Jumat, 28 April 2017

Ketika Mbak Asisten Harus Pergi

Assalamu'alaikum buibuk...

Akhirnya bulan lalu aku mengalami yang namanya galau karena ART. Selama ini yang kulihat di medsos, banyak ibu-ibu curcol drama ART. Yang habis Lebaran gak balik lah, yang susah diajarin lah, yang main hape mulu lah. ARTku? Baiknya bukan main. Beliau seorang janda, dulunya kerja di rumah bapak ibuku di Surabaya. Sejak aku lahiran, si mbak ikut denganku. Jadi semacam perpanjangan tangan ibuku dalam membantu di rumah pasca kelahiran baby Z.

Mbak di rumah, Z, dan mbak rumah mertua

Jujur aja sih, dengan adanya ART, aku cukup terlena dengan segala kemudahan. Pagi-pagi sarapan sudah disiapkan, malam pun ada masakan. Setrikaan selalu beres nggak ada tumpukan. Aku tinggal pegang baby Z aja. Mau mandi dan sholat, bisa titip bayi sebentar ke si mbak. Baby Z pun menikmati bermain sama si mbak yang suka anak kecil.

Karena sudah percaya, beberapa kali aku pun bisa mempercayakan baby Z ke mbak ketika aku ada urusan ke luar, event blog, atau sekedar ke pasar.
Ya Allah. Nikmat bener ya.

Aku jadi kurang yakin dengan kemampuanku jadi IRT serba bisa yang sambil ngemong anak, rumah tetap rapi, masakan selalu siap sedia, dan setrikaan beres kalau nggak ada bala bantuan.

Sesuai pembicaraan awal sebelum kerja di rumah, si mbak sudah berencana menikah di bulan April 2017. Selama ini beliau long distance dengan calonnya di luar pulau sana. Nggak kerasa, hampir 1.5 tahun mbak menemani aku dan baby Z di rumah... Bulan April datang juga.

Rasanya... Sedih luar biasa. Seperti kehilangan sosok bude/keluarga dekat. Karena sehari-hari selama 1.5 tahun ini, si mbak yang jadi teman sehari-hari. Kalau aku sakit dikerokin, dibuatin jamu. Pokoknya tentram banget deh.

Yang paling sedih sih ketika melihat baby Z. Tiap pagi biasanya Z udah lari ke tangga, panggil-panggil mbak untuk ngajak main. Biasa Z suka ikut kalo mbak siram-siram tanaman atau manggil tukang sayur di depan rumah. Kalo main, suka ketawa cekikikan berdua. Mbak pun bilang, Z udah dianggap kayak anak sendiri. Makanya, sedih juga mikirin bahwa Z akan kehilangan teman mainnya.

Bersama mbak saat baby Z beranjak 1 tahun

Tepat bulan April, aku dan Z diajak bapak ibu jalan ke luar negeri. Kupikir, momennya pas banget. Ke Surabaya dulu sekalian ngantar mbak, lalu akupun pergi. Jadi sama-sama pisah. Semoga sama-sama nggak sedih dan nggak ada yang merasa 'ditinggal'.

Pas hari H kami pamitan, akupun nangis. Kehilangan. Seolah hidup di Jakarta gak akan sama lagi seperti biasanya, hehehe lebay ya. Tapi sedihnya nggak lama, karena perjalanan bersenang-senang dengan eyang-eyangnya baby Z sudah menanti.

Menjadi IRT Tanpa Asisten

Sepulang dari liburan, akupun kembali ke rumah Jakarta. Hari pertama masih hari libur, ada suami dan adikku. Bisa disambi masak karena ada yang bantu pegang baby Z.

Hari berikutnya, aku hanya berduaan baby Z.

Gimana caranya kerjaan rumah tetap beres??? Sementara kalau sudah bangun, bocahnya gelendotan nggak mau disambi. Mintanya ditemani main. Dan kalau tidur siang maunya dikelonin, kalau ditinggal dari kasur dia kerasa, trus ikut bangun :)))

Tips 1: bangun sepagi mungkin untuk masak dan ngepel rumah

Berhasil di hari pertama doang sih. Hari berikutnya si bocah ikut bangun pagi. Atau dia maksa minta dikelonin sambil mimik asi.

Tips 2: libatkan anak di pekerjaan rumah / kegiatan ibu

Ini aku terapkan saat masukin baju ke mesin cuci (bersama-sama), dan menjemur baju (baby Z yang mengeluarkan cucian ke keranjang, sementara aku menjemur). Saat menyapu, Z pun ikut menyapu (dibelikan sapu kecil). Saat mau solat, aku juga mengajak Z solat (biasa dia suka meniru gerakan takbir atau sujud). Yah meskipun tetep sih, di rokaat kedua dia sudah mulai cranky merasa dicuekin dan narik-narik mukena ibuk. Oiya, mencuci piring juga sering bersama-sama. Z bagian basah-basahnya deh pokoknya.

Tips 3: lakukan pekerjaan rumah sambil menggendong

Misalnya menyapu, memasak (sebetulnya nggak recommended sih, takut anak terpercik minyak panas... tapi aku sering melakukan ini karena nggak ada waktu lagi untuk masak).

Tips 4: manfaatkan jam tidur siang bayi

Di 30 menit pertama tidur siangnya, Z lumayan anteng. Biasanya aku ngebut cuci piring, motong-motong sayuran atau melelehkan lauk untuk dimasak sorenya (sambil menggendong).

Tips 5: bijak dalam menyetrika

Maksudnya nggak usah semua baju disetrika :))) baju rumah dan baju dalam, cukup dilipat saja. Aku menyetrika hanya sekali seminggu, malam ketika weekend (weekend relatif nggak capek karena siangnya ada bala bantuan jaga baby Z), sambil dengar musik youtube dan makan keripik kentang. Me time banget ya :p

Tips 6: delegasikan apa yang bisa didelegasikan

Menurutku sih, nggak perlu lah aku menjadi ibu super yang harus mengerjakan semuanya sendiri. Sebisanya kerjaan domestik aku kerjakan. Tapi sewaktu nggak sempat masak, akupun mendelegasikan tugas masak pada... orang restoran, alias nge-gojek makanan hehehe. Yang penting pilih resto yang bersih dan sehat sih, karena bocah suka ikut makan punya orangtuanya. Nanti pun kalau sudah nggak kuat dengan tumpukan setrikaan, aku berencana mendelegasikan ke jasa laundry kiloan. Tapi so far masih bisa ditangani sih.

Jangan sampai karena target menjadi supermom, kerja di rumah melampaui batas. Kalo jatuh sakit kan mamak yang rempong, nggak ada orang dewasa lain di rumah yang bisa jaga bayi. Betul gak?

Saat ini Z 18 bulan, bukan tipe-tipe bayi anteng yang bisa main sendiri sementara ibunya bisa menyambi kerjaan rumah atau masak-masak cantik. Dia masih sangat butuh perhatian orang dewasa saat bermain. Paling pol bertahan main sendiri hanya 2-3 menit (cuma sempat ngasih sabun ke piring kotor dah, atau kalo ngupas buah juga ga sampe selesai udah jerit-jerit). Jadi kalo dia mulai rewel, terpaksa stop kerjaan domestik, daripada dia badmood, nanti mamak ikutan badmood.

Sekarang akupun masih mencari 'jadwal harian' yang pas untuk pekerjaan rumah. Kemarin nyobain ngepel malam-malam pas Z bobok. Niatnya sih supaya pagi-pagi rumah udah kinclong gak usah dipel. Eh ternyata paginya lantai udah terasa berdebu lagi. Zzzzz. Pernah juga berniat masak sekali aja, siang-siang saat Z tidur. Masakannya untuk makan siang dan makan malam, sementara pagi cukup makan roti dan buah. Tapi ternyata lapar juga paginya, butuh nasi. Beli nasi uduk deh :)))

Buibuk tanpa ART, ada tips-tips kece nggak, gimana caranya anak bahagia dan kenyang di rumah, plus kerjaan domestik selesai :D Suka kagum sih sama ibu-ibu yang anaknya lebih dari 1, tanpa ART, produktif pula XD You're all supermoms!!