Selasa, 21 November 2017

Return to Tokyo #3: Sensoji Temple & Sushi Halal Asakusa

Assalamu'alaikum!

Di hari ketiga kami di Tokyo, 23 Oktober 2017, ternyata cuaca sangat cerah. Padahal ada warning di hari tersebut, typhoon Lan akan melewati Tokyo. Memang dampak dari typhoon sudah dirasakan sejak hari sebelumnya (baca: Shinjuku When It Rains) yang diwarnai hujan dan angin kencang. Kami pun sudah siap-siap perbekalan kalau harus seharian di apartemen. Nggak disangka, Senin pagi itu, cerah alhamdulillah!


Bersyukur sekali kami nggak mengalami yang namanya terjebak badai di kala liburan. Di berita, memang ada beberapa kawasan di Jepang yang terkena dampak parah karena typhoon Lan. Makanya kaget juga saat matahari bersinar terik. Konon sehabis badai, langit memang akan sangat bersih dan cerah :)

Kami memutuskan pergi berwisata ke Asakusa. Tujuan utama kami adalah kuliner halal: ada pusat oleh-oleh cemilan halal, juga sushi halal di daerah Asakusa. Sebetulnya ada banyak lagi pilihan halal-food misalnya ramen dan yakiniku, tapi kami mau fokus ke sushi saja karena dimana lagi nemu sushi sertifikat halal di Tokyo? Apalah artinya ke Jepang tanpa makan sushi?? Eaaa...

Senin, 06 November 2017

Return to Tokyo #2: Shinjuku When It Rains

Assalamu'alaikum!

Kembali lagi dalam lanjutan cerita perjalanan ke Tokyo, hari kedua. Hari setelah perjalanan panjang yang melelahkan, dari Jakarta ke Tokyo. Pagi itu, Z tampak lebih segar setelah beristirahat. Aku memasak nasi dengan beras yang dibawa dari Indonesia, memanaskan bandeng presto (dari Indonesia juga), dan abon tuna Nonatuna (tentu dari Indonesia juga hihihi).

(Baca: Return to Tokyo #1: Traveling with Sick Toddler; JAL & NEX Review)

Pagi itu hujan turun cukup deras. Melihat ramalan cuaca, sudah bisa dipastikan kalau itinerary yang telah kami buat akan banyak yang berubah. Sudah jauh-jauh ke Tokyo, hujan pula. Apa kami harus di apartemen saja? Tentu enggak. Toh kami sudah membeli payung.



Gimana kabarnya dengan Z yang sedang sakit batuk pilek parah? Aku sempat browsing-browsing sih, kalau sebaiknya justru anak sakit pilek dibawa ke udara segar/dingin. Hal itu justru akan lebih melegakan saluran hidungnya. Jadi nggak masalah kalau dibawa keluar apartemen. Pokoknya aku pastikan Z istirahatnya cukup, dijaga waktu tidur siangnya, dan dapat asupan cairan dan makanan yang cukup. Kami juga harus keluar apartemen karena butuh belanja persediaan bahan makanan seperti telur dan buah-buahan.

Kami berencana mencegat taksi di jalan terdekat dari apartemen. Kami buka payung, Z digendong bapaknya, aku mendorong stroller berisi tas perlengkapan harian. Ternyata setengah jam ditunggu, taksi nggak ada yang kosong! Akhirnya kami naik kereta aja deh, dari Stasiun Shinjuku Sanchome ke Stasiun Shinjuku. Beda 1 stasiun saja.

Ke Odakyu Department Store, Makan Halal di Yoshiya Restaurant

Odakyu merupakan salah satu mall favorit suami ketika dulu ia pergi ke Tokyo. Barang-barangnya lengkap dan cukup variatif harganya. Nggak terlalu high class barang-barang mahal seperti Takashimaya. Akupun pernah mengunjungi mall ini, dan terkenang dengan 1 restoran yang menawarkan menu halal: Yoshiya!

Lokasi Yoshiya cukup mudah ditemukan, letaknya di depan lift lantai B1 dari stasiun Metro Shinjuku yang menyambung ke Odakyu mall. Resto ini punya 4 menu Muslim-friendly yang sudah mendapatkan sertifikasi halal Jepang. Pas banget, sampai di sana jam makan siang dengan perut kelaparan.
Japanese chicken curry... Enak!
Chicken rice bowl. Rasa ayamnya enak!
Menu yang sedang kosong: set nasi tempura & soba. Di beberapa hari berikutnya kami ke sini lagi dan alhamdulillah ada :D

Kalau lagi ramai, antriannya bisa cukup panjang. Kemarin kami hanya mengantri sekitar 15 menit untuk bisa masuk. Sayang sekali di hari itu ada 2 set menu yang kosong. Jadi pilihannya hanya Japanese Chicken Curry dan Spicy Chicken Rice Bowl. Kami pesan kedua jenisnya, 1 orang 1 porsi (aku makan berdua Z). Karena Z sedang tidur siang, kumasukkan saja bagian makanan Z ke kotak makan kosong yang selalu kubawa. Catatan: bawa tempat bekal kosong itu wajib, karena bisa menyelamatkan porsi makanan yang nggak habis, dan penting buat nyuapin anak sewaktu-waktu dibutuhkan!

Harga per set menu sekitar 1,000-1,500 Yen (1 Yen = Rp 120an). Cukup terjangkau untuk harga Jepang, yaaa... Kenyang pula. Kami pun dapat ocha gratis yang bisa di-refill.

Lokasi Yoshiya: Shinjuku Metro Restaurant Floor B1F, 1-1-2 Nishishinjuku , Shinjuku-ku, Tokyo 160-0023

Surga Anak-anak di Lantai 9 Odakyu Department Store, Shinjuku

Pasca makan siang, kami menuju lantai 9 Odakyu, yaitu bagian bayi dan anak-anak. Mertua langsung cari oleh-oleh untuk cucu di Jakarta. Dapat mainan untuk mas N. Sementara untuk cucu 1 lagi yang masih bayi, belum dapat. Karena harga perlengkapan bayi di sana sangat mahal. Misalnya 1 sepatu bayi aja bisa Rp 1 juta. Whattttt... Padahal bayi belum bisa jalan. Mending beli di OL Shop Indonesia yaaa...

Sambil aku melihat-lihat mainan anak, Z disuapi bapaknya. Aku terharu, nasi kari ayam yang tadi kubawakan dari restoran, hampir habis! Lahap sekali Z makan! Tanda-tanda mau sembuh ya nak T_T Duh senangnya ibuk..

Lalu kami menuju ruang ganti popok bayi yang... bagaikan surga! Surganya emak-emak yang kebelet gantiin popok bayi hehehe.
Terlihat ada timbangan bayi, meja ganti popok berjejer, tempat duduk ibu, dan sangat banyak kursi makan bayi (di foto ini cuma kelihatan 2 kursi hehehe)

Ruangan itu memiliki beberapa meja ganti popok berjejer, disediakan tisu bersih, disediakan plastik untuk membungkus popok kotor, ada wastafel, ada mesin air panas untuk susu atau makanan bayi. Yang aku lebih takjub lagi, yaitu banyak disediakan baby chair untuk dudukan bayi-bayi yang disuapi makan ibunya! I always adore how thoughtful Japanese people are! Bayi-bayi Jepang bisa duduk dengan tenang dan aman sementara ibunya nyuapin.

Ada pula vending machine diapers merk Genki. Harganya cukup mahal, 1 popok 100 Yen ~ setara Rp 12,000. Tapi aku dan suami semangat nyobain hehehe. For the sake of new experience! Juga ada vending machine minuman untuk orang dewasa. Inipun penting sih, karena saat nyuapin biasanya ibuke juga lapar... ganjel minuman dulu deh :P

Ruang menyusui juga sangat nyaman dengan sofa dan tirai privasi. Ahhhh bahagianya di sini, bisa santai berlama-lama...

Nah sebenarnya di lantai 9 ini, ada taman outdoor juga lho! Ada mainan perosotan dan panjat-panjatan untuk balita, juga tempat duduk-duduk yang nyaman untuk orangtuanya. Sayang di hari Minggu itu cuaca sedang kurang bersahabat untuk bermain outdoor. Namun beberapa hari setelahnya, aku sempat ke Odakyu lagi dan mengajak Z main di taman tersebut :) Menyenangkan!

What I Bought In Odakyu?

Ternyata niat awal yang 'ke Jepang ga usah belanja apa-apa' langsung gugur di hari pertama hehehe. Tak lain tak bukan karena demi bocah tercinta. Suami mengajakku beli raincover untuk stroller, karena melihat cuaca Jepang yang sering hujan, dan stroller pun basah dalam perjalanan ke Odakyu hari ini.

Ada raincover merk Aprica seharga ~3,900 Yen (lupa tepatnya berapa). Saat kami menanyakan SPG apakah kira-kira akan muat di stroller Joie Meet Float yang kami bawa, eh dengan sigap mbak SPG langsung mengeluarkan sample produk dari laci dan mencobanya di stroller kami. Alhamdulillah pas banget! Langsung kami putuskan untuk beli, dan mbak SPG pun dengan sigap langsung memasang raincover baru kami di strollernya Z.

Ini dia stroller Z setelah dipasangi raincover, aman nyaman dan hangat di dalam :)

Raincover ini jadi Best Buy kami selama di Tokyo, karena kepake banget! Sempat kepikiran beli 1 lagi buat oleh-oleh ponakan, tapi dipikir-pikir kalo buat di Indonesia bakalan nggak kepake. Ya kalo di Indonesia hujan 'kan ga bakalan juga ngajak bayi jalan-jalan keluar yaaa... Bener juga pemikiran suami. Jadi cuma beli 1 buat pemakaian pribadi deh.

Setelah beli raincover, kami lihat-lihat sepatu sport anak-anak aneka merk seperti Nike, Asics, dll yang imut dan lucu banget! Bikin pengen beli semuanya deh! Z pun beli 1 sepatu baru di sana.

Dan siang tadi saat Z disuapin makan bapaknya, sebetulnya aku membelikan mainan potong-potong buat Z. Bahannya dari kayu, kelihatannya built quality-nya sangat bagus. Ada yang dijual per set dan ada yang satuan. Aku beli yang satuan: pisau, wortel, semangka, kiwi, dll. Harganya mulai 160 Yen untuk yang sederhana (pisau) hingga 300-600an Yen untuk makanan yang lebih kompleks.

Dari Odakyu, kami sempat melipir ke beberapa mall tetangga untuk mencari titipan barang-barang dari orang lain. Tapi yang paling berkesan hari itu ya ketika di Odakyu :)

Di luar masih saja hujan malam itu. Kami mencari makan malam di daerah Shinjuku juga.

Makan Ramen Kuah Seafood di Menya Kaijin

Resto ramen ini sebetulnya bukan resto halal, namun web-web halal Jepang dan apps halal Jepang merekomendasikannya karena bahan-bahan yang dipakai insyaAllah aman. Pilih ramen yang seafood ya, jangan pakai ayam (karena ayam kan belum tentu dipotong dengan cara halal).

Yang bikin spesial ramen Menya Kaijin adalah kuahnya dari ikan. Yummm, sedap sekaliii. Suami sudah pernah makan di sini bulan April lalu, dan dia merekomendasikan pesan ramen yang ukuran kecil saja. Pas ramennya sampe, baru paham kalo ukuran kecil aja mangkoknya udah segede baskom. Gimana kalo ukuran besar ya hahahaha.

Cons-nya di restoran ini adalah nggak ada Baby Chair, sehingga aku harus memangku Zaki sambil menyuapinya makan ramen dan akupun kesulitan menyuap ramen ke mulutku sendiri. Tumpah-tumpah ke Zaki sis kuahnya! Lalu karena porsinya sangat besar, aku tanya ke waiter apa bisa sisa ramen di takeaway, dia bilang, "No.. no takeaway!"

Mangkoknya sebaskom, sendoknya segede sendok sayur... Wareg, sis! Nasi bakarnya kemakan setengah saja...

Sepertinya di Jepang, kalo sudah pesan makanan di restoran, ga boleh takeaway deh (CMIIW ya!). Orang Jepang selalu menghabiskan makanan yang mereka pesan. Padahal rata-rata menu set di Jepang tuh porsinya banyak lho. Mungkin karena mereka terbiasa jalan kaki ke tiap tempat dan ke stasiun kereta, butuh energi besar yaaa...

Lokasi Ramen Menya Kaijin: 2F (lantai 2), 3-35-7, Shinjuku, Shinjuku-ku, Tokyo

Going Back To The Apartment

Kami menutup hari dengan mencoba mencegat taksi untuk pulang ke apartemen di bawah gerimis hujan. Namun setengah jam menunggu, nggak ada taksi yang kosong ataupun bersedia mengantar. Kalaupun ada taksi kosong, supirnya menolak... dalam bahasa Jepang. Nggak tau deh nolaknya kenapa. Akhirnya kami jalan kaki lagi ke apartemen.

Tak lupa kami membeli beberapa bahan makanan seperti telur, teh, kopi dan sayur-sayuran di minimarket untuk persediaan di apartemen. Berdasarkan ramalan cuaca dan berita, besok dikabarkan ada typhoon Lan, "The Biggest Storm in Asia."

Baca headline-nya saja aku sudah ngeri! Kebayang kalau seharian besok kami harus mendekam di apartemen karena badai typhoon.

Bagaimana dengan Z? Alhamdulillah malam itu ia tidur nyenyak tanpa rewel seperti malam sebelumnya. Mungkin ada yang khawatir kalau anak sakit flu kok malah dibawa jalan di cuaca dingin dan hujan. Tapi nyatanya udara dingin dan lembab malah membantu melegakan hidungnya yang tersumbat pilek :)

Sampai ketemu lagi di cerita hari esoknya ya... Hari di mana diramalkan akan ada typhoon Lan.

Rabu, 01 November 2017

Return to Tokyo #1: Traveling With Sick Toddler & JAL Review

Assalamu'alaikum!
Buat kamu-kamu yang lihat akun Instagram-ku, mungkin sudah tau kalau minggu lalu aku baru saja melakukan perjalanan ke Tokyo, Jepang. Ya, ini merupakan kali kedua aku ke Jepang setelah sebelumnya menikmati musim sakura pada April 2017. Kok mau sih ke Jepang 2x dalam setahun? Jawabannya adalah, karena masih sangat banyak objek di Jepang yang belum dieskplorasi bersama suami tercinta. Pada trip sebelumnya kan aku hanya bersama suami selama 1 hari karena suami dinas dan aku jalan-jalan sama bapak ibuku :)

Rombongan kami, beserta semua barang bawaan: 2 koper besar, 1 koper kabin, 1 stroller, 1 ransel. Minimalis ya!
Yang bikin perjalanan kali ini terasa berbeda adalah... karena kami bayar sendiri tiket dan penginapannya! Hehehehe... Ya yang sebelumnya suami dibayarin kantornya karena urusan kerjaan, dan aku ditraktir ortuku. Maka ketika ada promo tiket murah Japan Airlines (JAL) seharga Rp 4juta untuk pulang pergi, suami langsung semangat untuk beli! Beruntung setelah beli, ternyata nawarin mertua eh pada mau ikut juga. Jadi untuk urusan penginapan bisa lebih murah karena bagi dua, pesan yang 2 kamar dalam 1 apartemen.

Bocah Sakit Sebelum Perjalanan :(

Nggak disangka, 3 hari sebelum berangkat ke Jepang, Z batuk pilek parah :( Sempat disertai demam ringan di awal-awal gejala sakitnya. Seperti kecolongan, padahal sudah lumayan berhati-hati jaga makanan dan aktivitasnya Z. Ya Allah, rasanya galau banget. Udah lumayan banyak mengeluarkan uang untuk liburan impian, ehhh anak sakit. Padahal beberapa bulan lalu baru aja baca blog Alodita, bagian Traveling With A Sick Toddler, mengenai perjalanannya ke Jepang awal tahun ini dan anaknya sakit sebelum berangkat. Kok ya beneran kejadian di Z.

Penerbangan kami jadwalnya pk. 06.40 pagi. Artinya kami sudah harus tiba di bandara pukul 04.40. Dan berangkat dari rumah jam... 3-an pagi! Aku hanya mengganti diapers Z dan langsung mengangkutnya ke taxi. Ternyata sampai di bandara dia melek segar bugar, hanya batuk pileknya masih tetap saja parah. Agak parno juga, takut menyebar virus Z dan takut Z ga nyaman selama perjalanan. Tapi sebelumnya aku sudah whatsapp DSA-nya Z dan disarankan membeli obat tetes hidung untuk Z di pesawat.

Yang paling sedih dari anak batuk adalah... kadang batuknya sampai muntah! Di bandara Soekarno Hatta aja aku sudah sekali menggantikan baju Z karena kena muntahan. Stok baju kudu banyak. Stok diapers yang kusiapkan juga mepet banget. Kesalahanku nggak memperhitungkan kebutuhan minum anak flu kan meningkat, volume pipisnya juga meningkat.

Aku beli Mango Chicken Pocket A&W dan Panini Starbucks di bandara untuk sarapan Z. Dua menu itu, 2 minggu lalu pernah kubeli saat di bandara dan Z makan dengan lahap! Namun kali ini, Z menolak :( Sedikit sekali asupan yang masuk untuk Z, hiks... Oiya untung sebelum berangkat sempat masak pan fried salmon (baca: salmon dipanggang di wajan hehehe sok keren amat bahasa Inggrisan :p), dibekal bersama nasi dan telur ceplok. Lumayan salmonnya digadoin Z. Namanya bocah lagi gak enak badan ya... Makan pun pilih-pilih...

Untungnya kami sempat membeli sarapan roti-rotian, karena dalam perjalanan 7 jam di pesawat (pagi berangkat, sampainya sore di Narita), makanan baru disajikan menjelang jam makan siang. Jadi tips-nya, selalu sedia perbekalan ya buibuk!

Review Makanan JAL dari Indonesia ke Jepang dan Sebaliknya

Ternyata, makanan yang disajikan di JAL sangat mewah untuk ukuran kelas ekonomi! Puas banget makannya. Aku pilih menu chicken curry. Konon, makanan di JAL dari Indonesia insyaAllah halal. Namun untuk yang dari Jepang, kita harus pesan menu khusus Muslim maksimal 2 hari sebelum keberangkatan. Jangan sampe ga pesan ya buibuk! Pun untuk makanan bayi dan anak-anak.

Ini dia tray makananku di pesawat, dalam perjalanan dari Jakarta ke Tokyo. Yakult dapat 2!! Waw jatuh cinta banget dengan servis macam gini hihihi...

Pestaaaa... ada salad sayur (paprika timun), buah potong, cake coklat, 2 yakult, nasi kari, dan 'bean soup' yang rasanya seperti sup miso

Makanan Z: pisang, 2 yakult, TOP & Kitkat (dibajak ibunya), kue macam pancake dan 3 kentang kecil sebagai main menu, pudding, kue muffin. 
Tray Z (children menu) lebih pesta pora lagi. Main menu-nya kue. Dapat coklat TOP dan Kitkat. Ya tentu aja coklat-coklatan tersebut langsung diumpetin ibunya. "Ini makanan ibu-ibu nak..." Wkwkwkwk kasihan kau Z. Yah daripada makin batuk, ya kaaan... Z pun dapat mainan kayu dari JAL.

Pokoknya memuaskan banget deh makanan selama perjalanan dari Jakarta ke Tokyo!

Sayangnya...
Sedikit cerita, saat penerbangan pulang dari Jepang, aku terlanjur memesankan Z children meal, sementara kami orangtuanya pesan Muslim meal. Beberapa menit sebelum boarding nama Z dipanggil petugas JAL. Dia menginformasikan dan memohon maaf, karena aku memesan children meal, ternyata children meal penerbangan dari Jepang isinya PORK :( And there's nothing they can do about that. Aku sudah ngga bisa menukar jenis makanan Z. Karena semua porsi makanan di pesawat sudah dihitung, dan pemesanan Muslim meal harus jauh hari sebelumnya. Jadi terpaksa aku menerima saja Children meal Z tapi minta main menu-nya disingkirkan dari tray sebelum disajikan ke Z.

Ketika akan disajikan di pesawat, pramugari pun berbicara padaku sambil menunjuk satu persatu makanan yang tersisa di tray Z. Sekotak pudding, pramugari bilang ada krim dari susu, namun dia ga yakin bahan-bahan pudingnya. Lalu ada kue kemasan, pramugari pun bilang info yang tertulis hanya No Milk dan No Egg (dalam bahasa Jepang). Lalu apa dong yang bisa dimakan Z?? Buah aja :)))

Nyesek yakkk cuma buah yang bisa dimakan. Plus air putih denk. Dan dari Jepang ini nggak ada yakult yang dibagikan (padahal udah berharap hehehe).

Pada akhirnya Z makan sebagian porsi chicken curry-ku. Meski agak pedas, namun Z doyan-doyan aja. Oiya selama di Jepang flu-nya membaik, jadi ketika perjalanan pulang, Z sudah suka makan :)

Tray Muslim Meal dalam penerbangan Tokyo-Jakarta. Semua berlabel halal, sampai di bagian belakang roti pun ada labelnya.

Jadi, note untuk bapak ibu muslim: kalau penerbangan dari luar negeri, pesankan saja Muslim Meal untuk anak Anda! Karena Children meal belum tentu halal...

BTW dari Tokyo ke Jakarta kami yang muslim dikasih dessert mangga potong, sementara penumpang lain dessertnya 1 cup eskrim Haagen Dasz... Waaaa... ngiler dan nyesek juga. Apa Haagen Dazs ga halal yakkk... Pokoke kesan-kesan naik JAL pulang dari Jepang nggak sebagus ketika berangkatnya deh... Karena urusan makanan :p

Review JAL - Japan Airlines

Enaknya naik JAL adalah leg room yang cukup luas meskipun di kelas Economy. Ada TV sebagai hiburan, dengan berbagai pilihan film box office atau kartun anak-anak. Minuman terus ditawarkan selama perjalanan, jadi nggak khawatir kehausan. Ada green tea, jus buah kemasan, teh, kopi... Menurutku dengan harga promo yang kami dapatkan (PP Rp 4juta per orang), perjalanan ini worth it! Karena nggak pakai transit sudah bisa sampai ke Tokyo. Jatah bagasi pun 30 kg per orang.

Yang paling aku suka adalah, ketika tiba di bandara Narita, stroller yang saat boarding dititipkan di pesawat, sudah siap di garbarata (bukan di conveyor bagasi ya!) Jadi anak sudah bisa duduk di stroller (dan tas diaper bag ibunya sudah bisa lepas dari punggung alhamdulillaaah) begitu tiba di Narita. Sangat nyaman sekali :)

Tuh jarak dari lutut ke kursi depan masih jauh! Suami yang kakinya panjang pun mengakui leg room JAL cukup luas dan nyaman buatnya.

Bandara Narita ke Tokyo dengan NEX

Bandara Narita itu sangat jauh dengan kota Tokyo-nya. Kami pilih beli tiket return NEX (kereta Narita Express), seharga 4,000 Yen. Harga itu lebih hemat daripada kalau beli tiket NEX sekali jalan (3,000 Yen). Kereta yang berhenti di Shinjuku ada pukul 18an malam, jadi kami menunggu sekitar 1 jam di stasiun dalam Narita.

Perjalanan didefinisikan Z sebagai, "Nggak sampe-sampe.." Karena ditempuh sekitar 1 jam lebih dalam kondisi badan capek, batuk pilek, dan nggak ada pemandangan (sudah gelap). Bosan!

Sesampainya di stasiun Shinjuku, kami langsung beli tiket ke Shinjuku Sanchome, stasiun terdekat dengan apartemen kami. Perjalanan keluar dari St. Shinjuku Sanchome harus ditempuh dengan tangga, sambil angkut koper, stroller, disambut angin kencang dan hujan rintik. Untung restoran yang kami incar berada sangat dekat dari pintu keluar stasiunnya.

Makan Malam di Ain Soph, Vegetarian Restaurant

Ada beberapa restoran halal dan halal-friendly di daerah Shinjuku, salah satunya Ain Soph yang merupakan restoran vegetarian. Kafenya kecil dan unik, suasananya hangat. Menu-menunya berbasis sayuran. Sayang masih menyediakan minuman beralkohol, jadi hati-hati kalau pesan minuman. Mending pilih air putih, teh, atau real fruit juice saja.


Ini dia menu pilihan kami. Harganya? Cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia. 1000-2000 Yen untuk 1 jenis makanan. Rasanya lumayan enak, tapi nggak ngangenin. Kembali kesana kedua kalinya? Hmmmm, nggak dulu deh. Berhubung kami bukan vegetarian, kami lebih ingin kuliner halal dengan protein hewani :P

Pesan ini untuk dimakan berlima. Gorengan (sepertinya terbuat dari tempe), sup tomat dan sayur, green curry, tofu omelette.

Going To The Apartment (AirBnB)

Di perjalanan menuju apartemen kami membeli payung transparan khas Jepang. Harganya sekitar 5000-6500 Yen (1 Yen = Rp 120) di minimarket. Bukan karena pengen gegayaan, tapi memang hujan sudah makin deras dan ramalan cuaca mengatakan akan banyak hujan dalam seminggu ke depan.

Alhamdulillah sampai apartemen bisa langsung mandi dan istirahat. Namun, Z malam itu sangat rewel dan menangis sepanjang malam. Sampai gendong-gendong, pindah tidur dari kamar ke sofa ruang tengah, pindah lagi ke kamar... Sedih deh. Keesokan harinya ibu mertua pun bilang kalau malam itu beliau sampai mbrebes mili dengar Z nangis. Pingin keluar kamar bantu nenangin, tapi takut malah jadi ga bisa tidur Z-nya. Namanya anak sakit kan cuma mau digendong ibunya ya...

Ketika pagi tiba (hari Minggu), Z masih tidur pulas, kami pun tenang melihatnya. Istirahat yang cukup ya nak... Ramalan cuaca hari Minggu itu hujan. Apakah kami di apartemen saja atau nekat jalan-jalan?

Bersambung ke episode berikutnya yaaa :)