Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #2 - Melepeh Makanan?

Melanjutkan tantangan Komunikasi Produktif dari hari sebelumnya, mengenai Komunikasi Dengan Anak.

Hari ini Z (19 bulan) minta apel, tetapi seperti biasa, setelah makan 2-3 potong, selanjutnya dilepeh-lepeh.

Kebiasaan melepeh-lepeh ini sudah berlangsung beberapa bulan sih. Bisa karena dia sudah kenyang, nggak suka makanannya, atau memang lagi iseng saja (kalau hanya iseng, suapan berikutnya dimakan tanpa dilepeh). Kadang berhasil dinasehati, kadang juga enggak. Belum ketemu polanya.

Hari ini aku terapkan lagi teori 7-38-55. Setelah makanan dilepeh, aku duduk lagi sejajar Z, sambil bicara lembut. "Zaki, lepeh-lepeh itu nggak bagus..." "Maemmm.." balas Zaki. "Iya nak, makanan itu dimaem, supaya Zaki bisa tumbuh sehat & tinggi... Kalau udah tinggi, Zaki bisa gelantungan di bis..." Zaki dari dulu pengen banget gelantungan di bis, tapi aku selalu bilang dia belum cukup tinggi, nggak aman untuk gelantungan :D

Suapan berikutnya, apel dia makan. Namun selanjutnya dilepeh lagi =_="

"Nak, kalau udah kenyang, apelnya nggak usah dimakan lagi. Nggak bagus lepeh-lepeh..."
"Maemmm..." Kata Zaki lagi. Iya dimaem nak, jangan dilepeh. Gemes deh :))))

Entah karena aku terfokus pada kejadian lepeh-lepeh ini, seharian sepertinya dia lepeh-lepeh terus. Semakin sore emaknya semakin gak sabar. Sempat ngotot minta kurma, namun setelah 1 gigit, berikutnya dilepeh-lepeh. Ibu bilang dengan tegas bahwa Zaki nggak boleh ambil kurma lagi karena dilepeh-lepeh. Zaki protes dan nangis sih, masih tetap minta ambil kurma dari wadah. Tapi sudahlah, semoga dia paham lepeh-lepeh itu nggak bagus. Melepeh makanan = nggak dapat makanan.

Urusan melepeh-lepeh ini masih menjadi peer-ku. Berharap besok dia sudah nggak melakukannya. Tetapi, bisa jadi tingkah polah ini karena dia sedang tumbuh gigi, sehingga gatal ingin mengunyah tapi nggak mau menelan.

Komunikasi Dengan Pasangan
Ada beberapa kaidah yang bisa diterapkan untuk berkomunikasi dengan pasangan:
  1. Clear and Clarify
  2. Choose The Right Time
  3. Kaidah 7-38-55
  4. Intensity of Eye Contact
  5. I'm Responsible for My Communication Result
Kemarin-kemarin suami sedang ke luar kota, kontak kami hanya via WhatsApp. Setelah dia pulang, baru deh aku praktek komunikasi. Malam ini, ternyata teori yang bisa dipraktekkan adalah kaidah no.2: Choose The Right Time.

Berhubung suami sedang capek banget habis perjalanan jauh, dia ketiduran sehabis sholat magrib. Diajak ngobrol, disuruh bangun untuk sholat susaaaahhh banget. Matanya nempel kayak kena lem. Ini berarti 'not the right time'. Ya sudahlah, badannya sedang menuntut hak untuk istirahat.

Suami bangun sekitar jam 9 malam. Lapar dan haus, minta diambilkan minum. Lalu kami nyemil-nyemil sambil minum teh lemon hangat di meja makan. Kami ngobrol hal-hal penting seperti mau pesan hotel berapa malam untuk Lebaran, mau naik apa ketika mudik nanti.

Obrolan seperti ini nggak mungkin terjadi kalau kita nggak "Choose The Right Time" :) alhamdulillah, dapat quality time (plus quality talk). Obrolan berakhir dengan suami mau sholat isya & taraweh.

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP