Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #5 - Takut Vacuum Cleaner

Assalamu'alaikum,
Hari ini, sesuai jadwal, ada mbak Go Clean datang ke rumah. Kali ini aku pilih paket biasa Rp 45.000 per jam. Dua kali pesan sebelumnya, aku pilih paket ekonomis: lebih murah tapi peralatan harus menyediakan sendiri. Memang beda harganya lumayan sih, tapi sepertinya lebih nyaman kalau Go Clean-nya bawa alat sendiri. Kita jadi terima beres, nggak perlu menyiapkan ember, lap, sapu, pel, dan obat-obatan pembersih.

Ternyata peralatan yang disiapkan Go Clean lengkap, ada vacuum cleaner-nya juga lohhh!! Jadi worth the price banget deh. Sofa-sofa dan kasurku ikut disedot debunya. Lumayan, aku kan nggak punya vacuum cleaner di rumah :D 

Namun baby Z sejak kedatangan mbak Go Clean selalu menggelendot padaku. Yah biasanya memang kalau aku kerja di rumah, dia pasti nggelendot sih. Ngepel, masak, belanja di tukang sayur, semua sambil gendong. Buibuk yang lain, ada yang begini juga? Anaknya nggak bisa disuruh anteng main sendiri :)) hahaha. Ini ketambahan ada orang asing yang datang ke rumah pula. Makin menjadi deh nggelendotnya.

Puncaknya adalah ketika mbak Go Clean menyalakan vacuum cleaner. "Nguuuuuungggg.." Terdengar deru suaranya. "Atuuuuttt..." rengek baby Z sambil memelukku. Lucu amat sih ni bocah :))) Eh tapi harus ber-empati dong ya, dia 'kan beneran ketakutan. Baby Z memang seringkali takut dengan suara-suara, misal suara gonggongan anjing dari kejauhan, suara orang turun dari tangga (bukan takut tapi kaget langsung cari orang untuk dipeluk), suara cicak...

"Zaki nggak usah takut, itu 'kan cuma suara vacuum cleaner.."
"Atuuuttt..." Zaki makin kencang memelukku..
Oke nggak mempan. Sesuai teori, menyuruh ia nggak usah takut berarti memintanya menyangkal perasaan. Nggak ada empati sama sekali.

"Suara vacuum cleaner kencang ya Zaki? Debu-debunya disedot. Vacuum ini salah satu alat bersih-bersih, seperti sapu, pel..." Baby Z diam saja melihatku. Mencoba memahami kata-kata ibunya. Tapi dia lebih tenang. "Ayo kita main pancing-pancing ikan sambil nunggu mbaknya pakai vacuum cleaner.." Lalu kami pun bermain bersama, sementara mbak Go Clean menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu masuk kaidah yang manakah percakapan barusan? Hahaha akupun bingung. Entah dengan intonasi yang tepat, mencoba berempati, atau fokus pada solusi, bukan masalah.

Alhamdulillah hari ini mood ibu dan Zaki sangat terjaga, nggak ada nada tinggi sedikitpun, baby Z anak baik :)

Komunikasi dengan Pasangan
Menjelang waktu berbuka puasa, alhamdulillah suami sudah pulang dari kantor. Sementara aku menyiapkan masakan di dapur dan cuci-cuci peralatan masak, suami nonton kajian di Youtube sambil menemani bocil main. Ehhhh tau-tau bocahnya eek.

Dalam 19 bulan usia bocah, kegiatan cebokin bocah 95%-nya dikerjakan olehku. Suami mengerjakannya kalo kepepet doang, dan itu sangat jarang :D Kalo kurang kepepet, dia bisa aja bilang, "Tunggu ibu yang cebokin ya nak, bapak masih ada perlu ini..." :)))

Tadi, waktu yang sangat tepat untuk meminta suami bantu cebokin karena aku sedang ada urusan dapur. Jadi aku bilang aja, "Bapak tolong cebokin Zaki yaaa..." "Eeeemmmmmm.. iii..iyaaa..." Kata bapake. Bukan contoh komunikasi yang produktif ya :p? Tapi suami kemudian segera beranjak dari duduk santainya dan meladeni bocil yang ingin segera diganti popoknya.


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP