Kamis, 22 Juni 2017

The Truth About Marriage #1

Assalamu'alaikum...
Karena banyak terjadi kekonyolan-kekonyolan setelah menikah, terbitlah satu seri khusus: The Truth About Marriage ini. Mungkin nanti kalau sudah jadi kakek-kakek dan nenek-nenek aku dan suami bisa ketawa-tiwi baca dokumentasi via postingan ini :))

Foto jaman babymoon di Trick Eye Museum hehehe :p
Jadi, awal-awal menikah dulu, rasanya memang berbunga-bunga. Semua terasa romantis. Lama-lama sifat asli muncul, trus keromantisan bergeser jadi kekonyolan yang aneh-aneh (menurut versi kami). Suami kamu romantis? Atau lebih banyak konyolnya? :p

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #10 - Memberi Alternatif Untuk Bocah

Assalamu'alaikum,
Terasa banget begitu anak mulai bisa ngomong, ibuk harus putar otak tiap kali anak punya keinginan yang 'timing'-nya nggak sesuai menurut ibu. Benar-benar butuh ilmu komunikasi produktif untuk bargaining dengan bocah. Karena kalau nggak, tentulah akan berakhir dengan tangisan. Atau kalau terlalu banyak dilarang, belum tahu nanti efek jangka panjangnya gimana bagi bocah. Jangan sampai ia jadi suka takut untuk menyampaikan pendapat, atau melemahkan kepercayaan dirinya, atau membunuh kreativitasnya. Tantangan bagi ibu yaaa...

Misalnya hari ini, setelah mandi pagi, Z ingin main cat air. Kalo Zaki main cat, sudah pasti itu cat bakal dilukis-lukis ke tangan dan kakinya, lalu pernah juga ditumpahkan + diratakan ke lantai. Di situlah ibu merasa sedih (harus ngepel dan lap-lap) tapi juga pengen ketawa. Nah. Karena sedang ada agenda lain, ibu bilang aja, "Zaki, main catnya nanti sore aja ya sebelum mandi. Karena Zaki sudah mandi, kita mau ke rumah eyang, Zaki mau tulis-tulis pakai crayon aja ya?" "Ayooon (baca: crayon)," balas Zaki. Lalu dia lukis-lukis pakai crayon.

Lalu sedang nunggu GoCar datang di halaman rumah, ehhh Z minta siram-siram air. "Zaki, kita sedang nunggu mobil datang, nggak bisa siram-siram sekarang ya. Siram-siram bikin baju basah, kalau basah, Zaki nggak boleh naik mobil. Zaki mau main sapu-sapu dulu sambil tunggu mobil datang?"

Berbicara sama bocah 19 bulan ini, ibu harus selalu memberi alasan dan memberi alternatif pengganti untuk keinginannya. Harus kreatif ya mak!

Komunikasi dengan Suami
Di grup kelas Bunda Sayang hari ini, topiknya adalah perbedaan kebutuhan bicara wanita dan pria. Wah pas banget! Dalam sehari, rata-rata wanita butuh mengeluarkan 21.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Makanya kalau seorang wanita di rumah aja dengan anak kecil, sudah untung kalau bisa menggunakan 2.000-3.000 kata. Masih ada sisa 18.000 kata yang butuh disalurkan. Kapan lagi kalau bukan ketika suami pulang ke rumah :))) Padahal suaminya sudah kehabisan jatah kata dan mengharapkan kedamaian di rumah, sementara istrinya terlihat sedang 'mengomel' :)))

Akupun baru sadar. Tadi pagi, aku ngoceh ke suami suatu problematika yang sebetulnya sudah aku selesaikan sendiri solusinya. Lalu suami memberi solusi padaku. "Iya, udah aku kerjain kayakgitu kok," jawabku ketika diberi saran suami.

Lalu sebenarnya aku curhat buat apa? Ya sekedar pelampiasan bicara aja ya sepertinya :p

Siang pun ketika habis ada permasalahan dengan orderan taxi online, aku lapor ke suami. Karena aku telat keluar rumah 4 menit setelah taxi online datang, aku ditinggal, orderanku di cancel pak-nya. "Ibu kelamaan keluar, saya udah nunggu dari tadi!" Katanya ketika kutelpon parkir dimana. Ya Allah baru juga 4 menit pak, saya kan bawa anak kecil T_T Dalam hatiku bergumam begitu. Tapi aku cuma minta maaf saja ke paknya, sebelum dia tutup telpon.

Setelah aku curhat ke suami, bahwa aku cukup sedih dengan kejadian itu, suami bertanya, "Trus gimana?"

"Ya gampang sih, aku langsung order lagi, alhamdulillah dapat driver yang baik dan mobilnya bersih," jawabku.

As simple as that. Wanita seringkali bukan butuh solusi. Ia hanya butuh untuk didengarkan. Makanya ketika dapat materi tentang perbedaan pria dan wanita, aku merasa tepat sekali pembahasannya. Memang sudah fitrah, otak wanita dan pria diciptakan berbeda. Sekarang tinggal berpikir gimana cara memanfaatkan 21.000 kata itu menjadi kata-kata yang bermanfaat, bukan gosip, bukan ngomel-ngomel :D

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 13 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #9 - Sepi di Rumah

Assalamu'alaikum,
Hari Senin, pak suami rencana ada buka bersama di kantornya. Wah, aku bakal buka puasa berduaan bocah di rumah nih, pikirku.

Sejak awal Ramadhan, buka puasaku selalu ada teman. Entah sedang di rumah ibu di Surabaya, sedang di rumah mertua di Jakarta, atau kalaupun di rumah sendiri, suami selalu pulang cepat dari kantor dan kami bisa menyiapkan buka sama-sama.

Lalu kepikiran buka puasa berdua bocah 19 bulan, kok sepi yaaa... Padahal jaman masih belum ada anak sih sendirian gak masalah juga hehehe. Sempat terpikir ikut ngeluyur buka di luar, tapi aku nggak siap menghadapi macetnya Jakarta di jam buka puasa. Plus, aku dan bocil lagi batuk pilek. Lebih baik di rumah, kan?

Makanya dari pagi, bocil sudah kukondisikan bahwa kami hanya berdua aja hari ini. "Nak, nanti bapak pulangnya malam, Zaki nggak usah nunggu bapak ya. Zaki main berdua aja sama ibu."

Beberapa kali kalimat ini aku ucapkan. Alhamdulillah, Zaki kooperatif. Nggak ada rewelnya. Eh sempat rewel sekali sih waktu pagi aku bawa ngaji ke rumah ibu pengajian, karena dia nggak familiar dengan tempat dan orang-orangnya, plusss lagi meler, jadi minta pulang.

Ketika bocah bobok siang, ibu bisa masak sop kaldu ayam kampung buat bocah. Lalu setelah dia bangun tidur, kami jalan-jalan berdua ke warung mi ayam dekat rumah, beli menu buka puasa untuk ibunya.

Hepi-hepi aja sih kita berdua ya nak :D Lalu lanjut main di rumah, sampai bapak pulang dehhh jam 8.30 malam.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #8 - Clear and Clarify

Assaalamu'alaikum,
Hari ini, berhubung tukang masak (baca: saya) telat bangun sahur, orang serumah juga pada kebablasan nggak sahur. Gara-gara kemarin tidur terlalu malam sepulang dari bukber nun jauh di sana, tidur jadi pulas banget, alarm pun nggak dengar.

Imbasnya puasa jadi agak lemas dan kepalaku sakit sekali, mungkin karena kurang gizi hahahha...

Buat hemat energi (dan mumpung libur), suami pun tidur sore lamaaaa sekali. Susah sekali kubangunin. Sampai aku ngomel-ngomel banguninnya karena sudah masuk waktu sholat ashar, mau minta tolong kirim takjil ke masjid. Tapi makin aku bangunin dengan ngomel, suami makin ngomel juga sambil narik selimut. "Iyaa bangunin 5 menit lagi," katanya. Di sini, lupa banget menerapkan komunikasi produktif :( Pada akhirnya dia bangun sih, tapi bete. Ya untungnya beberapa menit kemudian berangkat sholat dan hilang bete-nya.

Sorenya kami buka puasa di rumah mertua. Suami rencana pengen sholat tarawih di masjid raya beberapa kilometer dari rumah mertua sementara aku menunggu di rumah. Tapi sakit kepalaku makin menjadi, mau ngajak pulang aku nggak enak, masa mau menghalangi ibadah T_T Kalau aku, Ramadhan ini selalu tarawih di rumah karena aku dan bocil sedang flu berat, plus jam ngelonin bocil.

Suami yang lihat aku bersandar loyo, nanyain, "Yak, mau langsung pulang aja atau nunggu aku sholat tarawih? Kamu yang tau kondisi badanmu lho..."

Aku bisa aja sih bilang, "Terserah kamu..." Atau "Menurutmu gimana lho??" Sambil berharap perasaan sakitku dimengerti oleh suami. Tapi, kuputuskan untuk bilang, "Pulang aja yuk? Pingin istirahat di rumah, bocil juga udah ngantuk. Kamu nggak papa tarawih di rumah?"

Akhirnya kami pun pulang. Makasih yaa pak suami, hari ini mengalah demi istri... Untuk bicara sama laki-laki, memang nggak bisa sekedar kasih kode-kode lalu berharap dimengerti. Lebih baik bicara jelas dan gamblang inginnya bagaimana, tentu dengan intonasi yang baik yaaa :)

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Minggu, 11 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #7 - Obrolan di Mobil

Assalamu'alaikum,

Sabtu ini, ada 2 agenda keluarga kami: Bapake mau betulin laptop ke Ambassador dan sore ada buka bersama di rumah teman di Tangerang. Wow jauh yaaaa. Aku putuskan supaya nggak capek, baby Z dan aku istirahat di rumah aja ketika bapake ke Ambassador. Karena emaknya Zaki banyak urusan di rumah dan bapake juga ada kegiatan di luar, kami hampir-hampir nggak ada waktu untuk ngobrol bersama yang enak, padahal hari libur.

Bukber TI '05 ITS cabang Jakarta, Sabtu 10 Juni 2017

Ketika berangkat ke buka bersama, meskipun semobil, kami juga nggak sempat ngobrol serius karena bapake sibuk ngebut dan lihat google maps. Sementara aku? Sibuk jagain Zaki yang lompat-lompat di mobil, minta nyemil, pengen lihat truk dan mobil-mobil di jalan, pengen gelantungan, ahhh banyak lah :))) Sampai-sampai aku mabok darat, mual-mual keringat dingin akibat terlalu banyak tingkah di mobil. Untungnya nggak sampai membatalkan puasa, alhamdulillah...

Sepulang dari buka bersama, barulah suasana kondusif di dalam mobil. Baby Z tidur di mobil di pangkuan ibunya. Sehingga terciptalah waktu yang tepat untuk quality talk bersama suami :) Kami pun tidak dalam kondisi pegang gadget sehingga diskusi lebih fokus.

Banyak yang kami obrolkan, mulai dari hal yang urgent kepepet: mau memberi takjil apa untuk di masjid besok (besok giliran keluarga kami menyiapkan takjil masjid dekat rumah), mau beli di mana, diskusi masa depan seputar keinginan suami sekolah S2 (aamiin), soal investasi rumah, soal pekerjaan.

Kadang memang butuh sih obrolan ringan dan dalam (ciehhh) berdua saja. Obrolan di mobil, jadi salah satu waktu yang tepat. Asalkan ketika anak bobok dan lagi nggak sibuk dengan gadget / google maps ya :D

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Jumat, 09 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #6 - Nggak Mau Sedot Ingus

Assalamu'alaikum,
Hari ini, Zaki sedang agak rewel. Pileknya yang sudah berlangsung seminggu, belum sembuh-sembuh juga. Sudah beberapa hari terakhir ia menolak untuk disedot ingusnya (pakai alat), bahkan dilap aja gak boleh =_="
Kayak gini nih alat sedot ingusnya Zaki. Dulu awal-awal pilek mau pake dengan ikhlas, lama-lama nolak. Sumber gambar: asibayi.com

Jadi tiap aku mengeluarkan alat sedot ingus, Zaki langsung kabur dan bilang, "Nggaauuu..." (Nggak Mau) sambil geleng-geleng dan mukanya mau nangis. Perdebatan pun berlangsung. "Zaki, ingusnya ibu sedot ya supaya napasnya enak, supaya bisa nyusu juga..." Jawabnya tetap, "Ngaaauuu.." Sambil semakin menangis setiap aku membujuknya.

Puncaknya, saat dia meminta cemilan roti marie. Sejak batuk pilek, aku memang melarang ia makan cemilan, apalagi yang kriuk kriuk. Zaki pun paham bahwa ia batuk = nggak boleh nyemil. Tapi kali ini ketika dia sakau pengen roti marie, aku bilang aja, Zaki boleh makan cemilan ASALKAN mau disedot ingusnya. Aku belajar menggunakan pilihan sebagai bentuk komunikasi produktif.

Drama pun terjadi. Z keukeuh minta cemilan tapi nggak mau sedot ingus. Ibu bilang, kalau nggak disedot ingus ya nggak dikasih cemilan. Sampai Z nangis-nangis :(

Di sini ibu belajar konsisten sih dengan pilihan yang ibu kasih. Meski Z nangis meraung sampai didengar tetangga, kalau nggak sedot ingus ya nggak dikasih.

Jadi ingat pesan mbak Farida fasilitator kelas Bunda Sayang, dalam berkomunikasi produktif, nggak mesti harus dengan intonasi ramah. Ketegasan bisa aja diperlukan. Yang nggak boleh adalah intonasi meninggi karena emosi.

Ibu pun bertanya, kenapa Zaki nggak mau disedot ingusnya? Apakah sakit? "Akiiit..." kata Zaki sambil merengek. "Nanti kalau mau sedot ingus, ibu pelan-pelan ya sedotnya..." "Ngauuuu..." Tetap menolak.

Pada akhirnya, berhasilkah ibu sedot ingusnya? Berhasil, dengan paksaan. Beberapa saat sebelum tidur siangnya Z, kepala & tangannya Zaki ibu pegangin, lalu tangan kanan ibu pegang alat sedot ingus. Nangis itu pasti. Tapi ibu udah gak tahan dengar suara srat srot ingusnya Z yang tertahan di dalam hidung T_T Hasil sedot ingusnya banyak dehhh, lega lihatnya. Setelah nangis 5 menit, Zaki terdistraksi sama mainan, lalu tidur siang.

Trus ibu lupa ngasih imbalan roti marie, dan Zaki pun juga lupa tadi pengen roti marie. Yawes lah yaaa... Nyemil yang sehat-sehat aja pas batuk ya nak.. Buah, ato makan nasi lauk pauk sekalian.

Komunikasi dengan Pasangan
Ada satu koper suami dari luar kota yang belum dibongkar & dibereskan isinya, terbengkalai di ruang tamu. Kalau nggak dibereskan istrinya, mungkin itu koper bakal tetap di sana terus. Tapi istri lagi nggak ada energi beres-beres koper. Puasa, ngurus anak, nyusuin, beres-beres rumah, lemes bro (ah alasan aja sih). Intinya, pengen pak suami yang bongkar kopernya sendiri.

Jadi menerapkan eye contact aja ketika ngobrol santai. Minta suami sebelum pergi besok membereskan kopernya dulu. Sambil dibercandain, kalo koper gak beres, gak boleh pergi lho yaaaa hehehe. Iya, kata pak suami.

Moga besok beneran diberesin ya :D aamiin.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #5 - Takut Vacuum Cleaner

Assalamu'alaikum,
Hari ini, sesuai jadwal, ada mbak Go Clean datang ke rumah. Kali ini aku pilih paket biasa Rp 45.000 per jam. Dua kali pesan sebelumnya, aku pilih paket ekonomis: lebih murah tapi peralatan harus menyediakan sendiri. Memang beda harganya lumayan sih, tapi sepertinya lebih nyaman kalau Go Clean-nya bawa alat sendiri. Kita jadi terima beres, nggak perlu menyiapkan ember, lap, sapu, pel, dan obat-obatan pembersih.

Ternyata peralatan yang disiapkan Go Clean lengkap, ada vacuum cleaner-nya juga lohhh!! Jadi worth the price banget deh. Sofa-sofa dan kasurku ikut disedot debunya. Lumayan, aku kan nggak punya vacuum cleaner di rumah :D 

Namun baby Z sejak kedatangan mbak Go Clean selalu menggelendot padaku. Yah biasanya memang kalau aku kerja di rumah, dia pasti nggelendot sih. Ngepel, masak, belanja di tukang sayur, semua sambil gendong. Buibuk yang lain, ada yang begini juga? Anaknya nggak bisa disuruh anteng main sendiri :)) hahaha. Ini ketambahan ada orang asing yang datang ke rumah pula. Makin menjadi deh nggelendotnya.

Puncaknya adalah ketika mbak Go Clean menyalakan vacuum cleaner. "Nguuuuuungggg.." Terdengar deru suaranya. "Atuuuuttt..." rengek baby Z sambil memelukku. Lucu amat sih ni bocah :))) Eh tapi harus ber-empati dong ya, dia 'kan beneran ketakutan. Baby Z memang seringkali takut dengan suara-suara, misal suara gonggongan anjing dari kejauhan, suara orang turun dari tangga (bukan takut tapi kaget langsung cari orang untuk dipeluk), suara cicak...

"Zaki nggak usah takut, itu 'kan cuma suara vacuum cleaner.."
"Atuuuttt..." Zaki makin kencang memelukku..
Oke nggak mempan. Sesuai teori, menyuruh ia nggak usah takut berarti memintanya menyangkal perasaan. Nggak ada empati sama sekali.

"Suara vacuum cleaner kencang ya Zaki? Debu-debunya disedot. Vacuum ini salah satu alat bersih-bersih, seperti sapu, pel..." Baby Z diam saja melihatku. Mencoba memahami kata-kata ibunya. Tapi dia lebih tenang. "Ayo kita main pancing-pancing ikan sambil nunggu mbaknya pakai vacuum cleaner.." Lalu kami pun bermain bersama, sementara mbak Go Clean menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu masuk kaidah yang manakah percakapan barusan? Hahaha akupun bingung. Entah dengan intonasi yang tepat, mencoba berempati, atau fokus pada solusi, bukan masalah.

Alhamdulillah hari ini mood ibu dan Zaki sangat terjaga, nggak ada nada tinggi sedikitpun, baby Z anak baik :)

Komunikasi dengan Pasangan
Menjelang waktu berbuka puasa, alhamdulillah suami sudah pulang dari kantor. Sementara aku menyiapkan masakan di dapur dan cuci-cuci peralatan masak, suami nonton kajian di Youtube sambil menemani bocil main. Ehhhh tau-tau bocahnya eek.

Dalam 19 bulan usia bocah, kegiatan cebokin bocah 95%-nya dikerjakan olehku. Suami mengerjakannya kalo kepepet doang, dan itu sangat jarang :D Kalo kurang kepepet, dia bisa aja bilang, "Tunggu ibu yang cebokin ya nak, bapak masih ada perlu ini..." :)))

Tadi, waktu yang sangat tepat untuk meminta suami bantu cebokin karena aku sedang ada urusan dapur. Jadi aku bilang aja, "Bapak tolong cebokin Zaki yaaa..." "Eeeemmmmmm.. iii..iyaaa..." Kata bapake. Bukan contoh komunikasi yang produktif ya :p? Tapi suami kemudian segera beranjak dari duduk santainya dan meladeni bocil yang ingin segera diganti popoknya.


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #4 - Ayo bobok siang nak!

Assalamu'alaikum,
Masih berusaha konsisten untuk menulis 1 tantangan setiap harinya, demi lulus kelas Bunda Sayang-nya Institut Ibu Profesional yang kita cintai :D Jangan bosan-bosan mampir ke blog yaaa hehehe. Tantangan ini bakal ada minimal 10 hari tiap bulan, selama 1 tahun ke depan. Sesuai kurikulumnya Bunda Sayang. Semoga istiqomah, aamiin!

Melanjutkan ilmu Komunikasi Produktif, hari ini, baby Z super ngantuk karena bangun kepagian, tapi nggak mau tidur-tidur juga sampai jam 11.30 siang. Memang balita satu ini agak susah tidur sih dari kecil, harus dikeloni terus sampai emaknya ikut ketiduran, baru deh dia masuk ke alam mimpi :D Hari ini, sudah bolak balik mimik ASI, dikelonin, ehhh tetap aja minta turun kasur dan keluar kamar.

Oke jam 11.30 diputuskan, baby Z harus tidur. Kita ambil jurus komunikasi produktif Katakan Apa Yang Kita Inginkan, bukan yang tidak diinginkan.

Jadi, daripada aku menyanyikan nina bobok "Kalau tidak bobok, digigit nyamuk..." (itu kan tidak diinginkan), aku sampaikan saja bahwa Zaki sebaiknya bobok, karena Zaki butuh istirahat. Istirahat itu penting supaya Zaki bisa segera sembuh batuk pilek. Zaki boleh bawa mainan ke kasur. Lalu dia pilih mainan kereta Thomas.

Dikelonin, bobok dehhh jam 11.45. Alhamdulillah!!! Emak bebas!! Eh enggak ding, emaknya ikut ketiduran :)))

Komunikasi Dengan Pasangan
Hari ini nggak ada obrolan penting sih. Adem ayem saja :D Jadi bingung apa yang mau dipraktekkan hehehehe. Oiya, paling juga obrolan untuk memutuskan kami akan pulang ke rumah (beberapa hari terakhir, kami menginap rumah mertua karena kondisi badan sedang nggak fit - dan mertua happy kalau rumahnya rame ada cucu :P). Oiya, sebisa mungkin ketika ngobrol, aku terapkan Eye Contact sih. Dan memang terasa lebih enak ngobrolnya, daripada kalau ngobrol sambil lalu.

Lalu untuk menghindari kata, "Terserah pulangnya kapan", "Terserah kamu..", "Tergantung enaknya kamu aja.." yang dari kemarin selalu terjadi, akupun sudah memesan Go Clean untuk bantu beres-beres rumah besok. Maklum nggak ada ART dan rumah udah ditinggal lebih dari seminggu - habis mudik ke Surabaya, lanjut nginap rumah mertua sepulang ke Jakarta. Daripada aku bertindak jadi superwoman beres-beres plus nyetrika sendiri padahal badan masih nggak enak karena batuk pilek parah, kalo ada rejeki, panggil aja jasa untuk delegasi kerjaan rumah :D

Yah intinya, karena sudah panggil Go Clean untuk pagi besok, mau nggak mau malam ini harus pulang ke rumah hehehe. Yawes segini dulu tsurhatnya. Lanjut besok yaaa...

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #3 - Lempar Barang?

Hari ini, alhamdulillah nggak ada kejadian Z melepeh-lepeh makanan. Entah karena makanan hari ini kesukaan dia semua, atau efek komunikasi kemarin ya :D

Tapi namanya toddler, belum lengkap hari-hari tanpa kejadian yang butuh strategi komunikasi. Eksplorasi terjadi dimana-mana. Hari ini Z sedang suka lempar barang. Magnet kulkas dilempar, pintu kulkas dibanting. Oiya aku belum cerita ya kalau Z hobi banget buka kulkas dan ngintipin isinya, diabsen satu-satu mana yang boleh dia makan :)))

Ketika dia banting pintu kulkas, kalau diminta buka kulkasnya pelan-pelan karena kulkas bisa rusak, Z tetap saja melakukannya. Mungkin di benak anak balita ini, emang apa ruginya bagi dia kalau kulkas rusak? Iya gak yaaa...

Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #2 - Melepeh Makanan?

Melanjutkan tantangan Komunikasi Produktif dari hari sebelumnya, mengenai Komunikasi Dengan Anak.

Hari ini Z (19 bulan) minta apel, tetapi seperti biasa, setelah makan 2-3 potong, selanjutnya dilepeh-lepeh.

Kebiasaan melepeh-lepeh ini sudah berlangsung beberapa bulan sih. Bisa karena dia sudah kenyang, nggak suka makanannya, atau memang lagi iseng saja (kalau hanya iseng, suapan berikutnya dimakan tanpa dilepeh). Kadang berhasil dinasehati, kadang juga enggak. Belum ketemu polanya.

Minggu, 04 Juni 2017

Tantangan Bunda Sayang #1: Komunikasi Produktif Day #1

"Zaki, jangan pegang listrik!!"
"Sampahnya kotor nak, jangan dibuat mainan!!"
"Nak, mandinya udah ya, boros air nggak baik.." sambil mematikan kran dan berakhir dengan tangisan yang pecah karena bocah masih pengen main air.

Kalimat larangan semacam itu sering sekali meluncur dari mulutku. Usia bocah yang sudah masuk toddlerhood (kini 19 bulan), membuatnya ingin eksplorasi berbagai hal, dari yang positif sampai negatif (baca: berbahaya atau kotor-kotor menurut ibunya).

Kadang aku bingung bagaimana melarang Z melakukan hal-hal yang berbahaya atau bikin kotor. Pernah dengar bahwa kalau anak dibilang 'jangan', ia justru akan melakukannya. Namun mengubah kata 'jangan' menjadi hal yang positif cukup menantang. Sering kali ketika ada kejadian, otak belum sempat berpikir, kata-kata larangan sudah muncul duluan.

Nah, pada kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional yang kuikuti, pas banget materi pertamanya adalah Komunikasi Produktif. Baik dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak. Pasca materi, kami 'mahasiswi' diberikan tantangan 10 hari untuk mempraktekkan ilmu yang kami pelajari.

Komunikasi Dengan Anak - Day #1
A. Keep Information Short & Simple
B. Kendalikan intonasi suara. Verbal 7%, intonasi suara 38%, bahasa tubuh 55%.
C. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
D. Fokus ke depan, bukan masa lalu
E. Ganti kata 'tidak bisa' menjadi 'bisa'
F. Fokus pada solusi, bukan masalah
G. Jelas dalam memberi pujian/kritikan
H. Ganti nasihat menjadi refleksi pengalaman
I. Ganti pertanyaan interogaso menjadi pernyataan observasi
J. Ganti pengalihan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
K. Ganti perintah dengan pilihan

Poin yang dipilih: B (7-38-55)
Pagi ini lagi-lagi Z mandi lamaaa sekali, air kran harus menyala terus, kalau dimatikan ia marah.
Akhirnya ibu membungkuk sejajar Z (bahasa tubuh), lalu bilang bahwa boros air itu nggak baik. Ibu juga bilang dengan lembut (intonasi), Z sedang batuk pilek, sebaiknya jangan terlalu lama kena air. "Tangan Z sudah keriput, yuk kita pakai handuk. Ibu matikan keran airnya ya.."

Hasilnya? Z tetap protes sih setelah keran mati. Namun ia segera minta pakai handuk :) Dramanya nggak perlu panjang-panjang deh, alhamdulillah.

Siangnya, Z kembali melakukan hal yang membuat ibu kaget ketakutan dalam hati. Ia menemukan kabel speaker dan berusaha mencolokkannya ke steker listrik. Sontak ibu lari ke arah Z. Masih keceplosan langsung bilang "Listrik nggak boleh buat mainan nak..!!" Tapi Z tetap bermain.

Ibu sejajarkan badan lagi dengan Z. Berusaha menatap matanya, pegang tangannya. "Zaki, listrik ini bukan mainan anak-anak. Setrum listrik bikin sakit, lebih sakit daripada panas setrika (beberapa hari sebelumnya ia pegang setrikaan T_T)." Saat dibilang ini, ia pun melepaskan genggamannya dari kabel. "Zaki boleh main yang lain, tapi jangan listrik ya.." dan Zaki pun main yang lain. Fiuhhh, ibu lega!

Semoga besok lebih lancar lagi berkomunikasi produktif dengan bocah :)

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 17 Mei 2017

Membawa Baby Z Pergi Ke Jepang

Assalamu'alaikum!
Musim semi kali ini, aku dapat rejeki membawa baby Z ke Jepang, diajak kakung dan utinya Z. Alhamdulillah, tercapai juga impian melihat bunga sakura :) Kebetulan pak suami juga sedang dinas ke Jepang, jadi meskipun beda tujuan, kami sempat 1 hari bertemu dan bermain saat di Tokyo.


Pada postingan kali ini, aku nggak akan panjang lebar menjelaskan itinerary, tetapi lebih ke cerita bagaimana pengalaman bawa bayi ke Jepang yang penerbangannya cukup panjang (7 jam), dan medannya cukup berat (naik turun tangga di stasiun Jepang). Karena jujur aja, sebelum berangkat, ibunya baby Z ini sempat deg-degan bawa balita ke sana, takut rempong hihihi.

Jadi, berikut ini adalah kesimpulan perjalanan kami ke Jepang, beserta tips-tipsnya.

1. Barang Bawaan ke Jepang

Meminimalisir barang bawaan menjadi kunci supaya perjalanan bisa nyaman. Karena di luar negeri nggak ada porter seperti di Indonesia, dan biaya naik taxi cukup mahal, terpaksa harus naik kendaraan umum atau kereta 'kan? Kebayang kalo kopernya besar dan banyak, harus diangkut ke atas kereta, plus kadang stasiun nggak ada lift/eskalatornya. Bedeeeehhh encok lah mak.

Apalagi kali ini pergi nggak sama bapaknya baby Z, otomatis barang bawaanku dan Z menjadi tanggung jawabku, meski sebagian dibantu kakungnya. Karena eyang-eyang masa' bawa berat-berat. Kakung memutuskan pakai carrier ala backpacker, sehingga tangannya masih bebas untuk membantu bawa koperku jika dibutuhkan.

Kami juga bawa 1 mini rice cooker, beras 3 kantung plastik, abon, dan mi instan hehehe. Targetnya sih, ransum harus habis supaya pas pulang masih ada sisa space di koper.

Total barang bawaan kami:
Tia: 1 buah koper ukuran sedang, 1 sling bag super kecil untuk bawa HP, paspor & uang (selalu nempel di badan), 1 stroller, 1 diaper bag untuk di kabin, dan 1 baby carrier Boba menggendong baby Z
Kakung: 1 buah carrier backpack, 1 ransel isi paspor dompet dan kamera
Uti: 1 buah koper ukuran sedang, 1 ransel kabin, 1 sling bag untuk bawa HP, paspor dan uang

Kebayang nggak sih, rempongnya :p Itu aja udah paling minimal menurut kami, karena musim seminya masih (agak) dingin (menurut orang Jakarta dan Surabaya wkwkwk), kami harus bawa coat/jaket tebal yang cukup bikin koper penuh.

Sempat jalan-jalan di taman dengan koper
Oiya, beberapa kali kami menggunakan jasa coin locker di stasiun, yakni ketika sudah harus check out atau belum bisa check in apartemen tapi pingin jalan-jalan tanpa geret koper. Proses mencari loker kosong pun bisa memakan waktu hingga hampir 1 jam karena koper kami ada yang besar, harus mencari loker ukuran besar (biasanya penuh). Untungnya di stasiun besar, jasa coin locker tersebar di beberapa titik, jadi bisa cari yang lain lagi. Kalau kopernya kecil-kecil seukuran kabin, saat itu banyak banget loker yang tersedia.

2. Bawa Stroller atau Carrier?

Setiap traveling, 2 perangkat ini jadi barang yang wajib kubawa. Jadi ya, aku bawa dua-duanya. Meskipun stroller jarang dipakai karena si bocah lebih suka jalan daripada duduk manis. Tapi cukup bermanfaat untuk bawa tas-tas yang seringkali melelahkan pundak. Tas perlengkapan bayi, perbekalan untuk jalan seharian, dan kamera 'kan cukup berat yah.

Secara ajaib, beberapa kali baby Z tertidur di stroller saat jalan-jalan siang (padahal di Indonesia hampir gak pernah tuh baby Z tertidur sendiri di stroller). Mungkin karena udaranya dingin, jadi dia ngantuk :p.



Sedangkan carrier dipakai ketika tidur sore dan kalau lagi butuh mobilitas tinggi di stasiun kereta. Ada beberapa stasiun yang nggak memiliki elevator dan eskalator sehingga kami terpaksa naik turun tangga sambil gotong stroller. Repot? Iya. Tapi masih bisa dilakukan kok, thanks to stroller Joie Float yang beratnya cukup ringan dan gampang dilipat. Cukup 1 langkah, si stroller terlipat, tinggal digotong. Praktis dilakukan bahkan sambil gendong bayek. Nanti kapan-kapan aku tulis review tersendiri deh untuk stroller ini. Stroller sejenis yang bisa 1 langkah langsung terlipat/terbuka contohnya Aprica Karoon, Jette Jimmy, Cocolatte New Life, dan Babyelle Citilite.

3. Makanan Balita Selama di Jepang

Dari Indonesia, aku membawa beberapa kotak susu Ultra Mimi (buat sogokan ketika bocah rewel di jalan), camilan bayi ('kerupuk' khusus bayi), dan beberapa sachet bubur instan yang teksturnya agak kasar untuk momen-momen kepepet. Kami juga bawa beras mentah, bumbu sop Bamboe, mi instan, serta abon.

Ternyata semua yang dibawa sangat kepake! Susah sekali cari makanan halal di awal-awal kami di Jepang (waktu itu belum install apps Halal Navi). Sampe hotel sudah malam, capek, belum dapat makanan pula. Si bayek dibuatkan bubur instan deh, sementara ibu dan eyang-eyangnya bikin Indomie hehehee.

Untuk sarapan, kami menanak beras dan makan nasi pake abon. Trus siangnya beli onigiri salmon seharga 130 yen (sekitar Rp 16.000). Melas yoooo....

Bekal masakan sendiri: ikan salmon, tahu, telur dadar, tumis taoge
Itu cerita sebelum menemukan supermarket dan resto halal. Saat di Osaka, kami menemukan supermarket dekat apartemen. Ibuku langsung kalap belanja ikan segar dan sayuran, masak besar di hotel. Siang pun membawa bekal. Malam masak lagi di hotel :D

Untuk cemal-cemil bayi, sering juga beli buah pisang, roti, atau kerupuk beras di minimarket. Beli jus buah segar di gerai jus yang bersih di stasiun. Juga pernah beli kentang goreng McD. Pokoknya harus selalu ada makanan, jangan sampe baby Z rewel karena lapar.

Oiya, ini ada poster yang kami print untuk ditanyakan di restoran/foodstall selama di Jepang, untuk memastikan makanan aman dari bahan tak halal.

4. Itinerary Super​ Fleksibel

Eyang-eyangnya baby Z sudah bilang, ke Jepang kali ini dibawa santai aja. Nggak ada target itinerary yang harus ditepati. Itu sebabnya kami nggak ikut tur. Nggak kebayang kalo ikut tur, kami diburu-buru waktu. Pagi harus sudah siap, foto di situ 5 menit lalu masuk bus, makan ditunggu orang-orang.

Tak jarang kami baru 'berhasil' keluar apartemen jam 10-an pagi. Baby Z aja baru bangun jam 9 pagi di sana (setara jam 7 pagi Indonesia). Belum nyiapin dia mandi, sarapan, nyiapin bekal... Apalagi saat harus berpindah kota, nambah lagi rempongnya karena harus packing lagi.

Dalam sehari, mungkin maksimal kami berkunjung ke 2-3 objek yang berdekatan. Sebagai contoh, saat di Kyoto kami mengunjungi Yasaka Shrine, Chuon In Temple, dan Maruyama Park saja dalam sehari (itu objeknya hanya bersebelahan lho), lalu malamnya sudah naik kereta menuju Osaka. Di Osaka pun objek yang kami kunjungi hanya Osaka Castle (siang) dan Dotonburi (sore menuju magrib). Malamnya sudah sampai di apartemen untuk makan malam dan istirahat.

5. Jangan Lupa Ganti Diapers!

Pernah karena keasikan jalan-jalan dari pagi sampai sore, lupa menyempatkan mampir ke toilet dengan diaper changing station. Sampai-sampai diapersnya baby Z penuh pipis trus bocor ke celananya. Duh nakkkk piyeee toh ibukmu ini -_-" Maafkan yaaa nak!

Pertokoan besar biasanya ada toilet dengan fasilitas diaper changing station-nya. Tapi kalau di objek umum belum tentu ada.

Nah, pengalamanku ganti popok pas bayi (maaf) pup, beberapa kali nemu toilet yang susah buat aku cebokin Z. Terpaksa cebokin di wastafel ketika nggak ada orang yang lihat. Gimana coba mau cebokin sementara cebokannya pakai tombol-tombol dengan air yang mancur dari dalam toilet? Huahahaha. Pernah juga cebokin hanya dengan tisu basah yang sangat banyakkkk di pinggir taman, ditutupin eyang-eyangnya baby Z. Kalau kasusnya seperti ini, harus siap sedia tisu basah yang banyak dan kantong keresek untuk buang semua sampahnya.

Nyaman sekali ketika di mall besar ada toilet dengan diaper changing station, ada meja ganti popok, ada wastafelnya. Bahkan ada dudukan untuk bayi kalau emaknya mau buang air tanpa harus menggendong si bayi. How thoughtful you are, Japanese people :)

6. Penerbangan Malam vs Siang

Ketika berangkat dari Indonesia menuju Jepang, penerbangan panjang selama 7 jam dimulai dini hari pukul 00 WIB. Sudah pasti, itu jam tidurnya baby Z. Baby Z bahkan mulai tidur di bandara Denpasar sejak jam 9 malam di gendongan, karena strollernya masuk bagasi. Lumayan pegal juga leherku saat menunggu pesawat sambil menggendong bayi tidur, karena kursi tunggu bandara kan sandarannya hanya sebatas setengah punggung.

Saat boarding, karena perubahan posisi dan ribet menata barang di kursi pesawat, memakaikan sabuk ke baby Z, ia pun terbangun. Tengah malam bokkk. Pernah baca di forum-forum, ibu-ibu yang bawa bayi terbang tengah malam ternyata harus meladeni bayi yang melek semelek-meleknya. Akupun berdoa supaya baby Z tidur lagi hahaha. Sambil terus disusui, akhirnya alhamdulillah ia lanjut tidur huhuhu.

Penerbangan pun aman dan damai dengan bayi tidur di pangkuan. Oiya baby Z sudah nggak diperbolehkan tidur di bassinet pesawat yang bisa disediakan untuk bayi, karena Z sudah lebih dari 9 kg. Nggak aman, kata bu pramugari.

Nahhh. Ketika balik ke Indonesia dari Jepang, jadwal pesawat kami adalah jam 9 pagi waktu Jepang. Baby Z hanya tidur 1 jam di awal penerbangan. Selanjutnya MELEK. Nonton kartun, nyemil, keliling kabin pesawat, nongkrong di dekat toilet, keluar masuk toilet (karena Z SUKA BANGET lihatin kaca di dalam toilet pesawat, haishh..), nyemil lagi, baca buku, main sama kakung uti... Sampai sempat cranky juga karena bosan di pesawat.

Nggak kebayang kalau penerbangannya lebih dari 7 jam, mati gaya deh emaknya :)))) Kesimpulannya, aku lebih suka flight malam, ketika jam tidur bayi. Karena emaknya bisa ikut numpang tidur hehehe.

--
Pada akhirnya, kalau dipikir-pikir memang rempong-rempong sedap sih bawa balita ke luar negeri. Tapi seru banget dan jadi pengalaman nggak terlupakan. Oiya, selama di Jepang, tiba-tiba kosakata baby Z bertambah banyak. Bisa bilang "bunga" dan "bis".

Makanya, bahkan sejak pulang dari Jepang, emaknya sudah merindukan jalan-jalan lagi sama baby Z dan keluarga hahahaa. Mari kita menabung deh. Emak-emak sekalian punya tips jalan-jalan sama bayi/balita? Atau kota mana yang menyenangkan buat pergi bawa bayi :D

Review Comfi Breathing Pillow: Serius Bantal Bisa Napas?

Assalamu'alaikum bloggers...

Ibu-ibu pasti pernah mengalami betapa sulitnya bikin bayi tertidur. Sudahlah susah ditidurkan, eeeh bangunnya cepat banget. Kadang butuh nyusu, kadang ganti popok, kadang kepanasan. Beberapa bayi sepertinya tahan udara dingin. Walau pasang AC suhu paling rendah, masih aja terbangun tidak nyaman karena berkeringat kepanasan :D Hayooo bayi siapa yang seperti anak eskimo begini?


Akupun mengalami masa-masa ketika kepalanya baby Z selalu berkeringat basah ketika tidur. Sampai tiap tidur ada bagian seprai yang basah membulat di sekitar kepalanya. Dulu aku sempat cemas, keringat berlebih ini normal atau enggak. Tapi ternyata wajar kok, bagian kepala bayi memang suhunya tinggi, karena perkembangan otak di awal-awal tahun kehidupannya begitu pesat.


Pentingnya Tidur Untuk Bayi dan Anak

Proses tidur terdiri dari 2 tahap, Non-REM dan REM. Pada tahapan tidur tidur dalam (Non-REM), aktivitas otak masih terus berjalan. Fase Non-REM berperan penting dalam perbaikan sel-sel tubuh dan produksi hormon pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan batita. Sedangkan pada tahapan tidur aktif (REM), metabolisme otak berada pada tingkat paling tinggi sehingga berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan kognitif bayi dan batita.


Ada penelitian terhadap anak umur 8 tahun yang dianalisa dari pola tidur sejak umur 2 tahun. Hasilnya menunjukan bahwa anak yang cukup tidur: lebih dari 62% tidak akan memiliki problem berkonsentrasi dan > 81% tidak memiliki problem sifat agresif. Terbuktilah bahwa selain nutrisi dan kasih sayang, tidur yang cukup merupakan salah satu kunci agar anak sehat, pintar dan bahagia.

Keamanan, Kenyamanan, dan Kesehatan dari Sebuah Bantal Tidur

Sejak menyambut kelahiran bayi, selain kasur bayi, ibu pasti menyiapkan bantal sebagai perlengkapan tidur si kecil. Umumnya newborn menggunakan 'bantal peyang', bantal dengan lubang di tengah untuk menjaga posisi kepala bayi. Namun nggak sembarang bantal yang berlubang di tengah efektif untuk mencegah peyang lho. Yang terpenting adalah orang tua selalu membetulkan posisi kepala bayi supaya nggak terus-terusan menghadap satu sisi. Karena sisi yang paling sering ditidurkan, risiko 'peyang'-nya (flat head) makin tinggi.

Yang berbahaya bagi newborn adalah posisi tidur tengkurap karena ia belum punya kontrol leher dan kepala. Dikhawatirkan, saat tidur tengkurap, hidungnya tertutup sehingga bayi sulit bernapas tapi nggak bisa balik badan sendiri. Baru tahu ada produk Comfi Breathing Pillow yang dibuat dengan teknologi tinggi sehingga teksturnya berpori, breathable. Kalaupun tidur menghadap bantal, bayi masih bisa bernapas.

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita, akupun baru tahu kalau ketinggian bantal yang baik adalah untuk menyangga agar posisi kepala sama seperti ketika kita berdiri. Nggak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Makanya kalau salah posisi bantal, kita sering mengeluh karena leher pegal, 'kan? Ternyata bantal Comfi untuk anak bisa dimasukkan insert lagi lho untuk menyesuaikan ketinggian yang nyaman buat tidurnya. Baru tahuuu ada bantal model begitu.

Selain itu, dari segi kesehatan, sebuah bantal ternyata bisa menjadi penyebab alergi lho. Karena seperti kasur, bantal juga bisa menjadi sarang tungau. Tungau bisa merajalela karena ketika tidur, tubuh kita melepasan sel-sel kulit mati, makanan favorit tungau tuh. Alangkah senangnya kalau bantal bisa dicuci. Nggak semua bantal bisa dicuci lho, ada bahan tertentu yang akan rusak kalau terkena air. Proses menjemur tanpa cuci pun nggak efektif untuk membasmi tungau. Ternyata bantal Comfi washable, bisa dicuci, bahkan airnya akan mengalir karena tekstur bantalnya yang berpori. Bye bye tungau, deh!

Review Bantal Comfi untuk Anak

Setelah menghadiri acara Tokopedia Official Store - BalitaKita, aku berkesempatan mencoba Comfi Breathing Pillow untuk baby Z. BalitaKita merupakan Sole Principal Distributor produk bantal Comfi, the first breathable and washable pillow in the world. Sumpah penasaran banget sih dengan bantal ini, karena beberapa kelebihannya seperti:
  1. Bantal pertama di dunia dengan teknologi 3-D Knitting. Memiliki rongga sehingga nggak bikin kepala anak kepanasan
  2. Kalau anaknya tidur tengkurap, tetap bisa bernapas karena ada rongga di bantal
  3. Mudah dicuci dan dikeringkan
  4. Anti tungau

Sarung bantal bawaan Comfi pun berongga agar memaksimalkan sifat breathable-nya
Penampakan bagian dalam bantal Comfi. Bisa dicuci lhooo...

Slogan Comfi adalah “The first breathable and washable pillow in the world". Akupun membuktikan dengan tidur tengkurap menghadap bantal. Ehhh beneran tetap bisa bernapas lho! Amazing deh :D

Namun sayang... sepertinya baby Z belum bisa memakai bantalnya. Begini ceritanya.

Sebetulnya sejak baby Z berusia 3 bulanan, dia tidur nggak pakai bantal lho. Karena aku putus asa dengan bantal peyang yang sering basah, lalu seringnya aku menyusui sambil tiduran yang posisinya nggak pas kalau baby Z pakai bantal, plus posisi tidurnya yang sering berubah sehingga kepalanya ada dimana, bantalnya ada dimana -_-" Jadi ada berbagai macam alasan mengapa sudah lebih dari setahun baby Z terbiasa tidur tanpa bantal.

Sehingga ketika aku coba pakaikan bantal Comfi setelah Z tertidur, 15 menit pertama tidurnya anteng. Eh menit berikutnya posisi Z sudah berubah sampai kepalanya menjauh dari bantal. Padahal ukuran bantal Comfi sangat lebar lho dibanding bantal-bantal balita yang pernah kulihat di toko. Ini sih karena gaya tidur bayinya aja yang nggak bisa diam. Dari ujung kasur ke ujung lainnya -_-"

Setelah 15 menit, kepalanya sudah menjauh dari bantal -_-"
Hari kedua, aku coba pakaikan bantal lagi sebelum Z tertidur. Sambil menyusui, Z nggak tidur-tidur. Lalu dia duduk dan bilang "nggak mau" sambil menunjuk bantal. Ahhhh antara pingin ketawa dan patah hati ibumu nak, nggak mau pakai bantal idaman emakmu ini hehehe. Sudah kebiasaan nggak pernah pakai bantal sih dalam 15 bulan terakhir.

Tapi tenang, jangan putus asa. Beberapa bulan lagi Z akan berumur 2 tahun. Perlahan Z akan disapih ibu. Meskipun ibu juga sedih kalau momen menyusui segera berakhir, tapi ibu percaya nanti Z bisa tidur sendiri tanpa harus diketekin ibu :') Nanti kalau waktu itu datang, badan Z juga semakin besar, Z pasti butuh bantal untuk teman tidur supaya lebih nyaman. Ibu sih percaya bantal Comfi ini bakal cocok karena kualitasnya memang bagus.

Buat ibu-ibu yang penasaran dengan bantal Comfi (terutama kalau anak memang sudah terbiasa pakai bantal), bisa di-search dimulai dari Tokopedia. Comfi Breathing Pillow eksklusif dijual di Official Store BalitaKita di Tokopedia.

Belanja di Official Store Tokopedia BalitaKita lebih aman untuk pembeli karena BalitaKita (www.tokopedia.com/balitakita) memiliki hak merk untuk menjual produk original Comfi, juga produk bayi lainnya seperti sterilizer, alat makan, hingga gendongan bayi dengan merk populer. Tersedia juga pilihan untuk cicilan, sehingga belanja jadi lebih mudah.

Gimana, penasaran untuk mencoba Comfi Breathing Pillow?

Selasa, 16 Mei 2017

Barang Asli di Tokopedia Official Store - BalitaKita

Assalamu'alaikum, bloggers...

Jujur deh, sejak punya anak, salah satu hiburan ketika ada me time (yang biasanya hadir setelah anak bobok ataupun sambil menyusui ketika bayi masih newborn hehehe), pastilah online shopping. Sensasinya online shopping tuh dimulai dari ketika mencari review merk-merk barang idaman, dilanjutkan sampai membandingkan harga barang tersebut di marketplace.


Tapi kadang suka bingung juga, kenapa satu barang harganya bisa bervariasi, ada yang murah dan ada yang mahal banget. Asli apa palsu ya barangnya?

Di event Tokopedia Official Store - BalitaKita yang diselenggarakan tanggal 10 Mei lalu, aku baru paham kenapa Tokopedia me-launching Official Store. Official Store Tokopedia merupakan ruang khusus yang disediakan bagi brand resmi atau pemegang hak merk yang sah untuk menjual produk mereka secara online melalui website Tokopedia.



Nah, BalitaKita merupakan online store di Tokopedia yang memiliki hak merk berbagai produk favorit ibu-ibu, misalnya i-Angel, UPang, Brother Max, Comotomo dan Comfi Breathing Pillow. Merk-merk ini terkenal dengan kualitasnya dan cukup populer di jagat raya ibuk-ibuk sebagai barang idaman. Ada yang sudah kenal dengan merk-merk tersebut? Kalau belum, yukkk kita bahas satu persatu. BalitaKita adalah Sole Principal Distributor untuk produk bayi dan balita berkualitas.

Senin, 08 Mei 2017

Berani Bilang "Iya, Boleh!" Untuk Bereksplorasi

Assalamu'alaikum buibuk...

Long weekend yang lalu, aku dan Z berkesempatan datang di acara Nestle DANCOW Explore Your World. Acara persembahan Nestle Dancow Advanced Excelnutri+ ini diadakan di mall Kota Kasablanka, dengan tema "Dukung Bunda dan Ayah Katakan "IYA BOLEH" untuk Explorasi si Kecil."

Z heboh bermain lego di area Smart City
Saat tiba di tempat acara, aku penasaran dong, kenapa kok rame banget. Kenapa juga pakai tajuk "IYA BOLEH" segala. Ternyata, di sini ada beberapa permainan yang mengasah kemampuan si Kecil. Dengan berbagai aktivitas ini, Dancow bermaksud mendukung para orang tua untuk bilang "IYA BOLEH", silakan bereksplorasi. Karena si Kecil sudah terlindungi dengan nutrisi yang cukup, kasih sayang orang tua, dan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Sadar nggak sadar, kita sebagai orang tua suka sedikit-sedikit melarang anak. Mau main di taman, nggak boleh, takut kotor dan kuman. Padahal 'kan nggak papa asalkan setelah main, anak cuci tangan yang bersih. Mau hujan-hujanan? Nggak boleh, takut basah dan sakit. Padahal 'kan nggak papa asalkan anak sudah makan (perutnya nggak kosong), lalu setelah main hujan, anak bisa mandi air hangat dan ibu siapkan baju yang bersih.

Iya juga ya. Aku suka melarang Z untuk hal-hal sepele, misalnya main perosotan di taman yang seringkali berlumpur, atau sekedar main genangan air. Z sudah bukan bayi lagi, dan perlu banyak bereksplorasi untuk menstimulasi kecerdasannya.

Jumat, 28 April 2017

Ketika Mbak Asisten Harus Pergi

Assalamu'alaikum buibuk...

Akhirnya bulan lalu aku mengalami yang namanya galau karena ART. Selama ini yang kulihat di medsos, banyak ibu-ibu curcol drama ART. Yang habis Lebaran gak balik lah, yang susah diajarin lah, yang main hape mulu lah. ARTku? Baiknya bukan main. Beliau seorang janda, dulunya kerja di rumah bapak ibuku di Surabaya. Sejak aku lahiran, si mbak ikut denganku. Jadi semacam perpanjangan tangan ibuku dalam membantu di rumah pasca kelahiran baby Z.

Mbak di rumah, Z, dan mbak rumah mertua

Jujur aja sih, dengan adanya ART, aku cukup terlena dengan segala kemudahan. Pagi-pagi sarapan sudah disiapkan, malam pun ada masakan. Setrikaan selalu beres nggak ada tumpukan. Aku tinggal pegang baby Z aja. Mau mandi dan sholat, bisa titip bayi sebentar ke si mbak. Baby Z pun menikmati bermain sama si mbak yang suka anak kecil.

Kamis, 16 Maret 2017

Puas Main di Batu Secret Zoo

Assalamu'alaikum, teman-teman...
Bulan lalu, baby Z pergi ke Batu Secret Zoo lho bersama bapak ibu dan eyang-eyangnya :D Masih dalam rangka pengenalan hewan, plus sekalian kami pulang kampung ke Surabaya, melipirlah kami ke kota wisata Batu. Prediksi awal, kami bakal menghabiskan waktu maksimal 3 jam di Batu Secret Zoo. Eh ternyata objek wisata ini luas banget, masya Allah. Kami berkeliling sampai hampir magrib hehehe.


Harga tiket masuk Batu Secret Zoo adalah Rp 120.000 untuk dewasa pada akhir pekan, dan ada potongan 30% untuk hari kerja. Dengan harga itu, pengunjung bisa masuk ke Museum Margasatwa dan Batu Secret Zoo. Konon pengunjung nggak boleh membawa makanan dan minuman ke dalam tempat wisata, tetapi kalau makanan bayi sih bisa lolos kok.
Museum Margasatwa
Pertama, kami memasuki Museum Margasatwa. Ternyata di awal-awal, kami disambut beberapa 'art' seperti di Trick Eye Museum. Karya seni yang ditujukan untuk foto-foto gembira dengan efek 'wow', misalnya seperti terbang atau seperti duduk di belalai gajah.


Selanjutnya, kami disuguhi dengan patung binatang-binatang dengan diorama alam bebas. Entah binatang tersebut patung, atau binatang sungguhan yang sudah diawetkan, karena postur dan bulunya mirip banget dengan binatang aslinya. Binatangnya lengkap banget! Sejujurnya, saking lengkapnya aku sampai bosan, bertanya-tanya kapan ini keluarnya :p Suasana museum indoor ini agak gelap, sehingga baby Z agak bosan. Tapi di museum ini ada mushola yang bersih, layak digunakan kalau sudah waktu sholat.


Salah satu koleksi di insektarium, Museum Margasatwa

Berikutnya, kami memasuki Batu Secret Zoo. WOW! Ini dia yang ditunggu-tunggu! Tempat wisata edukatif outdoor! Baby Z langsung semangat lagi, karena dia suka banget di luar ruangan :p

Ada tikus raksasa di sini. Bisa nemu nggak? Tuh kelihatan ekornya... segede kucing! Hiii....
Setting kebun binatangnya, tampak bersih dan modern yaaa...
Happy grandma, grandpa, son, hubby, and of course, me!
Kami disambut beraneka ragam monyet yang lucu-lucu, hewan aneh-aneh seperti capybara (mirip berang-berang), kuda nil pygmi, rangkong, dan banyak lainnya. Hewan kecil seperti paduan kelinci dan kancil, hingga hewan besar seperti gajah, ada lho.

Monyetnya mengingatkan kami pada... Einstein!

Woooowww, kawanan flamingo!

Ada beberapa bagian kebun binatang yang kami skip, tidak kami lewati, karena hari sudah mulai sore. Kami memutuskan nggak masuk aquarium karena baby Z sudah pernah ke aquarium, biar lihat hewan darat aja. Selain itu aquariumnya indoor, kami sudah bosan wisata indoor di museum margasatwa sebelumnya.

Ternyata di dalam Batu Secret Zoo ini ada theme park aneka permainan, gratis! Banyak mainan yang memacu adrenalin (biasanya permainan diputar-putar di ketinggian) dan mainan anak-anak seperti kereta-keretaan. Bahkan ada waterpark GRATIS!! Eh tau gitu harusnya datang ke sini dari pagi ya, bawa baju renang buat bocah. Dijamin seru seharian. Sayang kami pun harus melewati waterpark ini begitu saja, karena sudah jam 4 sore. Batu Secret Zoo tutup jam 5 sore.
Waterpark gratis yang tampak cukup seru, kalau saja waktunya ada, hiks...
Ada wahana yang WAJIB dicoba, yaitu Safari Farm. Pengunjung bisa naik kereta traktor, berkeliling safari dengan hewan yang dibiarkan bebas. Pengunjung juga bisa beli makanan hewan untuk diberikan ketika safari berlangsung. Sayang, karena waktu itu wahananya sudah hampir tutup, stok makanan hewannya habis. Beberapa binatang besar seperti bison dan jerapah juga sudah masuk kandang. Tapi lumayan sih, kami sempat melihat unta, rusa, zebra, dll. Penumpang traktor heboh banget jerot-jerit ketika memasuki wilayah unta. Tanpa segan-segan si untanya melongok-longok mendekati traktor, cari makanan hihihi. Pokoknya seru banget deh Safari Farm. Kalau bisa jangan sore-sore yaaa supaya hewannya masih belum masuk kandang.

Ternyata setelah Safari Farm masih ada wahana naik perahu... Namun lagi-lagi karena kami sudah kesorean, capek dan lapar, kami buru-buru cari jalan keluar. Padahal tampak seru sekali, naik perahu di antara kawanan burung pelikan.

Numpang lihat petugas memberi makan burung pelikan

Tuh perahunya datang...
Kami sempat membeli cemilan di dalam Batu Secret Zoo, yaitu kentang goreng dan takoyaki. Takoyakinya kurang enak kalau dibandingkan yang di mall. Pilihan lainnya ada hotdog, donat, dll, pokoknya fast food deh.

Jujur aja sih, rasanya belum puas main di Batu Secret Zoo. Harus seharian di sana untuk dapat pengalaman semua wahananya. Kapan-kapan sepertinya harus diagendakan ke sini lagi. Serius deh, ada objek wisata sebagus ini di Indonesia, rasanya bangga :') Edukasi dapat, seru-seruan dapat. Udaranya pun sejuk karena di kota Batu.

Oiya omong-omong tentang udara dingin, tips pakai baju ibu dan anak untuk ke Batu Secret Zoo:

  1. Kalau bisa sih pakai celana, karena mungkin mau naik wahana-wahana tertentu. Kalo pake rok gak bisa manjat-manjat :p Yah minimal kalo mau syar'i, tetap pakai celana yang longgar di dalamnya gamis.
  2. Pakai kerudung yang nyaman. Aku kemarin pakai kerudung satin, meskipun agak tebal, ternyata malah hangat. Beli aneka scarf muslim mudah, sudah banyak dijual online. Kalau yang printed scarf bisa di atas 200 ribu, kalau yang kupakai jenisnya pattern scarf, jauh lebih murah. Eh kok jadi ngomongin kerudung wkwkwkkw.
  3. Buat anak-anak, sebaiknya bawa baju renang dan baju ganti, karena banyak wahana seru di sini.
  4. Pakai celana panjang. Baby Z celananya kependekan, jadi kakinya dingin hehehe kasihaaan. 
  5. Sepatu harus nyaman! Karena jalannya lumayan panjang. Beli sepatu anak laki-laki harus pilih yang solnya cukup tebal, karena batita sedang belajar jalan dan lagi aktif-aktifnya.
OOTD sama bayek. Muka udah kucel habis lari-lari ngejar bocah hahahaha....
Akhir kata, Batu Secret Zoo sangat aku rekomendasikan buat dikunjungi! Nggak usah jauh-jauh cari theme park di luar negeri. Negeri sendiri udah punya objek wisata keren seperti ini :') WAJIB naik Safari Farm-nya yaaaa buibuk! Trus kalau mau sepi dan murah, datangnya pas weekdays. Tapi kebetulan banget pas aku ke sana hari Sabtu, kok ya lumayan sepi.

Ada yang punya rekomendasi tempat liburan asik lainnya buat rame-rame sekeluarga? Share yaaa :D

Selasa, 28 Februari 2017

Tips Langsing Sehat dari Blogger Gathering Mustika Ratu

Assalamu'alaikum, bapak-bapak ibu-ibuuu...

Siapa yang pernah merasa susah banget menurunkan berat badan? Alhamdulillah berat badanku pas-pasan kalau dilihat dari indeks BMI, tapi lemak di perut tetap masih banyak hahaha. Urusan penumpukan lemak ini memang masalah sejuta umat, ya. Obesitas, diabetes, hingga sakit jantung bisa jadi bahaya yang mengintai. Pada Blogger Gathering yang diselenggarakan oleh Mustika Ratu Slimming Series dan Dream.co.id, para blogger diberikan edukasi menyeluruh untuk mendapatkan tubuh langsing dan sehat.


Pengaturan Gizi untuk Langsing dan Sehat

Untuk sekedar turun berat badan, kita bisa saja diet mati-matian menahan lapar. Tapi apakah itu sehat? Winda Ekayanti, APD, MND menjelaskan dalam talkshow-nya "Be Healthy Be Slim" bahwa ada salah kaprah dalam makna "diet". Diet adalah: makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Penurunan berat badan yang sehat maksimal adalah 2 kg sebulan. Penurunan berat badan lebih dari itu, bisa berbahaya.

Kita tahu akhir-akhir ini banyak muncul beragam jenis diet yang menjanjikan penurunan berat badan cepat, tanpa ada penelitian ilmiahnya (biasa disebut Fad Diet). Sayangnya, diet instan = turun cepat dan naik cepat. Selesai diet, berat badan naik lagi deh. Sebaiknya atur pola makan untuk mendapatkan penurunan berat badan yang wajar dan stabil.

Be Healthy, Be Slim!

Ciri-ciri Fad Diet yang berbahaya tersebut biasanya menjanjikan hasil yang cepat, ada syarat-syarat tertentu, seperti nggak boleh mengkonsumsi gluten, nggak usah olahraga, nggak usah makan karbohidrat dan sebagainya. Fad Diet juga kadang mengagungkan 1 jenis makanan tertentu, seolah dengan makanan tersebut apapun dapat disembuhkan. Sayangnya, there's no magic pill! Perlu perbaikan lifestyle menyeluruh untuk mendapatkan tubuh sehat.

Olahraga, makan makanan yang sehat, serta istirahat. Itu kuncinya. Secara umum, kita perlu olahraga hanya 30 menit sehari. Tidak sempat olahraga? Tentu bisa diselipkan aktivitas yang cukup membakar kalori 'kan di keseharian kita? (Halo ngejar-ngejar anak balita hahahahaa). Menurut bu Winda, kalau hari ini tidak sempat melakukan aktivitas olahraga, tambahkan porsi olahraga di keesokan harinya untuk 'membayar hutang' pembakaran kalori kita.

Tubuh sehat dapat mengelola nutrisi dengan baik. Fad diet kurang tepat, karena tubuh tetap perlu semua zat nutrisi penting. Yang bermasalah biasanya adalah proporsi. Misal, kita banyak makan lemak jahat, namun kurang sayur. Itulah sebabnya anak harus diajarkan konsumsi sayur dan buah sejak dini. Taste-nya masih bisa diajarkan. Tak perlu lah diberikan processed food seperti biskuit dan lainnya.

Makanan yang perlu dikonsumsi sehari-hari untuk jaga kesehatan, yaitu:
1. Buah
Sehari butuh 2 takaran saji. Per takaran saji sekitar 150 gr: 1 apel, pisang, atau pir ukuran medium.

2. Sayur
Butuh sekitar 100 gram sehari.

3. Karbo
Butuh 4-6 porsi sehari. Per porsi (120 kcal) misalnya selembar roti, setengah cup nasi atau pasta yang sudah dimasak, 1 butir kentang ukuran sedang.

4. Protein
Dikenal sebagai zat pembangun otot. Sehari butuh 1-2 porsi protein. Seporsinya, misalnya 2 butir telur, 1 telapak tangan tanpa ruas jari daging merah, 1 telapak tangan full hingga jari untuk daging putih (ayam atau ikan). Pilih daging yang lean tanpa lemak (misalnya dada ayam tanpa kulit). Sehari butuh 2 porsi protein.

5. Dairy / Olahan Susu
Menyediakan kebutuhan kalsium, protein dan fosfor untuk tubuh. Dibutuhkan 2 takaran saji per hari. Per porsi bisa didapatkan dari segelas susu, 2 slice keju, atau 1 cup yogurt.

6. Lemak dan Minyak
Pilih lemak tak jenuh dalam jumlah sedikit saja, misalnya lemak yang ada pada ikan, kacang-kacangan, olive oil dan canola oil. Namun perhatikan juga jenis minyaknya, extra virgin olive oil tidak boleh kena panas, sebaiknya digunakan untuk dressing saja.

Makan karbohidrat disarankan pada jam siang ke sore saat banyak aktivitas. Jangan makan 3 jam sebelum tidur karena terlalu banyak kalori yang akan tertimbun menjadi lemak tubuh.

Slimming Series Mustika Ratu untuk Membantu Penurunan Berat Badan

Acara kali ini terasa cukup spesial, karena ibu Putri K. Wardani, putri dari ibu Mooryati Soedibyo (pendiri Mustika Ratu) ikut hadir dan memberikan testimoni mengenai jamu Mustika Ratu. Siapa sangka di balik penampilan beliau yang langsing dan segar, ternyata usianya sudah hampir 60 tahun??

Slimming Series Mustika Ratu menggunakan 100% bahan alami khas Indonesia. Nenek moyang kita sejak jaman dahulu sudah mewariskan resep jamu dengan berbagai manfaat kesehatan. Mustika Ratu ingin menghadirkan warisan ini pada kita, tanpa harus repot meracik dan merebus jamu. Untuk produk Slimming Series, ada bentuk teh siap seduh, atau kaplet yang praktis diminum.


Bahan-bahan aktif yang terkandung dalam Slimming Tea di antaranya:
1. Teh hijau yang kaya antioksidan, membantu pembongkaran lemak dalam tubuh.
2. Daun jati Belanda, mengandung tanin yang bersifat astringen, menyempitkan pori-pori dinding usus agar lemak makanan tidak terserap sempurna.
3. Kulit kayu rapet, mengandung tannin dan flavonoid untuk menurunkan protein mukosa usus halus sehingga transit zat lemak di usus halus berlangsung cepat, tidak terserap.

Produk-produk Slimming Tea terjamin aman, karena sudah teruji klinis di Tokyo MD University, dapat menghancurkan dan melarutkan lemak dalam 28 hari. Produk ini juga sudah bertahan di pasaran selama 20 tahun tanpa ada keluhan dari penggunanya. Bahkan bu Putri K. sudah mengkonsumsi Slimming Tea setiap sehabis makan, sejak sebelum menikah.

Sayangnya, Busui tidak disarankan untuk meminum teh ini. Namun jangan kuatir, Mustika Ratu juga punya produk khusus berupa jamu untuk ibu yang habis melahirkan. Jadi buat busui, nanti konsumsi Slimming Tea-nya kalau sudah menyapih ya! Sekarang bebas makan dulu supaya ASI lancar jayaaa :D

Demo Pembuatan Minuman Kekinian Ala Slimming Tea

Pada Blogger Gathering ini, ada juga live demo membuat minuman 'hiburan' yang menyehatkan. Slimming Tea bisa dikreasikan menjadi minuman creamy ala milk tea, atau minuman buah segar. Untuk minuman creamy-nya, Slimming Tea dicampur krimer nabati, choco powder, air rebusan kayu manis, kapulaga hijau, cengkeh dan sedikit gula kelapa. Celup Slimming Tea, tuangkan soymilk, lalu beri garnish kayu manis. Jadi deh. Semoga benar ya tulis resepnya, lumayan banyak juga bahannya hahahaha.

Minuman kedua, Celup slimming tea di air rebusan rempah, lalu tambahkan aloe vera, poached pear (pir rebus), dan hias dengan raspberry. Mungkin rasanya seperti setup buah yaaaa, ada citarasa manis dari kayumanis dan buah pir.

Sesi Body Combat!

Menariknya event kali ini adalah diselipkannya sesi olahraga body combat, dimana semua peserta bisa praktek langsung. Antara sedih dan senang sih. Sedihnya, body kalah oke dibandingkan peserta-peserta cowok (malu-maluin deh hahaha), kudu ganti baju dulu (ribet), dan pulangnya makin sore (eh jujur amat cyin). Makin sore kan Jakarta makin macet hihihihi. Tapi senang banget bisa cobain olahraga body combat, aku suka! Mungkin karena jaman SMA ikut ekskul karate, ada sedikit rasa kangen pada seni bela diri, halah. Jadi lumayan enjoy dengan olahraga ini, meskipun gerakan kaku karena baru pertama coba.




Terima kasih ya Mustika Ratu sudah ngadain acara yang banyak manfaatnya ini :)
Buat yang penasaran sama produk-produk Mustika Ratu, monggo mampir ke:
Instagram: MustikaratuIND
Twitter: MustikaratuIND
FB: MustikaratuIND

Jumat, 17 Februari 2017

Jalan-jalan ke Kuntum Farm Field

Beberapa minggu lalu, emaknya baby Z pengen ngajak si bayi "Pengenalan Hewan". Berhubung sampai usia 1 tahun, hewan yang dia lihat baru kucing, cicak, semut dan kecoa (hahahaha). Eh, lebih deng. Pernah lihat ikan-ikanan dan bintang laut ketika pergi ke SEA Aquarium. Juga ayam dan burung yang kadang ditemui saat keliling kompleks. Yah intinya, untuk memperkaya khazanah jenis fauna, kami harus lihat hewan langsung! Bukan sekedar lihat di buku cerita.


Salah satu kandidat tujuan adalah Kebun Binatang Ragunan, atau Fauna Land di Ancol. Namun setelah dipertimbangkan, Ragunan pasti rame kayak cendol, sedangkan Fauna Land cukup mahal tiket masuknya. Akhirnya kami ke... Kuntum Farm Field di Bogor!

Rombongan kami terdiri dari: aku, bapake, baby Z, juga adikku yang sedang di Jakarta. Lalu ada mas N, ponakan yang hari itu dititipkan ke kami karena ibunya sedang pelatihan. Plus bibiknya N. Plus ajak bibik S yang kerja di rumah, supaya bibiknya N ada teman. Plus ajak bibik T yang kerja di mertua, karena kasihan kalo yang lain pada jalan-jalan, dia di rumah sendirian. Total 8 orang di dalam mobil. Kami pun pinjam mobil mertua yang kapasitasnya besar. Hari itu kami pengen nyenengin banyak orang. Lets go!

Terima kasih ya para bocah yang baik, anteng selama perjalanan. Nyemil teruuuusss :D

Tak dinyana, perjalanan ke Bogor diwarnai hujan deras dan macet. Perbekalan para bocah habis sebelum sampai di tujuan. Aku ketar ketir, berangkat jam 9.30 dari Jakarta, jam 12 siang masih belum masuk Bogor. Aku udah rese nyuruh bapake melipir ke mall terdekat aja karena takut bocah-bocah kelaparan. Tapi dengan keukeuh bapake bilang, "Tuh di Google Maps 20 menit lagi sampe..." diulang-ulang terus ngomong gitu dari 1 jam sebelumnya :))) Alhamdulillah jam 1 akhirnya kami sampai di Kuntum ketika hujan baru aja reda! Rejeki bisa jalan-jalan di Kuntum, subhanallah!

Kami pun langsung menuju restoran yang ada di wilayah Kuntum. Tempatnya outdoor, namun masih ada atapnya. Banyak kucing berkeliaran di sana, menanti sisa tulang belulang dari ikan bakar yang dipesan pengunjung. Menu yang kami pesan ikan bakar, ikan goreng, ayam lada hitam, nasi goreng, tumis toge, udang goreng tepung. Kalap pesan kebanyakan, lapar sih. Ternyata rasanya... so so. Lumayan lah kalau lagi kelaparan berat dan kepepet, tapi untuk kembali lagi ke sana? Hmmm... Enggak deh. Alangkah baiknya sebelum ke Kuntum sudah makan dulu sih. Karena keluar tol Bogor sebetulnya banyak banget resto yang 'nggenah' atau fast food yang terjamin bersih, tapi karena buru-buru jadi terlewat semua.


Lalu petualangan kami di Kuntum pun dimulai. Memasuki Kuntum, kami disambut 'pasar' yang menjual hasil kebun dan aneka produk oleh-oleh yang unik, seperti camilan khas Bogor, ataupun olahan tanaman herbal. Oke, kami nggak berlama-lama di sini. Wilayah ini bisa dinikmati sepulangnya kami nanti. O iya, di wilayah inilah kami membeli tiket masuk serta makanan ikan seharga Rp 5.000 sebungkus.

Pertama kali masuk, kami disambut wilayah ikan. Ikannya bermacam-macam, yang kuingat sih ada koi dan lele. Seru deh lihat lele besar-besar, begitu dikasih makan langsung hap hap hap, dipatil makanannya. Jangan sampe nyemplung ke kolam lele yaaaa nak anak!


Lalu ada wilayah hewan pengerat: kelinci dan marmut. Kandangnya cozy deh, super besar, dimana hewan-hewan dibiarkan bertebaran. Sayangnya karena weekend itu rame, kelinci-kelinci sudah pada kekenyangan diberi makan. Pas kami sodorkan sayuran, kelinci udah gak minat. Maunya cuma leyeh-leyeh di pojokan.

Menawarkan sayur ke kelinci yang kekenyangan = gak digubris, hehehe
Penjualan camilan dan makanan hewan
Untung marmutnya masih kelaparan. BTW Baby Z masih malu-malu lihat hewan berbulu gini...
Ada kandang sapi, kandang kambing... Baby Z kurang menikmati karena masih takut-takut. Emaknya pun kurang menikmati karena ada bau-bau sedap (wahahaha). Yang seru, ada kandang domba yang terbuka bebas, dimana anak-anak kecil boleh masuk dan bermain sama domba. Aku pun menyempatkan pegang bulu domba, yang ternyata bertekstur seperti wool tebal dan empuk. Gemesss!!! Sensasi rasanya tak terlupakan.

Baby Z takut lihat kambing


Naik Kuda di Kuntum Farm Field

Melihat ranch kecil di Kuntum, tergoda deh buat coba naik kuda. Kami tawarkan ke Z, mau naik kuda nggak? Sambil dekat-dekat kudanya. Awalnya sih dia takut (huhuhu masih takut semua binatang nih), tapi lama-lama penasaran setelah tau bapaknya mau naik kuda sama mas N. Belilah kami tiket naik kuda, Rp 30.000 untuk 1 putaran. Bentar banget sih itu 1 putaran, tapi gak papa lah, sekali-sekali.


Aku pun naik kuda bersama baby Z. Ngeri juga sih naiknya, karena pengamanku hanya pegangan ke kuda plus dijagain bapak-bapak penjaga kudanya. Aku berusaha jaga keseimbangan, tangan kanan pegangan kuda, tangan kiri pegangin baby Z di depanku. Awalnya dia excited, kemudian langsung cranky setelah kudanya jalan. Tuplak tuplak tuplakkk... Baby Z pun balik badan memelukku sambil merengek. Kucoba menghibur sampai habis 1 putaran. Untung track-nya pendek ya nak :p
Ibuk sumringah, anak ketakutan.


Buat anak 1 tahunan, sebetulnya playground paling menyenangkan ya dimana ada lahan kosong, sehingga dia bisa lari-lari. Beberapa kali baby Z kabur nggak mau dipegangin, lari kesana-sini. Alhamdulillah kamu senang ya nak...

Jalan-jalan sama mbak S & mbak T



Di perjalanan ini, aku dan suami dibuat terharu karena para mbak berterima kasih sudah diajak jalan-jalan, refreshing dari kegiatan domestik di rumah. Mas N pun bilang, "Oom, hari ini seru banget ya!!" Rasanya nggak sia-sia kami menempuh hujan dan macet ke Bogor. Semua bahagia :)


Kalo belum ada baby Z, mungkin kami nggak akan tertarik ke Kuntum. Kebiasaan weekend kami jaman dulu paling jauh hanya jalan ke mall, pemalas banget yaaa. Jadi kami bersyukur di usia baby Z yang mulai penasaran segala sesuatu, kami harus cari-cari kegiatan positif dan edukatif. Ternyata Kuntum SERU BANGET dan RECOMMENDED! Bahkan buat orang dewasa pun, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini seperti menangkap ikan, memetik sayuran, dan ada padepokan untuk acara khusus.

Informasi: 
Alamat Kuntum: Jalan Raya Tajur No.291. Jawa Barat - BOGOR
Jam Buka: Senin-Minggu 8.00 (Pagi) - 18.00 (Sore)
HTM: Rp.40.000/Org (siapkan uang lebih untuk beli makanan binatang dan kalau mau naik kuda)

Kamu ada rekomendasi tempat menarik lainnya kah buat weekend bersama bocah? Share yaaa ^_^