Kamis, 22 Juni 2017

The Truth About Marriage #1

Assalamu'alaikum...
Karena banyak terjadi kekonyolan-kekonyolan setelah menikah, terbitlah satu seri khusus: The Truth About Marriage ini. Mungkin nanti kalau sudah jadi kakek-kakek dan nenek-nenek aku dan suami bisa ketawa-tiwi baca dokumentasi via postingan ini :))

Foto jaman babymoon di Trick Eye Museum hehehe :p
Jadi, awal-awal menikah dulu, rasanya memang berbunga-bunga. Semua terasa romantis. Lama-lama sifat asli muncul, trus keromantisan bergeser jadi kekonyolan yang aneh-aneh (menurut versi kami). Suami kamu romantis? Atau lebih banyak konyolnya? :p

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #10 - Memberi Alternatif Untuk Bocah

Assalamu'alaikum,
Terasa banget begitu anak mulai bisa ngomong, ibuk harus putar otak tiap kali anak punya keinginan yang 'timing'-nya nggak sesuai menurut ibu. Benar-benar butuh ilmu komunikasi produktif untuk bargaining dengan bocah. Karena kalau nggak, tentulah akan berakhir dengan tangisan. Atau kalau terlalu banyak dilarang, belum tahu nanti efek jangka panjangnya gimana bagi bocah. Jangan sampai ia jadi suka takut untuk menyampaikan pendapat, atau melemahkan kepercayaan dirinya, atau membunuh kreativitasnya. Tantangan bagi ibu yaaa...

Misalnya hari ini, setelah mandi pagi, Z ingin main cat air. Kalo Zaki main cat, sudah pasti itu cat bakal dilukis-lukis ke tangan dan kakinya, lalu pernah juga ditumpahkan + diratakan ke lantai. Di situlah ibu merasa sedih (harus ngepel dan lap-lap) tapi juga pengen ketawa. Nah. Karena sedang ada agenda lain, ibu bilang aja, "Zaki, main catnya nanti sore aja ya sebelum mandi. Karena Zaki sudah mandi, kita mau ke rumah eyang, Zaki mau tulis-tulis pakai crayon aja ya?" "Ayooon (baca: crayon)," balas Zaki. Lalu dia lukis-lukis pakai crayon.

Lalu sedang nunggu GoCar datang di halaman rumah, ehhh Z minta siram-siram air. "Zaki, kita sedang nunggu mobil datang, nggak bisa siram-siram sekarang ya. Siram-siram bikin baju basah, kalau basah, Zaki nggak boleh naik mobil. Zaki mau main sapu-sapu dulu sambil tunggu mobil datang?"

Berbicara sama bocah 19 bulan ini, ibu harus selalu memberi alasan dan memberi alternatif pengganti untuk keinginannya. Harus kreatif ya mak!

Komunikasi dengan Suami
Di grup kelas Bunda Sayang hari ini, topiknya adalah perbedaan kebutuhan bicara wanita dan pria. Wah pas banget! Dalam sehari, rata-rata wanita butuh mengeluarkan 21.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Makanya kalau seorang wanita di rumah aja dengan anak kecil, sudah untung kalau bisa menggunakan 2.000-3.000 kata. Masih ada sisa 18.000 kata yang butuh disalurkan. Kapan lagi kalau bukan ketika suami pulang ke rumah :))) Padahal suaminya sudah kehabisan jatah kata dan mengharapkan kedamaian di rumah, sementara istrinya terlihat sedang 'mengomel' :)))

Akupun baru sadar. Tadi pagi, aku ngoceh ke suami suatu problematika yang sebetulnya sudah aku selesaikan sendiri solusinya. Lalu suami memberi solusi padaku. "Iya, udah aku kerjain kayakgitu kok," jawabku ketika diberi saran suami.

Lalu sebenarnya aku curhat buat apa? Ya sekedar pelampiasan bicara aja ya sepertinya :p

Siang pun ketika habis ada permasalahan dengan orderan taxi online, aku lapor ke suami. Karena aku telat keluar rumah 4 menit setelah taxi online datang, aku ditinggal, orderanku di cancel pak-nya. "Ibu kelamaan keluar, saya udah nunggu dari tadi!" Katanya ketika kutelpon parkir dimana. Ya Allah baru juga 4 menit pak, saya kan bawa anak kecil T_T Dalam hatiku bergumam begitu. Tapi aku cuma minta maaf saja ke paknya, sebelum dia tutup telpon.

Setelah aku curhat ke suami, bahwa aku cukup sedih dengan kejadian itu, suami bertanya, "Trus gimana?"

"Ya gampang sih, aku langsung order lagi, alhamdulillah dapat driver yang baik dan mobilnya bersih," jawabku.

As simple as that. Wanita seringkali bukan butuh solusi. Ia hanya butuh untuk didengarkan. Makanya ketika dapat materi tentang perbedaan pria dan wanita, aku merasa tepat sekali pembahasannya. Memang sudah fitrah, otak wanita dan pria diciptakan berbeda. Sekarang tinggal berpikir gimana cara memanfaatkan 21.000 kata itu menjadi kata-kata yang bermanfaat, bukan gosip, bukan ngomel-ngomel :D

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 13 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #9 - Sepi di Rumah

Assalamu'alaikum,
Hari Senin, pak suami rencana ada buka bersama di kantornya. Wah, aku bakal buka puasa berduaan bocah di rumah nih, pikirku.

Sejak awal Ramadhan, buka puasaku selalu ada teman. Entah sedang di rumah ibu di Surabaya, sedang di rumah mertua di Jakarta, atau kalaupun di rumah sendiri, suami selalu pulang cepat dari kantor dan kami bisa menyiapkan buka sama-sama.

Lalu kepikiran buka puasa berdua bocah 19 bulan, kok sepi yaaa... Padahal jaman masih belum ada anak sih sendirian gak masalah juga hehehe. Sempat terpikir ikut ngeluyur buka di luar, tapi aku nggak siap menghadapi macetnya Jakarta di jam buka puasa. Plus, aku dan bocil lagi batuk pilek. Lebih baik di rumah, kan?

Makanya dari pagi, bocil sudah kukondisikan bahwa kami hanya berdua aja hari ini. "Nak, nanti bapak pulangnya malam, Zaki nggak usah nunggu bapak ya. Zaki main berdua aja sama ibu."

Beberapa kali kalimat ini aku ucapkan. Alhamdulillah, Zaki kooperatif. Nggak ada rewelnya. Eh sempat rewel sekali sih waktu pagi aku bawa ngaji ke rumah ibu pengajian, karena dia nggak familiar dengan tempat dan orang-orangnya, plusss lagi meler, jadi minta pulang.

Ketika bocah bobok siang, ibu bisa masak sop kaldu ayam kampung buat bocah. Lalu setelah dia bangun tidur, kami jalan-jalan berdua ke warung mi ayam dekat rumah, beli menu buka puasa untuk ibunya.

Hepi-hepi aja sih kita berdua ya nak :D Lalu lanjut main di rumah, sampai bapak pulang dehhh jam 8.30 malam.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #8 - Clear and Clarify

Assaalamu'alaikum,
Hari ini, berhubung tukang masak (baca: saya) telat bangun sahur, orang serumah juga pada kebablasan nggak sahur. Gara-gara kemarin tidur terlalu malam sepulang dari bukber nun jauh di sana, tidur jadi pulas banget, alarm pun nggak dengar.

Imbasnya puasa jadi agak lemas dan kepalaku sakit sekali, mungkin karena kurang gizi hahahha...

Buat hemat energi (dan mumpung libur), suami pun tidur sore lamaaaa sekali. Susah sekali kubangunin. Sampai aku ngomel-ngomel banguninnya karena sudah masuk waktu sholat ashar, mau minta tolong kirim takjil ke masjid. Tapi makin aku bangunin dengan ngomel, suami makin ngomel juga sambil narik selimut. "Iyaa bangunin 5 menit lagi," katanya. Di sini, lupa banget menerapkan komunikasi produktif :( Pada akhirnya dia bangun sih, tapi bete. Ya untungnya beberapa menit kemudian berangkat sholat dan hilang bete-nya.

Sorenya kami buka puasa di rumah mertua. Suami rencana pengen sholat tarawih di masjid raya beberapa kilometer dari rumah mertua sementara aku menunggu di rumah. Tapi sakit kepalaku makin menjadi, mau ngajak pulang aku nggak enak, masa mau menghalangi ibadah T_T Kalau aku, Ramadhan ini selalu tarawih di rumah karena aku dan bocil sedang flu berat, plus jam ngelonin bocil.

Suami yang lihat aku bersandar loyo, nanyain, "Yak, mau langsung pulang aja atau nunggu aku sholat tarawih? Kamu yang tau kondisi badanmu lho..."

Aku bisa aja sih bilang, "Terserah kamu..." Atau "Menurutmu gimana lho??" Sambil berharap perasaan sakitku dimengerti oleh suami. Tapi, kuputuskan untuk bilang, "Pulang aja yuk? Pingin istirahat di rumah, bocil juga udah ngantuk. Kamu nggak papa tarawih di rumah?"

Akhirnya kami pun pulang. Makasih yaa pak suami, hari ini mengalah demi istri... Untuk bicara sama laki-laki, memang nggak bisa sekedar kasih kode-kode lalu berharap dimengerti. Lebih baik bicara jelas dan gamblang inginnya bagaimana, tentu dengan intonasi yang baik yaaa :)

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Minggu, 11 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #7 - Obrolan di Mobil

Assalamu'alaikum,

Sabtu ini, ada 2 agenda keluarga kami: Bapake mau betulin laptop ke Ambassador dan sore ada buka bersama di rumah teman di Tangerang. Wow jauh yaaaa. Aku putuskan supaya nggak capek, baby Z dan aku istirahat di rumah aja ketika bapake ke Ambassador. Karena emaknya Zaki banyak urusan di rumah dan bapake juga ada kegiatan di luar, kami hampir-hampir nggak ada waktu untuk ngobrol bersama yang enak, padahal hari libur.

Bukber TI '05 ITS cabang Jakarta, Sabtu 10 Juni 2017

Ketika berangkat ke buka bersama, meskipun semobil, kami juga nggak sempat ngobrol serius karena bapake sibuk ngebut dan lihat google maps. Sementara aku? Sibuk jagain Zaki yang lompat-lompat di mobil, minta nyemil, pengen lihat truk dan mobil-mobil di jalan, pengen gelantungan, ahhh banyak lah :))) Sampai-sampai aku mabok darat, mual-mual keringat dingin akibat terlalu banyak tingkah di mobil. Untungnya nggak sampai membatalkan puasa, alhamdulillah...

Sepulang dari buka bersama, barulah suasana kondusif di dalam mobil. Baby Z tidur di mobil di pangkuan ibunya. Sehingga terciptalah waktu yang tepat untuk quality talk bersama suami :) Kami pun tidak dalam kondisi pegang gadget sehingga diskusi lebih fokus.

Banyak yang kami obrolkan, mulai dari hal yang urgent kepepet: mau memberi takjil apa untuk di masjid besok (besok giliran keluarga kami menyiapkan takjil masjid dekat rumah), mau beli di mana, diskusi masa depan seputar keinginan suami sekolah S2 (aamiin), soal investasi rumah, soal pekerjaan.

Kadang memang butuh sih obrolan ringan dan dalam (ciehhh) berdua saja. Obrolan di mobil, jadi salah satu waktu yang tepat. Asalkan ketika anak bobok dan lagi nggak sibuk dengan gadget / google maps ya :D

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Jumat, 09 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #6 - Nggak Mau Sedot Ingus

Assalamu'alaikum,
Hari ini, Zaki sedang agak rewel. Pileknya yang sudah berlangsung seminggu, belum sembuh-sembuh juga. Sudah beberapa hari terakhir ia menolak untuk disedot ingusnya (pakai alat), bahkan dilap aja gak boleh =_="
Kayak gini nih alat sedot ingusnya Zaki. Dulu awal-awal pilek mau pake dengan ikhlas, lama-lama nolak. Sumber gambar: asibayi.com

Jadi tiap aku mengeluarkan alat sedot ingus, Zaki langsung kabur dan bilang, "Nggaauuu..." (Nggak Mau) sambil geleng-geleng dan mukanya mau nangis. Perdebatan pun berlangsung. "Zaki, ingusnya ibu sedot ya supaya napasnya enak, supaya bisa nyusu juga..." Jawabnya tetap, "Ngaaauuu.." Sambil semakin menangis setiap aku membujuknya.

Puncaknya, saat dia meminta cemilan roti marie. Sejak batuk pilek, aku memang melarang ia makan cemilan, apalagi yang kriuk kriuk. Zaki pun paham bahwa ia batuk = nggak boleh nyemil. Tapi kali ini ketika dia sakau pengen roti marie, aku bilang aja, Zaki boleh makan cemilan ASALKAN mau disedot ingusnya. Aku belajar menggunakan pilihan sebagai bentuk komunikasi produktif.

Drama pun terjadi. Z keukeuh minta cemilan tapi nggak mau sedot ingus. Ibu bilang, kalau nggak disedot ingus ya nggak dikasih cemilan. Sampai Z nangis-nangis :(

Di sini ibu belajar konsisten sih dengan pilihan yang ibu kasih. Meski Z nangis meraung sampai didengar tetangga, kalau nggak sedot ingus ya nggak dikasih.

Jadi ingat pesan mbak Farida fasilitator kelas Bunda Sayang, dalam berkomunikasi produktif, nggak mesti harus dengan intonasi ramah. Ketegasan bisa aja diperlukan. Yang nggak boleh adalah intonasi meninggi karena emosi.

Ibu pun bertanya, kenapa Zaki nggak mau disedot ingusnya? Apakah sakit? "Akiiit..." kata Zaki sambil merengek. "Nanti kalau mau sedot ingus, ibu pelan-pelan ya sedotnya..." "Ngauuuu..." Tetap menolak.

Pada akhirnya, berhasilkah ibu sedot ingusnya? Berhasil, dengan paksaan. Beberapa saat sebelum tidur siangnya Z, kepala & tangannya Zaki ibu pegangin, lalu tangan kanan ibu pegang alat sedot ingus. Nangis itu pasti. Tapi ibu udah gak tahan dengar suara srat srot ingusnya Z yang tertahan di dalam hidung T_T Hasil sedot ingusnya banyak dehhh, lega lihatnya. Setelah nangis 5 menit, Zaki terdistraksi sama mainan, lalu tidur siang.

Trus ibu lupa ngasih imbalan roti marie, dan Zaki pun juga lupa tadi pengen roti marie. Yawes lah yaaa... Nyemil yang sehat-sehat aja pas batuk ya nak.. Buah, ato makan nasi lauk pauk sekalian.

Komunikasi dengan Pasangan
Ada satu koper suami dari luar kota yang belum dibongkar & dibereskan isinya, terbengkalai di ruang tamu. Kalau nggak dibereskan istrinya, mungkin itu koper bakal tetap di sana terus. Tapi istri lagi nggak ada energi beres-beres koper. Puasa, ngurus anak, nyusuin, beres-beres rumah, lemes bro (ah alasan aja sih). Intinya, pengen pak suami yang bongkar kopernya sendiri.

Jadi menerapkan eye contact aja ketika ngobrol santai. Minta suami sebelum pergi besok membereskan kopernya dulu. Sambil dibercandain, kalo koper gak beres, gak boleh pergi lho yaaaa hehehe. Iya, kata pak suami.

Moga besok beneran diberesin ya :D aamiin.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #5 - Takut Vacuum Cleaner

Assalamu'alaikum,
Hari ini, sesuai jadwal, ada mbak Go Clean datang ke rumah. Kali ini aku pilih paket biasa Rp 45.000 per jam. Dua kali pesan sebelumnya, aku pilih paket ekonomis: lebih murah tapi peralatan harus menyediakan sendiri. Memang beda harganya lumayan sih, tapi sepertinya lebih nyaman kalau Go Clean-nya bawa alat sendiri. Kita jadi terima beres, nggak perlu menyiapkan ember, lap, sapu, pel, dan obat-obatan pembersih.

Ternyata peralatan yang disiapkan Go Clean lengkap, ada vacuum cleaner-nya juga lohhh!! Jadi worth the price banget deh. Sofa-sofa dan kasurku ikut disedot debunya. Lumayan, aku kan nggak punya vacuum cleaner di rumah :D 

Namun baby Z sejak kedatangan mbak Go Clean selalu menggelendot padaku. Yah biasanya memang kalau aku kerja di rumah, dia pasti nggelendot sih. Ngepel, masak, belanja di tukang sayur, semua sambil gendong. Buibuk yang lain, ada yang begini juga? Anaknya nggak bisa disuruh anteng main sendiri :)) hahaha. Ini ketambahan ada orang asing yang datang ke rumah pula. Makin menjadi deh nggelendotnya.

Puncaknya adalah ketika mbak Go Clean menyalakan vacuum cleaner. "Nguuuuuungggg.." Terdengar deru suaranya. "Atuuuuttt..." rengek baby Z sambil memelukku. Lucu amat sih ni bocah :))) Eh tapi harus ber-empati dong ya, dia 'kan beneran ketakutan. Baby Z memang seringkali takut dengan suara-suara, misal suara gonggongan anjing dari kejauhan, suara orang turun dari tangga (bukan takut tapi kaget langsung cari orang untuk dipeluk), suara cicak...

"Zaki nggak usah takut, itu 'kan cuma suara vacuum cleaner.."
"Atuuuttt..." Zaki makin kencang memelukku..
Oke nggak mempan. Sesuai teori, menyuruh ia nggak usah takut berarti memintanya menyangkal perasaan. Nggak ada empati sama sekali.

"Suara vacuum cleaner kencang ya Zaki? Debu-debunya disedot. Vacuum ini salah satu alat bersih-bersih, seperti sapu, pel..." Baby Z diam saja melihatku. Mencoba memahami kata-kata ibunya. Tapi dia lebih tenang. "Ayo kita main pancing-pancing ikan sambil nunggu mbaknya pakai vacuum cleaner.." Lalu kami pun bermain bersama, sementara mbak Go Clean menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu masuk kaidah yang manakah percakapan barusan? Hahaha akupun bingung. Entah dengan intonasi yang tepat, mencoba berempati, atau fokus pada solusi, bukan masalah.

Alhamdulillah hari ini mood ibu dan Zaki sangat terjaga, nggak ada nada tinggi sedikitpun, baby Z anak baik :)

Komunikasi dengan Pasangan
Menjelang waktu berbuka puasa, alhamdulillah suami sudah pulang dari kantor. Sementara aku menyiapkan masakan di dapur dan cuci-cuci peralatan masak, suami nonton kajian di Youtube sambil menemani bocil main. Ehhhh tau-tau bocahnya eek.

Dalam 19 bulan usia bocah, kegiatan cebokin bocah 95%-nya dikerjakan olehku. Suami mengerjakannya kalo kepepet doang, dan itu sangat jarang :D Kalo kurang kepepet, dia bisa aja bilang, "Tunggu ibu yang cebokin ya nak, bapak masih ada perlu ini..." :)))

Tadi, waktu yang sangat tepat untuk meminta suami bantu cebokin karena aku sedang ada urusan dapur. Jadi aku bilang aja, "Bapak tolong cebokin Zaki yaaa..." "Eeeemmmmmm.. iii..iyaaa..." Kata bapake. Bukan contoh komunikasi yang produktif ya :p? Tapi suami kemudian segera beranjak dari duduk santainya dan meladeni bocil yang ingin segera diganti popoknya.


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #4 - Ayo bobok siang nak!

Assalamu'alaikum,
Masih berusaha konsisten untuk menulis 1 tantangan setiap harinya, demi lulus kelas Bunda Sayang-nya Institut Ibu Profesional yang kita cintai :D Jangan bosan-bosan mampir ke blog yaaa hehehe. Tantangan ini bakal ada minimal 10 hari tiap bulan, selama 1 tahun ke depan. Sesuai kurikulumnya Bunda Sayang. Semoga istiqomah, aamiin!

Melanjutkan ilmu Komunikasi Produktif, hari ini, baby Z super ngantuk karena bangun kepagian, tapi nggak mau tidur-tidur juga sampai jam 11.30 siang. Memang balita satu ini agak susah tidur sih dari kecil, harus dikeloni terus sampai emaknya ikut ketiduran, baru deh dia masuk ke alam mimpi :D Hari ini, sudah bolak balik mimik ASI, dikelonin, ehhh tetap aja minta turun kasur dan keluar kamar.

Oke jam 11.30 diputuskan, baby Z harus tidur. Kita ambil jurus komunikasi produktif Katakan Apa Yang Kita Inginkan, bukan yang tidak diinginkan.

Jadi, daripada aku menyanyikan nina bobok "Kalau tidak bobok, digigit nyamuk..." (itu kan tidak diinginkan), aku sampaikan saja bahwa Zaki sebaiknya bobok, karena Zaki butuh istirahat. Istirahat itu penting supaya Zaki bisa segera sembuh batuk pilek. Zaki boleh bawa mainan ke kasur. Lalu dia pilih mainan kereta Thomas.

Dikelonin, bobok dehhh jam 11.45. Alhamdulillah!!! Emak bebas!! Eh enggak ding, emaknya ikut ketiduran :)))

Komunikasi Dengan Pasangan
Hari ini nggak ada obrolan penting sih. Adem ayem saja :D Jadi bingung apa yang mau dipraktekkan hehehehe. Oiya, paling juga obrolan untuk memutuskan kami akan pulang ke rumah (beberapa hari terakhir, kami menginap rumah mertua karena kondisi badan sedang nggak fit - dan mertua happy kalau rumahnya rame ada cucu :P). Oiya, sebisa mungkin ketika ngobrol, aku terapkan Eye Contact sih. Dan memang terasa lebih enak ngobrolnya, daripada kalau ngobrol sambil lalu.

Lalu untuk menghindari kata, "Terserah pulangnya kapan", "Terserah kamu..", "Tergantung enaknya kamu aja.." yang dari kemarin selalu terjadi, akupun sudah memesan Go Clean untuk bantu beres-beres rumah besok. Maklum nggak ada ART dan rumah udah ditinggal lebih dari seminggu - habis mudik ke Surabaya, lanjut nginap rumah mertua sepulang ke Jakarta. Daripada aku bertindak jadi superwoman beres-beres plus nyetrika sendiri padahal badan masih nggak enak karena batuk pilek parah, kalo ada rejeki, panggil aja jasa untuk delegasi kerjaan rumah :D

Yah intinya, karena sudah panggil Go Clean untuk pagi besok, mau nggak mau malam ini harus pulang ke rumah hehehe. Yawes segini dulu tsurhatnya. Lanjut besok yaaa...

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #3 - Lempar Barang?

Hari ini, alhamdulillah nggak ada kejadian Z melepeh-lepeh makanan. Entah karena makanan hari ini kesukaan dia semua, atau efek komunikasi kemarin ya :D

Tapi namanya toddler, belum lengkap hari-hari tanpa kejadian yang butuh strategi komunikasi. Eksplorasi terjadi dimana-mana. Hari ini Z sedang suka lempar barang. Magnet kulkas dilempar, pintu kulkas dibanting. Oiya aku belum cerita ya kalau Z hobi banget buka kulkas dan ngintipin isinya, diabsen satu-satu mana yang boleh dia makan :)))

Ketika dia banting pintu kulkas, kalau diminta buka kulkasnya pelan-pelan karena kulkas bisa rusak, Z tetap saja melakukannya. Mungkin di benak anak balita ini, emang apa ruginya bagi dia kalau kulkas rusak? Iya gak yaaa...

Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #2 - Melepeh Makanan?

Melanjutkan tantangan Komunikasi Produktif dari hari sebelumnya, mengenai Komunikasi Dengan Anak.

Hari ini Z (19 bulan) minta apel, tetapi seperti biasa, setelah makan 2-3 potong, selanjutnya dilepeh-lepeh.

Kebiasaan melepeh-lepeh ini sudah berlangsung beberapa bulan sih. Bisa karena dia sudah kenyang, nggak suka makanannya, atau memang lagi iseng saja (kalau hanya iseng, suapan berikutnya dimakan tanpa dilepeh). Kadang berhasil dinasehati, kadang juga enggak. Belum ketemu polanya.

Minggu, 04 Juni 2017

Tantangan Bunda Sayang #1: Komunikasi Produktif Day #1

"Zaki, jangan pegang listrik!!"
"Sampahnya kotor nak, jangan dibuat mainan!!"
"Nak, mandinya udah ya, boros air nggak baik.." sambil mematikan kran dan berakhir dengan tangisan yang pecah karena bocah masih pengen main air.

Kalimat larangan semacam itu sering sekali meluncur dari mulutku. Usia bocah yang sudah masuk toddlerhood (kini 19 bulan), membuatnya ingin eksplorasi berbagai hal, dari yang positif sampai negatif (baca: berbahaya atau kotor-kotor menurut ibunya).

Kadang aku bingung bagaimana melarang Z melakukan hal-hal yang berbahaya atau bikin kotor. Pernah dengar bahwa kalau anak dibilang 'jangan', ia justru akan melakukannya. Namun mengubah kata 'jangan' menjadi hal yang positif cukup menantang. Sering kali ketika ada kejadian, otak belum sempat berpikir, kata-kata larangan sudah muncul duluan.

Nah, pada kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional yang kuikuti, pas banget materi pertamanya adalah Komunikasi Produktif. Baik dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak. Pasca materi, kami 'mahasiswi' diberikan tantangan 10 hari untuk mempraktekkan ilmu yang kami pelajari.

Komunikasi Dengan Anak - Day #1
A. Keep Information Short & Simple
B. Kendalikan intonasi suara. Verbal 7%, intonasi suara 38%, bahasa tubuh 55%.
C. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
D. Fokus ke depan, bukan masa lalu
E. Ganti kata 'tidak bisa' menjadi 'bisa'
F. Fokus pada solusi, bukan masalah
G. Jelas dalam memberi pujian/kritikan
H. Ganti nasihat menjadi refleksi pengalaman
I. Ganti pertanyaan interogaso menjadi pernyataan observasi
J. Ganti pengalihan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
K. Ganti perintah dengan pilihan

Poin yang dipilih: B (7-38-55)
Pagi ini lagi-lagi Z mandi lamaaa sekali, air kran harus menyala terus, kalau dimatikan ia marah.
Akhirnya ibu membungkuk sejajar Z (bahasa tubuh), lalu bilang bahwa boros air itu nggak baik. Ibu juga bilang dengan lembut (intonasi), Z sedang batuk pilek, sebaiknya jangan terlalu lama kena air. "Tangan Z sudah keriput, yuk kita pakai handuk. Ibu matikan keran airnya ya.."

Hasilnya? Z tetap protes sih setelah keran mati. Namun ia segera minta pakai handuk :) Dramanya nggak perlu panjang-panjang deh, alhamdulillah.

Siangnya, Z kembali melakukan hal yang membuat ibu kaget ketakutan dalam hati. Ia menemukan kabel speaker dan berusaha mencolokkannya ke steker listrik. Sontak ibu lari ke arah Z. Masih keceplosan langsung bilang "Listrik nggak boleh buat mainan nak..!!" Tapi Z tetap bermain.

Ibu sejajarkan badan lagi dengan Z. Berusaha menatap matanya, pegang tangannya. "Zaki, listrik ini bukan mainan anak-anak. Setrum listrik bikin sakit, lebih sakit daripada panas setrika (beberapa hari sebelumnya ia pegang setrikaan T_T)." Saat dibilang ini, ia pun melepaskan genggamannya dari kabel. "Zaki boleh main yang lain, tapi jangan listrik ya.." dan Zaki pun main yang lain. Fiuhhh, ibu lega!

Semoga besok lebih lancar lagi berkomunikasi produktif dengan bocah :)

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP