Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #10 - Memberi Alternatif Untuk Bocah

Assalamu'alaikum,
Terasa banget begitu anak mulai bisa ngomong, ibuk harus putar otak tiap kali anak punya keinginan yang 'timing'-nya nggak sesuai menurut ibu. Benar-benar butuh ilmu komunikasi produktif untuk bargaining dengan bocah. Karena kalau nggak, tentulah akan berakhir dengan tangisan. Atau kalau terlalu banyak dilarang, belum tahu nanti efek jangka panjangnya gimana bagi bocah. Jangan sampai ia jadi suka takut untuk menyampaikan pendapat, atau melemahkan kepercayaan dirinya, atau membunuh kreativitasnya. Tantangan bagi ibu yaaa...

Misalnya hari ini, setelah mandi pagi, Z ingin main cat air. Kalo Zaki main cat, sudah pasti itu cat bakal dilukis-lukis ke tangan dan kakinya, lalu pernah juga ditumpahkan + diratakan ke lantai. Di situlah ibu merasa sedih (harus ngepel dan lap-lap) tapi juga pengen ketawa. Nah. Karena sedang ada agenda lain, ibu bilang aja, "Zaki, main catnya nanti sore aja ya sebelum mandi. Karena Zaki sudah mandi, kita mau ke rumah eyang, Zaki mau tulis-tulis pakai crayon aja ya?" "Ayooon (baca: crayon)," balas Zaki. Lalu dia lukis-lukis pakai crayon.

Lalu sedang nunggu GoCar datang di halaman rumah, ehhh Z minta siram-siram air. "Zaki, kita sedang nunggu mobil datang, nggak bisa siram-siram sekarang ya. Siram-siram bikin baju basah, kalau basah, Zaki nggak boleh naik mobil. Zaki mau main sapu-sapu dulu sambil tunggu mobil datang?"

Berbicara sama bocah 19 bulan ini, ibu harus selalu memberi alasan dan memberi alternatif pengganti untuk keinginannya. Harus kreatif ya mak!

Komunikasi dengan Suami
Di grup kelas Bunda Sayang hari ini, topiknya adalah perbedaan kebutuhan bicara wanita dan pria. Wah pas banget! Dalam sehari, rata-rata wanita butuh mengeluarkan 21.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Makanya kalau seorang wanita di rumah aja dengan anak kecil, sudah untung kalau bisa menggunakan 2.000-3.000 kata. Masih ada sisa 18.000 kata yang butuh disalurkan. Kapan lagi kalau bukan ketika suami pulang ke rumah :))) Padahal suaminya sudah kehabisan jatah kata dan mengharapkan kedamaian di rumah, sementara istrinya terlihat sedang 'mengomel' :)))

Akupun baru sadar. Tadi pagi, aku ngoceh ke suami suatu problematika yang sebetulnya sudah aku selesaikan sendiri solusinya. Lalu suami memberi solusi padaku. "Iya, udah aku kerjain kayakgitu kok," jawabku ketika diberi saran suami.

Lalu sebenarnya aku curhat buat apa? Ya sekedar pelampiasan bicara aja ya sepertinya :p

Siang pun ketika habis ada permasalahan dengan orderan taxi online, aku lapor ke suami. Karena aku telat keluar rumah 4 menit setelah taxi online datang, aku ditinggal, orderanku di cancel pak-nya. "Ibu kelamaan keluar, saya udah nunggu dari tadi!" Katanya ketika kutelpon parkir dimana. Ya Allah baru juga 4 menit pak, saya kan bawa anak kecil T_T Dalam hatiku bergumam begitu. Tapi aku cuma minta maaf saja ke paknya, sebelum dia tutup telpon.

Setelah aku curhat ke suami, bahwa aku cukup sedih dengan kejadian itu, suami bertanya, "Trus gimana?"

"Ya gampang sih, aku langsung order lagi, alhamdulillah dapat driver yang baik dan mobilnya bersih," jawabku.

As simple as that. Wanita seringkali bukan butuh solusi. Ia hanya butuh untuk didengarkan. Makanya ketika dapat materi tentang perbedaan pria dan wanita, aku merasa tepat sekali pembahasannya. Memang sudah fitrah, otak wanita dan pria diciptakan berbeda. Sekarang tinggal berpikir gimana cara memanfaatkan 21.000 kata itu menjadi kata-kata yang bermanfaat, bukan gosip, bukan ngomel-ngomel :D

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP