Rabu, 20 April 2016

Drama ASI #2: The Happy Ending

Assalamu'alaikum, buibuk...

Alhamdulillah umur si dedek bayi sudah mendekati 6 bulan, menuju penghujung periode ASI eksklusif. Ya, sejak usia 3 bulan, baby Z sudah kembali full ASI. Suplementasi susu formulanya berhenti, berat badannya sudah normal, dan ASI semakin lancar - tersedia kapanpun bayi ingin menyusu. Kalo melihat perjuangan ke belakang, mengingat betapa susahnya memberikan ASI (baca: Drama ASI Kurang dan Suplementasi Sufor), rasanya nggak terbayang aku bisa mencapai titik ini :')


Proses Kembali Ke ASI

Seperti sudah diceritakan di postingan drama ASI sebelumnya, bermacam hal dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI. Mulai dari kunjungan ke konselor laktasi, akupuntur, konsumsi obat hingga mencoba segala macam ASI booster. Namun suplementasi susu formula nggak boleh dihentikan secara mendadak begitu saja. Ada langkah bertahap yang harus dilakukan. Ibaratnya, kita butuh makan 3x sehari, tiba-tiba makanan kita berkurang langsung setengah porsi, apa kuat? Kecuali kalo puasa ya, hehe. Bayangkan gimana pada bayi...

Prinsipku sih sufor nggak haram. Namun seperti dikatakan ahli laktasi dr. Jack Newman, pada kasus ASI kurang (yang mengakibatkan bayi kurang berat badan dan atau kurang pipis), ibu harus meningkatkan produksi ASI dahulu. Lalu asupan bayi ditambah dengan suplementasi (1) menggunakan ASI perah, (2) jika tak ada stok ASI perah, menggunakan ASI donor, (3) jika tidak ada, baru terakhir menggunakan susu formula.

Goal-ku waktu konsultasi ke klinik laktasi adalah bayi menyusu langsung pada ibu (karena aku bukan working mom, yang mungkin goal-nya adalah memperbanyak stok ASI perah).

Aku sangat terbantu dengan alat Medela SNS (bukan botol dot) untuk pemberian suplementasi, sehingga entah ASI perah atau sufor, seolah-olah bayi sedang menyusu langsung sama aku. Meskipun waktu pakai dulu rasanya rempong banget tiap harus nyuci alatnya. It's all worth it!!! Dedek terbebas dari bingung puting, dan payudara terstimulasi untuk memproduksi lebih banyak ASI karena dihisap bayi.

Menghentikan Suplementasi Susu Formula / ASI Perah

Nah dari web Kellymom, ada beberapa tahap untuk 'menyapih' bayi dari sufor. Ini yang kulakukan terhadap baby Z.
  1. Persiapan: catat jumlah suplementasi yang dibutuhkan bayi setiap hari. Sebisa mungkin gunakan ASI perah, namun jika tak ada, gunakan ASI donor / sufor.
  2. Hari ke 1-3: Kurangi jumlah suplementasi #1 sebanyak 30 ml untuk 1 hari (bukan tiap feeding). Misal sehari memberikan 3x suplementasi, berarti tiap suplementasi dikurangi 10 ml. Perhatikan jumlah popok basah (pipis) bayi. Untuk bayi di atas 5 hari minimal 6x pipis sehari. Jika jumlah pipisnya oke, jangan menambah jumlah suplementasi. Bayi masih haus? Susui langsung di payudara.
  3. Hari ke 4-6: Kurangi lagi jumlah suplementasi #2 sebanyak 30 ml untuk 1 hari, seperti langkah sebelumnya. Perhatikan jumlah pipis bayi, dan teruskan menyusui langsung pada payudara.
  4. Hari ke 7-9: Kurangi lagi jumlah suplementasi #3 sebanyak 30 ml. Perhatikan jumlah pipis dan terus menyusui langsung.
  5. Lanjutkan dengan mengulang terus langkahnya, perlahan mengurangi 30 ml tiap 2-3 hari ASALKAN jumlah pipis OK dan berat badan bertambah dengan wajar (tanda kecukupan ASI). Pada tahap dimana susu formula nggak lagi digunakan & suplementasi hanya dengan ASI perah, prosesnya akan lebih cepat. Artinya, ibu sudah memproduksi ASI yang cukup untuk si bayi, tinggal berusaha untuk membuat bayi menyusu langsung pada ibu (jika nggak sedang jauh dari ibu).
  6. Jika jumlah pipis bayi atau berat badan bayi nggak mencukupi, jangan kurangi jumlah suplementasi, atau kembali ke jumlah di poin sebelumnya. Lakukan langkah lebih perlahan.
  7. Selalu perhatikan pertumbuhan bayi, timbang minimal seminggu sekali untuk memastikan bayi bertambah berat badannya dengan baik.


Proses aku menghentikan suplementasi formula ini berlangsung sekitar 2 minggu. Cukup cepat, karena dari awal jumlah sufor yang digunakan nggak banyak, hanya 60-120 ml sehari. Meskipun hingga 2 minggu selanjutnya, tiap sore aku masih belum pede menyusui tanpa Medela SNS. Tiap sore, ketika nyusu bayinya agak rewel karena let down yang lambat. Alhamdulillah di usia sekitar 3 bulanan, tiba-tiba menyusui jadi lebih lancar nggak pakai rewel. Bahkan kadang bayinya tersedak karena ASI terlalu deras. Kontras dengan kondisi sebelumnya!

Bertahan Menyusui Hingga 3 Bulan!

Untuk ibu-ibu yang sedang dilanda drama ASI, tetap bertahan semangat menyusui hingga bayi 3 bulan yaaa. Untuk selanjutnya insya Allah jauh lebih mudah untuk meneruskan periode ASI eksklusif. Waktu berlalu cepat, tau-tau bayi sudah 3 bulan.

Di umur 3 bulan, baby Z menjadi lebih aware terhadap dunia. Ia jadi suka main, waktunya nggak dihabiskan untuk menyusu terus. Proses menyusui yang tadinya butuh berjam-jam pun kini hanya berlangsung kurang dari 15 menit. Bayinya semakin pintar menyusu, sekali hisap bisa 'glegek' lebih banyak hehehe...

Pasca 3 bulan itu, menyusui jauuuuh lebih mudah. Mungkin berbeda-beda ya di tiap ibu, ada yang dari awal sudah lancar, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Tapi memang katanya bayi 3 bulan semakin pintar menyusu, juga semakin penasaran dengan dunia, sehingga urusannya nggak cuma nyusu-tidur-pipis-pup doank.

Ibu lebih rileks, ASI pun lebih lancar. Terima kasih juga buat para booster ASI (mama soya, coklat mamamilky, lactasip) dan obat domperidone + moloco yang sudah menemani hari-hariku di kala proses peningkatan produksi ASI, menambah kepercayaan diriku. Perlahan booster dan obat juga dikurangi. Sekarang aku percaya, bisa memenuhi kebutuhan ASI untuk bayiku tanpa perlu bantuan booster dan obat. Ehm sebenarnya sampai umur 4 bulanan aku masih mengkonsumsi domperidone sih dalam dosis yang sudah dikurangi, agak nggak pede kalau langsung lepas obat.

Mungkin memang kuncinya ada di kepercayaan diri, suasana hati ibu yang bahagia, dan banyak-banyak doa agar diberi rejeki ASI yang cukup. Makanya di instagram suka ada hashtag #ibubahagiasusunyabanyak

Semangat buat para busui yang sedang dilanda kegalauan*, semoga ASI lancar, bayi sehat, tumbuh kembangnya baik!

*Teman-teman ada yang curhat bayinya bingung puting padahal susunya banyak, ada juga yang menyusui penuh kesakitan karena puting luka sampai cuil (T_T gak kebayang), ada juga yang BB anak sangat kurang... Semangattt buibuk!!