Rabu, 26 Oktober 2016

Drama ASI #3: Milk Blister, Mastitis, dan Nasihat Abang Gojek

Assalamu'alaikum!

Kupikir, kunjungan ke klinik laktasi cuma urusan di awal-awal lahiran aja. Ternyata di usia bayiku yang 11 bulan, aku harus kembali menemui dokter laktasi.

Masalahnya adalah pada suatu hari, payudara kananku terasa nyeri ketika dibuat menyusui. Saat kuteliti, ada bintil seperti jerawat di ujung puting! Bintil itu berwarna putih. Yaaaa seperti jerawat matang T_T Sakitnya jangan ditanya. Saat disusui, aku harus menahan tangis huhuhu...

Setelah browsing, aku yakin bintil ini bernama Milk Blister. Asalnya dari sumbatan ASI. Di sebagian payudara memang terasa ada gumpalan keras. Bisa terjadi karena ASI nggak dikosongkan (sehingga sisa-sisa ASI menyumbat saluran air susunya), atau karena tekanan (misal pemakaian bra yang terlalu ketat) - kalau dalam kasusku sepertinya karena aku menyusui sambil tiduran, jadi bagian payudara ada yang tertekan ke kasur.

Pergi ke Klinik Laktasi St. Carolus

Karena aku takut masalah ini merembet jadi mastitis / infeksi, aku panik dan langsung ke klinik laktasi Carolus hari itu juga. Terakhir ke Carolus, waktu baby Z umur 2.5 minggu, ketika aku ada drama ASI yang kurang (baca: Drama ASI #1). Nggak nyangka balik ke RS ini lagi, padahal aku lumayan menghindar, karena klinik laktasi di sini antriannya lama banget. Satu pasien bisa menghabiskan 30 menit sampai 1 jam di dalam ruang dokter.

Dr. Nidya mengompres PD yang bengkak dengan kompres air hangat, lalu mengusap-usap bintil Milk Blister dengan waslap basah. Hal ini dilakukan untuk 'mengikis' kulit jerawatnya supaya terbuka, dengan harapan sumbatannya terbuka. Akupun diajari pijat payudara, yang sebenarnya sudah diajari oleh dokter laktasi lain di sini ketika baby Z masih 2.5 minggu. Aku pura-pura belum tau teknik pijatnya, takut dimarahin karena udah pernah belajar tapi gak pernah dipraktekkan :)))

Langkah-langkah pijat payudara yang diajarkan di klinik laktasi St. Carolus sangat panjang! Beberapa gerakannya ada yang umum, contohnya pijat dengan tekanan spiral di sekeliling payudara, dan spiral dari luar payudara ke arah puting. Masih ada sekitar 20 langkah lainnya, dari pijat punggung, pijat payudara, pijat puting, hingga tekanan akupuntur. Susah kalau diceritakan, mending langsung belajar ke sana aja.

Selesai pijat, aku diresepkan antibiotik, obat pereda nyeri (paracetamol), dan pereda bengkak (Nutriflam). Lalu aku diminta kontrol 5 hari kemudian. Akupun pulang ke rumah.

Oiya, ada hal mengerikan yang aku lakukan lho. Saat 3 hari bintil putih masih ada di payudara, aku berinisiatif mencongkel kulit 'jerawat' itu dengan jarum pentul yang sudah kubakar dan kulap alkohol agar steril. Ini gara-gara aku baca di forum FemaleDaily, ada ibu-ibu yang berhasil mengusir Milk Blister dengan cara ini.

Berhubung sepertinya PD sudah baikan: Milk Blister hilang, gumpalan keras sudah berkurang, disusui sudah gak sakit, akupun nggak kontrol dokter. Males juga sih ke klinik laktasi lagi.

Badan Menggigil, Payudara Sakit, ASI Menjadi Seperti Nanah T_T

The worst nightmare I had as a breastfeeding mom! Tengah malam, seminggu setelah kupikir sembuh dari Milk Blister, payudara kananku super sakit dan badanku menggigil. Benar-benar kedinginan, sampai gigiku bergemeretak. Saking nggak kuat, aku minum paracetamol supaya bisa tidur.

Sepertinya karena si bocah sudah doyan makan, kuantitas dia menyusu padaku jadi sedikit. Kambuh lagi deh sumbatan ASI-nya. Aku juga udah nggak telaten pijat ASI sejak minggu sebelumnya.

Pagi setelah bangun tidur, aku baru sadar ASI kananku berwarna kuning seperti nanah. Astaghfirullah. Jadi ada 1 titik ASI yang mengeluarkan ASI kuning, sedangkan titik lainnya, ASI tetap putih. Aku cicipi ASInya, terasa asin dan anyir. Seharusnya ASI kan manis T_T

Aku panik, takut mastitis. Setahuku, di kasus mastitis yang terlambat ditangani, payudara harus dibedah untuk mengeluarkan sumbatan ASInya, karena payudara sudah terinfeksi. Lalu ASI yang bernanah harus rajin diperah dan dibuang. Kalau enggak diperah, ASI bakalan berhenti. Oh my, aku takut!

Pertanyaannya adalah, apabila terjadi mastitis, aku harus ke dokter apa???
A. Dokter Laktasi, yang biasanya adalah Dokter Spesialis Anak, atau
B. Obgyn?

Setelah konsultasi ke iparku yang dokter, dan ke pakde yang obgyn, jawabannya adalah:
C. Dokter Bedah, kalau bisa yang spesialisasinya Onkologi

Maaaakkkk!! Dokter bedah???? Hatiku langsung nyesss kebayang payudara dibedah T_T
Tapi demi ASI kembali lancar, akupun membuat janji dengan dokter bedah umum di RS Mitra Keluarga, yang lumayan dekat dengan rumahku. Pergi naik gojek sendirian, karena suami sedang dinas luar kota. Deg-degan? Lumayan!

Dokter memeriksa bagian PD yang sakit, tapi beliau nggak menemukan ruam merah bengkak yang umumnya menjadi tanda jika terjadi infeksi. Jadi beliau memutuskan belum perlu ada tindakan bedah Alhamdulillah.

Aku hanya diresepkan antibiotik, pereda nyeri dan pereda bengkak.

Selama 3 hari, akupun rajin-rajin memeras ASI di PD yang sakit. Bagiku susah sekali perah pakai pompa, karena nggak terbiasa. Biasanya 'kan aku menyusui langsung. Jadi saat itu lebih sering aku perah dengan tangan, sambil melihat apa di titik yang sakit, ASInya masih kuning atau enggak.

Hari demi hari, rasa asin pada ASI pun berkurang. Saat sudah nggak terlalu asin, aku biarkan baby Z menyusu langsung pada bagian yang sakit. Biar cepat plong! Kebetulan baby Z lagi sering banget pup agak m*ncret, entah karena ASIku yang terinfeksi atau karena dianya salah makan yaaaa... Masih menjadi misteri...

Nasihat Abang Gojek 

O iya, ada cerita konyol sih sewaktu aku pulang dari RS Mitra Keluarga. Aku naik gojek supaya cepat sampai rumah, dalam keadaan agak meriang. Eh dapat supir gojek yang tampilannya kayak preman.

Di jalan, abang gojeknya tanya, "Yang sakit siapa mbak?"

Aku yang sedang nggak fit pun entah kenapa menjawab jujur wkwkwkk....

T: "Saya bang..."
Gojek: "Sakit apa mbak?"
T: "Demam meriang, gara-gara ASI tersumbat..." (batinku: mana ngerti ya abangnya?)
Gojek: "Ah pasti mbak-nya nyusuin cuma sebelah aja ya?"
T: (buset ini abang kok tau aja, lebih sering nyusuin sebelah)
G: "Kalo nyusuin tuh harus ganti-ganti mbak, kanan-kiri, kanan-kiri gituu.."
T: "Istrinya nyusuin juga ya bang?"
G: "Iya... pokoknya kalo udah 'kenceng', harus langsung nyusuin! Atau diperes... kan sekarang ada alatnya apa tuh namanya..."
T: "Pompa bang!"
G: "Iya pompa!"
.
.
.

Absurd banget deh, sepanjang jalan diceramahin ASI sama abang gojek yang awalnya kupikir kayak preman :)))

Bahkan sampai depan rumah, si abang masih nasihatin, "Inget ya mbak, kalo udah kenceng, disusuin atau dipompa!" Sepertinya kedengeran tetangga juga sih kata-kata abangnya :))))

---
Alhamdulillah, setelah rajin minum obat, ngabisin antibiotik, rajin pijet payudara, banyakin istirahat (tapi sekarang ngeblog begadangan lagi zzzz), juga rajin perah bagian yang sakit, titik bengkak di PD hilang. ASI sudah nggak asin. Juga sudah nggak sakit.

Jangan sampai kambuh lagi deh! Pokoknya kalau PD sudah ada grenjel-grenjel/benjolan keras, itu kudu banget disusuin! Atau diperah! ASInya harus keluar!

Wassalam.