Senin, 25 April 2016

Pertama Kali Bayi Naik Pesawat!

Assalamu'alaikum :D
Setelah mengalami periode galau dan browsing tiada akhir tentang terbang bersama bayi, lalu menunda-nunda pergi jauh, pada akhirnya baby Z melakukan penerbangan perdananya di usia 5.5 bulan!


Nggak jauh-jauh kok, cuma Jakarta-Solo (dan sebaliknya). Cuma yaaa sebagai emak anyaran kebanyakan drama, bisa terbang bersama bayi adalah sebuah prestasi! Padahal kalau dengar cerita orang lain sih, dari baby usia 40 hari udah banyak tuh yang naik pesawat tanpa drama hehehe...

So, how's the flight?


Alhamdulillah ternyata pengalaman pertama terbang menyenangkan. Pas cari tiket, keukeuh mau naik G*ruda Indonesia aja, dengan harapan perjalanan bisa lebih nyaman dibanding naik low cost carrier airlines. Risiko delay kecil, ortu yang bawa bayi pun bisa masuk ke dalam pesawat terlebih dahulu. Kenyamanan itu minimal menambah pede aku sebagai emak anyaran yang banyak cemasnya. Kalau emak rileks, bayi pun nggak rewel. Betul nggak?


Selama di Cengkareng, baby Z didudukkan di stroller. Stroller boleh digunakan di bandara, tetapi menjelang masuk pesawat harus dilipat dan diserahkan ke petugas pesawat untuk dimasukkan ke bagasi. Nantinya di kota tujuan, stroller bisa diambil di conveyor belt pengambilan bagasi atau minta petugas untuk memisahkan langsung.

Ehem, di bandara, 30 menit menjelang boarding, baby Z sempat bosan nggak mau di stroller lagi. Jadilah gendong-gendong sambil dorong stroller kosong. Mana bapake nggak mengijinkan ibuke pake kain jarik gendongan, katanya ribet bentar lagi masuk pesawat. Belakangan baru ketahuan kalo bapake malu istrinya pake gendongan batik :)))))))) Halah halaaah...

Waktu masuk pesawat pun tiba, aku + suami + bayik bisa masuk pesawat duluan. Lalu kami menyiapkan obat tetes hidung (Breathy, larutan garam) dan gel penutup telinga untuk baby Z. Obat tetes hidung digunakan atas nasihat ibu-ibu yang juga bawa bayi, katanya supaya hidung bayinya nggak buntu yang menyebabkan kuping sakit. Sementara penutup telinga gagal digunakan karena telinga bayi terlalu kecil nggak bisa disumpel. Aih padahal udah bela-belain beli di online shop :)))

Pesawat lepas landas, baby Z disusui, lalu dia tertidur pulas... sampai Solo! Subhanallah! Baru bangun di bandara Solo lhoooo... Pintar kamu nak! Sepanjang jalan ibunya baca majalah dan dengerin musik (tentunya sambil memangku-menyusui bayi).

Second Flight...
Nah, pada penerbangan kembali dari Solo ke Jakarta, baru deh ada drama kecil. Bayinya sudah ngantuk dan ketiduran selama menunggu pesawat datang. Ketika lepas landas, disusui malah rewel. Nggak mau nyusu!!! Aku udah panik aja takut telinganya sakit. Ternyata nggak ada masalah sih, bayinya anteng walaupun nggak disusui. Dia juga sama sekali nggak tidur di dalam pesawat.

Di udara, sempat ke toilet bersama bayi untuk cek popok. Wuih harus latihan ganti popok di ruangan super sempit (toilet pesawat), sambil goyang-goyang pula pesawatnya.

Ketika mendarat pun si bayi sudah selesai menyusu sebelum pesawat menyentuh daratan, but no problemo... Dia nggak nangis, berarti telinganya nggak sakit. Oiya di penerbangan kedua ini kami nggak meneteskan Breathy. But it turned out fine :)


Setelah mengalami 2x penerbangan, berikut ini tips dari Mrs. Tiananana (sotoy banget ya kasih tips, baru juga 2x naik pesawat wwkwkwkk)

Tips Naik Pesawat Bersama Bayi

  1. Menyusui bayi (atau memberi susu, atau memberi minuman) ketika pesawat lepas landas dan mendarat. Udah sih itu aja tipsnya :)))) *digetok palu* Habisnya selama di perjalanan hanya tips ini yang kepake.
  2. Apabila rewel, beri mainan atau cemilan (jika bayi sudah mulai makan). Hanya ajak bayi jalan-jalan jika kondisi memungkinkan (tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan).
  3. Kenakan pakaian biasa saja, nggak usah tebal berlayer-layer. Baby Z hanya pakai kaos lengan pendek, itu pun ketika lepas landas keringatan, karena AC pesawat belum terasa. Jika kedinginan, baru deh ambil jaket yang sudah disiapkan.
Oiya ada tips lagi sih...

Tips Barang Bawaan Ketika Naik Pesawat Bersama Bayi

  1. Di tas ibu ada minimal 2 popok diapers, 2 baju ganti, tisu basah, mainan untuk di pesawat agar bayi nggak bosan
  2. Di tas kabin ada tambahan baju, popok & jaket bayi, obat-obatan (misal obat tetes hidung, obat demam), dan cadangan baju bapak ibu untuk keadaan darurat

UPDATE tentang BAWA STROLLER di Bandara:

Jika kamu mau pake stroller di bandara, pastikan dulu kamu bakal dapat fasilitas garbarata (belalai pesawat). Aku pernah naik Batik dari Bandara Halim, eh udahlah di bandaranya kudu naik eskalator (stroller gak boleh naik eskalator kalo ada bayi di dalamnya - jadi bayi digendong deh), nggak pakai garbarata pula. Jadi aku harus menenteng stroller turun tangga terminal, lalu jalan kaki menuju pesawat (sambil gotong stroller) sementara baby Z digendong eyangnya. Rempong cyin! Mending dibagasikan dari awal T_T

Tips Memilih Tempat Duduk Jika Terbang Bersama Bayi

Berhubung mengalami sekali di kursi deretan tengah dan sekali di deret paling depan, ini kesimpulannya:
  1. Jika ingin space kaki lebih luas, pilih deret kursi paling depan. Minus: Pegangan kursi tidak bisa diangkat karena meja tertanam di pegangan tangan tersebut. Untuk aku, ketika menyusui baby Z di kursi deret depan ini agak kurang nyaman karena berasa sempit.
  2. Deret tengah memungkinkan ibu mengangkat pegangan kursi, sehingga lebih lega ketika menyusui. Waktu itu, jadinya kaki baby Z ada di pangkuan bapaknya, kepalanya di lenganku (dengan syarat: sebelahnya suami/keluarga sendiri atau sedang nggak ada penumpang ya.. Jangan naruh kaki bayi di pangkuan orang asing :p) Minusnya yaaa bagian kaki lebih sempit daripada deret depan.
Nah untuk penerbangan jarak jauh, untuk bayi di bawah 2 tahun biasanya disediakan tempat tidur bayi di deret paling depan. Jika ibu perlu tempat tidur ini (by request), tentunya harus memilih deret paling depan. Namun ketika lepas landas / mendarat / ada turbulence, bayi harus ada di pangkuan ibu.

Meskipun dipangku, bayi juga pakai sabuk pengaman ya! Lihat di foto pertama, baby Z pakai sabuk. Sabuk itu tersambung dengan sabukku.

Jika Bayi Rewel Di Pesawat

Aku cukup bersimpati pada ibu-ibu (atau bapak-bapak) yang bayinya rewel. Ibuku cerita, ketika di pesawat dari Hongkong sampai Jakarta ada bayi nangis nggak selesai-selesai. Kebayang kalo aku jadi ortu si bayi, bakal stres & senewen.

Tapi diharapkan ibunya usah makin stres ya... Kalau segala cara sudah ditempuh untuk menenangkan bayi, tapi bayi masih rewel, mungkin si bayi memang sedang fase rewel aja kali yaaaa (ada teori Wonder Weeks, yakni di pekan-pekan tertentu bayi akan rewel lain dari biasanya). Atau sedang kesakitan entah dimana (bayi belum bisa berkomunikasi 'kan).

Jika ibu stres, bayi bisa merasakan dan makin rewel. Yaaaa berharap aja para penumpang memaklumi tangisan bayi. Toh mereka pernah punya anak/keponakan (bagi penumpang dewasa) atau akan punya anak/keponakan (bagi penumpang yang masih single). Pasti tau bahwa tiap ibu nggak menginginkan anaknya nangis, dan sudah melakukan berbagai cara untuk menenangkan bayi.

Alhamdulillah banget baby Z nggak mengalami rewel selain rengekan kecil ketika dia bosan dan butuh ganti posisi duduk... Bersyukurrrr...
---

Beginilah pengalamanku terbang bersama bayi 5,5 bulan. Di umur berapa bulan kamu mulai bawa-bawa bayi pergi?