Minggu, 18 November 2018

Satu Hari di Bogor: Wisata Kuliner dan Staycation di Novotel

Assalamu'alaikum!

Sewaktu adik masih berusia 2 bulan dan bapake dinas keluar kota, kakung uti datang untuk menemani ibuk di rumah. Kami memutuskan berwisata ke Bogor, kota nostalgia masa mudanya kakung uti, dan ibuk yang pernah tinggal di sana hingga usia 10 tahun. Horeeee, kakak Z dan adik Z jalan-jalan.



Awalnya kami ingin memperlihatkan rusa di Istana Bogor kepada kakak Z. Tapi sayang, waktu itu sekeliling pagar Istana Bogor ditutup spanduk sehingga sama sekali tidak terlihat apa yang ada di halamannya. Kakak Z agak kecewa. Tapi tenang, kakak Z, nanti kita cari hotel yang ada kolam renangnya ya! Tapi sekarang mari kita jajan dulu...

Bogor Permai dan Siomay + Es Sekoteng

Tujuan utama ke Bogor, tak lain adalah untuk makan di kedai pinggir jalan, tepat di sebelah toko/restoran Boogor Permai. Di kedai tenda dijual laksa, soto mie, taoge goreng, siomay dan es sekoteng. Pilihanku siomay dan es sekoteng. Siomaynya enaaaaaaaaak kudu cobain, karena ya seenak itu! Hihihi... Rasanya lembut, gak amis, bumbu kacangnya juga enak. Z ikut menikmati siomay tanpa bumbu kacang karena pedas. Es sekoteng, isinya ada alpukat, serutan kelapa, juga merah delima (dari tepung sagu ya kalau nggak salah) dengan kuah sirop dan susu kental manis. Aku suka! Wajib coba!



Makan di warungan begini, agak was-was juga karena para abang-abang penjual pada ngerokok. Aku 'kan bawa bayi! Untungnya kemarin ada pasangan kakek-nenek berbagi meja dengan kami di salah satu sudut, tidak terkena asap rokok. Kalau mau aman memang bungkus aja, nggak makan langsung di warung. Tapi sensasi nikmatnya beda deh kalau dimakan di rumah.

Sebetulnya kepingin juga makan taoge goreng. Namun karena sudah terlanjur kenyang, kami memutuskan nanti sore aja kembali untung beli takeaway taoge gorengnya. Dari beberapa taoge goreng yang pernah kucoba, paling enak ya di pinggir Bogor Permai ini.

Karena kami parkir di Bogor Permai, kami juga menyempatkan beli beberapa kue dan roti di Bogor Permai. Kue dan rotinya lumayan enak-enak, sepertinya resep kuno. Di sana juga ada restoran dan minimarketnya. Toilet juga bersih. Cocok deh kalau mau melanjutkan perjalanan mampir dulu ke sini.

Kedai Kita, Makan Pizza Kayu Bakar

Tiap ke Bogor hampir selalu makan di sini. Kalau weekend, siap-siap antri buat duduk karena memang rame banget. Alhamdulillah kami kesana weekdays, nyaman sekali.



Menu yang disediakan bervariasi dari mi ayam, pasta hingga pizza. Pizza kayu bakar ini yang menurutku juara banget. Aromanya lebih menggiurkan daripada pizza yang dibakar di oven biasa. Pokoknya beda tipe pizza dengan Pizza H*t deh. Kami juga memesan mie ayam dan pasta lasagna yang juga enak.

Fasilitas di Kedai Kita 
Nggak usah kuatir kalau pergi ke Kedai Kita saat jam sholat, karena di sana ada mushola yang cukup lega untuk beberapa orang. Toilet bersih juga ada. Oiya, di depan Kedai Kita, ada taman kecil juga yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan-jalan saat anak mulai bosan.

Mau Menginap Di Mana?

Memang sejak berangkat dari Jakarta, kami berencana menginap di hotel, tapi belum tau hotel apa hihihi. Kakung bahkan baru beli baju renang saat kami mampir ke mall Botani Square, spesial untuk berenang menemani Z jika menginap di hotel.

Kami sempat tertarik dengan Hotel The Mirah yang dekat dengan Kedai Kita, karena desain interiornya cantik modern eklektik. Namun hari itu, walau weekdays, hotel-hotel Bogor banyak yang penuh. Kantor-kantor pada bikin acara konferensi di hotel. Kakak Z yang ikut turun untuk melihat suasana hotel (karena masih berharap siapa tahu ada stok kamar yang nggak di-listing di Travel*k*), agak kecewa juga karena nggak jadi menginap di Mirah. Tenang kakak, kita cari hotel lain.

Setelah cek berbagai situs pencari hotel, harganya sedang cukup tinggi semua (sepertinya sedang banyak konferensi di Bogor), kami putuskan sekalian saja menginap di hotel dengan fasilitas lengkap: ada kolam renang dan playground untuk aktivitas anak.

Review Hotel Novotel Bogor Golf Resort and Convention Center

Hotel Novotel terletak di Perumahan Bogor Raya, Sukaraja Bogor. Memasuki hotel ini, terlihat bahwa hotelnya cukup kuno tapi pastilah keren banget pada masanya. Ada beberapa air mancur menghiasi jalan masuk menuju lobby.

Atmosfer hotel ini terasa seperti resort di pantai Bali atau Lombok. Banyak sekali pepohonan yang menyejukkan. Lobby dan selasar tanpa AC, seperti di resort yaaa. Kamar hotelnya hanya ada 2-3 lantai, tapi memang luas sekali bangunannya.



Kami pun masuk kamar. Wow terasa kuno tapi tetap bersih sih. Memang standar kebersihan dan kerapian hotel chain Accor nggak perlu diragukan lagi. Namun yang aku cukup heran, kamar mandinya terpisah: toilet sendiri dan shower sendiri... dengan ruang shower hanya dibatasi tirai kain. Lah terus mandinya gimana dong? Ternyata ada pintu geser di sana, jadi kalau mau mandi harus ditutup semua pintu gesernya.

Picture source: Agoda

Ternyata wastafel ini bagian dari kamar mandi, yang harus ditutup pakai pintu geser - nggak ada kuncinya

Alhamdulillah meja wastafel cukup besar sehingga aku bisa memandikan adek bayi di sana. Mejanya disulap jadi baby tafel untuk ganti popok. Perlengkapan mandi dan ganti popok pun aman tersimpan. Kamar kami memiliki balkon yang nyaman. Setelah check ini, Z dan uti menggambar bersama di teras balkon. Lumayan ya ada kegiatan, sambil menunggu cuaca lebih teduh untuk berenang.

Uti dan kakak Z mengobrol di balkon.


Fasilitas Novotel Bogor Untuk Anak-anak

Kolam renang hotel ini cukup luas dan menyenangkan. Bentuknya nggak monoton hanya kotak gitu lho. Ada belok-beloknya, ada kolam dangkal, dan ada kolam dalam. Z pun yang biasanya takut renang, seneng banget di sini. Sore hari sudah berenang, besokannya juga minta berenang lagi.

Dekat kolam, ada juga playground outdoor untuk main panjat-panjatan, keseimbangan, ayunan dan perosotan. Foto-foto ini diambil keesokan harinya di pagi hari.



Ada juga playground indoor di dekat kolam renang. Sayang saat kami ke sana setelah renang sudah hampir maghrib, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Ada balok-balok kayu, mainan puzzle, juga troli untuk main shopping-shoppingan.

Aku dan kakak Z juga ditawarkan kru hotel untuk memberi makan kelinci. Sempat ragu, karena hari sudah menjelang maghrib, kandang kelinci harus berjalan kaki agak jauh dari wilayah kolam renang menuju taman dengan pohon-pohon besar. Tapi karena kupikir, kapan lagi mau kasih makan kelinci. Besok kan sudah check out. Akhirnya aku terima saja sawi-sawi yang sudah layu untuk makanan kelinci.

Hotelnya Nyaman Sih, Tapi Menjelang Malam...

Sepanjang jalan ke kandang kelinci dan kura-kura, kakak Z mulai cranky. Bayangan pepohonan mulai gelap. Suara jangkrik terdengar berisik, dan azan maghrib mulai berkumandang. "Ibuuuu takuuut, gendooong..." rengek kakak Z. Karena mulai rewel, aku asal saja ngasih makan kelincinya hahahaha. Kirain Z bakalan senang dengan kegiatan ini. Berhubung salah timing ya, dan Z takut suara jangkrik, dia jadi rewel. Ibu gendong Z selama ngasih makan kelinci dan perjalanan menuju kamar.

Di kamar, suasana tenang kembali. Kami pesan room service nasi goreng 1 porsi karena sudah nggak sanggup keluar hotel lagi. Hanya 1 porsi padahal ada kakung, uti, Z, dan busui? Tenang, stok camilan kami masih banyak dari Bogor Permai siangnya, juga ada buah dan apple pie.

Menjelang tidur, Z masih bermain-main di kamar. Tiba-tiba Z tanya, Bu apa itu yang dadah-dadah di kolong?" Ibu dan uti langsung diam dan mengalihkan pembicaraan. Udah ga usah mikir macem-macem, gitu pikirku saat itu. Lebih cepat tidur lebih baik.

Pas besoknya Z aku tanya lagi, kata Z yang dadah itu kucing. Z jawab asal sambil ketawa. Terlepas dari Z ngarang atau enggak, beberapa hari kemudian aku diceritain mertua yang pernah nginep di hotel ini juga, kalo memang beliau sempat mengalami hal-hal aneh di hotel. Huahaahhaaaa merinding gak?



Yah intinya setan mah ada dimana-mana ya, bahkan di sebelah kita sekarang juga mungkin ada. Tapi karena beda dunia, wajarnya ya gak bisa dilihat. Jadi ga usah takut... jaga sholat & zikir aja yaa...

Ini kandang kelinci dan kandang kura-kura di pagi hari


Sarapan Enak!

Alhamdulillah pagi tiba, cuaca cerah, burung berkicau dan pepohonan terlihat subur. Kami pun menuju restoran untuk sarapan.

Sarapan di Novotel Bogor lengkap & mewah banget banyak jenis makanannya. Buah potongnya ada buah naga juga lho. Puding rotinya enak. Bubur ayam enak. Salad juga enak. Pilihan kopi macem-macem, dan bukan sekedar kopi instan karena cappucino-nya beneran berbusa dari susu steam.

Beneran nggak rugi deh menginap dengan sarapan di hotel. Aku masih kebayang pengen tambah puding rotinya hehehe.

Overall puas banget nginap di Novotel Bogor karena seru buat anak-anak & makanannya enak 👍 Tapi apakah kalo lain kali ke Bogor, mau menginap di sana lagi? Hmmmm sepertinya mau coba-coba hotel lain juga sih, terutama kalau ada fasilitas kolam renang dan playground-nya. Ada rekomendasi hotel, buibuk?

Minggu, 30 September 2018

Tips Merawat Kulit Bayi dari Community Gathering With Ariston

Assalamualaikum!

Ada pengalaman lucu nih terkait urusan mandinya baby Z dulu. Kata bidan RS, memandikan bayi 'kan harus pakai air hangat. Suatu ketika si bayi pup di air saat dimandikan! Walah, buyar deh mandi air hangatnya. Banjir pup! Berhubung dulu belum punya water heater, nggak sempat merebus air lagi untuk menggantikan air hangat isi pup tersebut (antara mau nangis dan ketawa deh). Akhirnya bayiku langsung dibanjur air dingin dari keran... Byurrr! Duh kasihan kamu baby Z :p

Kalau punya bayi, selain urusan menyusui atau memberi nutrisi untuk bayi, masih ada urusan perawatan tubuh bayi yang perlu diperhatikan. Termasuk mandi. Kulit bayi yang masih sensitif tentu perlu perlakuan khusus. Di awal lahiran anak pertama, aku takut memandikan bayi lho. Badannya masih kecil dan terlihat lemah. Mau dicemplungin ke bak mandi bayi, takut pegangnya licin, takut airnya kepanasan, juga sebaliknya takut airnya terlalu dingin. 


Di event Community Gathering with Ariston Thermo Indonesia hari Sabtu, 7 September 2018 lalu, aku dan ibu-ibu lainnya belajar banyak mengenai perawatan kulit bayi dan jadi paham bahwa produk water heater Ariston dapat membantu ibu lebih mudah dan nyaman memandikan bayi. Acara inilah jawaban dari kekhawatiran ibu-ibu dalam urusan merawat kulit bayi :) Makasih udah diundang yaaaa, Mommies Daily!

Sumber foto: Instagram @mommiesdailydotcom
Event ini menghadirkan dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK, PhD, FINSDV, FAADV dari Indonesian Pediatric Dermatologist, Mr. Jacopo Guazzarotti, Marketing & Project Sales Ariston, Ms. Nina Fidyastuti Pratiwi, BM Ariston Thermo Indonesia, dan ibu muda selebriti Putri Titian. Apa aja sih yang dibahas?

Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Rasanya Jadi Ibu 2 Anak

Assalamu'alaikum...

Sepanjang proses menjadi ibu bagi dua orang jagoan kecil, aku mengalami roller coaster berbagai macam perasaan. Antara bahagia dan baper datang silih berganti.


Dari yang awalnya merasa ingin kasih adik buat mas Z, sampai perasaan 'kasihan ya mas Z masih kecil perhatiannya harus terbagi'. Ini dia timeline perjalanan perasaanku sebagai seorang ibu*. Juga di akhir nanti ada tips abal-abal dariku supaya nggak ada sibling rivalry antara mas Z dan adiknya.

*nggak semua ibu pasti merasa apa yang kurasakan yaaa

Sebelum Hamil Adiknya Mas Z: Berharap

Dari mulai datangnya haid pertama saat Z berusia 13 bulan (oh ya, mungkin karena efek memberi ASI, haid ku datangnya lama banget, baru datang 13 bulan pasca melahirkan), aku dan suami sudah memutuskan nggak pakai KB-KB-an. Toh dulu mas Z juga didapatkan dengan perjuangan program hamil. Takut kualat kalau pakai KB malah susah hamil lagi.

Ke Jepang sama Z, Oktober 2017... sebulan sebelum positif hamil.

Kami pun penasaran, sepertinya asik juga kalau mas Z ada adiknya. Beberapa kali mencoba test pack, belum hamil-hamil juga. Strip satu terus. Sabar ya mas Z, belum rejekimu mendapat adik... Padahal kami pengen memberi teman untuk Z.

Saat Tahu Hamil Adiknya Z: Bahagia dan Baper

Alhamdulillah! Ternyata ada rejeki juga mas Z bisa punya adik! Kala itu mas Z sudah 2 tahun, sedang proses toilet training dan sapih.

Perut mulai membuncit, saatnya memberi tahu Z kalau dia akan mempunyai adik. Karena berharap nggak akan terjadi sibling rivalry, aku tetap membiarkan Z gentle weaning, nggak serta merta stop ASI walaupun hamil. Ada kecemasan, kalau tiba-tiba distop menyusui dengan alasan "kasihan adeknya di perut" seperti yang dibilang banyak orang, nanti Z malah sebal dengan calon adiknya.

Baca: Drama ASI Part 4 - Proses Gentle Weaning

Saat hamil itu, entah mengapa sepertinya Z jadi lebih ngalem. Makan yang dulunya sudah bisa sendiri, kini maunya disuapi. Kalau tidur, maunya sambil peluk ibu. Pasca sapih, ritual tidur malam harus didongengin ibu, peluk-peluk dan cium ibu. Kalau tengah malam terbangun, maunya kembali peluk ibu lagi.

Kedekatanku dan Z saat hamil, ternyata membuatku baper. Seringkali perasaan sedih muncul. Terbayang gimana nanti ya kalau sudah ada adiknya? Sempatkah kami berpelukan tiap malam? Atau aku akan sibuk menyusui adiknya? Nggak terasa tiap kali mikirin Z, air mata pun menetes. Huks... kasihan Z, umurnya masih 2 tahun sudah harus belajar berbagi ibunya.

Lewat DM di Instagram, banyak ibu-ibu yang memberi semangat. Bahwa kalau ada 2 anak, kasih sayang ibu bukannya dibagi 2, tapi DIKALI 2. Aku sedikit terhibur. Tapi lalu baper lagi. Iya kasih sayangnya dikali 2, tapi perhatiannya tetap dibagi 2 kan? Huhuhuuuu...

Ada pula DM dari beberapa ibu dengan 2 anak, yang bercerita betapa sulit transisi saat adik lahir. Ada yang anak pertamanya merasa sedih karena bundanya kini selalu tidur hadap adik (karena menyusui), bahkan ada yang anak pertamanya kabur ke rumah nenek sambil bilang, "Ayah dan ibu sudah nggak sayang lagi sama aku..." Ya Allah...

Semua akan berubah dengan adanya anggota keluarga baru.

Saat Adiknya Lahir... Minggu Pertama: Berat

Minggu pertama merupakan masa terberat. Selain kondisi fisik ibu yang terasa babak belur (apalagi aku ada problem pelvic pain yang luar biasa sakit) dan emosional belum stabil, Z pun mulai harus beradaptasi dengan adik barunya.

Setelah Z terpaksa dipisah dengan ibu saat di menginap RS, Z jadi agak pendiam. Saat adik sudah di rumah, kakung membantu jemur adik di lantai 2 rumah kami, karena sinar matahari bisa masuk ke lantai atas. Lalu kakung menggendong adik turun. Mas Z yang melihat, langsung minta gendong kakung juga. Mulai cemburu sama adiknya :)

Malam hari, ketika mau tidur, Z merasa sedih karena ada adik di sebelah ibu. "Ibu bobok mana? Di deket adek?" Lalu ia menangis meraung-raung. Bapake langsung mengambil adek, menggendongnya keluar kamar. Memberi kesempatan ibu untuk hanya mengeloni mas Z.

Dalam hati, rasanya seperti patah hati.

Namun keesokan paginya, saat bangun mas Z langsung merangkak menuju adiknya. Ibu memperhatikan, penasaran Z mau ngapain. Lalu Z tiduran di sebelah adik sambil pegang tangan adik. Ibu bersyukur sekali, drama tadi malam mas Z cemburu sama adik nggak berlanjut.

Oiya, pernah sedih juga saat naik mobil bersama-sama, aku memangku adik, dan Z menolak keras duduk di car seat. Z menggelendot di sampingku. Diam-diam aku mbrebes mili. Rasanya seperti mengkhianati Z dengan memangku adik, bukan Z lagi...

Setelah Adik Lahir... Minggu Kedua: Beradaptasi

Di akhir minggu kedua, kehidupan seperti mulai tertata kembali. Walau ada kejadian ditinggal ART dadakan pulang kampung, namun rasanya semua dapat diatasi. Adik yang masih sering tidur, membantu ibu bisa menemani Z main. Badan ibu yang mulai pulih, membantu ibu untuk kembali melakukan rutinitas menemani Z jalan-jalan bersepeda pagi / sore. Yah meski menemani Z membuat badan ibu terasa remuk redam di malam harinya. Tapi dengan itu, mood Z kembali membaik dan nggak selalu uring-uringan di rumah.

Z naik sepeda, adik bobo di stroller...
Sayangnya, per minggu kedua ini, Z nggak mau kemanapun tanpa ada ibunya. Padahal dulu sudah sering diajak pergi sama eyangnya, sama pakde budenya, sekarang kalo ada yang ngajak pergi dia tanya, "Ibu ikut?"

Z mulai posesif sama ibu, sepertinya dia trauma dengan kejadian terpaksa dititipkan dan diinapkan di rumah ipar dan mertua waktu lahiran adik.

Setelah Minggu Keempat: Bahagia dan Banyak-banyak Sabar :P

Saat adik berusia sebulanan, Z sudah mulai sayaaaang banget sama adiknya (apalagi saat umur 2 bulan). Hasrat uyel-uyel adik makin tinggi. Pipi adik ditowel-towel, dicium-cium. Ibu senang sih... tapiiii itu adik jadi kebangun terus dari tidurnya, hahaha. Itulah kenapa harus banyak-banyak sabar.



Saat ini rasa 'kasihan Z mau punya adik' yang muncul saat hamil, sudah hilang... Malah ibu jadi suka ngomelin Z karena tingkahnya aneh-aneh. Lompat-lompat di kasur padahal ada adik tidur. Tiba-tiba minta mimik ibu lagi (tentu nggak kuturuti, ngga mau tandem huhuhuuuu). Atau saat ibu mimikin adek, Z minta pipis atau pup. Atau saat lagi khusyuk ganti popok penuh pup, Z minta ibu ambilin susu ultra mimi padahal Z bisa ambil sendiri. Waduuuu stok sabar ibu kudu dibanyakin deh.

Kadang kalau melihat Z, ibu pikir dia sudah besar. Ibu berharap Z bisa 'dewasa'.

Padahal Z itu belum 3 tahun lho bu!

Waktu ke mall sama kakung uti, adik dititipkan ke kakung uti sementara ibu menemani Z ke toilet. Sambil bergandengan tangan, Z melompat-lompat riang dan tertawa sama ibu. Ibu pun diselimuti perasaan haru lagi. Ya Allah, kadang ibu 'lupa' kalau Z ini juga masih kecil. Masih butuh banget perhatian ibu.

Betul saran dari banyak orang, tetap luangkanlah waktu untuk ibu me time sama kakak! Meski yaaaa kadang malah kakaknya nggak mau kalo nggak sama adik :D

Yang Aku dan Suami Lakukan Supaya Nggak Terjadi Sibling Rivalry

Sekarang, bersyukur banget Z sudah sayang sama adik. Belum ada rebut-rebutan mainan karena adik masih kecil banget hehehe. Tapi ini beberapa hal yang aku dan suami lakukan untuk meminimalisir rasa cemburu Z pada adiknya.

  1. Sejak hamil nggak pernah menjadikan "adik" sebagai alasan saat melarang Z melakukan sesuatu. Misalnya, "ibu nggak bisa gendong, kasihan adiknya di perut" atau "Z jangan nenen lagi, kasihan adiknya". Tapi gunakan kalimat seperti, "Perut ibu makin besar dan berat, sekarang sudah mulai nggak kuat gendong Z... kalau gendong, ibu bisa sakit trus masuk rumah sakit, nanti nggak ada yang temani Z tidur..."
  2. Kerjasama dengan suami saat jam tidur malam tiba. Misalnya saat ibu butuh mengeloni Z, bapake gendong adik. Perlahan mulai dibiasakan ritual tidur sambil ada adik. Misal tetap mendongeng untuk Z sambil menyusui adik.
  3. Menyiapkan kado-kadoan untuk Z, agar dia nggak merasa 'kenapa banyak kado buat adik tapi buat aku nggak ada?'
  4. Mengarahkan Z memberi izin baju dan mainannya kelak dipakai adik. "Z, baju Z yang ini udah kekecilan. Nanti dipinjemin ke adik ya?"
  5. Menceritakan betapa senangnya punya adik, yang masih kecil belum bisa ngapa-ngapain, kalau sudah besar bisa jadi teman main. Bisa melalui dongeng ngarang sendiri, atau pas kebetulan lihat lagu di youtube (ada versi little baby bum) tentang seorang anak mau punya adik. Memberi contoh tetangga yang anaknya lebih dari 1, wah senang ya ada temannya.
Pokoknya tetap berusaha adil dan jaga perasaan si kakak deh :)

Sore ini, sambil cium-cium adik, Z bilang ke ibu,
"Bu, Z sayang sama adek..."

Aih, ibu meleleh nak...

Selasa, 04 September 2018

Kisah Kelahiran Adik Z

Assalamu'alaikum, dear blog...
Tanggal 14 Juli jadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku. Hari ketika adik lahir, dan aku resmi jadi ibu-ibu (tadinya ibu aja :p kalo anak 3 ibu-ibu-ibu yaaa hahaha jayusss). Beginilah ceritanya...



13 Juli 2018
Setelah berminggu-minggu mengalami kontraksi harapan palsu, hari Jumat itu rasa kontraksinya mulai agak melilit. Tapi masih nggak teratur waktunya. Padahal tanda-tanda sudah dekat melahirkan 'kan apabila jeda kontraksi mencapai 5 menit sekali dan terjadi selama 1 jam ya. Kontraksiku kadang mencapai 6 menit sekali, lalu hilang dan muncul lagi 1 jam kemudian.

Tapi suami dan aku punya feeling, ini jangan-jangan udah dekat waktunya. Besok agenda kita kudu santai, jaga-jaga kalo ada 'kejadian' besok. Mertua sempat minta diantarkan ke halal bihalal keluarga hari Sabtu, namun ditolak secara halus oleh suami, karena takutnya harus siaga.

14 Juli 2018
Benar saja ada kejadian! Jam 7 pagi saat berdiri dari kasur, terasa ada aliran tapi bukan pecah ketuban. Saat dicek, oalah ada (maaf) lendir darah segar. My mucous plug! Aku langsung mandi pagi dan diskusi sama suami, mending langsung ke RS atau tunggu kontraksi makin intens. Sambil browsing apa yang harus dilakukan saat terjadi hal seperti ini, diputuskan kami ke RS karena darah tetap mengalir (pakai pembalut nifas donk - untung sudah disiapkan).

Kekhawatiran pertama adalah: gimana dengan Z? Kami nggak pengen bawa Z ke UGD RS. Sementara dia ga mungkin mau ditinggal dengan bibik yang baru kerja belum sebulan di rumah. Dan mertuaku sedang jadi panitia halal bihalal keluarga, kami nggak mau bikin panik.

Alhamdulillah kejadian ini di hari Sabtu, adikku sedang menginap di rumah. Kami titipkan Z pada adikku. Z diajak keliling naik motor, sementara aku dan suami ke RS.

Sebelum ke RS kami sempat mampir McD dulu untuk beli sarapan. Burger McD adalah ngidam terakhirku hahahaha. Kami juga kan harus ada energi buat menghadapi hari yang nggak terduga ini.

Kalau mau melahirkan di RS Antam Medika, apabila obgyn sedang praktek, kami harus ke ruang praktek dulu. Namun bila nggak ada praktek, kami harus menuju UGD untuk dicek bidan. Karena itu hari Sabtu, kami pun ke UGD.

Cek tekanan darah oleh dokter jaga, lalu cek posisi bayi, pembukaan, dan cek kontraksi oleh bidan. Ternyata sudah bukaan 2. Bidan konsultasi via telpon dengan obgynku dr. Susanti, dan aku diminta rawat inap.

Alhamdulillah nyaman banget di RS Antam ini. Sekitar pukul 10.30 siang kamar rawat inap sudah siap. Akupun masuk kamar untuk beristirahat sambil menunggu kontraksi makin intens. Suami pulang ke rumah untuk belanja berbagai kebutuhan (beli sabun mandi, cemilan, minuman kotak untuk persediaan di RS), memandikan Z, dan menyiapkan baju-baju Z untuk menginap di eyangnya nanti malam (salah ibu nih, cuma menyiapkan tas ibu ke RS tapi nggak siapkan baju Z).

Sendirian di kamar RS nggak bisa tidur, coba-coba gerakan yoga untuk merangsang bayi turun ke panggul agar lebih cepat lahiran. Berhubung ngga bawa yoga mat jadi di sofa aja.

Z dijemput oleh ipar agar bisa bermain dengan sepupunya. Mbak ipar (doula Windy) sempat datang ke kamarku di Antam, ngajarin berbagai gerakan yoga dan rebozo agar perut terasa lebih nyaman. Kata ipar, berhubung aku masih cerewet dan masih napsu makan berarti lahirannya masih lama wkwkwk.

Lalu ipar meninggalkanku untuk mengajak Z ke mall (dari tadi Z hanya di luar RS bersama sepupunya, Z lihat air mancur dan disuapin makan siang oleh pak suami). Melalui foto-foto di whatsapp keluarga, Z pun tampak senang main di mall. Namun jujur di RS itu aku mellow banget mikirin Z. Bisa gak ya Z melalui malam ini tanpa ibunya? Dia kan belum pernah semalam pun nggak sama ibuk. Lalu gimana perasaan Z nanti ketika bertemu lagi dengan ibuk, eh udah ada adeknya. Pokoknya mellow banget lah berasa kasihan sama Z.

Jam 1.30 siang cek pembukaan, masih pembukaan 2 menuju 3. Kepala bayi sudah lebih turun. Yah lumayan lah ada kemajuan dikit. Oiya siang itu napsu makanku menggila, makanan RS 1 tray habis ludes padahal porsinya banyak banget.

Jam 4 rasa mules makin melilit. Tapi masih bisa ditahan. Mertua yang baru pulang dari halal bihalal bingung, kok aku masih bisa cengengesan.

Namun menjelang jam 5 mukaku sudah makin kecut. Kontraksi sudah mulai datang hampir 5 menit sekali. Tiap aku ke kamar mandi, aku minta ditemani suami, karena saat 'gelombang' tiba-tiba datang, duh berdiri pun ngga sanggup, sakitnya bikin pengen nangis.

Cek bukaan jam 5 sore, oh sudah bukaan 5. Bidan bilang, setelah ini prosesnya bisa sangat cepat. Kalau sudah nggak tahan, aku diminta ke ruang melahirkan di seberang ruang rawat inap. Sebaiknya sebelum nggak tertahankan sih, agar masih kuat jalan ke ruangan tersebut.

Jam 6 sore, azan maghrib berkumandang. Makin sakit ya Allah. Aku bergegas solat sambil duduk, pak suami pun segera solat. Lalu kami berjalan ke ruang melahirkan.

Pukul 6.30 malam. Bukaan 6. Tiap kontraksi datang, aku pengen menjerit tapi gak boleh. Ingat napas. Ingat napas. Simpan energi. Sempat nangis kesakitan lalu nyesal karena hidung jadi ingusan bikin susah napas hahaha. Bidan-bidan yang baik membantu pijat punggungku tiap kontraksi datang.

Pukul 7 malam. Keringat membanjiri tubuh, sensasinya luar biasa. Istirahat dari gelombang kontraksi hanya bisa sekitar 1-2 menit, lalu ia datang lagi. Pembukaan pun berjalan makin cepat. Bukaan 7, bukaan 8...
Sampai pukul 7.30 tiba-tiba sudah bukaan 9. Aku menjerit, "Aduuuhhh ga tahan pengen ngedeeeen!!!!" Dan obgynku dokter Susanti tiba-tiba sudah masuk ruangan.

"Kalo mau ngeden sudah boleh nih mbak..." kata bu dokter.

Aku pun dipandu bidan untuk tarik napas dan ngeden. Rasanya seperti percaya ga percaya percaya, oh... sudah tiba waktunya ya?

Sepertinya ada 3x kali mengejan sekuat tenaga, bayipun mbrojol! Bapak suami menangis bahagia, "Alhamdulillaah..."

Permintaan kami untuk delay cord clamping dipenuhi obgyn, hingga tali pusat berhenti berdenyut. Sayang permintaan IMD agak missed karena DSA pro ASI yang diincar, nggak bisa hadir Sabtu malam itu. Dokter jaga yang menggantikan mungkin kurang paham prosedur IMD, sehingga nggak langsung meletakkan adik di dada ibu setelah lahir. Adik dibersihkan dulu, diukur badan dan prosedur-prosedur lain. Setelah bersih baru adik diletakkan di dada hanya selama beberapa menit lalu diambil lagi 'agar gak kedinginan'. Tapi waktu itu aku sudah lemas sekali, jadinya ya udah deh ya... nanti lagi belajar menyusuinya kalo sudah di kamar.



Oiya saat adik diletakkan di dada itu, obgyn menjahit bagian bawahku yang terobek saat mengejan tadi. Nggak pakai episiotomi seperti saat kakak Z dulu, tapi terobek juga...

Jam 9.30 malam aku dan bayi masuk ke kamar untuk beristirahat. Ternyata aku mengalami pelvic pain yang sangat menyakitkan, mungkin gara-gara posisi mengangkang saat lahiran tadi membuat engsel panggulku bergeser (lagipula ada kan namanya hormon relaxin yang membuat otot panggul lebih meregang agar mudah melahirkan). Gara-gara pelvic pain ini aku nggak bisa jalan, dan sakit sekali membuka tutup otot pahaku.

Saat hendak menyusui adik, aku sampai harus dibantu suami mengambilkan adik untuk diletakkan di pangkuanku karena aku nggak bisa mengambil adik di kasur bayinya, meski kasur adik tepat di sebelah kasurku. Untuk berguling hadap kanan kiri saja selangkangan dan panggulku sakit luar biasa. Huhuhu. Alhamdulillah ada pak suami yang selalu siaga.

Malam itu, kakak Z menginap di rumah kakak ipar, kecapekan habis main ke mall sama sepupunya.

Hari kedua di RS
Pagi hari, saat obgyn visite, beliau bilang, "Ibu kalau sudah mau pulang dari RS boleh lho..."

Whatttt??? Nyantai banget nih obgyn hahaha. Tapi karena pelvic pain ku sakit sekali, kuutarakan aku lebih baik di RS dulu. Lalu obgyn pun bilang, coba besok ke fisioterapi saja (karena Minggu tidak ada praktik fisioterapi), hari ini kembali rawat inap sambil tunggu visite DSA.

DSA pun datang, dan memberi banyak wejangan soal perawatan bayi. Beliau sangat pro ASI, dan menasihatiku nggak usah kuatir kuning meski golongan darahku berbeda dengan adik (yang penting rhesus-ku bukan rhesus negatif). "Ibu fokus aja ke naikin BB bayi ya! Susui sampai payudara kosong!"

Siangnya kakak Z datang bersama mertua dan ipar. Kupikir Z bakal lari memelukku atau heboh bertemu ibunya lagi. Namun ternyata ia malah diam aja seperti jaga jarak. Terasa ada yang berbeda, hiks. Mungkin dia juga sedang meredam perasaannya yang tiba-tiba punya adik baru dan bapak ibunya di RS.

Drama juga ketika Z diajak pulang oleh eyang-eyangnya. Ia nggak mau pulang. Mau sama ibu, katanya. Lalu sama suami diajak ke rumah dulu, untuk mandi dan mengambil baju-baju tambahan. Di rumah, Z dijemput ipar. Menurut cerita suami, Z menangis histeris, maunya sama bapak aja. Huhuhu kalau teringat masa itu jadi mellow deh. Kasihan sama Z yang sedih banget dipisah sama bapak ibunya. Tapi nggak mungkin juga Z nginap RS, kan. Dan di RS aku sangat butuh kehadiran suami karena pelvic pain-ku sebegitu parahnya aku bahkan butuh bantuan untuk ke toilet dan mengangkat bayi saat menyusui.

Hari ketiga di RS
Aku mencoba fisioterapi, rasanya biasa aja sih, nggak ada perbaikan. Disarankan, fisioterapi dilakukan 7 hari berturut-turut. Tapi kok males ya. Kalau pengalaman lahiran kakak Z dulu, dalam 7 hari pelvic pin berangsur hilang. Oh yes, keluhan pelvic pain ini juga ada di kelahiran pertama tapi gak separah kelahiran kedua. Aku berharap pelvic pain yang sekarang pun bisa sembuh sendiri.

Suami sudah nggak sabar ingin segera jemput Z untuk pulang ke rumah. Kangen berat sama Z, dan kasihan karena kemarin Z nangis kejer waktu berpisah sama bapake. Obgyn dan DSA bilang, kalau nggak ada apa-apa, kami sudah boleh pulang. Namun adik belum tes bilirubin karena bilirubin hanya bisa dites +48 jam pasca kelahiran, yang berarti nanti malamnya.

Karena banyak pertimbangan, kami memutuskan pulang saja hari itu. Nggak tega kalau Z rewel lagi, terisah sama bapak ibunya. Adik akan dites bilirubin minggu depannya saat kontrol pertama pasca pulang dari RS. Reaksi kakak Z saat dijemput bapake? Sumringah! Senang banget! Di RS ia semangat cuci tangan dan bertemu adiknya.

Senin siang itu, kami pun resmi pulang ke rumah, menjadi sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak :)

Minggu, 01 Juli 2018

Ketika Bumil Ke Dubai, Pakai Kursi Roda...

Assalamu'alaikum!
Bulan April lalu, sesuai rencana beberapa bulan sebelumnya, aku dan keluarga berwisata ke Dubai. Kota tersebut kami pilih dengan alasan: 1. Ibu bapak ingin melihat Dubai; 2. Aku dan suami sudah pernah ke sana sehingga bisa jadi 'tour guide'; dan 3. Karena aku sudah pernah ke sana, gak perlu terlalu 'ngoyo' merancang itinerary yang padat, apalagi kondisiku sedang hamil 'kan ga boleh capek-capek juga.

The Plans & The Dramas

Nggak disangka, beberapa minggu sebelum keberangkatan, ketika kontrol obgyn aku dinyatakan mengalami kontraksi dini dan kalau sedang 'kumat' (yang mana tiap hari bisa kumat hingga 5x kontraksi) disarankan bedrest oleh obgyn. Bagaimana mau bedrest ya, karena meski di rumah saja, aku juga momong Z yang sedang di fase toddler. Maunya minta ditemani main. Sehingga saran untuk bedrest seperti terlupakan dalam 3 hari.

Nggak disangka, seminggu sebelum berangkat ke Dubai, muncul flek (blood spotting) yang ditakutkan! Langsung deh aku dan suami cek ke obgyn lain untuk second opinion, dan saat di USG memang sudah terlihat kontraksinya (padahal waktu itu usia kandungan masih 24 weeks - masih terlalu jauh untuk lahiran!). Kontraksi dini ini, risikonya adalah kelahiran prematur. Beda ya dengan kontraksi palsu / Braxton Hicks. Untungnya obgyn santai saja. Aku diberi obat anti kontraksi, dan diberi ijin bepergian jauh asalkan nggak banyak jalan dan berdiri.

Senin, 11 Juni 2018

Ibu Hamil Berpuasa Bebas Panas Dalam

Assalamu'alaikum!

Bulan Ramadhan kali ini menjadi spesial buatku karena aku dalam kondisi hamil 7-8 bulan. Menjelang Ramadhan tiba, sempat ada kekhawatiran apa aku bisa kuat puasa dengan kondisi hamil besar, dimana bayi dalam perut sedang tumbuh pesat. Apa aku bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisinya? Apa aku bisa berpuasa dengan nyaman?

Bumil ngidam... sayap ayam krispi :p Gorengan lagi!

Ternyata alhamdulillah sampai minggu keempat ini Allah memberi kekuatan. Meski di minggu pertama berpuasa, terjadi kontraksi di perut yang cukup mengkhawatirkan, setelah konsultasi dengan obgyn ternyata itu akibat dehidrasi. Jadi disarankan apabila setelah beristirahat, kontraksi perut tetap ada, tandanya itu harus berbuka dan minum air. Namun bila kontraksi hilang saat istirahat, silakan lanjutkan berpuasa.

Obgyn juga mengingatkan untuk memenuhi kebutuhan minimum 2 liter air dalam sehari, dikejar dari buka puasa hingga sahur. Disuruh minum sampai kembung! :D

Awal puasa, menu makanan diusahakan sehat-sehat. Takjil home made aja, sederhana seperti es blewah, es cincau, atau kolak pisang. Makanan pun lengkap karbo, protein dan sayur.

Haloooo nasi padang!

Tapi makin hari makin pusing mikirin menu buka dan sahur, akhirnya mulai suka jajan-jajan deh hiihihiii... Halo nasi Padang berlemak (jujur, menu ini paling nggak bisa nolak buat nambah-nambah deh!), juga gorengan abang-abang! Entah kenapa ya bakwan sayurnya abang-abang lebih enak daripada bakwan sayur home made -_-"

Pas makannya sih enak.... tapi satu jam setelah itu....

Muncullah ketidaknyamanan dalam berpuasa yang kedua: Panas Dalam!

Apakah Panas Dalam Itu?

Panas dalam mengacu pada keadaan tubuh yang lebih sensitif terhadap panas, tenggorokan sakit, dan selalu haus. Biasanya panas dalam disertai sariawan, bibir pecah-pecah, dan juga rasa nggak nyaman di pencernaan.

Apalagi di bulan Ramadhan ketika asupan cairan berkurang. Panas dalam juga dapat disebabkan karena tidak seimbangnya asupan makanan dan minuman terutama yang bersifat panas dan dingin.

Bagaimana Mencegah Panas Dalam?

Seharusnya, kita tetap minum minimal 8 gelas air setiap hari, nggak terkecuali di bulan puasa. Caranya adalah menyicil minum dari waktu berbuka hingga sahur hingga terpenuhi kebutuhan 8 gelas. Apalagi untuk ibu hamil atau menyusui, ukuran 8 gelas atau 2 liter ini WAJIB dan menjadi patokan minimum. Kalau bisa lebih, deh!


Selain itu, sebaiknya saat berbuka puasa hindari makan gorengan yang banyak mengandung minyak. Karena bisa membuat tenggorokan yang sakit terasa lebih menjadi.

Lalu kalau terlanjur panas dalam, gimana dong?

Minum Aja Larutan Cap Kaki Tiga yang Sudah Terjamin!

Cap Kaki Tiga adalah minuman tradisional dengan resep turun temurun, dipercaya meredakan panas dalam selama lebih dari 80 tahun. Cap Kaki Tiga berhasil mendapatkan TOP BRAND, MASTER BRAND, SOCIAL MEDIA AWARD, BEST BRAND, WOM Marketing, Indonesia Top Brand Award, dan Satria Brand Award tiap tahunnya. Larutan Cap Kaki Tiga mengandung mineral alami Gypsum Fibrosum dan Calcitum yang berkhasiat untuk membantu meredakan gejala panas dalam seperti sariawan, bibir kering dan sembelit.

Nggak perlu kuatir untuk minum Larutan Cap Kaki Tiga, karena telah menerima sertifikat HALAL MUI dan resmi terdaftar di BPOM RI. #PastikanYangBenar logonya seperti ini ya!

Bawa Larutan Cap Kaki Tiga ke resto all you can eat oke juga lho, setelah makan aneka jenis makanan, mencegah panas dalam :D
Larutan Cap Kaki Tiga ini aman diminum oleh ibu hamil, ibu menyusui, juga anak-anak. Pastikan sesuai aturan pakai yang dianjurkan ya...

Tips-tips Berpuasa Untuk Ibu Hamil / Menyusui

Spesial buat ibu hamil, biar lebih kuat puasa, ada beberapa tips yang sempat kuterapkan nih:
  1. Niatkan lillahi ta'ala, dan sadar akan kemampuan diri sendiri. Jangan dipaksakan melanjutkan puasa kalau memang sudah muncul tanda-tanda dehidrasi, pusing, lemas, mual dan muntah. Karena Allah memberi keringanan bagi ibu hamil menyusui untuk meng-qadha puasanya.
  2. Konsultasi ke obgyn pribadi, karena beliau pasti tau riwayat kondisi kesehatan ibu hamil dan janin/bayi di dalam rahim. 
  3. Berbuka puasa, awali dengan kurma dan air putih agar indeks glikemik tidak naik mendadak.
  4. Makan makanan bernutrisi, lengkap karbohidrat kompleks, protein, serat, dan buah-buahan. Makannya dibagi 3 kali: saat berbuka, malam setelah tarawih, dan saat sahur. Jadi tetap makan 3 kali sehari.
  5. Saat sahur, ada juga yang menyarankan minum jus kurma susu (kurmanya sudah direndam air maksimal 12 jam, tidak boleh lebih karena akan jadi beralkohol) untuk menambah energi.
  6. Untuk mencegah timbulnya gejala panas dalam, tenggorokan kering, dan sariawan boleh minum larutan Cap Kaki Tiga 1 botol 200 ml saat sahur dan 1 botol 200 ml saat berbuka puasa agar badan lebih segar selama berpuasa.
Kamu punya tips-tips lainnya supaya makin kuat puasa? Share di komen yaaa :D

Rabu, 06 Juni 2018

Berkenalan Kembali Dengan Bio Oil

Assalamu'alaikum, blog..

Beberapa bulan lalu, aku dan Z berkesempatan hadir di event peluncuran Bio Oil kemasan terbaru dan terbesar, yakni 200 ml. Jujur, aku tertarik untuk datang karena memang ingin tahu tentang produknya. Di kehamilan pertamaku dulu (kini bayinya sudah 2.5 tahun - baby Z), aku cukup menyepelekan masalah stretch mark. Beberapa kali pakai Bio Oil, tapi nggak rutin dan nggak telaten. Pikirku, stretch mark sepertinya nggak muncul-muncul. Mungkin aku termasuk salah satu orang dengan gen yang beruntung nggak mendapatkan stretch mark.


Eh di bulan ke-9, tiba-tiba gurat-gurat hitam stretch mark pun muncul membabi buta tanpa permisi dari perut hingga ke belakang. Aku kaget tentunya. Kirain stretch mark hanya akan berupa garis halus dengan tingkat warna lebih muda dari kulit. Kenapa bisa hitam seperti ini??? Mak perutku makkk...

Ternyata memang pada bulan ke-9 kehamilan, perut melar maksimal. Makanya di kemasan Bio Oil pun disarankan ibu hamil mulai pakai rutin sejak awal trimester 2. Jadi kulitnya lebih siap untuk 'melar' di akhir kehamilan.

Tentu aku nggak mau mengulang mimpi buruk stretch mark donk di kehamilan keduaku.

Senin, 04 Juni 2018

Fitrah Seksualitas, Bukan Sex Education (Free Printable)

Assalamu'alaikum!

Mungkin yang follow instagram-ku udah baca beberapa post #Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas dari kelas online yang aku ikuti: Kelas Bunda Sayang - Institut Ibu Profesional. Bulan ini kelas kami diminta untuk membuat presentasi berkelompok, dengan metode presentasi melalui whatsapp group, yang ternyata seru banget pengerjaannya.

Link download Printable yang resolusinya lumayan, ada di bagian bawah artikel ya! 
Dalam prosesnya, terasa semangat mencari ilmu bareng-bareng lalu merancang presentasi. Maklum yahh kuliah udah berlalu 9 taun lalu, jadi kangen aja kerja kelompok begini :p Lalu... aku tiba-tiba semangat bikin media edukasi buat anak-anak tentang Fitrah Seksualitas ini. Nanti aku share ya Printable yang bisa dimainkan bersama anak.

Eh dari tadi ngomongin Fitrah Seksualitas melulu. Sebenernya udah pada tau belum tentang Fitrah Seksualitas? Akupun baru 'ngeh', kalau ternyata artinya beda dengan Sex Education!

Selasa, 15 Mei 2018

Menikmati Superfood Indonesia dengan Herbilogy

Assalamu'alaikum!

Sesungguhnya postingan super telat ini sudah ngendon di draft sejak tahun lalu >_< Sejak momen berusaha hamil, beneran hamil, hingga jadi ibu menyusui, aku jadi sadar banget pentingnya gizi yang cukup demi kesehatan ibu. Apalagi ketika hamil dan menyusui, nutrisi ibu 'tersedot' oleh si bayi. Beruntung sekali aku bisa ikut acara Blogger Gathering Herbilogy pada hari Selasa, 18 Juli 2017. Acara ini membuka mataku terhadap gaya hidup sehat dengan nutrisi seimbang, salah satunya melalui ekstrak tanaman 'superfood' khas Indonesia. 


Wait... Indonesia punya superfood? Ternyata banyak, lho! Dulunya aku kira, superfood itu hanya ada di tanaman impor seperti biji chia seed, ikan salmon, dan makanan mahal lainnya. Ternyata definisi superfood lebih luas dari itu. Superfood adalah tanaman dengan berbagai manfaat kesehatan seperti antioksidan, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Memakan superfood berarti mengurangi risiko penyakit kronis, memperpanjang umur, dan menjaga kelangsingan tubuh ideal.

Minggu, 08 April 2018

Drama ASI #4: Proses Sapih Gentle Weaning (The End)

Assalamualaikum buibuk pembaca...

Sesulit mengawalinya, sulit pula melepaskannya bagiku. Itulah proses menyusui :) Nggak disangka, melihat drama-drama memperjuangkan ASI di awal kehidupan Z, akhirnya bisa tercapai 2 tahun menyusui.

Menyusui Z dimanapun saat bayi


Sejak beberapa bulan sebelum Z berusia 2 tahun, aku sudah browsing-browsing metode penyapihan. Gentle Weaning (Weaning With Love - WWL) adalah satu-satunya cara yang menurutku tidak menyakitkan, baik buatku maupun Z. Sungguh aku berharap, di akhir masa menyusui, Z akan dengan ikhlas bilang, "Bu, Z sudah besar, sudah gak mimik ibu..."
Ternyata proses weaning ini butuh berbulan-bulan, dan tanpa disangka dalam prosesnya, aku hamil pula hehehe.

Beginilah timeline-nya.

Rabu, 07 Februari 2018

Toilet Training Baby Z Dalam 3 Hari!

Assalamu'alaikum..

Buibuk, merasa nggak kalau salah satu peer dalam dunia parenting adalah.. toilet training? Sampe kapan anak mau pake diapers? Selain dari biaya yang tinggi, diapers juga bikin sampah makin menggunung. Semakin cepat anak diajari toilet training, tentu makin baik untuk kemandiriannya.


Pertanyaan berikutnya adalah: Kapan anak dan emaknya siap melakukan toilet training??? Oh ya, kunci toilet training sebenarnya ada di kesiapan mental ibu/ortunya lho.

Sebelum memulai kisah sukses Toilet Training Baby Z, aku ceritain dulu ya kisah gagalnya.

Kegagalan Pertama Toilet Training Baby Z, Saat Usia 18 Bulan

Di umur Z 18 bulan, kuputuskan aku mau mencoba toilet training. Persiapan pertama adalah membeli training pants di marketplace online. Setelah survei beberapa lapak yang menjual dengan harga termurah plus model celana yang cukup lucu, akhirnya aku beli 6 pcs training pants. Sungguh dalam hati, 6 pcs itu rasanya kurang. Tapi harga training pants kan mahal, jadi dicukup-cukupkan aja lah.

Saat 'toilet training' dengan training pants, yang ada Z tetap pipis tanpa sadar. Karena dia masih merasa nyaman dengan berbasah ria di training pants. Bocor pipis gak terlalu parah, tetap tembus ke celana luaran namun gak sampai membanjiri lantai. Sebetulnya, hal yang kelihatan seperti 'advantages' ini (anti bocor) justru merugikan. Karena anak tetap nyaman-nyaman aja walau basah.

Rabu, 24 Januari 2018

Hello Blog, Hello 2nd Trimester

Assalamu'alaikum dear blog & readers...

Nggak terasa udah lebih dari 2 bulan blog ini terbengkalai. Sudah lama rasanya nggak buka laptop, apalagi buka blogger.com. Rasanya mual dan malas ngapa-ngapain, karena ternyata.... saya hamil lagi, sodara-sodara.

Me at 12 weeks of pregnancy
Alhamdulillah... Sungguh berkah yang nggak disangka-sangka. Sekitar menjelang sebulan setelah pulang dari Jepang, iseng aja install aplikasi jadwal menstruasi. Yang mana pas hari H kok ya si bulan ga datang-datang yaaa... Iseng cek dengan stok testpack yang ada di rumah (oh ya aku punya stok testpack Rp1000-an merk Onemed yang murah meriah itu), kok garisnya ada 2 yaaa walau samar-samar.

Suami pun masih percaya gak percaya. Karena kami sudah mencoba-coba setahun sejak Z umur 13 bulan (kesuburan baru balik setelah Z 13 bulan - thanks to frequent nursing :D), dan melihat perjuangan program hamil dulu untuk mendapatkan Z... Rasanya bisa hamil alami itu suatu keajaiban!

Kami bersabar menunggu 2 minggu dari sejak testpack 'positif' untuk pergi menemui dokter kandungan di rumah sakit. Untuk kehamilan kali ini, kami pilih RS Antam Medika yang lokasinya nggak jauh dari rumah. Setelah baca-baca review, ada obgyn wanita yang cukup recommended yaitu dr. Susanti Budiarti Sp.OG. Alhamdulillah, ada RS dekat, obgyn cewek pula. Udah malas ke Mitra Keluarga Gading karena jalanan yang semakin macetttt dan aku kudu ke RS bawa Z pula 'kan. Makin dekat RS-nya, makin baik.

Kehamilan kedua tentu membawa cerita berbeda dengan yang pertama. Sekarang meski lemas mual males ngapa-ngapain, ada Z yang usianya sudah 2 tahun, sedang aktif-aktifnya dan butuh banyak perhatian. Aku merasa bersalah sih karena sering lemas di rumah, kubiarkan aja Z nonton Youtube kartun di TV. Jadi anak yutub deh T_T Meski tentu setiap nonton tetap kutemani, karena Z maunya ada teman buat membahas apa yang dia lihat di TV. Tetap aja rasanya guilty banget nggak ngasih Z kegiatan yang lebih bermanfaat. Mamak mualll huhuhu... Tak jarang sambil nemenin Z main, akupun ketiduran :p Z marah deh, "Ibu gak boleh bobokkk!!!" sambil bangunin ibunya.

Z pun masih belum berhasil tersapih. Memang rencananya ibu maunya Weaning With Love, menunggu Z sendiri yang rela melepas ASI yang telah menjadi sumber kenyamanannya dari bayi. Ibu bapak selalu sugesti Z bahwa dia sudah besar, sudah 2 tahun mimik ibu, sudah waktunya berhenti mimik. Tapi Z-nya masih belum rela melepas. Ya sudahlah. Aku bertahan meskipun perihhhh nyusuin sambil hamil di trimester awal ini. Perlahan menjelang trimester 2, rasa sakit menyusui pun berkurang. Nanti urusan sapih menyapih ini akan diceritakan di postingan berbeda ya kalau sudah berhasil tersapih.

Besok, usia kandungan akan mencapai 14 minggu. Lagi-lagi alhamdulillah. Terima kasih Allah sudah memberikan kesempatan buat kami. Semoga dedek bayi tumbuh sehat sempurna di dalam rahim ibu. semoga ibu bisa menjadi ibu yang baik buat Z dan dedeknya. Semoga Z juga bisa jadi kakak yang baik untuk adek yaaa, seneng dia mau punya adek :D

Hello, 2nd Trimester :)