Jumat, 18 Agustus 2017

Family Project Day 5: PAUD-nya Ke Rumah Eyang!

Assalamu'alaikum,

Melanjutkan project Rumahku, PAUD-ku yang lalu, kali ini rombongan PAUD (bapak ibu dan Z hehehe) main ke rumah Eyang (baca: ibu bapaknya suami, a.k.a mertuaku) yang berjarak sekitar 1 jam dari rumah. Ibu berangkat duluan hari Rabu naik Gocar, bapake menyusul pulang kantor langsung ke rumah Eyang. Kami menginap hari Kamis malam.

Poin-poin pembelajaran yang didapatkan ketika bermain ke rumah Eyang adalah...
1. Silaturrahim, karena di rumah Eyangnya, Z bisa bertemu eyangkung, eyang putri, oom, tante, dan sepupunya. Z belajar kalau bertamu, salam dulu ke orang yang lebih tua.

2. Bisa main Lego Duplo punya kakak sepupu Z yang melatih motorik halus, kekuatan tangan, kertelitian, dan kesabaran. Mulai akhir 20 bulan, Z sudha mulai senang menyusun Lego Duplo yang kotak-kotak sampai tinggiiii.. Meski kadang kalau nggak presisi kan nggak bisa nancep, di situlah Z suka frustrasi dan berakhir marah-marah lempar Legonya :D Sabar yaaaa naaakkk...

Selasa, 15 Agustus 2017

Family Project Day 4: Rumahku, PAUD-ku

Assalamu'alaikum!

Jaman sekarang, semua ibu pastilah sadar kalau pendidikan anak dimulai dari rumah. Kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik anak, sesungguhnya adalah tugas orang tua untuk mengembangkannya sebelum anak belajar di luar.

Ada banyak metode-metode pendidikan anak usia dini, namun saat ini aku sedang tertarik untuk mempelajari Montessori. Setelah lama ingin belajar namun nggak gerak-gerak juga, adanya Tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang (tema: Family Project) yang kuikuti membangkitkan lagi semangat untuk action. Tentunya ibu nggak bisa gerak sendirian dong. Ibu butuh dukungan bapak juga :D


Project Rumahku, PAUD-ku ini sebenarnya dimulai Sabtu lalu, yaitu dengan ibu membeli buku Montessori di Rumah, karya Elvina Lim Kusumo yang merupakan founder @IndonesiaMontessori. Ternyata di buku itu ada penjelasan yang lumayan lengkap mengenai metode Montessori, yang dulu cuma kupelajari via kulwapp dan browsing tak terstruktur. Kok nggak dari dulu yaaa aku belinya.

Namun di buku tersebut, kegiatannya lebih ditujukan ke anak umur 3 tahun ke atas. Gak papa lah, mari kita sesuaikan saja dengan kemampuan dan minatnya Z yang sekarang berusia 21 bulan.

Jadiiii... kegiatan Rumahku, PAUD-ku hari ini adalah:
1. Bermain ke Taman
Pagi-pagi, Z sudah minta main ke taman. Seperti biasa, dia suka main perosotan. Sekitar 4 kali merosot, lalu minta main yang lain. Ayunan, lari-lari, dorong stroller. Sempat juga pipis di WC taman, karena sedang belajar nggak pakai diapers. Yah meski sampai rumah ternyata kebobolan celananya basah juga, diem-diem dia pipis hahahaa. Masih belajar yaaa nak!

Aktivitas ke taman ini sangat bermanfaat untuk fisiknya (motorik kasar), mengenal alam/lingkungan (lihat tanaman, lihat kucing), dan sosial (menyapa tetangga dalam perjalanan ke taman, belajar bergantian main perosotan). Tentu saja main ke taman adalah tugas ibu menemani Z, karena bapake 'kan kerja ;)

2. Bermain Beras ala Montessori
Pulang dari taman, Z agak rewel karena frustrasi bermain rel kereta Thomas. Dia pengen bisa pasang rel sendiri, padahal 'kan sebetulnya mainan gitu buat anak 3 tahun ke atas yaaaa yang pincer grasp-nya sudah lebih terlatih... Jelas aja Z belum bisa masang dengan presisi. Ibu putuskan untuk menyiapkan permainan sensorik ala Montessori yang sangat mudah dan cepat: Main Beras!!

Untung kemarin sudah beli wadah plastik yang cukup besar untuk alas main Z. Ibu siapkan beras hitam yang sudah lama nggak dimasak, juga beras putih. Ibu juga menyiapkan corong, botol kecil (pake botol ASI wkwkwkk) dan sendok bebek. Ibu contohkan menuang beras, selanjutnya terserah Z mainnya gimana.

Di buku Montessori di Rumah, dijelaskan pentingnya area bermain khusus (entah meja ukuran anak-anak atau alas bermain di lantai) untuk memberi batasan wilayah kegiatan work-play Montessori. Aku cari alas seadanya di rumah, adanya karpet puzzle. Belakangan, aku menyadari alas ini agak nggak cocok karena kalau berasnya tumpah-tumpah bersihinnya susah hahaha.


Z lumayan anteng lho main tuang-tuang beras, meski selama bermain, ibu harus selalu mendampingi supaya nggak terjadi huru-hara misalnya beras dituang ke lantai :P atau minimal supaya berasnya nggak dimakan.

Dengan bermain beras ini, Z bisa merasakan tekstur beras berbutir kecil (kata Z "Kayak pasir gedeee..."), belajar konsep banyak dan sedikit (dari wadah yang diisi beras - ada yang banyak dan ada yang sedikit), belajar konsep penuh dan kosong, mendengar suara beras ketika mengisi botol, juga mendengar suara botol beling yang menggelinding, menandakan itu botol kaca, harus hati-hati karena bisa pecah.

Aktivitas bermain beras ini dilakukan 3 kali atas keinginan Z. Siang, sore, dan petang ketika bapake pulang kantor. Z langsung semangat menunjukkan permainan beras pada bapak yang mengambil tugas menemani Z main saat ibu menyiapkan makan malam. Ternyata pas main sama bapak, terjadi kekacauan berasnya tumpah-tumpah di lantai, dan bapak pun memendam ngomel wkwkwkwk. Akhirnya sapu-sapu sama si bocah :)))

3. Bermain Petik Bola
Permainan ini juga disukai oleh Z sejak ia bisa berdiri. Sangat cepat disiapkan, nggak sampai 1 menit! Caranya, rentangkan selotip besar, lalu tancapkan bola-bola plastik untuk 'dipetik'. Bisa juga pura-pura kalau bolanya itu buah, misalnya yang merah = apel, yang oranye = jeruk, dst.

Semua bola, Z yang pasang!

Kali ini, ibu biarkan Z memasang bolanya sendiri. Z semangat banget mengisi selotip sampai penuh bola. Ia belajar tekstur lengket dari selotip. Ia juga belajar, ada 2 sisi selotip: sisi yang lengket dan sisi yang licin. Belajar warna? Tak diragukan lagi dong :D Karena bolanya warna-warni, bocil bisa diminta menyebutkan warna-warna bolanya ketika dipasang.

4. Ke Masjid Sama Bapak
Jujur, aku sangat senang kalau Bapake pulang sebelum maghrib karena bisa 'me time' sebentar untuk sekedar menyelesaikan masak dengan tenang, mandi tanpa grusa grusu, dan solat tanpa digelendoti bocah hihihi. Bocil suka minta ikut bapake ke masjid, nggak lupa pakai peci dan sarung kecil.

Ini juga reminder buat Bapak supaya sebisa mungkin solat di masjid, karena Children See, Children Do. Semoga kenangan masa kecil Z solat bersama bapak, jadi kenangan yang indah. Moga bisa menumbuhkan fitrah spiritual dan kecintaan untuk sholat ya nak!

#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day4

Senin, 14 Agustus 2017

Family Project Day 3: Mengurangi Sampah & New Ideas!

Assalamu'alaikum!

Hari ini, aku mulai lebih tertib memilah sampah di rumah. Entah bagaimana caranya, sejak memulai project kok sepertinya sampah malah jadi berkurang :D Kayaknya mau nyampah jadi mikir-mikir dulu deh hehehe. Mau boros tisu, eh mending pakai kain lap saja. Mau beli susu kotakan kecil-kecil, ah tapi sampahnya banyak. Kemasan besar saja lah. Sederhana ya :D

Hari ini, aku juga memberanikan diri mencoba toilet training Z (21 bulan) selama sore hari. Hitung-hitung, mengurangi sampah popok. Meskipun 30 menit sekali harus ditawarkan pipis. Dan sempat pipis di celana tanpa bilang-bilang ketika jalan-jalan sore ke taman. Tau-tau di rumah, celananya udah basah aja, entah sejak kapan dia pipis. Z masih belum merasa risih dengan celana basah. Hmmm nggak papa, pelan-pelan latihan ya nak. Ibu juga sadar belum bisa melepas Z sepenuhnya dari diapers karena ia juga masih nyusu tiap tidur. Terbangun dikit, minta nyusu. Gitu terus sepanjang malam (dan tidur siang), sehingga tiap pagi diapers-nya pun selalu penuh pipis. Mungkinkah baru bisa full lepas diapers setelah disapih?

Yang bingung, ketika dapat rejeki nasi kotakan. Bingung deh ini memilahnya bagaimana. Akhirnya sampahnya dipisah betul-betul: sisa makanan masuk ke sampah organik, plastik-plastiknya dipisahkan.

Mau diapakan sampah organik hari ini?Setelah kubaca-baca di Cara Sederhana Membuat Kompos Skala Rumah Tangga, sepertinya besok sampah organiknya akan kutimbun di dalam pot, karena lahan tanah di rumah amat sangat sempit. Ini isi artikelnya, di bagian "...bagi rumah tangga yang tidak memiliki lahan..":

  • Sediakan ember, pot, kaleng bekas, ataupun wadah lainnya.
  • Lubangi bagian dasar dan letakkan di wadah yang dapat menampung rembesan air dari dalamnya.
  • Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari. 
  • Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala. 
  • Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos. 
  • Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama dua bulan.
  • Wadah siap dijadikan pot dengan kompos di dalamnya sebagai media tanam.


Di artikel aslinya, lengkap tuh tips bagi yang punya lahan (melibatkan proses menggali libang di tanah sedalam 50 - 100 cm), dan lahan terbatas (melibatkan penggunaan drum yang ditanam 10 cm dari permukaan tanah).

---
Hari ini, suami belum ada kontribusi di Family Project, berhubung habis subuh sudah berangkat ke kantor dan baru sampai rumah lagi pukul 8.30 malam. Duh kasihan, capek ya paaaak...

Tapi kami sempat ngobrol-ngobrol berkualitas dan terlontar beberapa ide project yang dapat kami lakukan:

  1. Project Merapikan Kamar Atas (dari "gudang" menjadi kamar yang dapat ditempati). Sasaran kamarnya ada 2, di rumah kami, dan di rumah mertua.
  2. Project Sosial: Memberi Makanan Untuk Pak Satpam. Tapi istri sudah protes duluan kalau istri yang harus masak hihihi... Lha wong kadang di rumah aja cuma bisa sempat nyeplok telor buat makan siangku dan bocil wkwkwkk
Tunggu besok yaaa untuk update-an project selanjutnya! Kamu ada ide family project apa untuk keluargamu?

#Level3 #KuliahBunsayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Day3

Minggu, 13 Agustus 2017

Family Project Day 2: Memulai Pilah Sampah!

Assalamu'alaikum!
Kalau ada yang baca postingan sebelumnya, minggu ini aku sedang mengerjakan Tantangan dari Institut Ibu Profesional kelas Bunda Sayang, berupa Family Project. Apa itu Family Project, bisa dibaca di post sebelum ini, ya..

Hari ini Minggu. Sejujurnya aku bingung, project apa yang harus dilakukan. Di antara sekian banyak ide project, mana yang mau dikerjakan di hari spesial ini, karena hari Minggu ada bapake di rumah. Sementara kalau weekdays, bapake berangkat jam 6 pagi dan pulang sehabis magrib.

Bapake kepingin nge-mall, ada barang yang mau dilihat. Rencana kami di mall sebentar saja. Tapi namanya bawa toddler yaaa, akhirnya lama juga di mall karena pas jam tidur Z kami putar-putar Z dulu di stroller sambil jalan-jalan.

Tau-tau sampai rumah udah sore aja T_T, mamak pun harus segera masak makan malam. Lhaaaaa.... lalu mana Family Project-nyaaaa... Rasanya aku terlalu nge-push suami tentang Family Project, dikit-dikit ngomongin project, sampai ia bisa jadi kurang semangat ikutan. Di kantor sudah mikir, eh di rumah disuruh mikir lagi sama istrinya =_=" Hmmm harus balik ke materi Komunikasi Produktif lagi, nih gimana quality talk sama pak suami.

Di dapur, saat semua anggota keluarga berkumpul + ada adikku (yang tiap weekend menginap di rumahku), kumulai saja project Memilah Sampah. Hal yang sederhana, tapi sebenarnya penting.

Project Day 2: 
Memilah Sampah Di Rumah
Tujuan: Cinta lingkungan, cinta kebersihan

Betapa kita sebagai manusia, sesungguhnya sudah dzolim sama bumi. Sampah-sampah yang kita hasilkan tiap hari, ujung-ujungnya tertimbun di TPA.

"Kan ujung-ujungnya walau dipisah, hasil akhirnya ke TPA juga?"
"Kalau pemilahan & daur ulang sampah yang modern seperti di Jepang, harus ada dukungan pemerintah kan?"

Nah kalau nunggu pemerintah, kita mau tetap begini sampai kapan? Harus memulai suatu gerakan dari rumah. Setelah didiskusikan, sampah yang akan dipilah di rumah adalah sebagai berikut:
1. Sampah makanan/sayuran yang dapat terurai
2. Sampah kemasan yang tidak berguna (misal plastik bekas mi, disposable diapers, baterai)
3. Sampah yang bisa bermanfaat untuk pemulung (misal botol bekas, dus susu cair)

Rencana jangka panjangnya, kami ingin membuat pengolahan kompos sederhana, misalnya biopori, untuk sampah-sampah nomor 1 (sampah makanan yang bisa terurai). Lalu poin nomor 2, kemasan-kemasan tak berguna, juga baiknya dikurangi. Karena pada akhirnya akan sampai di TPA juga, mengotori bumi juga T_T Duh ini nih yang bikin pengen cepet-cepet ngelatih Z toilet training, biar sampah diapers-nya berkurang.

Satu ide project, komitmennya jangka panjang yaaa.. Bismillah. Besok, aku akan belajar lebih banyak lagi alternatif pengolahan sampah apa saja yang bisa digunakan di lahan terbatas.


#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day2

Sabtu, 12 Agustus 2017

Persiapan Family Project & Staycation di Hotel

Assalamu'alaikum!

Di kelas Bunda Sayang (Institut Ibu Profesional) bulan ini, ternyata Tantangan 10 Hari kami adalah... Family Project! Sebelum melangkah lebih jauh ke Project keluarga kami, ini nih prolognya... Diambil dari materi yang disampaikan bu fasilitator. Semoga cukup memberi gambaran yaaaa mengenai Family Project :) Nanti di bawah akan ada tulisan mengenai Family Project Day 1 kami. Apa yaaaa....


---
Apa itu Family Project?
Family Project adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Manfaat Family Project?
Family Project merupakan salah satu sarana pendidikan bagi seluruh anggota keluarga. Saat ini semakin sedikit keluarga yang menerapkan konsep pendidikan di dalam rumahnya, banyak diantara mereka menjadikan rumah sebagai sarana berkumpulnya anggota keluarga saja tanpa adanya aktivitas pendidikan. Jadi hanya sekedar berkumpul tanpa makna.

Family Project juga menjadi salah satu sarana untuk membangun “bonding” di dalam keluarga. Tercipta ikatan batin antar anggota keluarga, sehingga hubungan menjadi semakin indah dan harmonis.

Selasa, 08 Agustus 2017

Japan Trip: Osaka Castle & Dotonburi

Assalamu'alaikum!

Trip ke Jepang sudah berlalu di bulan April 2017 yang lalu, tapi baru sekarang aku berani buka folder foto-foto selama di sana. Kenapa baru berani? Karena... semuanya kenangan indah, terlalu menyakitkan saat aku merasa ingin kembali, mengulang masa itu lagi #tsaaaahhhh...


Hehehe... Lebay deh ya. Eh tapi bener sih, lihat foto liburan tuh rasanya campur aduk. Bahagia dan kangen jadi satu. Karena di liburan kali ini, aku jalan dengan kakung uti, serta Z si cucu semata wayang. Entah kapan 'kan ada momen begini lagi. Dan karena kebanyakan foto, emaknya Z bingung deh mana yang mau dimasukkan ke blog :P Makanya lama banget baru terbit postingan Jepang.

Perjalanan kami di Osaka, menurutku adalah satu hari di antara hari-hari liburan lainnya yang paling membahagiakan (bagiku dan baby Z). Pagi hari di apartemen, setelah diskusi, kami memutuskan mau berkunjung ke taman di Osaka Castle, dan lanjut ke Dotonburi. Banyak objek menarik lainnya di Osaka yang terpaksa kami skip karena keterbatasan waktu sambil bawa bocah kecil 17 bulan. Apa sih menariknya Osaka Castle dan Dotonburi?

Senin, 07 Agustus 2017

Aku #Hijabisa Mengatasi Masalah Rambut!

Assalamuálaikum!

Sebagai wanita berhijab, masalah rambut apa sih yang paling mengganggu buat kamu? Kalau aku, berhubung kepala sering tertutup jilbab, rambut sering terasa lepek dan ujung-ujungnya jadi gatal. Paling malu-maluin sih kalo suami bilang, jilbabnya bau apek... padahal itu dari rambutnya kali ya hahaha. Aib banget sih ditulis di blog segala XD


Beruntunglah sekarang sudah ada Rejoice 3 in 1 untuk Hijab yang hari Senin 31 Juli lalu baru saja di-launching di Soehana Hall. Terima kasih undangannya ya, Indonesian Hijab Blogger :)

Launching Rejoice 3 in 1 Hijab ini sangat berkesan, karena banyak acara-acara menarik yang 'tidak biasa'. Di awal hadir, para blogger disuguhi hidangan makan siang lezat dan cantik. Pas banget perut sedang lapar saat jam makan siang. Ada canape hidangan manis-manis memanjakan mata, hingga makan berat nasi dan lauk pauk. Yum!



Pengalaman 3 Tunnel Kebaikan Rejoice 3 in 1 Hijab

Uniknya, sebelum memasuki ruang acara, pintu masuk Hall disulap menjadi tunnel atau terowongan yang menggambarkan 3 manfaat Rejoice 3 in 1. Tunnel pertama yaitu Tunnel Kesegaran, menggambarkan pada kami bagaimana segarnya keramas dengan Rejoice 3 in 1. Ada hembusan angin segar, juga mbak SPG yang memberikan sample wanginya Rejoice pada kami lewat selembar kertas seperti kertas sample parfum. Rahasia kesegaran Rejoice ada pada Cool Menthol yang bikin kulit kepala tetap dingin dan segar meski panas menyengat.


Kedua, ada Tunnel Anti Ketombe, yang kondisinya gelap! Saat kami menginjak suatu papan di lantai, lampu fluorescent menyala, menunjukkan apakah ada ketombe yang jatuh di pakaian kita. Kreatif juga ya idenya, cara kerja lampu fluorescent 'kan membuat segala warna cerah (misal putih) jadi glow in the dark. Hati-hati yang di pundaknya ada ketombe, pasti kelihatan :D Nah, Rejoice mengandung ZPT yang merupakan formula anti ketombe, jadi kitta nggak perlu khawatir rambut ketombean meski selalu ditutup hijab.
Pegang rambut yang sudah dikeramasi dengan Rejoice Hijab 3 in 1





Tunnel terakhir adalah Tunnel Kelembutan, dimana kami ditunjukkan sampel rambut yang telah dikeramasi dengan Rejoice 3 in 1 dan rambut dengan sampo lainnya. Ternyata memang rambut dengan Rejoice lebih lembut lohhh buibuk! Hal ini karena ada kandungan Hot Oil di dalam formulasi Rejoice yang menutrisi rambut agar lembut hingga ke ujungnya.

Foto di depan Tunnel, ada bocah yang ngintilin ibuk :P
Setelah melewati 3 tunnel tersebut, kami ternyata sudah masuk ke dalam ruangan dengan panggung yang keren! Ada apakah gerangan?

Konser Fatin Shidqia, Aku #Hijabisa!

Ternyata ada konser lagu baru Fatin Shidqia, sodara-sodaraaaa... Cewek berhijab dengan suara emas, pemenang salah satu kontes bakat di Indonesia ini, memang sangat bertalenta! Akhirnya aku bisa menyaksikan langsung penampilannya dan mendengar langsung suaranya, yang memang betul-betul bagus!


Single terbaru Fatin yang berjudul Aku #Hijabisa terinspirasi oleh 3 keistimewaan Rejoice 3 in 1. Melalui lagu ini, Fatin berharap para hijabers bisa fokus mengejar impian mereka, karena permasalahan rambut sudah ditangani oleh Rejoice ;) Fatin pun resmi dinobatkan sebagai Brand Ambassador Rejoice Hijab 3 in 1.

Oiya ada tips juga dari Fatin untuk wanita berhijab. Setelah keramas, pastikan rambut sudah kering ya sebelum memakai hijab! Nah ini kadang-kadang aku sering langsung kuncir rambut dan pakai jilbab setelah keramas kalau terburu-buru. Hmmmm harus diperbaiki nih kebiasaannya :D

Pengguna hijab di Indonesia terus meningkat, hingga mencapai 30-40% perempuan di Indonesia. Salah satu tantangan perempuan berhijab itu datang dari rambut yang selalu tertutup di balik hijabnya. Panas menyengat dari terik matahari yang dijumpai sepanjang hari pun ikut menambah permasalahan rambut mereka di antaranya kerontokan, ketombe, dan rambut kusut. Maka dari itu Rejoice Hijab 3 in 1 kini hadir sebagai solusi perawatan rambut berhijab.


“Perempuan berhijab adalah perempuan yang istimewa. Produk Rejoice Hijab 3 in 1 dengan 3 kebaikan dalam 1 botol ini diciptakan khusus untuk membantu mengatasi masalah-masalah rambut yang dihadapi oleh para hijabers," ungkap Saint Tiu, Principal Scientist, P&G Hair Care Asia Pacific.

Memang nggak salah kalau Rejoice berkolaborasi bersama Fatin. Fatin telah menginspirasi para hijaber untuk dapat berprestasi. Sudah terbukti bahwa hijab nggak akan menghalangi wanita untuk mengejar mimpinya. Entah wanita yang bekerja di ranah publik, bekerja di rumah, yang sudah menikah maupun belum, yang sudah punya anak atau masih menunggu diamanahi keturunan, yang masih sekolah ataupun sudah lulus, semua punya impian dan kemampuan untuk menggapai mimpi tersebut. Kita pasti #Hijabisa ya!

---



Selesai acara, kami mendapatkan hampers cantik ini. Lucu banget dapat box hijau dengan cermin, yang sangat bermanfaat untuk menyimpan perlengkapan makeup. Love! Terima kasih yaa Rejoice!

Dan akhirnya aku bisa mencoba Rejoice Hijab 3 in 1, yang ternyata beneran bikin kepala adem. Kamu mau coba juga? Retail price-nya Rejoice sangat terjangkau lho, cukup Rp 9.900 untuk kemasan 70 ml, Rp 19.500 untuk kemasan 170 ml, dan Rp 31.900 untuk botol paling besar, 340 ml. Jangan lupa pakai kondisionernya juga untuk hasil maksimal yaaa..

Foto bersama teman-teman Indonesian Hijab Blogger yang cantik-cantik dan pasti #Hijabisa!

Sabtu, 05 Agustus 2017

Advan G1 Pro, HP Lokal Kualitas Internasional

Kalau kamu sedang cari smartphone, fitur apa sih yang dibutuhkan? Harga yang terjangkau? Kamera yang bagus untuk memotret bahan ngeblog? Atau prosesor yang nggak nge-lag meski dipakai untuk berbagai aplikasi dan nge-game? Gimana kalau kamu butuh ketiganya?


Berhubung aku suka ngeblog, pertimbangan utamaku dalam memilih HP, sejujurnya adalah kameranya. Meski sekarang sedang ngetren kamera mirrorless untuk teman bersosial media, tentunya kita tetap butuh kamera HP yang siap sedia kapan pun dan dimana pun. Nggak ribet buka cover lensa, menyalakan, dan mentransfer gambar untuk dimasukkan ke HP.

Pertimbangan kedua, budget. Sebagai ibu rumah tangga yang kudu cermat mengelola keuangan, nggak lucu deh kalo aku beli HP berjuta-juta rupiah hanya untuk produktivitas yang nggak sebanding dengan harganya. Mending duitnya buat beli popok anak dan beli makanan di rumah ye kaaan (biar bisa nyicipin makan steak wagyu atau sushi hahaha) :p

Pertimbangan ketiga, adalah prosesor. Minimal ROM-nya 2 GB deh. Itupun sudah mepet. Karena meski nggak banyak meng-install game, aplikasi kebutuhan sehari-hari seperti Whatsapp, Instagram, dan email, kadang-kadang tetap butuh storage yang besar.

Kali ini aku berkesempatan untuk berkenalan dengan smartphone Advan G1 Pro. Dengan banderol sekitar Rp 1,7 jutaan, ternyata HP produksi dalam negeri ini memiliki kualitas yang bagus lho! Dari kamera dengan megapixel yang cukup tinggi plus fitur-fitur asik (nanti diceritakan di bawah), hingga RAM 32 GB dan ROM-nya yang 3 GB!

Sabtu, 08 Juli 2017

Main Bersama Thomas & Friends

Hari Rabu lalu, saat ke Gandaria City, aku baru tahu ternyata masih ada pameran kereta Thomas: "Thomas & Friends Mini & Mighty Indonesia Tour 2017". Beberapa kali aku lihat teman posting foto anak-anaknya main di pameran Thomas ini, tampak seru sekali. Sekalian aja ibuk ajak Z ke sana, sambil nunggu waktu menuju sore, supaya bisa nebeng bapake pulang kantor.


Acara "Thomas & Friends Mini & Mighty Indonesia Tour 2017" berlangsung sampai Minggu 9 Juli 2017. Dengan harga tiket Rp 50.000 per orang saat weekdays dan Rp 75.000 ketika weekend, sebenarnya kurasa pameran ini cukup mahal. Aku dan Z dihitung bayar 2 orang, karena anak dan yang mengantar harus beli tiket. Di dalam pun ada jadwalnya, tiap orang dibatasi main 50 menit. Juga masih ada plus-plusnya lagi, misalnya mau naik kereta Thomas yang berjalan di luar area pameran, harus bayar lagi Rp 50.000, dan kalau mau main trampolin Thomas, nambah lagi Rp 50.000.

Berhubung ibuk penasaran (bukan Z yang minta), ajaklah Z ke pamerannya, dalam kondisi Z belum tidur siang. Apakah Z senang di dalam? Awalnya tidak! Di pameran dia minta gendong terus, nggak mau turun. Mood-nya nggak bagus. Nggak mau foto-foto juga. Ibuk salah.
 

Teringat pelajaran Komunikasi Produktif yang sempat dilatih (lihat beberapa postingan lalu), ibu coba rendahkan badan buat bicara dan cerita-cerita sama Z. Banyak keretanya ya nak. Ada yang sama seperti mainan Z. Tuhhh keretanya ada mukanya, ayooo Z tunjuk mana hidungnya? Mana matanya? Pipi mana pipiii?

Perlahan Z pun mau turun dari gendongan, dan asik nunjuk-nunjuk wajahnya kereta.

Motivasi masuk pameran untuk foto-fotoin Z, ibu ganti dengan pengen ajak Z main. Akhirnya kami main kejar-kejaran, masuk-masuk terowongan, petak umpet, masuk labirin, main balon, dan bonusnya, ibu pun bisa dapat beberapa foto kenang-kenangan. Puas banget main sama Z.

Kadang ibu lupa, yang dibutuhkan oleh Z bukanlah mainannya, tapi teman bermainnya. Ibu lupa, saat bermain sama Z, ibu juga harus belajar bersenang-senang, jadi seperti anak-anak lagi. Seru sekali kemarin kami bermain & ketawa-tawa. Semoga jadi kenangan manis buat Z yaaa..


Pulang dari Gandaria City, kami pun naik taxi online ke kantor bapake. Z pun tidur di taxi. Capek tapi senang yaaa nak :D

Bagi yang anak-anaknya suka tokoh Thomas, boleh lho diajak ke pameran ini. Ada 70 kereta Thomas yang aku bahkan nggak hapal namanya selain Thomas wakakakaa.. bahkan nggak bisa bedain Thomas dan Gordon yang sama-sama biru. Ketika masuk, anak bakal dapat topi kertas bertokoh Thomas (kalau Z sih nggak suka pakai topi), bisa minta balon, dan main-main di arena. Ada terowongan dan labirin yang so so tapi lumayan serulah kalau kita bisa membangun suasana dan cerita sama anak.

Ada yang sudah ke pameran ini? Atau ada rekomendasi kegiatan seru lainnya sama anak kecil? Tulis di komen yaaa :D

Kamis, 22 Juni 2017

The Truth About Marriage #1

Assalamu'alaikum...
Karena banyak terjadi kekonyolan-kekonyolan setelah menikah, terbitlah satu seri khusus: The Truth About Marriage ini. Mungkin nanti kalau sudah jadi kakek-kakek dan nenek-nenek aku dan suami bisa ketawa-tiwi baca dokumentasi via postingan ini :))

Foto jaman babymoon di Trick Eye Museum hehehe :p
Jadi, awal-awal menikah dulu, rasanya memang berbunga-bunga. Semua terasa romantis. Lama-lama sifat asli muncul, trus keromantisan bergeser jadi kekonyolan yang aneh-aneh (menurut versi kami). Suami kamu romantis? Atau lebih banyak konyolnya? :p

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #10 - Memberi Alternatif Untuk Bocah

Assalamu'alaikum,
Terasa banget begitu anak mulai bisa ngomong, ibuk harus putar otak tiap kali anak punya keinginan yang 'timing'-nya nggak sesuai menurut ibu. Benar-benar butuh ilmu komunikasi produktif untuk bargaining dengan bocah. Karena kalau nggak, tentulah akan berakhir dengan tangisan. Atau kalau terlalu banyak dilarang, belum tahu nanti efek jangka panjangnya gimana bagi bocah. Jangan sampai ia jadi suka takut untuk menyampaikan pendapat, atau melemahkan kepercayaan dirinya, atau membunuh kreativitasnya. Tantangan bagi ibu yaaa...

Misalnya hari ini, setelah mandi pagi, Z ingin main cat air. Kalo Zaki main cat, sudah pasti itu cat bakal dilukis-lukis ke tangan dan kakinya, lalu pernah juga ditumpahkan + diratakan ke lantai. Di situlah ibu merasa sedih (harus ngepel dan lap-lap) tapi juga pengen ketawa. Nah. Karena sedang ada agenda lain, ibu bilang aja, "Zaki, main catnya nanti sore aja ya sebelum mandi. Karena Zaki sudah mandi, kita mau ke rumah eyang, Zaki mau tulis-tulis pakai crayon aja ya?" "Ayooon (baca: crayon)," balas Zaki. Lalu dia lukis-lukis pakai crayon.

Lalu sedang nunggu GoCar datang di halaman rumah, ehhh Z minta siram-siram air. "Zaki, kita sedang nunggu mobil datang, nggak bisa siram-siram sekarang ya. Siram-siram bikin baju basah, kalau basah, Zaki nggak boleh naik mobil. Zaki mau main sapu-sapu dulu sambil tunggu mobil datang?"

Berbicara sama bocah 19 bulan ini, ibu harus selalu memberi alasan dan memberi alternatif pengganti untuk keinginannya. Harus kreatif ya mak!

Komunikasi dengan Suami
Di grup kelas Bunda Sayang hari ini, topiknya adalah perbedaan kebutuhan bicara wanita dan pria. Wah pas banget! Dalam sehari, rata-rata wanita butuh mengeluarkan 21.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Makanya kalau seorang wanita di rumah aja dengan anak kecil, sudah untung kalau bisa menggunakan 2.000-3.000 kata. Masih ada sisa 18.000 kata yang butuh disalurkan. Kapan lagi kalau bukan ketika suami pulang ke rumah :))) Padahal suaminya sudah kehabisan jatah kata dan mengharapkan kedamaian di rumah, sementara istrinya terlihat sedang 'mengomel' :)))

Akupun baru sadar. Tadi pagi, aku ngoceh ke suami suatu problematika yang sebetulnya sudah aku selesaikan sendiri solusinya. Lalu suami memberi solusi padaku. "Iya, udah aku kerjain kayakgitu kok," jawabku ketika diberi saran suami.

Lalu sebenarnya aku curhat buat apa? Ya sekedar pelampiasan bicara aja ya sepertinya :p

Siang pun ketika habis ada permasalahan dengan orderan taxi online, aku lapor ke suami. Karena aku telat keluar rumah 4 menit setelah taxi online datang, aku ditinggal, orderanku di cancel pak-nya. "Ibu kelamaan keluar, saya udah nunggu dari tadi!" Katanya ketika kutelpon parkir dimana. Ya Allah baru juga 4 menit pak, saya kan bawa anak kecil T_T Dalam hatiku bergumam begitu. Tapi aku cuma minta maaf saja ke paknya, sebelum dia tutup telpon.

Setelah aku curhat ke suami, bahwa aku cukup sedih dengan kejadian itu, suami bertanya, "Trus gimana?"

"Ya gampang sih, aku langsung order lagi, alhamdulillah dapat driver yang baik dan mobilnya bersih," jawabku.

As simple as that. Wanita seringkali bukan butuh solusi. Ia hanya butuh untuk didengarkan. Makanya ketika dapat materi tentang perbedaan pria dan wanita, aku merasa tepat sekali pembahasannya. Memang sudah fitrah, otak wanita dan pria diciptakan berbeda. Sekarang tinggal berpikir gimana cara memanfaatkan 21.000 kata itu menjadi kata-kata yang bermanfaat, bukan gosip, bukan ngomel-ngomel :D

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 13 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #9 - Sepi di Rumah

Assalamu'alaikum,
Hari Senin, pak suami rencana ada buka bersama di kantornya. Wah, aku bakal buka puasa berduaan bocah di rumah nih, pikirku.

Sejak awal Ramadhan, buka puasaku selalu ada teman. Entah sedang di rumah ibu di Surabaya, sedang di rumah mertua di Jakarta, atau kalaupun di rumah sendiri, suami selalu pulang cepat dari kantor dan kami bisa menyiapkan buka sama-sama.

Lalu kepikiran buka puasa berdua bocah 19 bulan, kok sepi yaaa... Padahal jaman masih belum ada anak sih sendirian gak masalah juga hehehe. Sempat terpikir ikut ngeluyur buka di luar, tapi aku nggak siap menghadapi macetnya Jakarta di jam buka puasa. Plus, aku dan bocil lagi batuk pilek. Lebih baik di rumah, kan?

Makanya dari pagi, bocil sudah kukondisikan bahwa kami hanya berdua aja hari ini. "Nak, nanti bapak pulangnya malam, Zaki nggak usah nunggu bapak ya. Zaki main berdua aja sama ibu."

Beberapa kali kalimat ini aku ucapkan. Alhamdulillah, Zaki kooperatif. Nggak ada rewelnya. Eh sempat rewel sekali sih waktu pagi aku bawa ngaji ke rumah ibu pengajian, karena dia nggak familiar dengan tempat dan orang-orangnya, plusss lagi meler, jadi minta pulang.

Ketika bocah bobok siang, ibu bisa masak sop kaldu ayam kampung buat bocah. Lalu setelah dia bangun tidur, kami jalan-jalan berdua ke warung mi ayam dekat rumah, beli menu buka puasa untuk ibunya.

Hepi-hepi aja sih kita berdua ya nak :D Lalu lanjut main di rumah, sampai bapak pulang dehhh jam 8.30 malam.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #8 - Clear and Clarify

Assaalamu'alaikum,
Hari ini, berhubung tukang masak (baca: saya) telat bangun sahur, orang serumah juga pada kebablasan nggak sahur. Gara-gara kemarin tidur terlalu malam sepulang dari bukber nun jauh di sana, tidur jadi pulas banget, alarm pun nggak dengar.

Imbasnya puasa jadi agak lemas dan kepalaku sakit sekali, mungkin karena kurang gizi hahahha...

Buat hemat energi (dan mumpung libur), suami pun tidur sore lamaaaa sekali. Susah sekali kubangunin. Sampai aku ngomel-ngomel banguninnya karena sudah masuk waktu sholat ashar, mau minta tolong kirim takjil ke masjid. Tapi makin aku bangunin dengan ngomel, suami makin ngomel juga sambil narik selimut. "Iyaa bangunin 5 menit lagi," katanya. Di sini, lupa banget menerapkan komunikasi produktif :( Pada akhirnya dia bangun sih, tapi bete. Ya untungnya beberapa menit kemudian berangkat sholat dan hilang bete-nya.

Sorenya kami buka puasa di rumah mertua. Suami rencana pengen sholat tarawih di masjid raya beberapa kilometer dari rumah mertua sementara aku menunggu di rumah. Tapi sakit kepalaku makin menjadi, mau ngajak pulang aku nggak enak, masa mau menghalangi ibadah T_T Kalau aku, Ramadhan ini selalu tarawih di rumah karena aku dan bocil sedang flu berat, plus jam ngelonin bocil.

Suami yang lihat aku bersandar loyo, nanyain, "Yak, mau langsung pulang aja atau nunggu aku sholat tarawih? Kamu yang tau kondisi badanmu lho..."

Aku bisa aja sih bilang, "Terserah kamu..." Atau "Menurutmu gimana lho??" Sambil berharap perasaan sakitku dimengerti oleh suami. Tapi, kuputuskan untuk bilang, "Pulang aja yuk? Pingin istirahat di rumah, bocil juga udah ngantuk. Kamu nggak papa tarawih di rumah?"

Akhirnya kami pun pulang. Makasih yaa pak suami, hari ini mengalah demi istri... Untuk bicara sama laki-laki, memang nggak bisa sekedar kasih kode-kode lalu berharap dimengerti. Lebih baik bicara jelas dan gamblang inginnya bagaimana, tentu dengan intonasi yang baik yaaa :)

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Minggu, 11 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #7 - Obrolan di Mobil

Assalamu'alaikum,

Sabtu ini, ada 2 agenda keluarga kami: Bapake mau betulin laptop ke Ambassador dan sore ada buka bersama di rumah teman di Tangerang. Wow jauh yaaaa. Aku putuskan supaya nggak capek, baby Z dan aku istirahat di rumah aja ketika bapake ke Ambassador. Karena emaknya Zaki banyak urusan di rumah dan bapake juga ada kegiatan di luar, kami hampir-hampir nggak ada waktu untuk ngobrol bersama yang enak, padahal hari libur.

Bukber TI '05 ITS cabang Jakarta, Sabtu 10 Juni 2017

Ketika berangkat ke buka bersama, meskipun semobil, kami juga nggak sempat ngobrol serius karena bapake sibuk ngebut dan lihat google maps. Sementara aku? Sibuk jagain Zaki yang lompat-lompat di mobil, minta nyemil, pengen lihat truk dan mobil-mobil di jalan, pengen gelantungan, ahhh banyak lah :))) Sampai-sampai aku mabok darat, mual-mual keringat dingin akibat terlalu banyak tingkah di mobil. Untungnya nggak sampai membatalkan puasa, alhamdulillah...

Sepulang dari buka bersama, barulah suasana kondusif di dalam mobil. Baby Z tidur di mobil di pangkuan ibunya. Sehingga terciptalah waktu yang tepat untuk quality talk bersama suami :) Kami pun tidak dalam kondisi pegang gadget sehingga diskusi lebih fokus.

Banyak yang kami obrolkan, mulai dari hal yang urgent kepepet: mau memberi takjil apa untuk di masjid besok (besok giliran keluarga kami menyiapkan takjil masjid dekat rumah), mau beli di mana, diskusi masa depan seputar keinginan suami sekolah S2 (aamiin), soal investasi rumah, soal pekerjaan.

Kadang memang butuh sih obrolan ringan dan dalam (ciehhh) berdua saja. Obrolan di mobil, jadi salah satu waktu yang tepat. Asalkan ketika anak bobok dan lagi nggak sibuk dengan gadget / google maps ya :D

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Jumat, 09 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #6 - Nggak Mau Sedot Ingus

Assalamu'alaikum,
Hari ini, Zaki sedang agak rewel. Pileknya yang sudah berlangsung seminggu, belum sembuh-sembuh juga. Sudah beberapa hari terakhir ia menolak untuk disedot ingusnya (pakai alat), bahkan dilap aja gak boleh =_="
Kayak gini nih alat sedot ingusnya Zaki. Dulu awal-awal pilek mau pake dengan ikhlas, lama-lama nolak. Sumber gambar: asibayi.com

Jadi tiap aku mengeluarkan alat sedot ingus, Zaki langsung kabur dan bilang, "Nggaauuu..." (Nggak Mau) sambil geleng-geleng dan mukanya mau nangis. Perdebatan pun berlangsung. "Zaki, ingusnya ibu sedot ya supaya napasnya enak, supaya bisa nyusu juga..." Jawabnya tetap, "Ngaaauuu.." Sambil semakin menangis setiap aku membujuknya.

Puncaknya, saat dia meminta cemilan roti marie. Sejak batuk pilek, aku memang melarang ia makan cemilan, apalagi yang kriuk kriuk. Zaki pun paham bahwa ia batuk = nggak boleh nyemil. Tapi kali ini ketika dia sakau pengen roti marie, aku bilang aja, Zaki boleh makan cemilan ASALKAN mau disedot ingusnya. Aku belajar menggunakan pilihan sebagai bentuk komunikasi produktif.

Drama pun terjadi. Z keukeuh minta cemilan tapi nggak mau sedot ingus. Ibu bilang, kalau nggak disedot ingus ya nggak dikasih cemilan. Sampai Z nangis-nangis :(

Di sini ibu belajar konsisten sih dengan pilihan yang ibu kasih. Meski Z nangis meraung sampai didengar tetangga, kalau nggak sedot ingus ya nggak dikasih.

Jadi ingat pesan mbak Farida fasilitator kelas Bunda Sayang, dalam berkomunikasi produktif, nggak mesti harus dengan intonasi ramah. Ketegasan bisa aja diperlukan. Yang nggak boleh adalah intonasi meninggi karena emosi.

Ibu pun bertanya, kenapa Zaki nggak mau disedot ingusnya? Apakah sakit? "Akiiit..." kata Zaki sambil merengek. "Nanti kalau mau sedot ingus, ibu pelan-pelan ya sedotnya..." "Ngauuuu..." Tetap menolak.

Pada akhirnya, berhasilkah ibu sedot ingusnya? Berhasil, dengan paksaan. Beberapa saat sebelum tidur siangnya Z, kepala & tangannya Zaki ibu pegangin, lalu tangan kanan ibu pegang alat sedot ingus. Nangis itu pasti. Tapi ibu udah gak tahan dengar suara srat srot ingusnya Z yang tertahan di dalam hidung T_T Hasil sedot ingusnya banyak dehhh, lega lihatnya. Setelah nangis 5 menit, Zaki terdistraksi sama mainan, lalu tidur siang.

Trus ibu lupa ngasih imbalan roti marie, dan Zaki pun juga lupa tadi pengen roti marie. Yawes lah yaaa... Nyemil yang sehat-sehat aja pas batuk ya nak.. Buah, ato makan nasi lauk pauk sekalian.

Komunikasi dengan Pasangan
Ada satu koper suami dari luar kota yang belum dibongkar & dibereskan isinya, terbengkalai di ruang tamu. Kalau nggak dibereskan istrinya, mungkin itu koper bakal tetap di sana terus. Tapi istri lagi nggak ada energi beres-beres koper. Puasa, ngurus anak, nyusuin, beres-beres rumah, lemes bro (ah alasan aja sih). Intinya, pengen pak suami yang bongkar kopernya sendiri.

Jadi menerapkan eye contact aja ketika ngobrol santai. Minta suami sebelum pergi besok membereskan kopernya dulu. Sambil dibercandain, kalo koper gak beres, gak boleh pergi lho yaaaa hehehe. Iya, kata pak suami.

Moga besok beneran diberesin ya :D aamiin.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #5 - Takut Vacuum Cleaner

Assalamu'alaikum,
Hari ini, sesuai jadwal, ada mbak Go Clean datang ke rumah. Kali ini aku pilih paket biasa Rp 45.000 per jam. Dua kali pesan sebelumnya, aku pilih paket ekonomis: lebih murah tapi peralatan harus menyediakan sendiri. Memang beda harganya lumayan sih, tapi sepertinya lebih nyaman kalau Go Clean-nya bawa alat sendiri. Kita jadi terima beres, nggak perlu menyiapkan ember, lap, sapu, pel, dan obat-obatan pembersih.

Ternyata peralatan yang disiapkan Go Clean lengkap, ada vacuum cleaner-nya juga lohhh!! Jadi worth the price banget deh. Sofa-sofa dan kasurku ikut disedot debunya. Lumayan, aku kan nggak punya vacuum cleaner di rumah :D 

Namun baby Z sejak kedatangan mbak Go Clean selalu menggelendot padaku. Yah biasanya memang kalau aku kerja di rumah, dia pasti nggelendot sih. Ngepel, masak, belanja di tukang sayur, semua sambil gendong. Buibuk yang lain, ada yang begini juga? Anaknya nggak bisa disuruh anteng main sendiri :)) hahaha. Ini ketambahan ada orang asing yang datang ke rumah pula. Makin menjadi deh nggelendotnya.

Puncaknya adalah ketika mbak Go Clean menyalakan vacuum cleaner. "Nguuuuuungggg.." Terdengar deru suaranya. "Atuuuuttt..." rengek baby Z sambil memelukku. Lucu amat sih ni bocah :))) Eh tapi harus ber-empati dong ya, dia 'kan beneran ketakutan. Baby Z memang seringkali takut dengan suara-suara, misal suara gonggongan anjing dari kejauhan, suara orang turun dari tangga (bukan takut tapi kaget langsung cari orang untuk dipeluk), suara cicak...

"Zaki nggak usah takut, itu 'kan cuma suara vacuum cleaner.."
"Atuuuttt..." Zaki makin kencang memelukku..
Oke nggak mempan. Sesuai teori, menyuruh ia nggak usah takut berarti memintanya menyangkal perasaan. Nggak ada empati sama sekali.

"Suara vacuum cleaner kencang ya Zaki? Debu-debunya disedot. Vacuum ini salah satu alat bersih-bersih, seperti sapu, pel..." Baby Z diam saja melihatku. Mencoba memahami kata-kata ibunya. Tapi dia lebih tenang. "Ayo kita main pancing-pancing ikan sambil nunggu mbaknya pakai vacuum cleaner.." Lalu kami pun bermain bersama, sementara mbak Go Clean menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu masuk kaidah yang manakah percakapan barusan? Hahaha akupun bingung. Entah dengan intonasi yang tepat, mencoba berempati, atau fokus pada solusi, bukan masalah.

Alhamdulillah hari ini mood ibu dan Zaki sangat terjaga, nggak ada nada tinggi sedikitpun, baby Z anak baik :)

Komunikasi dengan Pasangan
Menjelang waktu berbuka puasa, alhamdulillah suami sudah pulang dari kantor. Sementara aku menyiapkan masakan di dapur dan cuci-cuci peralatan masak, suami nonton kajian di Youtube sambil menemani bocil main. Ehhhh tau-tau bocahnya eek.

Dalam 19 bulan usia bocah, kegiatan cebokin bocah 95%-nya dikerjakan olehku. Suami mengerjakannya kalo kepepet doang, dan itu sangat jarang :D Kalo kurang kepepet, dia bisa aja bilang, "Tunggu ibu yang cebokin ya nak, bapak masih ada perlu ini..." :)))

Tadi, waktu yang sangat tepat untuk meminta suami bantu cebokin karena aku sedang ada urusan dapur. Jadi aku bilang aja, "Bapak tolong cebokin Zaki yaaa..." "Eeeemmmmmm.. iii..iyaaa..." Kata bapake. Bukan contoh komunikasi yang produktif ya :p? Tapi suami kemudian segera beranjak dari duduk santainya dan meladeni bocil yang ingin segera diganti popoknya.


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #4 - Ayo bobok siang nak!

Assalamu'alaikum,
Masih berusaha konsisten untuk menulis 1 tantangan setiap harinya, demi lulus kelas Bunda Sayang-nya Institut Ibu Profesional yang kita cintai :D Jangan bosan-bosan mampir ke blog yaaa hehehe. Tantangan ini bakal ada minimal 10 hari tiap bulan, selama 1 tahun ke depan. Sesuai kurikulumnya Bunda Sayang. Semoga istiqomah, aamiin!

Melanjutkan ilmu Komunikasi Produktif, hari ini, baby Z super ngantuk karena bangun kepagian, tapi nggak mau tidur-tidur juga sampai jam 11.30 siang. Memang balita satu ini agak susah tidur sih dari kecil, harus dikeloni terus sampai emaknya ikut ketiduran, baru deh dia masuk ke alam mimpi :D Hari ini, sudah bolak balik mimik ASI, dikelonin, ehhh tetap aja minta turun kasur dan keluar kamar.

Oke jam 11.30 diputuskan, baby Z harus tidur. Kita ambil jurus komunikasi produktif Katakan Apa Yang Kita Inginkan, bukan yang tidak diinginkan.

Jadi, daripada aku menyanyikan nina bobok "Kalau tidak bobok, digigit nyamuk..." (itu kan tidak diinginkan), aku sampaikan saja bahwa Zaki sebaiknya bobok, karena Zaki butuh istirahat. Istirahat itu penting supaya Zaki bisa segera sembuh batuk pilek. Zaki boleh bawa mainan ke kasur. Lalu dia pilih mainan kereta Thomas.

Dikelonin, bobok dehhh jam 11.45. Alhamdulillah!!! Emak bebas!! Eh enggak ding, emaknya ikut ketiduran :)))

Komunikasi Dengan Pasangan
Hari ini nggak ada obrolan penting sih. Adem ayem saja :D Jadi bingung apa yang mau dipraktekkan hehehehe. Oiya, paling juga obrolan untuk memutuskan kami akan pulang ke rumah (beberapa hari terakhir, kami menginap rumah mertua karena kondisi badan sedang nggak fit - dan mertua happy kalau rumahnya rame ada cucu :P). Oiya, sebisa mungkin ketika ngobrol, aku terapkan Eye Contact sih. Dan memang terasa lebih enak ngobrolnya, daripada kalau ngobrol sambil lalu.

Lalu untuk menghindari kata, "Terserah pulangnya kapan", "Terserah kamu..", "Tergantung enaknya kamu aja.." yang dari kemarin selalu terjadi, akupun sudah memesan Go Clean untuk bantu beres-beres rumah besok. Maklum nggak ada ART dan rumah udah ditinggal lebih dari seminggu - habis mudik ke Surabaya, lanjut nginap rumah mertua sepulang ke Jakarta. Daripada aku bertindak jadi superwoman beres-beres plus nyetrika sendiri padahal badan masih nggak enak karena batuk pilek parah, kalo ada rejeki, panggil aja jasa untuk delegasi kerjaan rumah :D

Yah intinya, karena sudah panggil Go Clean untuk pagi besok, mau nggak mau malam ini harus pulang ke rumah hehehe. Yawes segini dulu tsurhatnya. Lanjut besok yaaa...

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #3 - Lempar Barang?

Hari ini, alhamdulillah nggak ada kejadian Z melepeh-lepeh makanan. Entah karena makanan hari ini kesukaan dia semua, atau efek komunikasi kemarin ya :D

Tapi namanya toddler, belum lengkap hari-hari tanpa kejadian yang butuh strategi komunikasi. Eksplorasi terjadi dimana-mana. Hari ini Z sedang suka lempar barang. Magnet kulkas dilempar, pintu kulkas dibanting. Oiya aku belum cerita ya kalau Z hobi banget buka kulkas dan ngintipin isinya, diabsen satu-satu mana yang boleh dia makan :)))

Ketika dia banting pintu kulkas, kalau diminta buka kulkasnya pelan-pelan karena kulkas bisa rusak, Z tetap saja melakukannya. Mungkin di benak anak balita ini, emang apa ruginya bagi dia kalau kulkas rusak? Iya gak yaaa...

Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #2 - Melepeh Makanan?

Melanjutkan tantangan Komunikasi Produktif dari hari sebelumnya, mengenai Komunikasi Dengan Anak.

Hari ini Z (19 bulan) minta apel, tetapi seperti biasa, setelah makan 2-3 potong, selanjutnya dilepeh-lepeh.

Kebiasaan melepeh-lepeh ini sudah berlangsung beberapa bulan sih. Bisa karena dia sudah kenyang, nggak suka makanannya, atau memang lagi iseng saja (kalau hanya iseng, suapan berikutnya dimakan tanpa dilepeh). Kadang berhasil dinasehati, kadang juga enggak. Belum ketemu polanya.

Minggu, 04 Juni 2017

Tantangan Bunda Sayang #1: Komunikasi Produktif Day #1

"Zaki, jangan pegang listrik!!"
"Sampahnya kotor nak, jangan dibuat mainan!!"
"Nak, mandinya udah ya, boros air nggak baik.." sambil mematikan kran dan berakhir dengan tangisan yang pecah karena bocah masih pengen main air.

Kalimat larangan semacam itu sering sekali meluncur dari mulutku. Usia bocah yang sudah masuk toddlerhood (kini 19 bulan), membuatnya ingin eksplorasi berbagai hal, dari yang positif sampai negatif (baca: berbahaya atau kotor-kotor menurut ibunya).

Kadang aku bingung bagaimana melarang Z melakukan hal-hal yang berbahaya atau bikin kotor. Pernah dengar bahwa kalau anak dibilang 'jangan', ia justru akan melakukannya. Namun mengubah kata 'jangan' menjadi hal yang positif cukup menantang. Sering kali ketika ada kejadian, otak belum sempat berpikir, kata-kata larangan sudah muncul duluan.

Nah, pada kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional yang kuikuti, pas banget materi pertamanya adalah Komunikasi Produktif. Baik dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak. Pasca materi, kami 'mahasiswi' diberikan tantangan 10 hari untuk mempraktekkan ilmu yang kami pelajari.

Komunikasi Dengan Anak - Day #1
A. Keep Information Short & Simple
B. Kendalikan intonasi suara. Verbal 7%, intonasi suara 38%, bahasa tubuh 55%.
C. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
D. Fokus ke depan, bukan masa lalu
E. Ganti kata 'tidak bisa' menjadi 'bisa'
F. Fokus pada solusi, bukan masalah
G. Jelas dalam memberi pujian/kritikan
H. Ganti nasihat menjadi refleksi pengalaman
I. Ganti pertanyaan interogaso menjadi pernyataan observasi
J. Ganti pengalihan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
K. Ganti perintah dengan pilihan

Poin yang dipilih: B (7-38-55)
Pagi ini lagi-lagi Z mandi lamaaa sekali, air kran harus menyala terus, kalau dimatikan ia marah.
Akhirnya ibu membungkuk sejajar Z (bahasa tubuh), lalu bilang bahwa boros air itu nggak baik. Ibu juga bilang dengan lembut (intonasi), Z sedang batuk pilek, sebaiknya jangan terlalu lama kena air. "Tangan Z sudah keriput, yuk kita pakai handuk. Ibu matikan keran airnya ya.."

Hasilnya? Z tetap protes sih setelah keran mati. Namun ia segera minta pakai handuk :) Dramanya nggak perlu panjang-panjang deh, alhamdulillah.

Siangnya, Z kembali melakukan hal yang membuat ibu kaget ketakutan dalam hati. Ia menemukan kabel speaker dan berusaha mencolokkannya ke steker listrik. Sontak ibu lari ke arah Z. Masih keceplosan langsung bilang "Listrik nggak boleh buat mainan nak..!!" Tapi Z tetap bermain.

Ibu sejajarkan badan lagi dengan Z. Berusaha menatap matanya, pegang tangannya. "Zaki, listrik ini bukan mainan anak-anak. Setrum listrik bikin sakit, lebih sakit daripada panas setrika (beberapa hari sebelumnya ia pegang setrikaan T_T)." Saat dibilang ini, ia pun melepaskan genggamannya dari kabel. "Zaki boleh main yang lain, tapi jangan listrik ya.." dan Zaki pun main yang lain. Fiuhhh, ibu lega!

Semoga besok lebih lancar lagi berkomunikasi produktif dengan bocah :)

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 17 Mei 2017

Membawa Baby Z Pergi Ke Jepang

Assalamu'alaikum!
Musim semi kali ini, aku dapat rejeki membawa baby Z ke Jepang, diajak kakung dan utinya Z. Alhamdulillah, tercapai juga impian melihat bunga sakura :) Kebetulan pak suami juga sedang dinas ke Jepang, jadi meskipun beda tujuan, kami sempat 1 hari bertemu dan bermain saat di Tokyo.


Pada postingan kali ini, aku nggak akan panjang lebar menjelaskan itinerary, tetapi lebih ke cerita bagaimana pengalaman bawa bayi ke Jepang yang penerbangannya cukup panjang (7 jam), dan medannya cukup berat (naik turun tangga di stasiun Jepang). Karena jujur aja, sebelum berangkat, ibunya baby Z ini sempat deg-degan bawa balita ke sana, takut rempong hihihi.

Jadi, berikut ini adalah kesimpulan perjalanan kami ke Jepang, beserta tips-tipsnya.

1. Barang Bawaan ke Jepang

Meminimalisir barang bawaan menjadi kunci supaya perjalanan bisa nyaman. Karena di luar negeri nggak ada porter seperti di Indonesia, dan biaya naik taxi cukup mahal, terpaksa harus naik kendaraan umum atau kereta 'kan? Kebayang kalo kopernya besar dan banyak, harus diangkut ke atas kereta, plus kadang stasiun nggak ada lift/eskalatornya. Bedeeeehhh encok lah mak.

Apalagi kali ini pergi nggak sama bapaknya baby Z, otomatis barang bawaanku dan Z menjadi tanggung jawabku, meski sebagian dibantu kakungnya. Karena eyang-eyang masa' bawa berat-berat. Kakung memutuskan pakai carrier ala backpacker, sehingga tangannya masih bebas untuk membantu bawa koperku jika dibutuhkan.

Kami juga bawa 1 mini rice cooker, beras 3 kantung plastik, abon, dan mi instan hehehe. Targetnya sih, ransum harus habis supaya pas pulang masih ada sisa space di koper.

Total barang bawaan kami:
Tia: 1 buah koper ukuran sedang, 1 sling bag super kecil untuk bawa HP, paspor & uang (selalu nempel di badan), 1 stroller, 1 diaper bag untuk di kabin, dan 1 baby carrier Boba menggendong baby Z
Kakung: 1 buah carrier backpack, 1 ransel isi paspor dompet dan kamera
Uti: 1 buah koper ukuran sedang, 1 ransel kabin, 1 sling bag untuk bawa HP, paspor dan uang

Kebayang nggak sih, rempongnya :p Itu aja udah paling minimal menurut kami, karena musim seminya masih (agak) dingin (menurut orang Jakarta dan Surabaya wkwkwk), kami harus bawa coat/jaket tebal yang cukup bikin koper penuh.

Sempat jalan-jalan di taman dengan koper
Oiya, beberapa kali kami menggunakan jasa coin locker di stasiun, yakni ketika sudah harus check out atau belum bisa check in apartemen tapi pingin jalan-jalan tanpa geret koper. Proses mencari loker kosong pun bisa memakan waktu hingga hampir 1 jam karena koper kami ada yang besar, harus mencari loker ukuran besar (biasanya penuh). Untungnya di stasiun besar, jasa coin locker tersebar di beberapa titik, jadi bisa cari yang lain lagi. Kalau kopernya kecil-kecil seukuran kabin, saat itu banyak banget loker yang tersedia.

2. Bawa Stroller atau Carrier?

Setiap traveling, 2 perangkat ini jadi barang yang wajib kubawa. Jadi ya, aku bawa dua-duanya. Meskipun stroller jarang dipakai karena si bocah lebih suka jalan daripada duduk manis. Tapi cukup bermanfaat untuk bawa tas-tas yang seringkali melelahkan pundak. Tas perlengkapan bayi, perbekalan untuk jalan seharian, dan kamera 'kan cukup berat yah.

Secara ajaib, beberapa kali baby Z tertidur di stroller saat jalan-jalan siang (padahal di Indonesia hampir gak pernah tuh baby Z tertidur sendiri di stroller). Mungkin karena udaranya dingin, jadi dia ngantuk :p.



Sedangkan carrier dipakai ketika tidur sore dan kalau lagi butuh mobilitas tinggi di stasiun kereta. Ada beberapa stasiun yang nggak memiliki elevator dan eskalator sehingga kami terpaksa naik turun tangga sambil gotong stroller. Repot? Iya. Tapi masih bisa dilakukan kok, thanks to stroller Joie Float yang beratnya cukup ringan dan gampang dilipat. Cukup 1 langkah, si stroller terlipat, tinggal digotong. Praktis dilakukan bahkan sambil gendong bayek. Nanti kapan-kapan aku tulis review tersendiri deh untuk stroller ini. Stroller sejenis yang bisa 1 langkah langsung terlipat/terbuka contohnya Aprica Karoon, Jette Jimmy, Cocolatte New Life, dan Babyelle Citilite.

3. Makanan Balita Selama di Jepang

Dari Indonesia, aku membawa beberapa kotak susu Ultra Mimi (buat sogokan ketika bocah rewel di jalan), camilan bayi ('kerupuk' khusus bayi), dan beberapa sachet bubur instan yang teksturnya agak kasar untuk momen-momen kepepet. Kami juga bawa beras mentah, bumbu sop Bamboe, mi instan, serta abon.

Ternyata semua yang dibawa sangat kepake! Susah sekali cari makanan halal di awal-awal kami di Jepang (waktu itu belum install apps Halal Navi). Sampe hotel sudah malam, capek, belum dapat makanan pula. Si bayek dibuatkan bubur instan deh, sementara ibu dan eyang-eyangnya bikin Indomie hehehee.

Untuk sarapan, kami menanak beras dan makan nasi pake abon. Trus siangnya beli onigiri salmon seharga 130 yen (sekitar Rp 16.000). Melas yoooo....

Bekal masakan sendiri: ikan salmon, tahu, telur dadar, tumis taoge
Itu cerita sebelum menemukan supermarket dan resto halal. Saat di Osaka, kami menemukan supermarket dekat apartemen. Ibuku langsung kalap belanja ikan segar dan sayuran, masak besar di hotel. Siang pun membawa bekal. Malam masak lagi di hotel :D

Untuk cemal-cemil bayi, sering juga beli buah pisang, roti, atau kerupuk beras di minimarket. Beli jus buah segar di gerai jus yang bersih di stasiun. Juga pernah beli kentang goreng McD. Pokoknya harus selalu ada makanan, jangan sampe baby Z rewel karena lapar.

Oiya, ini ada poster yang kami print untuk ditanyakan di restoran/foodstall selama di Jepang, untuk memastikan makanan aman dari bahan tak halal.

4. Itinerary Super​ Fleksibel

Eyang-eyangnya baby Z sudah bilang, ke Jepang kali ini dibawa santai aja. Nggak ada target itinerary yang harus ditepati. Itu sebabnya kami nggak ikut tur. Nggak kebayang kalo ikut tur, kami diburu-buru waktu. Pagi harus sudah siap, foto di situ 5 menit lalu masuk bus, makan ditunggu orang-orang.

Tak jarang kami baru 'berhasil' keluar apartemen jam 10-an pagi. Baby Z aja baru bangun jam 9 pagi di sana (setara jam 7 pagi Indonesia). Belum nyiapin dia mandi, sarapan, nyiapin bekal... Apalagi saat harus berpindah kota, nambah lagi rempongnya karena harus packing lagi.

Dalam sehari, mungkin maksimal kami berkunjung ke 2-3 objek yang berdekatan. Sebagai contoh, saat di Kyoto kami mengunjungi Yasaka Shrine, Chuon In Temple, dan Maruyama Park saja dalam sehari (itu objeknya hanya bersebelahan lho), lalu malamnya sudah naik kereta menuju Osaka. Di Osaka pun objek yang kami kunjungi hanya Osaka Castle (siang) dan Dotonburi (sore menuju magrib). Malamnya sudah sampai di apartemen untuk makan malam dan istirahat.

5. Jangan Lupa Ganti Diapers!

Pernah karena keasikan jalan-jalan dari pagi sampai sore, lupa menyempatkan mampir ke toilet dengan diaper changing station. Sampai-sampai diapersnya baby Z penuh pipis trus bocor ke celananya. Duh nakkkk piyeee toh ibukmu ini -_-" Maafkan yaaa nak!

Pertokoan besar biasanya ada toilet dengan fasilitas diaper changing station-nya. Tapi kalau di objek umum belum tentu ada.

Nah, pengalamanku ganti popok pas bayi (maaf) pup, beberapa kali nemu toilet yang susah buat aku cebokin Z. Terpaksa cebokin di wastafel ketika nggak ada orang yang lihat. Gimana coba mau cebokin sementara cebokannya pakai tombol-tombol dengan air yang mancur dari dalam toilet? Huahahaha. Pernah juga cebokin hanya dengan tisu basah yang sangat banyakkkk di pinggir taman, ditutupin eyang-eyangnya baby Z. Kalau kasusnya seperti ini, harus siap sedia tisu basah yang banyak dan kantong keresek untuk buang semua sampahnya.

Nyaman sekali ketika di mall besar ada toilet dengan diaper changing station, ada meja ganti popok, ada wastafelnya. Bahkan ada dudukan untuk bayi kalau emaknya mau buang air tanpa harus menggendong si bayi. How thoughtful you are, Japanese people :)

6. Penerbangan Malam vs Siang

Ketika berangkat dari Indonesia menuju Jepang, penerbangan panjang selama 7 jam dimulai dini hari pukul 00 WIB. Sudah pasti, itu jam tidurnya baby Z. Baby Z bahkan mulai tidur di bandara Denpasar sejak jam 9 malam di gendongan, karena strollernya masuk bagasi. Lumayan pegal juga leherku saat menunggu pesawat sambil menggendong bayi tidur, karena kursi tunggu bandara kan sandarannya hanya sebatas setengah punggung.

Saat boarding, karena perubahan posisi dan ribet menata barang di kursi pesawat, memakaikan sabuk ke baby Z, ia pun terbangun. Tengah malam bokkk. Pernah baca di forum-forum, ibu-ibu yang bawa bayi terbang tengah malam ternyata harus meladeni bayi yang melek semelek-meleknya. Akupun berdoa supaya baby Z tidur lagi hahaha. Sambil terus disusui, akhirnya alhamdulillah ia lanjut tidur huhuhu.

Penerbangan pun aman dan damai dengan bayi tidur di pangkuan. Oiya baby Z sudah nggak diperbolehkan tidur di bassinet pesawat yang bisa disediakan untuk bayi, karena Z sudah lebih dari 9 kg. Nggak aman, kata bu pramugari.

Nahhh. Ketika balik ke Indonesia dari Jepang, jadwal pesawat kami adalah jam 9 pagi waktu Jepang. Baby Z hanya tidur 1 jam di awal penerbangan. Selanjutnya MELEK. Nonton kartun, nyemil, keliling kabin pesawat, nongkrong di dekat toilet, keluar masuk toilet (karena Z SUKA BANGET lihatin kaca di dalam toilet pesawat, haishh..), nyemil lagi, baca buku, main sama kakung uti... Sampai sempat cranky juga karena bosan di pesawat.

Nggak kebayang kalau penerbangannya lebih dari 7 jam, mati gaya deh emaknya :)))) Kesimpulannya, aku lebih suka flight malam, ketika jam tidur bayi. Karena emaknya bisa ikut numpang tidur hehehe.

--
Pada akhirnya, kalau dipikir-pikir memang rempong-rempong sedap sih bawa balita ke luar negeri. Tapi seru banget dan jadi pengalaman nggak terlupakan. Oiya, selama di Jepang, tiba-tiba kosakata baby Z bertambah banyak. Bisa bilang "bunga" dan "bis".

Makanya, bahkan sejak pulang dari Jepang, emaknya sudah merindukan jalan-jalan lagi sama baby Z dan keluarga hahahaa. Mari kita menabung deh. Emak-emak sekalian punya tips jalan-jalan sama bayi/balita? Atau kota mana yang menyenangkan buat pergi bawa bayi :D

Review Comfi Breathing Pillow: Serius Bantal Bisa Napas?

Assalamu'alaikum bloggers...

Ibu-ibu pasti pernah mengalami betapa sulitnya bikin bayi tertidur. Sudahlah susah ditidurkan, eeeh bangunnya cepat banget. Kadang butuh nyusu, kadang ganti popok, kadang kepanasan. Beberapa bayi sepertinya tahan udara dingin. Walau pasang AC suhu paling rendah, masih aja terbangun tidak nyaman karena berkeringat kepanasan :D Hayooo bayi siapa yang seperti anak eskimo begini?


Akupun mengalami masa-masa ketika kepalanya baby Z selalu berkeringat basah ketika tidur. Sampai tiap tidur ada bagian seprai yang basah membulat di sekitar kepalanya. Dulu aku sempat cemas, keringat berlebih ini normal atau enggak. Tapi ternyata wajar kok, bagian kepala bayi memang suhunya tinggi, karena perkembangan otak di awal-awal tahun kehidupannya begitu pesat.


Pentingnya Tidur Untuk Bayi dan Anak

Proses tidur terdiri dari 2 tahap, Non-REM dan REM. Pada tahapan tidur tidur dalam (Non-REM), aktivitas otak masih terus berjalan. Fase Non-REM berperan penting dalam perbaikan sel-sel tubuh dan produksi hormon pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan batita. Sedangkan pada tahapan tidur aktif (REM), metabolisme otak berada pada tingkat paling tinggi sehingga berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan kognitif bayi dan batita.


Ada penelitian terhadap anak umur 8 tahun yang dianalisa dari pola tidur sejak umur 2 tahun. Hasilnya menunjukan bahwa anak yang cukup tidur: lebih dari 62% tidak akan memiliki problem berkonsentrasi dan > 81% tidak memiliki problem sifat agresif. Terbuktilah bahwa selain nutrisi dan kasih sayang, tidur yang cukup merupakan salah satu kunci agar anak sehat, pintar dan bahagia.

Keamanan, Kenyamanan, dan Kesehatan dari Sebuah Bantal Tidur

Sejak menyambut kelahiran bayi, selain kasur bayi, ibu pasti menyiapkan bantal sebagai perlengkapan tidur si kecil. Umumnya newborn menggunakan 'bantal peyang', bantal dengan lubang di tengah untuk menjaga posisi kepala bayi. Namun nggak sembarang bantal yang berlubang di tengah efektif untuk mencegah peyang lho. Yang terpenting adalah orang tua selalu membetulkan posisi kepala bayi supaya nggak terus-terusan menghadap satu sisi. Karena sisi yang paling sering ditidurkan, risiko 'peyang'-nya (flat head) makin tinggi.

Yang berbahaya bagi newborn adalah posisi tidur tengkurap karena ia belum punya kontrol leher dan kepala. Dikhawatirkan, saat tidur tengkurap, hidungnya tertutup sehingga bayi sulit bernapas tapi nggak bisa balik badan sendiri. Baru tahu ada produk Comfi Breathing Pillow yang dibuat dengan teknologi tinggi sehingga teksturnya berpori, breathable. Kalaupun tidur menghadap bantal, bayi masih bisa bernapas.

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita, akupun baru tahu kalau ketinggian bantal yang baik adalah untuk menyangga agar posisi kepala sama seperti ketika kita berdiri. Nggak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Makanya kalau salah posisi bantal, kita sering mengeluh karena leher pegal, 'kan? Ternyata bantal Comfi untuk anak bisa dimasukkan insert lagi lho untuk menyesuaikan ketinggian yang nyaman buat tidurnya. Baru tahuuu ada bantal model begitu.

Selain itu, dari segi kesehatan, sebuah bantal ternyata bisa menjadi penyebab alergi lho. Karena seperti kasur, bantal juga bisa menjadi sarang tungau. Tungau bisa merajalela karena ketika tidur, tubuh kita melepasan sel-sel kulit mati, makanan favorit tungau tuh. Alangkah senangnya kalau bantal bisa dicuci. Nggak semua bantal bisa dicuci lho, ada bahan tertentu yang akan rusak kalau terkena air. Proses menjemur tanpa cuci pun nggak efektif untuk membasmi tungau. Ternyata bantal Comfi washable, bisa dicuci, bahkan airnya akan mengalir karena tekstur bantalnya yang berpori. Bye bye tungau, deh!

Review Bantal Comfi untuk Anak

Setelah menghadiri acara Tokopedia Official Store - BalitaKita, aku berkesempatan mencoba Comfi Breathing Pillow untuk baby Z. BalitaKita merupakan Sole Principal Distributor produk bantal Comfi, the first breathable and washable pillow in the world. Sumpah penasaran banget sih dengan bantal ini, karena beberapa kelebihannya seperti:
  1. Bantal pertama di dunia dengan teknologi 3-D Knitting. Memiliki rongga sehingga nggak bikin kepala anak kepanasan
  2. Kalau anaknya tidur tengkurap, tetap bisa bernapas karena ada rongga di bantal
  3. Mudah dicuci dan dikeringkan
  4. Anti tungau

Sarung bantal bawaan Comfi pun berongga agar memaksimalkan sifat breathable-nya
Penampakan bagian dalam bantal Comfi. Bisa dicuci lhooo...

Slogan Comfi adalah “The first breathable and washable pillow in the world". Akupun membuktikan dengan tidur tengkurap menghadap bantal. Ehhh beneran tetap bisa bernapas lho! Amazing deh :D

Namun sayang... sepertinya baby Z belum bisa memakai bantalnya. Begini ceritanya.

Sebetulnya sejak baby Z berusia 3 bulanan, dia tidur nggak pakai bantal lho. Karena aku putus asa dengan bantal peyang yang sering basah, lalu seringnya aku menyusui sambil tiduran yang posisinya nggak pas kalau baby Z pakai bantal, plus posisi tidurnya yang sering berubah sehingga kepalanya ada dimana, bantalnya ada dimana -_-" Jadi ada berbagai macam alasan mengapa sudah lebih dari setahun baby Z terbiasa tidur tanpa bantal.

Sehingga ketika aku coba pakaikan bantal Comfi setelah Z tertidur, 15 menit pertama tidurnya anteng. Eh menit berikutnya posisi Z sudah berubah sampai kepalanya menjauh dari bantal. Padahal ukuran bantal Comfi sangat lebar lho dibanding bantal-bantal balita yang pernah kulihat di toko. Ini sih karena gaya tidur bayinya aja yang nggak bisa diam. Dari ujung kasur ke ujung lainnya -_-"

Setelah 15 menit, kepalanya sudah menjauh dari bantal -_-"
Hari kedua, aku coba pakaikan bantal lagi sebelum Z tertidur. Sambil menyusui, Z nggak tidur-tidur. Lalu dia duduk dan bilang "nggak mau" sambil menunjuk bantal. Ahhhh antara pingin ketawa dan patah hati ibumu nak, nggak mau pakai bantal idaman emakmu ini hehehe. Sudah kebiasaan nggak pernah pakai bantal sih dalam 15 bulan terakhir.

Tapi tenang, jangan putus asa. Beberapa bulan lagi Z akan berumur 2 tahun. Perlahan Z akan disapih ibu. Meskipun ibu juga sedih kalau momen menyusui segera berakhir, tapi ibu percaya nanti Z bisa tidur sendiri tanpa harus diketekin ibu :') Nanti kalau waktu itu datang, badan Z juga semakin besar, Z pasti butuh bantal untuk teman tidur supaya lebih nyaman. Ibu sih percaya bantal Comfi ini bakal cocok karena kualitasnya memang bagus.

Buat ibu-ibu yang penasaran dengan bantal Comfi (terutama kalau anak memang sudah terbiasa pakai bantal), bisa di-search dimulai dari Tokopedia. Comfi Breathing Pillow eksklusif dijual di Official Store BalitaKita di Tokopedia.

Belanja di Official Store Tokopedia BalitaKita lebih aman untuk pembeli karena BalitaKita (www.tokopedia.com/balitakita) memiliki hak merk untuk menjual produk original Comfi, juga produk bayi lainnya seperti sterilizer, alat makan, hingga gendongan bayi dengan merk populer. Tersedia juga pilihan untuk cicilan, sehingga belanja jadi lebih mudah.

Gimana, penasaran untuk mencoba Comfi Breathing Pillow?

Selasa, 16 Mei 2017

Barang Asli di Tokopedia Official Store - BalitaKita

Assalamu'alaikum, bloggers...

Jujur deh, sejak punya anak, salah satu hiburan ketika ada me time (yang biasanya hadir setelah anak bobok ataupun sambil menyusui ketika bayi masih newborn hehehe), pastilah online shopping. Sensasinya online shopping tuh dimulai dari ketika mencari review merk-merk barang idaman, dilanjutkan sampai membandingkan harga barang tersebut di marketplace.


Tapi kadang suka bingung juga, kenapa satu barang harganya bisa bervariasi, ada yang murah dan ada yang mahal banget. Asli apa palsu ya barangnya?

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita yang diselenggarakan tanggal 10 Mei lalu, aku baru paham kenapa Tokopedia me-launching Official Store. Official Store Tokopedia merupakan ruang khusus yang disediakan bagi brand resmi atau pemegang hak merk yang sah untuk menjual produk mereka secara online melalui website Tokopedia.



Nah, BalitaKita merupakan online store di Tokopedia yang memiliki hak merk berbagai produk favorit ibu-ibu, misalnya i-Angel, UPang, Brother Max, Comotomo dan Comfi Breathing Pillow. Merk-merk ini terkenal dengan kualitasnya dan cukup populer di jagat raya ibuk-ibuk sebagai barang idaman. Ada yang sudah kenal dengan merk-merk tersebut? Kalau belum, yukkk kita bahas satu persatu. BalitaKita adalah Sole Principal Distributor untuk produk bayi dan balita berkualitas.

Senin, 08 Mei 2017

Berani Bilang "Iya, Boleh!" Untuk Bereksplorasi

Assalamu'alaikum buibuk...

Long weekend yang lalu, aku dan Z berkesempatan datang di acara Nestle DANCOW Explore Your World. Acara persembahan Nestle Dancow Advanced Excelnutri+ ini diadakan di mall Kota Kasablanka, dengan tema "Dukung Bunda dan Ayah Katakan "IYA BOLEH" untuk Explorasi si Kecil."

Z heboh bermain lego di area Smart City
Saat tiba di tempat acara, aku penasaran dong, kenapa kok rame banget. Kenapa juga pakai tajuk "IYA BOLEH" segala. Ternyata, di sini ada beberapa permainan yang mengasah kemampuan si Kecil. Dengan berbagai aktivitas ini, Dancow bermaksud mendukung para orang tua untuk bilang "IYA BOLEH", silakan bereksplorasi. Karena si Kecil sudah terlindungi dengan nutrisi yang cukup, kasih sayang orang tua, dan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Sadar nggak sadar, kita sebagai orang tua suka sedikit-sedikit melarang anak. Mau main di taman, nggak boleh, takut kotor dan kuman. Padahal 'kan nggak papa asalkan setelah main, anak cuci tangan yang bersih. Mau hujan-hujanan? Nggak boleh, takut basah dan sakit. Padahal 'kan nggak papa asalkan anak sudah makan (perutnya nggak kosong), lalu setelah main hujan, anak bisa mandi air hangat dan ibu siapkan baju yang bersih.

Iya juga ya. Aku suka melarang Z untuk hal-hal sepele, misalnya main perosotan di taman yang seringkali berlumpur, atau sekedar main genangan air. Z sudah bukan bayi lagi, dan perlu banyak bereksplorasi untuk menstimulasi kecerdasannya.

Jumat, 28 April 2017

Ketika Mbak Asisten Harus Pergi

Assalamu'alaikum buibuk...

Akhirnya bulan lalu aku mengalami yang namanya galau karena ART. Selama ini yang kulihat di medsos, banyak ibu-ibu curcol drama ART. Yang habis Lebaran gak balik lah, yang susah diajarin lah, yang main hape mulu lah. ARTku? Baiknya bukan main. Beliau seorang janda, dulunya kerja di rumah bapak ibuku di Surabaya. Sejak aku lahiran, si mbak ikut denganku. Jadi semacam perpanjangan tangan ibuku dalam membantu di rumah pasca kelahiran baby Z.

Mbak di rumah, Z, dan mbak rumah mertua

Jujur aja sih, dengan adanya ART, aku cukup terlena dengan segala kemudahan. Pagi-pagi sarapan sudah disiapkan, malam pun ada masakan. Setrikaan selalu beres nggak ada tumpukan. Aku tinggal pegang baby Z aja. Mau mandi dan sholat, bisa titip bayi sebentar ke si mbak. Baby Z pun menikmati bermain sama si mbak yang suka anak kecil.