Selasa, 26 September 2017

Ohana, Hanamasa! Resto Favorit Keluarga

Assalamu'alaikum! Hari Selasa lalu, aku hadir di acara #HanamasaMeetUp. Alhamdulillah bisa makan sepuasnya bareng si bocil :) Rasanya sudah lama sekali nggak makan all you can eat di Hanamasa, terakhir sepertinya sebelum hamil baby Z, sampai kini ia hampir berusia 2 tahun. Lama ya! Seketika, Hanamasa pun membangkitkan kenangan indah di masa lalu sama keluarga.


Blogger-blogger #HanamasaMeetUp

Sedikit Nostalgia di Hanamasa...

Kalau ingat resto Hanamasa, aku jadi ingat masa lalu. Saat-saat masih muda, tinggal bersama bapak ibu dan adik di Surabaya.

Dulu, nggak banyak pilihan restoran All You Can Eat di Surabaya. Hanamasa menjadi salah satu pionir resto Jepang makan sepuasnya. Kami sekeluarga tentunya penasaran dengan resto yan berdiri megah di jalan Gubeng Surabaya, apalagi makanan Jepang sedang mulai populer di awal tahun 2000-an.


Setelah mencoba, ternyata kualitas bahan-bahannya segar, rasanya pun enak! Nggak lama, resto ini jadi resto favorit yang dikunjungi minimal setahun sekali tiap ulang tahun perkawinan bapak ibu di bulan September. Senangnya aku dan adik di masa remaja ditraktir makan besar sama bapak ibu :')

Di masa itu, tahun 2000-an awal, kalau nggak salah sekali makan di Hanamasa harganya masih sekitar Rp 75.000 per orang (lihat betapa tingginya inflasi yang terjadi di Indonesia yaa!). Tapi harga segitu pun jaman dulu tergolong nggak murah lho, meskipun sebenarnya harganya masuk akal dengan banyaknya makanan yang bisa dinikmati. Makanya kalau makan di Hanamasa, kami selalu luangkan waktu minimal 2 jam supaya bisa puas masak dan makan-makannya. Dalam waktu 2 jam tersebut, tentunya kami jadi bisa duduk semeja bersama dan ngobrol lebih lama. Quality time yang sangat menyenangkan sama bapak ibu dan adik.

Balik lagi ke #HanamasaMeetUp, kali ini aku ke Hanamasa bukan dengan keluarga, tapi dengan teman-teman blogger. Di acara ini, selain makan sepuasnya, kami juga jadi tahu beberapa kisah Hanamasa.

Kenapa Harus Makan di Hanamasa?

Yang pertama, adalah karena dagingnya sangat segar! Ternyata Hanamasa punya peternakan sendiri, dan perjalanan daging sapi dari pemotongan hingga sampai ke meja restoran dipastikan kurang dari 24 jam. #AwaliKesegaranMoo jadi slogan terbaru Hanamasa, karena sapi-sapi Moo yang sudah pasti segar!


Hanamasa cocok banget buat kita yang mau quality time bersama keluarga. Sambil masak sambil mengobrol. Berbagi tugas siapa yang masak siapa yang ambil bahan makanan. Seru deh :) Bahkan bagi yang nggak bisa masak sekalipun, pasti bisa memasak yakiniku dan shabu-shabu enak di restoran ini. Suasana yang nyaman di restoran juga bikin kita betah menikmati proses masak dan makan sepuasnya.


Oiya ada yang seru juga di Hanamasa. Kita bisa download app Augmented Reality Hanamasa di Google Play untuk bermain bersama sapi Kimo #awalikesegaranmoo. Sayangnya ketika aku berusaha log in, apps-nya error di HP-ku. Aih sayang yaaa, padahal penasaran.



Apa Aja yang Bisa Dimakan Sepuasnya di Hanamasa?

Umumnya, yang ke Hanamasa pasti kepingin makan yakiniku atau shabu-shabunya yang legendaris (cieh bahasanya legendaris amat, situ anak taun 90-an? Iya! Hihihii). Tapi selain yakiniku dan shabu, banyak banget lho yang bisa dinikmati.



Yakiniku, merupakan menu panggang-panggangan ala Jepang. Kita bisa ambil daging sapi, daging ayam, ikan, atau olahan daging untuk dipanggang di atas alat pemanggang Hanamasa yang telah dilumuri lemak daging. Sebelum daging ditata di panggangan, celupkan dulu ke saus niku tare (saus berwijen). Setelah dipanggang, celupkan ke saus soto tare (saus tanpa wijen). Sedap!

Menunggu kuah shabu-shabu mendidih sebelum memasukkan sayuran segar ke dalamnya

Untuk Shabu-shabu, kita bisa ambil sayur-sayuran, aneka jamur, bola-bola seafood alias bakso, hingga daging segar. Tinggal cemplung ke kuah shabu yang sudah disediakan. Menu shabu-shabu bisa jadi pilihan bagi orang tua atau kamu-kamu yang sedang diet, karena selain metode memasaknya rebus-rebusan berkuah, kita juga otomatis jadi banyak makan sayur :).



Ada pula area Robatayaki, yaitu sate-satean atau barbeque ala Jepang. Ada petugas Hanamasa yang spesial memanggang makanan untuk kita. Di sini kita bisa pesan aneka makanan bakar-bakaran seperti onigiri bakar (wajib coba! Baby Z doyan lho!), daging ayam, sosis bakar, juga jamur enoki gulung daging yang juga sedap. Oiya, di area ini juga ada tempura yang renyah dan enak. Wajib dicoba sambil menunggu masak-masaknya matang :)

Hidangan Pembuka juga tersedia lho, ada salad dan asinan. Letaknya di meja buffet daging yakiniku dan shabu-shabu. Kalau aku sih memilih skip hidangan pembuka supaya ada space kosong di perut buat aneka daging-dagingan hahaha. Tapi kalau mau lebih sehat memang sebaiknya nggak absen makan sayur, entah dari salad atau dari shabu-shabu Hanamasa :D

Ada yang berbeda dari pengalamanku makan di Hanamasa jaman dulu dan sekarang: Nasi-nya boleh ambil sendiri! Kalau dulu, nasi sudah diambilkan semangkuk untuk seorang. Kadang ada yang kurang, atau malah ada yang nggak kemakan karena lebih fokus makan lauk pauk. Dengan mengambil nasi sendiri, kita yang tahu berapa banyak porsi yang sanggup dihabiskan. Nasinya pulen! Nikmat banget dinikmati bersama daging panggang yakiniku, hmmm sedaaap..


Minuman dan Dessert di Hanamasa FX kemarin juga bebas dinikmati sepuasnya. Ada teh tarik yang bikin aku bolak-balik tambah... Sampai Z pun ikutan minta (kalau buat Z aku encerkan lagi dengan air putih yang banyak hehehe). Ada juga es cappucino buat kamu pecinta kopi. Selesai makan gurih, pasti pengen yang manis. Kita juga bisa makan pudding atau meracik minuman es sesuai selera misalnya diberi cincau, sirup, kolang-kaling dan aneka topping sesuka hati.

Mari masak, Z!

Seru 'kan makan di Hanamasa??

Meskipun demikian, ada yang kurang ketika kemarin aku ke #HanamasaMeetUp... Yang kurang adalah... keluarga! Hiks! Jadi kangen makan bareng keluarga, lho!! Suamik, bapak, ibu, adek, ayo ke Hanamasa lagi yok! Aku belum puas makan, terutama karena kemarin sambil jagain Z sendirian, jadi berasa kurang kenyang hahahaha. (BTW makasih lho tante Ola & Rommiy yang semeja, sempat jagain Z ketika emaknya melipir ambil daging dan sayur)

Ohana means Family. Kalo Hanamasa... means my Favorite Family Restaurant since my early teen age. Kapan terakhir kamu ke Hanamasa? Apa hidangan yang paling kamu suka di sana?

Rabu, 20 September 2017

5 Hal Yang Wajib Dilakukan Saat ke Manado

Assalamu’alaikum pembaca!
Bukan rahasia kalau Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang sangat indah. Di antara ribuan pulau yang dimiliki Indonesia, ada Sulawesi yang belum pernah kukunjungi. Ada kota menarik apa sih di Sulawesi?


Manado, ibu kota Sulawesi Utara, adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi di Sulawesi. Pada Bulan Oktober mendatang, akan ada rangkaian festival mulai dari Gelar Tarian Selendang Biru, Manado Easter Show, Manado Cantate, Internasional Choir Festival, Manado Extreme Adventures Tourism, Internasional Trail Running dan Hasher Internasional di Kawasan Hutan Lindung Gunung Tumpa Manado. (Sumber: travel.detik.com) Menarik, bukan?

Nah, kalau kamu mau berwisata ke kota Manado, hal apa aja sih yang wajib dilakukan di sana? Ini dia 5 Hal Yang Wajib Dilakukan Saat ke Manado :)

Kamis, 14 September 2017

Pengalaman ART Menginap, Pulang Pergi, dan Go Clean

Assalamu'alaikum!

Alhamdulillah, mulai bulan lalu, aku merasakan kembali adanya ART di rumah setelah beberapa bulan mengerjakan semuanya sendiri di rumah. Rasanya... lega! Meskipun bu asisten hanya datang beberapa jam tiap harinya (2-4 jam tergantung banyaknya setrikaan :D), dan weekend pun diliburkan, aku cukup terbantu sekali menghemat tenaga beberapa jam untuk bisa lebih tenang menemani Z bermain.
Dulu pernah nyewa pagar mainan sebelum ditinggal ART mudik. Kirain Z bakal anteng main di sini dan aku mengerjakan pekerjaan rumah dengan tenang. Ngimpi!! Bocahnya gak mau dikurung. Sebulan kemudian pun pagar ini dikembalikan :))

Ya, tanpa ART, segala kerjaan rumah tangga seperti ngepel, jemur baju, cuci piring, masak dan lainnya harus aku curi waktu sambil bermain dengan Z, kadang sambil menggendong pula. Beberapa kali pun setrikaan terpaksa aku sub-kontrakkan ke laundry kiloan (dekat rumah ada jasa setrika Rp 5.500 per kilo... Lumayan buat baju-baju kantor suami dan baju pergi). Kalau nggak gitu, energiku habis, ujung-ujungnya sering begadang, dan jadi gampang sakit.

Makanya aku salut banget sama ibu-ibu yang ngerjain semuanya di rumah. Terutama ibu-ibu di tanah rantau yang sambil jaga anak, ngurus semua printilan rumah tangga tanpa bantuan!