Rabu, 17 Mei 2017

Membawa Baby Z Pergi Ke Jepang

Assalamu'alaikum!
Musim semi kali ini, aku dapat rejeki membawa baby Z ke Jepang, diajak kakung dan utinya Z. Alhamdulillah, tercapai juga impian melihat bunga sakura :) Kebetulan pak suami juga sedang dinas ke Jepang, jadi meskipun beda tujuan, kami sempat 1 hari bertemu dan bermain saat di Tokyo.


Pada postingan kali ini, aku nggak akan panjang lebar menjelaskan itinerary, tetapi lebih ke cerita bagaimana pengalaman bawa bayi ke Jepang yang penerbangannya cukup panjang (7 jam), dan medannya cukup berat (naik turun tangga di stasiun Jepang). Karena jujur aja, sebelum berangkat, ibunya baby Z ini sempat deg-degan bawa balita ke sana, takut rempong hihihi.

Jadi, berikut ini adalah kesimpulan perjalanan kami ke Jepang, beserta tips-tipsnya.

1. Barang Bawaan ke Jepang

Meminimalisir barang bawaan menjadi kunci supaya perjalanan bisa nyaman. Karena di luar negeri nggak ada porter seperti di Indonesia, dan biaya naik taxi cukup mahal, terpaksa harus naik kendaraan umum atau kereta 'kan? Kebayang kalo kopernya besar dan banyak, harus diangkut ke atas kereta, plus kadang stasiun nggak ada lift/eskalatornya. Bedeeeehhh encok lah mak.

Apalagi kali ini pergi nggak sama bapaknya baby Z, otomatis barang bawaanku dan Z menjadi tanggung jawabku, meski sebagian dibantu kakungnya. Karena eyang-eyang masa' bawa berat-berat. Kakung memutuskan pakai carrier ala backpacker, sehingga tangannya masih bebas untuk membantu bawa koperku jika dibutuhkan.

Kami juga bawa 1 mini rice cooker, beras 3 kantung plastik, abon, dan mi instan hehehe. Targetnya sih, ransum harus habis supaya pas pulang masih ada sisa space di koper.

Total barang bawaan kami:
Tia: 1 buah koper ukuran sedang, 1 sling bag super kecil untuk bawa HP, paspor & uang (selalu nempel di badan), 1 stroller, 1 diaper bag untuk di kabin, dan 1 baby carrier Boba menggendong baby Z
Kakung: 1 buah carrier backpack, 1 ransel isi paspor dompet dan kamera
Uti: 1 buah koper ukuran sedang, 1 ransel kabin, 1 sling bag untuk bawa HP, paspor dan uang

Kebayang nggak sih, rempongnya :p Itu aja udah paling minimal menurut kami, karena musim seminya masih (agak) dingin (menurut orang Jakarta dan Surabaya wkwkwk), kami harus bawa coat/jaket tebal yang cukup bikin koper penuh.

Sempat jalan-jalan di taman dengan koper
Oiya, beberapa kali kami menggunakan jasa coin locker di stasiun, yakni ketika sudah harus check out atau belum bisa check in apartemen tapi pingin jalan-jalan tanpa geret koper. Proses mencari loker kosong pun bisa memakan waktu hingga hampir 1 jam karena koper kami ada yang besar, harus mencari loker ukuran besar (biasanya penuh). Untungnya di stasiun besar, jasa coin locker tersebar di beberapa titik, jadi bisa cari yang lain lagi. Kalau kopernya kecil-kecil seukuran kabin, saat itu banyak banget loker yang tersedia.

2. Bawa Stroller atau Carrier?

Setiap traveling, 2 perangkat ini jadi barang yang wajib kubawa. Jadi ya, aku bawa dua-duanya. Meskipun stroller jarang dipakai karena si bocah lebih suka jalan daripada duduk manis. Tapi cukup bermanfaat untuk bawa tas-tas yang seringkali melelahkan pundak. Tas perlengkapan bayi, perbekalan untuk jalan seharian, dan kamera 'kan cukup berat yah.

Secara ajaib, beberapa kali baby Z tertidur di stroller saat jalan-jalan siang (padahal di Indonesia hampir gak pernah tuh baby Z tertidur sendiri di stroller). Mungkin karena udaranya dingin, jadi dia ngantuk :p.



Sedangkan carrier dipakai ketika tidur sore dan kalau lagi butuh mobilitas tinggi di stasiun kereta. Ada beberapa stasiun yang nggak memiliki elevator dan eskalator sehingga kami terpaksa naik turun tangga sambil gotong stroller. Repot? Iya. Tapi masih bisa dilakukan kok, thanks to stroller Joie Float yang beratnya cukup ringan dan gampang dilipat. Cukup 1 langkah, si stroller terlipat, tinggal digotong. Praktis dilakukan bahkan sambil gendong bayek. Nanti kapan-kapan aku tulis review tersendiri deh untuk stroller ini. Stroller sejenis yang bisa 1 langkah langsung terlipat/terbuka contohnya Aprica Karoon, Jette Jimmy, Cocolatte New Life, dan Babyelle Citilite.

3. Makanan Balita Selama di Jepang

Dari Indonesia, aku membawa beberapa kotak susu Ultra Mimi (buat sogokan ketika bocah rewel di jalan), camilan bayi ('kerupuk' khusus bayi), dan beberapa sachet bubur instan yang teksturnya agak kasar untuk momen-momen kepepet. Kami juga bawa beras mentah, bumbu sop Bamboe, mi instan, serta abon.

Ternyata semua yang dibawa sangat kepake! Susah sekali cari makanan halal di awal-awal kami di Jepang (waktu itu belum install apps Halal Navi). Sampe hotel sudah malam, capek, belum dapat makanan pula. Si bayek dibuatkan bubur instan deh, sementara ibu dan eyang-eyangnya bikin Indomie hehehee.

Untuk sarapan, kami menanak beras dan makan nasi pake abon. Trus siangnya beli onigiri salmon seharga 130 yen (sekitar Rp 16.000). Melas yoooo....

Bekal masakan sendiri: ikan salmon, tahu, telur dadar, tumis taoge
Itu cerita sebelum menemukan supermarket dan resto halal. Saat di Osaka, kami menemukan supermarket dekat apartemen. Ibuku langsung kalap belanja ikan segar dan sayuran, masak besar di hotel. Siang pun membawa bekal. Malam masak lagi di hotel :D

Untuk cemal-cemil bayi, sering juga beli buah pisang, roti, atau kerupuk beras di minimarket. Beli jus buah segar di gerai jus yang bersih di stasiun. Juga pernah beli kentang goreng McD. Pokoknya harus selalu ada makanan, jangan sampe baby Z rewel karena lapar.

Oiya, ini ada poster yang kami print untuk ditanyakan di restoran/foodstall selama di Jepang, untuk memastikan makanan aman dari bahan tak halal.

4. Itinerary Super​ Fleksibel

Eyang-eyangnya baby Z sudah bilang, ke Jepang kali ini dibawa santai aja. Nggak ada target itinerary yang harus ditepati. Itu sebabnya kami nggak ikut tur. Nggak kebayang kalo ikut tur, kami diburu-buru waktu. Pagi harus sudah siap, foto di situ 5 menit lalu masuk bus, makan ditunggu orang-orang.

Tak jarang kami baru 'berhasil' keluar apartemen jam 10-an pagi. Baby Z aja baru bangun jam 9 pagi di sana (setara jam 7 pagi Indonesia). Belum nyiapin dia mandi, sarapan, nyiapin bekal... Apalagi saat harus berpindah kota, nambah lagi rempongnya karena harus packing lagi.

Dalam sehari, mungkin maksimal kami berkunjung ke 2-3 objek yang berdekatan. Sebagai contoh, saat di Kyoto kami mengunjungi Yasaka Shrine, Chuon In Temple, dan Maruyama Park saja dalam sehari (itu objeknya hanya bersebelahan lho), lalu malamnya sudah naik kereta menuju Osaka. Di Osaka pun objek yang kami kunjungi hanya Osaka Castle (siang) dan Dotonburi (sore menuju magrib). Malamnya sudah sampai di apartemen untuk makan malam dan istirahat.

5. Jangan Lupa Ganti Diapers!

Pernah karena keasikan jalan-jalan dari pagi sampai sore, lupa menyempatkan mampir ke toilet dengan diaper changing station. Sampai-sampai diapersnya baby Z penuh pipis trus bocor ke celananya. Duh nakkkk piyeee toh ibukmu ini -_-" Maafkan yaaa nak!

Pertokoan besar biasanya ada toilet dengan fasilitas diaper changing station-nya. Tapi kalau di objek umum belum tentu ada.

Nah, pengalamanku ganti popok pas bayi (maaf) pup, beberapa kali nemu toilet yang susah buat aku cebokin Z. Terpaksa cebokin di wastafel ketika nggak ada orang yang lihat. Gimana coba mau cebokin sementara cebokannya pakai tombol-tombol dengan air yang mancur dari dalam toilet? Huahahaha. Pernah juga cebokin hanya dengan tisu basah yang sangat banyakkkk di pinggir taman, ditutupin eyang-eyangnya baby Z. Kalau kasusnya seperti ini, harus siap sedia tisu basah yang banyak dan kantong keresek untuk buang semua sampahnya.

Nyaman sekali ketika di mall besar ada toilet dengan diaper changing station, ada meja ganti popok, ada wastafelnya. Bahkan ada dudukan untuk bayi kalau emaknya mau buang air tanpa harus menggendong si bayi. How thoughtful you are, Japanese people :)

6. Penerbangan Malam vs Siang

Ketika berangkat dari Indonesia menuju Jepang, penerbangan panjang selama 7 jam dimulai dini hari pukul 00 WIB. Sudah pasti, itu jam tidurnya baby Z. Baby Z bahkan mulai tidur di bandara Denpasar sejak jam 9 malam di gendongan, karena strollernya masuk bagasi. Lumayan pegal juga leherku saat menunggu pesawat sambil menggendong bayi tidur, karena kursi tunggu bandara kan sandarannya hanya sebatas setengah punggung.

Saat boarding, karena perubahan posisi dan ribet menata barang di kursi pesawat, memakaikan sabuk ke baby Z, ia pun terbangun. Tengah malam bokkk. Pernah baca di forum-forum, ibu-ibu yang bawa bayi terbang tengah malam ternyata harus meladeni bayi yang melek semelek-meleknya. Akupun berdoa supaya baby Z tidur lagi hahaha. Sambil terus disusui, akhirnya alhamdulillah ia lanjut tidur huhuhu.

Penerbangan pun aman dan damai dengan bayi tidur di pangkuan. Oiya baby Z sudah nggak diperbolehkan tidur di bassinet pesawat yang bisa disediakan untuk bayi, karena Z sudah lebih dari 9 kg. Nggak aman, kata bu pramugari.

Nahhh. Ketika balik ke Indonesia dari Jepang, jadwal pesawat kami adalah jam 9 pagi waktu Jepang. Baby Z hanya tidur 1 jam di awal penerbangan. Selanjutnya MELEK. Nonton kartun, nyemil, keliling kabin pesawat, nongkrong di dekat toilet, keluar masuk toilet (karena Z SUKA BANGET lihatin kaca di dalam toilet pesawat, haishh..), nyemil lagi, baca buku, main sama kakung uti... Sampai sempat cranky juga karena bosan di pesawat.

Nggak kebayang kalau penerbangannya lebih dari 7 jam, mati gaya deh emaknya :)))) Kesimpulannya, aku lebih suka flight malam, ketika jam tidur bayi. Karena emaknya bisa ikut numpang tidur hehehe.

--
Pada akhirnya, kalau dipikir-pikir memang rempong-rempong sedap sih bawa balita ke luar negeri. Tapi seru banget dan jadi pengalaman nggak terlupakan. Oiya, selama di Jepang, tiba-tiba kosakata baby Z bertambah banyak. Bisa bilang "bunga" dan "bis".

Makanya, bahkan sejak pulang dari Jepang, emaknya sudah merindukan jalan-jalan lagi sama baby Z dan keluarga hahahaa. Mari kita menabung deh. Emak-emak sekalian punya tips jalan-jalan sama bayi/balita? Atau kota mana yang menyenangkan buat pergi bawa bayi :D

Review Comfi Breathing Pillow: Serius Bantal Bisa Napas?

Assalamu'alaikum bloggers...

Ibu-ibu pasti pernah mengalami betapa sulitnya bikin bayi tertidur. Sudahlah susah ditidurkan, eeeh bangunnya cepat banget. Kadang butuh nyusu, kadang ganti popok, kadang kepanasan. Beberapa bayi sepertinya tahan udara dingin. Walau pasang AC suhu paling rendah, masih aja terbangun tidak nyaman karena berkeringat kepanasan :D Hayooo bayi siapa yang seperti anak eskimo begini?


Akupun mengalami masa-masa ketika kepalanya baby Z selalu berkeringat basah ketika tidur. Sampai tiap tidur ada bagian seprai yang basah membulat di sekitar kepalanya. Dulu aku sempat cemas, keringat berlebih ini normal atau enggak. Tapi ternyata wajar kok, bagian kepala bayi memang suhunya tinggi, karena perkembangan otak di awal-awal tahun kehidupannya begitu pesat.


Pentingnya Tidur Untuk Bayi dan Anak

Proses tidur terdiri dari 2 tahap, Non-REM dan REM. Pada tahapan tidur tidur dalam (Non-REM), aktivitas otak masih terus berjalan. Fase Non-REM berperan penting dalam perbaikan sel-sel tubuh dan produksi hormon pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan batita. Sedangkan pada tahapan tidur aktif (REM), metabolisme otak berada pada tingkat paling tinggi sehingga berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan kognitif bayi dan batita.


Ada penelitian terhadap anak umur 8 tahun yang dianalisa dari pola tidur sejak umur 2 tahun. Hasilnya menunjukan bahwa anak yang cukup tidur: lebih dari 62% tidak akan memiliki problem berkonsentrasi dan > 81% tidak memiliki problem sifat agresif. Terbuktilah bahwa selain nutrisi dan kasih sayang, tidur yang cukup merupakan salah satu kunci agar anak sehat, pintar dan bahagia.

Keamanan, Kenyamanan, dan Kesehatan dari Sebuah Bantal Tidur

Sejak menyambut kelahiran bayi, selain kasur bayi, ibu pasti menyiapkan bantal sebagai perlengkapan tidur si kecil. Umumnya newborn menggunakan 'bantal peyang', bantal dengan lubang di tengah untuk menjaga posisi kepala bayi. Namun nggak sembarang bantal yang berlubang di tengah efektif untuk mencegah peyang lho. Yang terpenting adalah orang tua selalu membetulkan posisi kepala bayi supaya nggak terus-terusan menghadap satu sisi. Karena sisi yang paling sering ditidurkan, risiko 'peyang'-nya (flat head) makin tinggi.

Yang berbahaya bagi newborn adalah posisi tidur tengkurap karena ia belum punya kontrol leher dan kepala. Dikhawatirkan, saat tidur tengkurap, hidungnya tertutup sehingga bayi sulit bernapas tapi nggak bisa balik badan sendiri. Baru tahu ada produk Comfi Breathing Pillow yang dibuat dengan teknologi tinggi sehingga teksturnya berpori, breathable. Kalaupun tidur menghadap bantal, bayi masih bisa bernapas.

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita, akupun baru tahu kalau ketinggian bantal yang baik adalah untuk menyangga agar posisi kepala sama seperti ketika kita berdiri. Nggak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Makanya kalau salah posisi bantal, kita sering mengeluh karena leher pegal, 'kan? Ternyata bantal Comfi untuk anak bisa dimasukkan insert lagi lho untuk menyesuaikan ketinggian yang nyaman buat tidurnya. Baru tahuuu ada bantal model begitu.

Selain itu, dari segi kesehatan, sebuah bantal ternyata bisa menjadi penyebab alergi lho. Karena seperti kasur, bantal juga bisa menjadi sarang tungau. Tungau bisa merajalela karena ketika tidur, tubuh kita melepasan sel-sel kulit mati, makanan favorit tungau tuh. Alangkah senangnya kalau bantal bisa dicuci. Nggak semua bantal bisa dicuci lho, ada bahan tertentu yang akan rusak kalau terkena air. Proses menjemur tanpa cuci pun nggak efektif untuk membasmi tungau. Ternyata bantal Comfi washable, bisa dicuci, bahkan airnya akan mengalir karena tekstur bantalnya yang berpori. Bye bye tungau, deh!

Review Bantal Comfi untuk Anak

Setelah menghadiri acara Tokopedia Official Store - BalitaKita, aku berkesempatan mencoba Comfi Breathing Pillow untuk baby Z. BalitaKita merupakan Sole Principal Distributor produk bantal Comfi, the first breathable and washable pillow in the world. Sumpah penasaran banget sih dengan bantal ini, karena beberapa kelebihannya seperti:
  1. Bantal pertama di dunia dengan teknologi 3-D Knitting. Memiliki rongga sehingga nggak bikin kepala anak kepanasan
  2. Kalau anaknya tidur tengkurap, tetap bisa bernapas karena ada rongga di bantal
  3. Mudah dicuci dan dikeringkan
  4. Anti tungau

Sarung bantal bawaan Comfi pun berongga agar memaksimalkan sifat breathable-nya
Penampakan bagian dalam bantal Comfi. Bisa dicuci lhooo...

Slogan Comfi adalah “The first breathable and washable pillow in the world". Akupun membuktikan dengan tidur tengkurap menghadap bantal. Ehhh beneran tetap bisa bernapas lho! Amazing deh :D

Namun sayang... sepertinya baby Z belum bisa memakai bantalnya. Begini ceritanya.

Sebetulnya sejak baby Z berusia 3 bulanan, dia tidur nggak pakai bantal lho. Karena aku putus asa dengan bantal peyang yang sering basah, lalu seringnya aku menyusui sambil tiduran yang posisinya nggak pas kalau baby Z pakai bantal, plus posisi tidurnya yang sering berubah sehingga kepalanya ada dimana, bantalnya ada dimana -_-" Jadi ada berbagai macam alasan mengapa sudah lebih dari setahun baby Z terbiasa tidur tanpa bantal.

Sehingga ketika aku coba pakaikan bantal Comfi setelah Z tertidur, 15 menit pertama tidurnya anteng. Eh menit berikutnya posisi Z sudah berubah sampai kepalanya menjauh dari bantal. Padahal ukuran bantal Comfi sangat lebar lho dibanding bantal-bantal balita yang pernah kulihat di toko. Ini sih karena gaya tidur bayinya aja yang nggak bisa diam. Dari ujung kasur ke ujung lainnya -_-"

Setelah 15 menit, kepalanya sudah menjauh dari bantal -_-"
Hari kedua, aku coba pakaikan bantal lagi sebelum Z tertidur. Sambil menyusui, Z nggak tidur-tidur. Lalu dia duduk dan bilang "nggak mau" sambil menunjuk bantal. Ahhhh antara pingin ketawa dan patah hati ibumu nak, nggak mau pakai bantal idaman emakmu ini hehehe. Sudah kebiasaan nggak pernah pakai bantal sih dalam 15 bulan terakhir.

Tapi tenang, jangan putus asa. Beberapa bulan lagi Z akan berumur 2 tahun. Perlahan Z akan disapih ibu. Meskipun ibu juga sedih kalau momen menyusui segera berakhir, tapi ibu percaya nanti Z bisa tidur sendiri tanpa harus diketekin ibu :') Nanti kalau waktu itu datang, badan Z juga semakin besar, Z pasti butuh bantal untuk teman tidur supaya lebih nyaman. Ibu sih percaya bantal Comfi ini bakal cocok karena kualitasnya memang bagus.

Buat ibu-ibu yang penasaran dengan bantal Comfi (terutama kalau anak memang sudah terbiasa pakai bantal), bisa di-search dimulai dari Tokopedia. Comfi Breathing Pillow eksklusif dijual di Official Store BalitaKita di Tokopedia.

Belanja di Official Store Tokopedia BalitaKita lebih aman untuk pembeli karena BalitaKita (www.tokopedia.com/balitakita) memiliki hak merk untuk menjual produk original Comfi, juga produk bayi lainnya seperti sterilizer, alat makan, hingga gendongan bayi dengan merk populer. Tersedia juga pilihan untuk cicilan, sehingga belanja jadi lebih mudah.

Gimana, penasaran untuk mencoba Comfi Breathing Pillow?

Selasa, 16 Mei 2017

Barang Asli di Tokopedia Official Store - BalitaKita

Assalamu'alaikum, bloggers...

Jujur deh, sejak punya anak, salah satu hiburan ketika ada me time (yang biasanya hadir setelah anak bobok ataupun sambil menyusui ketika bayi masih newborn hehehe), pastilah online shopping. Sensasinya online shopping tuh dimulai dari ketika mencari review merk-merk barang idaman, dilanjutkan sampai membandingkan harga barang tersebut di marketplace.


Tapi kadang suka bingung juga, kenapa satu barang harganya bisa bervariasi, ada yang murah dan ada yang mahal banget. Asli apa palsu ya barangnya?

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita yang diselenggarakan tanggal 10 Mei lalu, aku baru paham kenapa Tokopedia me-launching Official Store. Official Store Tokopedia merupakan ruang khusus yang disediakan bagi brand resmi atau pemegang hak merk yang sah untuk menjual produk mereka secara online melalui website Tokopedia.



Nah, BalitaKita merupakan online store di Tokopedia yang memiliki hak merk berbagai produk favorit ibu-ibu, misalnya i-Angel, UPang, Brother Max, Comotomo dan Comfi Breathing Pillow. Merk-merk ini terkenal dengan kualitasnya dan cukup populer di jagat raya ibuk-ibuk sebagai barang idaman. Ada yang sudah kenal dengan merk-merk tersebut? Kalau belum, yukkk kita bahas satu persatu. BalitaKita adalah Sole Principal Distributor untuk produk bayi dan balita berkualitas.

Senin, 08 Mei 2017

Berani Bilang "Iya, Boleh!" Untuk Bereksplorasi

Assalamu'alaikum buibuk...

Long weekend yang lalu, aku dan Z berkesempatan datang di acara Nestle DANCOW Explore Your World. Acara persembahan Nestle Dancow Advanced Excelnutri+ ini diadakan di mall Kota Kasablanka, dengan tema "Dukung Bunda dan Ayah Katakan "IYA BOLEH" untuk Explorasi si Kecil."

Z heboh bermain lego di area Smart City
Saat tiba di tempat acara, aku penasaran dong, kenapa kok rame banget. Kenapa juga pakai tajuk "IYA BOLEH" segala. Ternyata, di sini ada beberapa permainan yang mengasah kemampuan si Kecil. Dengan berbagai aktivitas ini, Dancow bermaksud mendukung para orang tua untuk bilang "IYA BOLEH", silakan bereksplorasi. Karena si Kecil sudah terlindungi dengan nutrisi yang cukup, kasih sayang orang tua, dan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Sadar nggak sadar, kita sebagai orang tua suka sedikit-sedikit melarang anak. Mau main di taman, nggak boleh, takut kotor dan kuman. Padahal 'kan nggak papa asalkan setelah main, anak cuci tangan yang bersih. Mau hujan-hujanan? Nggak boleh, takut basah dan sakit. Padahal 'kan nggak papa asalkan anak sudah makan (perutnya nggak kosong), lalu setelah main hujan, anak bisa mandi air hangat dan ibu siapkan baju yang bersih.

Iya juga ya. Aku suka melarang Z untuk hal-hal sepele, misalnya main perosotan di taman yang seringkali berlumpur, atau sekedar main genangan air. Z sudah bukan bayi lagi, dan perlu banyak bereksplorasi untuk menstimulasi kecerdasannya.