Sabtu, 04 Juni 2016

Sedikit Baby Blues

Sebelum punya anak, aku memang bukan sosok wanita yang keibuan. Kalo melihat bayi lucu, dalam hati pasti gemas. Tapi ya that's it. Dalam hati doank gemesnya. Nggak ada tuh yang namanya kepingin nguyel-uyel atau gendong atau ngesun bayi orang.

Saat hamil, kupikir jiwa keibuan akan muncul ketika melahirkan. Toh aku menyayangi janinku. Pasti aku bakalan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat bayiku pertama kalinya.

Ternyata saat melahirkan, nggak ada getaran haru dan cinta kasih yang aku rasakan pada bayi kecil yang saat itu diletakkan di dadaku untuk IMD T_T Aku cuma berpikir, "Oh ini toh bayiku..."

Menyusui dan merawat bayi kulakukan karena kewajiban. Aku lebih senang kalau ada yang memandikan bayiku atau sekedar mengganti popoknya. Tapi aku berusaha gembira dengan kehadiran bayi ini, karena dalam logikaku, aku memang seharusnya bahagia menjadi ibu.

Awal-awal menjadi ibu, rasanya super sensitif. Apalagi ASI sempat seret (silakan cek postingan drama ASI) dan dedek bayi kurang berat badannya. Sedih luar biasa, serasa aku nggak becus merawat bayi, nggak pantas menjadi ibu. Hampir tiap hari pengennya nangiiis aja.

Berulang kali aku mau menyerah, ingin memberi full sufor aja pada bayiku. Tapi suami tetap memberi support supaya bisa lancar ASInya. Dia yang konsisten mengajakku ke konsultan laktasi. Dia juga rajin belikan cemilan-cemilan enak supaya aku bahagia, agar ASIku lancar.

Dulu aku hampir nggak pernah menciumi bayiku, sementara suami, ia sayang luar biasa pada buah hati kami. Aku bingung, apa iya hatiku begitu kaku sampai-sampai nggak gemas sama bayi sendiri?

Tapi perlahan, seiring pertumbuhannya, aku mulai melihat kelucuan bayiku. Tingkah lakunya, gerak geriknya sungguh menggemaskan. Bahkan saat bayi menyusu-ketiduran-ternyata mulutnya penuh ngemut ASI, itu aja terasa konyol dan bikin aku ketawa sendiri. Cara nguletnya yang sambil merem trus mulutnya mecucu. Waktu pertama kali bisa senyum... duh senangnya...

Hatiku meleleh... cinta itu datangnya bukan pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu, rasa cinta pada anak ternyata makin kuat.

Sekarang bayi ini sudah 7 bulan. Tiap hari aku sun pipinya sampai gepeng. Dia udah kepengen berdiri terus. Udah bisa manggil-manggil "Eh! Eh!" kalau dicuekin.

Aku sayang kamu, anakku!

Terima kasih suamiku, kamu sudah menyayangi anak & istrimu. Terima kasih sudah menemani dan mendukung istrimu ketika sedang jatuh. Semoga kita bisa jadi ortu yang baik untuk baby Z ya!

--
Ditulis saat suami sedang dinas jauh, dan istri di rumah melihat folder foto-foto dedek dari 0 hingga 6 bulan lalu mendadak mbrebes mili