Selasa, 15 Agustus 2017

Rumahku, PAUD-ku + Kegiatan Toddler (Family Project #4)

Assalamu'alaikum!

Jaman sekarang, semua ibu pastilah sadar kalau pendidikan anak dimulai dari rumah. Kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik anak, sesungguhnya adalah tugas orang tua untuk mengembangkannya sebelum anak belajar di luar.

Ada banyak metode-metode pendidikan anak usia dini, namun saat ini aku sedang tertarik untuk mempelajari Montessori. Setelah lama ingin belajar namun nggak gerak-gerak juga, adanya Tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang (tema: Family Project) yang kuikuti membangkitkan lagi semangat untuk action. Tentunya ibu nggak bisa gerak sendirian dong. Ibu butuh dukungan bapak juga :D


Project Rumahku, PAUD-ku ini sebenarnya dimulai Sabtu lalu, yaitu dengan ibu membeli buku Montessori di Rumah, karya Elvina Lim Kusumo yang merupakan founder @IndonesiaMontessori. Ternyata di buku itu ada penjelasan yang lumayan lengkap mengenai metode Montessori, yang dulu cuma kupelajari via kulwapp dan browsing tak terstruktur. Kok nggak dari dulu yaaa aku belinya.

Namun di buku tersebut, kegiatannya lebih ditujukan ke anak umur 3 tahun ke atas. Gak papa lah, mari kita sesuaikan saja dengan kemampuan dan minatnya Z yang sekarang berusia 21 bulan.

Jadiiii... kegiatan Rumahku, PAUD-ku hari ini adalah:
1. Bermain ke Taman
Pagi-pagi, Z sudah minta main ke taman. Seperti biasa, dia suka main perosotan. Sekitar 4 kali merosot, lalu minta main yang lain. Ayunan, lari-lari, dorong stroller. Sempat juga pipis di WC taman, karena sedang belajar nggak pakai diapers. Yah meski sampai rumah ternyata kebobolan celananya basah juga, diem-diem dia pipis hahahaa. Masih belajar yaaa nak!

Aktivitas ke taman ini sangat bermanfaat untuk fisiknya (motorik kasar), mengenal alam/lingkungan (lihat tanaman, lihat kucing), dan sosial (menyapa tetangga dalam perjalanan ke taman, belajar bergantian main perosotan). Tentu saja main ke taman adalah tugas ibu menemani Z, karena bapake 'kan kerja ;)

2. Bermain Beras ala Montessori
Pulang dari taman, Z agak rewel karena frustrasi bermain rel kereta Thomas. Dia pengen bisa pasang rel sendiri, padahal 'kan sebetulnya mainan gitu buat anak 3 tahun ke atas yaaaa yang pincer grasp-nya sudah lebih terlatih... Jelas aja Z belum bisa masang dengan presisi. Ibu putuskan untuk menyiapkan permainan sensorik ala Montessori yang sangat mudah dan cepat: Main Beras!!

Untung kemarin sudah beli wadah plastik yang cukup besar untuk alas main Z. Ibu siapkan beras hitam yang sudah lama nggak dimasak, juga beras putih. Ibu juga menyiapkan corong, botol kecil (pake botol ASI wkwkwkk) dan sendok bebek. Ibu contohkan menuang beras, selanjutnya terserah Z mainnya gimana.

Di buku Montessori di Rumah, dijelaskan pentingnya area bermain khusus (entah meja ukuran anak-anak atau alas bermain di lantai) untuk memberi batasan wilayah kegiatan work-play Montessori. Aku cari alas seadanya di rumah, adanya karpet puzzle. Belakangan, aku menyadari alas ini agak nggak cocok karena kalau berasnya tumpah-tumpah bersihinnya susah hahaha.


Z lumayan anteng lho main tuang-tuang beras, meski selama bermain, ibu harus selalu mendampingi supaya nggak terjadi huru-hara misalnya beras dituang ke lantai :P atau minimal supaya berasnya nggak dimakan.

Dengan bermain beras ini, Z bisa merasakan tekstur beras berbutir kecil (kata Z "Kayak pasir gedeee..."), belajar konsep banyak dan sedikit (dari wadah yang diisi beras - ada yang banyak dan ada yang sedikit), belajar konsep penuh dan kosong, mendengar suara beras ketika mengisi botol, juga mendengar suara botol beling yang menggelinding, menandakan itu botol kaca, harus hati-hati karena bisa pecah.

Aktivitas bermain beras ini dilakukan 3 kali atas keinginan Z. Siang, sore, dan petang ketika bapake pulang kantor. Z langsung semangat menunjukkan permainan beras pada bapak yang mengambil tugas menemani Z main saat ibu menyiapkan makan malam. Ternyata pas main sama bapak, terjadi kekacauan berasnya tumpah-tumpah di lantai, dan bapak pun memendam ngomel wkwkwkwk. Akhirnya sapu-sapu sama si bocah :)))

3. Bermain Petik Bola
Permainan ini juga disukai oleh Z sejak ia bisa berdiri. Sangat cepat disiapkan, nggak sampai 1 menit! Caranya, rentangkan selotip besar, lalu tancapkan bola-bola plastik untuk 'dipetik'. Bisa juga pura-pura kalau bolanya itu buah, misalnya yang merah = apel, yang oranye = jeruk, dst.

Semua bola, Z yang pasang!

Kali ini, ibu biarkan Z memasang bolanya sendiri. Z semangat banget mengisi selotip sampai penuh bola. Ia belajar tekstur lengket dari selotip. Ia juga belajar, ada 2 sisi selotip: sisi yang lengket dan sisi yang licin. Belajar warna? Tak diragukan lagi dong :D Karena bolanya warna-warni, bocil bisa diminta menyebutkan warna-warna bolanya ketika dipasang.

4. Ke Masjid Sama Bapak
Jujur, aku sangat senang kalau Bapake pulang sebelum maghrib karena bisa 'me time' sebentar untuk sekedar menyelesaikan masak dengan tenang, mandi tanpa grusa grusu, dan solat tanpa digelendoti bocah hihihi. Bocil suka minta ikut bapake ke masjid, nggak lupa pakai peci dan sarung kecil.

Ini juga reminder buat Bapak supaya sebisa mungkin solat di masjid, karena Children See, Children Do. Semoga kenangan masa kecil Z solat bersama bapak, jadi kenangan yang indah. Moga bisa menumbuhkan fitrah spiritual dan kecintaan untuk sholat ya nak!

#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day4