan terbaru dan terbesar, yakni 200 ml. Jujur, aku tertarik untuk datang karena memang ingin tahu tentang produknya. Di kehamilan pertamaku dulu (kini bayinya sudah 2.5 tahun - baby Z), aku cukup menyepelekan masalah stretch mark. Beberapa kali pakai Bio Oil, tapi nggak rutin dan nggak telaten. Pikirku, stretch mark sepertinya nggak muncul-muncul. Mungkin aku termasuk salah satu orang dengan gen yang beruntung nggak mendapatkan stretch mark.


Eh di bulan ke-9, tiba-tiba gurat-gurat hitam stretch mark pun muncul membabi buta tanpa permisi dari perut hingga ke belakang. Aku kaget tentunya. Kirain stretch mark hanya akan berupa garis halus dengan tingkat warna lebih muda dari kulit. Kenapa bisa hitam seperti ini??? Mak perutku makkk...

Ternyata memang pada bulan ke-9 kehamilan, perut melar maksimal. Makanya di kemasan Bio Oil pun disarankan ibu hamil mulai pakai rutin sejak awal trimester 2. Jadi kulitnya lebih siap untuk 'melar' di akhir kehamilan.

Tentu aku nggak mau mengulang mimpi buruk stretch mark donk di kehamilan keduaku.

Senin, 04 Juni 2018

Fitrah Seksualitas, Bukan Sex Education (Free Printable)

Assalamu'alaikum!

Mungkin yang follow instagram-ku udah baca beberapa post #Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas dari kelas online yang aku ikuti: Kelas Bunda Sayang - Institut Ibu Profesional. Bulan ini kelas kami diminta untuk membuat presentasi berkelompok, dengan metode presentasi melalui whatsapp group, yang ternyata seru banget pengerjaannya.

Link download Printable yang resolusinya lumayan, ada di bagian bawah artikel ya! 
Dalam prosesnya, terasa semangat mencari ilmu bareng-bareng lalu merancang presentasi. Maklum yahh kuliah udah berlalu 9 taun lalu, jadi kangen aja kerja kelompok begini :p Lalu... aku tiba-tiba semangat bikin media edukasi buat anak-anak tentang Fitrah Seksualitas ini. Nanti aku share ya Printable yang bisa dimainkan bersama anak.

Eh dari tadi ngomongin Fitrah Seksualitas melulu. Sebenernya udah pada tau belum tentang Fitrah Seksualitas? Akupun baru 'ngeh', kalau ternyata artinya beda dengan Sex Education!

Selasa, 15 Mei 2018

Menikmati Superfood Indonesia dengan Herbilogy

Assalamu'alaikum!

Sesungguhnya postingan super telat ini sudah ngendon di draft sejak tahun lalu >_< Sejak momen berusaha hamil, beneran hamil, hingga jadi ibu menyusui, aku jadi sadar banget pentingnya gizi yang cukup demi kesehatan ibu. Apalagi ketika hamil dan menyusui, nutrisi ibu 'tersedot' oleh si bayi. Beruntung sekali aku bisa ikut acara Blogger Gathering Herbilogy pada hari Selasa, 18 Juli 2017. Acara ini membuka mataku terhadap gaya hidup sehat dengan nutrisi seimbang, salah satunya melalui ekstrak tanaman 'superfood' khas Indonesia. 


Wait... Indonesia punya superfood? Ternyata banyak, lho! Dulunya aku kira, superfood itu hanya ada di tanaman impor seperti biji chia seed, ikan salmon, dan makanan mahal lainnya. Ternyata definisi superfood lebih luas dari itu. Superfood adalah tanaman dengan berbagai manfaat kesehatan seperti antioksidan, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Memakan superfood berarti mengurangi risiko penyakit kronis, memperpanjang umur, dan menjaga kelangsingan tubuh ideal.

Minggu, 08 April 2018

Drama ASI #4: Proses Sapih Gentle Weaning (The End)

Assalamualaikum buibuk pembaca...

Sesulit mengawalinya, sulit pula melepaskannya bagiku. Itulah proses menyusui :) Nggak disangka, melihat drama-drama memperjuangkan ASI di awal kehidupan Z, akhirnya bisa tercapai 2 tahun menyusui.

Menyusui Z dimanapun saat bayi


Sejak beberapa bulan sebelum Z berusia 2 tahun, aku sudah browsing-browsing metode penyapihan. Gentle Weaning (Weaning With Love - WWL) adalah satu-satunya cara yang menurutku tidak menyakitkan, baik buatku maupun Z. Sungguh aku berharap, di akhir masa menyusui, Z akan dengan ikhlas bilang, "Bu, Z sudah besar, sudah gak mimik ibu..."
Ternyata proses weaning ini butuh berbulan-bulan, dan tanpa disangka dalam prosesnya, aku hamil pula hehehe.

Beginilah timeline-nya.

Rabu, 07 Februari 2018

Toilet Training Baby Z Dalam 3 Hari!

Assalamu'alaikum..

Buibuk, merasa nggak kalau salah satu peer dalam dunia parenting adalah.. toilet training? Sampe kapan anak mau pake diapers? Selain dari biaya yang tinggi, diapers juga bikin sampah makin menggunung. Semakin cepat anak diajari toilet training, tentu makin baik untuk kemandiriannya.


Pertanyaan berikutnya adalah: Kapan anak dan emaknya siap melakukan toilet training??? Oh ya, kunci toilet training sebenarnya ada di kesiapan mental ibu/ortunya lho.

Sebelum memulai kisah sukses Toilet Training Baby Z, aku ceritain dulu ya kisah gagalnya.

Kegagalan Pertama Toilet Training Baby Z, Saat Usia 18 Bulan

Di umur Z 18 bulan, kuputuskan aku mau mencoba toilet training. Persiapan pertama adalah membeli training pants di marketplace online. Setelah survei beberapa lapak yang menjual dengan harga termurah plus model celana yang cukup lucu, akhirnya aku beli 6 pcs training pants. Sungguh dalam hati, 6 pcs itu rasanya kurang. Tapi harga training pants kan mahal, jadi dicukup-cukupkan aja lah.

Saat 'toilet training' dengan training pants, yang ada Z tetap pipis tanpa sadar. Karena dia masih merasa nyaman dengan berbasah ria di training pants. Bocor pipis gak terlalu parah, tetap tembus ke celana luaran namun gak sampai membanjiri lantai. Sebetulnya, hal yang kelihatan seperti 'advantages' ini (anti bocor) justru merugikan. Karena anak tetap nyaman-nyaman aja walau basah.

Rabu, 24 Januari 2018

Hello Blog, Hello 2nd Trimester

Assalamu'alaikum dear blog & readers...

Nggak terasa udah lebih dari 2 bulan blog ini terbengkalai. Sudah lama rasanya nggak buka laptop, apalagi buka blogger.com. Rasanya mual dan malas ngapa-ngapain, karena ternyata.... saya hamil lagi, sodara-sodara.

Me at 12 weeks of pregnancy
Alhamdulillah... Sungguh berkah yang nggak disangka-sangka. Sekitar menjelang sebulan setelah pulang dari Jepang, iseng aja install aplikasi jadwal menstruasi. Yang mana pas hari H kok ya si bulan ga datang-datang yaaa... Iseng cek dengan stok testpack yang ada di rumah (oh ya aku punya stok testpack Rp1000-an merk Onemed yang murah meriah itu), kok garisnya ada 2 yaaa walau samar-samar.

Suami pun masih percaya gak percaya. Karena kami sudah mencoba-coba setahun sejak Z umur 13 bulan (kesuburan baru balik setelah Z 13 bulan - thanks to frequent nursing :D), dan melihat perjuangan program hamil dulu untuk mendapatkan Z... Rasanya bisa hamil alami itu suatu keajaiban!

Kami bersabar menunggu 2 minggu dari sejak testpack 'positif' untuk pergi menemui dokter kandungan di rumah sakit. Untuk kehamilan kali ini, kami pilih RS Antam Medika yang lokasinya nggak jauh dari rumah. Setelah baca-baca review, ada obgyn wanita yang cukup recommended yaitu dr. Susanti Budiarti Sp.OG. Alhamdulillah, ada RS dekat, obgyn cewek pula. Udah malas ke Mitra Keluarga Gading karena jalanan yang semakin macetttt dan aku kudu ke RS bawa Z pula 'kan. Makin dekat RS-nya, makin baik.

Kehamilan kedua tentu membawa cerita berbeda dengan yang pertama. Sekarang meski lemas mual males ngapa-ngapain, ada Z yang usianya sudah 2 tahun, sedang aktif-aktifnya dan butuh banyak perhatian. Aku merasa bersalah sih karena sering lemas di rumah, kubiarkan aja Z nonton Youtube kartun di TV. Jadi anak yutub deh T_T Meski tentu setiap nonton tetap kutemani, karena Z maunya ada teman buat membahas apa yang dia lihat di TV. Tetap aja rasanya guilty banget nggak ngasih Z kegiatan yang lebih bermanfaat. Mamak mualll huhuhu... Tak jarang sambil nemenin Z main, akupun ketiduran :p Z marah deh, "Ibu gak boleh bobokkk!!!" sambil bangunin ibunya.

Z pun masih belum berhasil tersapih. Memang rencananya ibu maunya Weaning With Love, menunggu Z sendiri yang rela melepas ASI yang telah menjadi sumber kenyamanannya dari bayi. Ibu bapak selalu sugesti Z bahwa dia sudah besar, sudah 2 tahun mimik ibu, sudah waktunya berhenti mimik. Tapi Z-nya masih belum rela melepas. Ya sudahlah. Aku bertahan meskipun perihhhh nyusuin sambil hamil di trimester awal ini. Perlahan menjelang trimester 2, rasa sakit menyusui pun berkurang. Nanti urusan sapih menyapih ini akan diceritakan di postingan berbeda ya kalau sudah berhasil tersapih.

Besok, usia kandungan akan mencapai 14 minggu. Lagi-lagi alhamdulillah. Terima kasih Allah sudah memberikan kesempatan buat kami. Semoga dedek bayi tumbuh sehat sempurna di dalam rahim ibu. semoga ibu bisa menjadi ibu yang baik buat Z dan dedeknya. Semoga Z juga bisa jadi kakak yang baik untuk adek yaaa, seneng dia mau punya adek :D

Hello, 2nd Trimester :)