Rabu, 01 November 2017

Return to Tokyo #1: Traveling With Sick Toddler & JAL Review

Assalamu'alaikum!
Buat kamu-kamu yang lihat akun Instagram-ku, mungkin sudah tau kalau minggu lalu aku baru saja melakukan perjalanan ke Tokyo, Jepang. Ya, ini merupakan kali kedua aku ke Jepang setelah sebelumnya menikmati musim sakura pada April 2017. Kok mau sih ke Jepang 2x dalam setahun? Jawabannya adalah, karena masih sangat banyak objek di Jepang yang belum dieskplorasi bersama suami tercinta. Pada trip sebelumnya kan aku hanya bersama suami selama 1 hari karena suami dinas dan aku jalan-jalan sama bapak ibuku :)

Rombongan kami, beserta semua barang bawaan: 2 koper besar, 1 koper kabin, 1 stroller, 1 ransel. Minimalis ya!
Yang bikin perjalanan kali ini terasa berbeda adalah... karena kami bayar sendiri tiket dan penginapannya! Hehehehe... Ya yang sebelumnya suami dibayarin kantornya karena urusan kerjaan, dan aku ditraktir ortuku. Maka ketika ada promo tiket murah Japan Airlines (JAL) seharga Rp 4juta untuk pulang pergi, suami langsung semangat untuk beli! Beruntung setelah beli, ternyata nawarin mertua eh pada mau ikut juga. Jadi untuk urusan penginapan bisa lebih murah karena bagi dua, pesan yang 2 kamar dalam 1 apartemen.

Bocah Sakit Sebelum Perjalanan :(

Nggak disangka, 3 hari sebelum berangkat ke Jepang, Z batuk pilek parah :( Sempat disertai demam ringan di awal-awal gejala sakitnya. Seperti kecolongan, padahal sudah lumayan berhati-hati jaga makanan dan aktivitasnya Z. Ya Allah, rasanya galau banget. Udah lumayan banyak mengeluarkan uang untuk liburan impian, ehhh anak sakit. Padahal beberapa bulan lalu baru aja baca blog Alodita, bagian Traveling With A Sick Toddler, mengenai perjalanannya ke Jepang awal tahun ini dan anaknya sakit sebelum berangkat. Kok ya beneran kejadian di Z.

Penerbangan kami jadwalnya pk. 06.40 pagi. Artinya kami sudah harus tiba di bandara pukul 04.40. Dan berangkat dari rumah jam... 3-an pagi! Aku hanya mengganti diapers Z dan langsung mengangkutnya ke taxi. Ternyata sampai di bandara dia melek segar bugar, hanya batuk pileknya masih tetap saja parah. Agak parno juga, takut menyebar virus Z dan takut Z ga nyaman selama perjalanan. Tapi sebelumnya aku sudah whatsapp DSA-nya Z dan disarankan membeli obat tetes hidung untuk Z di pesawat.

Yang paling sedih dari anak batuk adalah... kadang batuknya sampai muntah! Di bandara Soekarno Hatta aja aku sudah sekali menggantikan baju Z karena kena muntahan. Stok baju kudu banyak. Stok diapers yang kusiapkan juga mepet banget. Kesalahanku nggak memperhitungkan kebutuhan minum anak flu kan meningkat, volume pipisnya juga meningkat.

Aku beli Mango Chicken Pocket A&W dan Panini Starbucks di bandara untuk sarapan Z. Dua menu itu, 2 minggu lalu pernah kubeli saat di bandara dan Z makan dengan lahap! Namun kali ini, Z menolak :( Sedikit sekali asupan yang masuk untuk Z, hiks... Oiya untung sebelum berangkat sempat masak pan fried salmon (baca: salmon dipanggang di wajan hehehe sok keren amat bahasa Inggrisan :p), dibekal bersama nasi dan telur ceplok. Lumayan salmonnya digadoin Z. Namanya bocah lagi gak enak badan ya... Makan pun pilih-pilih...

Untungnya kami sempat membeli sarapan roti-rotian, karena dalam perjalanan 7 jam di pesawat (pagi berangkat, sampainya sore di Narita), makanan baru disajikan menjelang jam makan siang. Jadi tips-nya, selalu sedia perbekalan ya buibuk!

Review Makanan JAL dari Indonesia ke Jepang dan Sebaliknya

Ternyata, makanan yang disajikan di JAL sangat mewah untuk ukuran kelas ekonomi! Puas banget makannya. Aku pilih menu chicken curry. Konon, makanan di JAL dari Indonesia insyaAllah halal. Namun untuk yang dari Jepang, kita harus pesan menu khusus Muslim maksimal 2 hari sebelum keberangkatan. Jangan sampe ga pesan ya buibuk! Pun untuk makanan bayi dan anak-anak.

Ini dia tray makananku di pesawat, dalam perjalanan dari Jakarta ke Tokyo. Yakult dapat 2!! Waw jatuh cinta banget dengan servis macam gini hihihi...

Pestaaaa... ada salad sayur (paprika timun), buah potong, cake coklat, 2 yakult, nasi kari, dan 'bean soup' yang rasanya seperti sup miso

Makanan Z: pisang, 2 yakult, TOP & Kitkat (dibajak ibunya), kue macam pancake dan 3 kentang kecil sebagai main menu, pudding, kue muffin. 
Tray Z (children menu) lebih pesta pora lagi. Main menu-nya kue. Dapat coklat TOP dan Kitkat. Ya tentu aja coklat-coklatan tersebut langsung diumpetin ibunya. "Ini makanan ibu-ibu nak..." Wkwkwkwk kasihan kau Z. Yah daripada makin batuk, ya kaaan... Z pun dapat mainan kayu dari JAL.

Pokoknya memuaskan banget deh makanan selama perjalanan dari Jakarta ke Tokyo!

Sayangnya...
Sedikit cerita, saat penerbangan pulang dari Jepang, aku terlanjur memesankan Z children meal, sementara kami orangtuanya pesan Muslim meal. Beberapa menit sebelum boarding nama Z dipanggil petugas JAL. Dia menginformasikan dan memohon maaf, karena aku memesan children meal, ternyata children meal penerbangan dari Jepang isinya PORK :( And there's nothing they can do about that. Aku sudah ngga bisa menukar jenis makanan Z. Karena semua porsi makanan di pesawat sudah dihitung, dan pemesanan Muslim meal harus jauh hari sebelumnya. Jadi terpaksa aku menerima saja Children meal Z tapi minta main menu-nya disingkirkan dari tray sebelum disajikan ke Z.

Ketika akan disajikan di pesawat, pramugari pun berbicara padaku sambil menunjuk satu persatu makanan yang tersisa di tray Z. Sekotak pudding, pramugari bilang ada krim dari susu, namun dia ga yakin bahan-bahan pudingnya. Lalu ada kue kemasan, pramugari pun bilang info yang tertulis hanya No Milk dan No Egg (dalam bahasa Jepang). Lalu apa dong yang bisa dimakan Z?? Buah aja :)))

Nyesek yakkk cuma buah yang bisa dimakan. Plus air putih denk. Dan dari Jepang ini nggak ada yakult yang dibagikan (padahal udah berharap hehehe).

Pada akhirnya Z makan sebagian porsi chicken curry-ku. Meski agak pedas, namun Z doyan-doyan aja. Oiya selama di Jepang flu-nya membaik, jadi ketika perjalanan pulang, Z sudah suka makan :)

Tray Muslim Meal dalam penerbangan Tokyo-Jakarta. Semua berlabel halal, sampai di bagian belakang roti pun ada labelnya.

Jadi, note untuk bapak ibu muslim: kalau penerbangan dari luar negeri, pesankan saja Muslim Meal untuk anak Anda! Karena Children meal belum tentu halal...

BTW dari Tokyo ke Jakarta kami yang muslim dikasih dessert mangga potong, sementara penumpang lain dessertnya 1 cup eskrim Haagen Dasz... Waaaa... ngiler dan nyesek juga. Apa Haagen Dazs ga halal yakkk... Pokoke kesan-kesan naik JAL pulang dari Jepang nggak sebagus ketika berangkatnya deh... Karena urusan makanan :p

Review JAL - Japan Airlines

Enaknya naik JAL adalah leg room yang cukup luas meskipun di kelas Economy. Ada TV sebagai hiburan, dengan berbagai pilihan film box office atau kartun anak-anak. Minuman terus ditawarkan selama perjalanan, jadi nggak khawatir kehausan. Ada green tea, jus buah kemasan, teh, kopi... Menurutku dengan harga promo yang kami dapatkan (PP Rp 4juta per orang), perjalanan ini worth it! Karena nggak pakai transit sudah bisa sampai ke Tokyo. Jatah bagasi pun 30 kg per orang.

Yang paling aku suka adalah, ketika tiba di bandara Narita, stroller yang saat boarding dititipkan di pesawat, sudah siap di garbarata (bukan di conveyor bagasi ya!) Jadi anak sudah bisa duduk di stroller (dan tas diaper bag ibunya sudah bisa lepas dari punggung alhamdulillaaah) begitu tiba di Narita. Sangat nyaman sekali :)

Tuh jarak dari lutut ke kursi depan masih jauh! Suami yang kakinya panjang pun mengakui leg room JAL cukup luas dan nyaman buatnya.

Bandara Narita ke Tokyo dengan NEX

Bandara Narita itu sangat jauh dengan kota Tokyo-nya. Kami pilih beli tiket return NEX (kereta Narita Express), seharga 4,000 Yen. Harga itu lebih hemat daripada kalau beli tiket NEX sekali jalan (3,000 Yen). Kereta yang berhenti di Shinjuku ada pukul 18an malam, jadi kami menunggu sekitar 1 jam di stasiun dalam Narita.

Perjalanan didefinisikan Z sebagai, "Nggak sampe-sampe.." Karena ditempuh sekitar 1 jam lebih dalam kondisi badan capek, batuk pilek, dan nggak ada pemandangan (sudah gelap). Bosan!

Sesampainya di stasiun Shinjuku, kami langsung beli tiket ke Shinjuku Sanchome, stasiun terdekat dengan apartemen kami. Perjalanan keluar dari St. Shinjuku Sanchome harus ditempuh dengan tangga, sambil angkut koper, stroller, disambut angin kencang dan hujan rintik. Untung restoran yang kami incar berada sangat dekat dari pintu keluar stasiunnya.

Makan Malam di Ain Soph, Vegetarian Restaurant

Ada beberapa restoran halal dan halal-friendly di daerah Shinjuku, salah satunya Ain Soph yang merupakan restoran vegetarian. Kafenya kecil dan unik, suasananya hangat. Menu-menunya berbasis sayuran. Sayang masih menyediakan minuman beralkohol, jadi hati-hati kalau pesan minuman. Mending pilih air putih, teh, atau real fruit juice saja.


Ini dia menu pilihan kami. Harganya? Cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia. 1000-2000 Yen untuk 1 jenis makanan. Rasanya lumayan enak, tapi nggak ngangenin. Kembali kesana kedua kalinya? Hmmmm, nggak dulu deh. Berhubung kami bukan vegetarian, kami lebih ingin kuliner halal dengan protein hewani :P

Pesan ini untuk dimakan berlima. Gorengan (sepertinya terbuat dari tempe), sup tomat dan sayur, green curry, tofu omelette.

Going To The Apartment (AirBnB)

Di perjalanan menuju apartemen kami membeli payung transparan khas Jepang. Harganya sekitar 5000-6500 Yen (1 Yen = Rp 120) di minimarket. Bukan karena pengen gegayaan, tapi memang hujan sudah makin deras dan ramalan cuaca mengatakan akan banyak hujan dalam seminggu ke depan.

Alhamdulillah sampai apartemen bisa langsung mandi dan istirahat. Namun, Z malam itu sangat rewel dan menangis sepanjang malam. Sampai gendong-gendong, pindah tidur dari kamar ke sofa ruang tengah, pindah lagi ke kamar... Sedih deh. Keesokan harinya ibu mertua pun bilang kalau malam itu beliau sampai mbrebes mili dengar Z nangis. Pingin keluar kamar bantu nenangin, tapi takut malah jadi ga bisa tidur Z-nya. Namanya anak sakit kan cuma mau digendong ibunya ya...

Ketika pagi tiba (hari Minggu), Z masih tidur pulas, kami pun tenang melihatnya. Istirahat yang cukup ya nak... Ramalan cuaca hari Minggu itu hujan. Apakah kami di apartemen saja atau nekat jalan-jalan?

Bersambung ke episode berikutnya yaaa :)