Rabu, 03 Februari 2016

Drama ASI Kurang dan Suplementasi Susu Formula

Ketika bekerja di butik baju hamil tahun 2010 dahulu, aku mengenal AIMI dan seluk beluk manfaat ASI. Di masa itu, ASI belum sepopuler sekarang. Maka saat ada karyawan ibuku yang mengeluhkan gajinya habis untuk beli susu bayi, aku dengan sotoy-nya menasihati untuk memberi ASI saja.

"Tapi air susunya nggak keluar..."

Dan aku menyerocos bahwa ASI itu supply vs demand. Awalnya belum tentu keluar, tapi bayi bisa tahan nggak minum dalam 3 hari pertama kehidupannya. Yang penting disedot terus.

Hingga akhirnya aku punya anak sendiri, dan merasakan dramanya ketika ASI kurang lancar :')


Drama dimulai di hari keempat umur si dedek. Malam setelah pulang dari RS, bayi menangis sepanjang malam. Nggak mau minum. Nggak tidur. Nggak bisa ditenangkan.

Air susu nggak keluar karena PD sudah bengkak. Si bayi nggak bisa menghisap. Kakak ipar datang membantu, memijat payudara, dan mendatangkan bala bantuan sahabat-sahabat AIMI-nya.

Ternyata masalahnya ada di pelekatan. Segera setelah diajari pelekatan yang benar, bayiku mau minum dan tangisnya reda. Bayi tidur tenang, aku merasakan the joy of motherhood. Nyusuin, bayi tidur. Nyusuin, bayi tidur. Nggak repot dan nggak ada drama lagi :D

Bayi Kuning, Harus Disinar 

Hari ketujuh usia dedek, kami kontrol ke dokter anak. Bagai tersambar petir, ternyata bayiku kuning! Hasil tes bilirubin nilainya 17... Dedek harus rawat inap di NICU untuk terapi sinar.

Mendadak aku nangis aja di RS. Baru seminggu bersama dedek sudah harus dipisah. Aku disarankan memerah ASI untuk diberikan pada dedek.

Ternyata aku nggak bisa memerah. Hasil perah yang hanya 10-35 ml (35 ml pun cuma terjadi sekali) nggak cukup memenuhi kebutuhan dedek. Aku stand by di ruang tunggu ICU. Kalau dedek nangis, aku dipanggil suster untuk menyusui.

Menunggu di RS itu sangat melelahkan dan deg-degan. Harus siaga. Pernah aku tinggal makan sebentar. Tau-tau dedeknya udah nangis kejer dan suster nyari aku nggak ada di ruang tunggu. "ASI perahnya 15 ml udah dikasih, masih lapar dedeknya..." Kata suster. Hiks...

Suster sudah menawarkan, apa mau ditambah susu formula. Karena bayi yang disinar mudah dehidrasi. Terapi pun kurang maksimal kalau dikit-dikit bayinya diangkat untuk disusui.

Aku yang berharap bisa ASI eksklusif, berpikir negatif kalau susternya jahat banget. Kenapa aku disuruh tambah sufor. Aku tanya apa bisa donor ASI? Suster bilang prosedurnya ribet. Ibu pendonor harus dites dulu untuk tau kecocokan ASInya >_<

Malam kedua dini hari aku menginap di (ruang tunggu) RS, aku dipanggil suster untuk menyusui bayiku yang menangis. Setelah 30 menit menyusui, bayi tertidur. Tapi 5 menit kemudian aku dipanggil lagi. Bayi terbangun masih lapar :( Aku lanjutkan menyusui hingga 1 jam berlalu. Dedek nggak kenyang-kenyang. Suster menengok ke ruang menyusui, ia bertanya, "Air susunya keluar nggak bu?"

Sedih banget. Bayi ini benar-benar kehausan. Aku pun menandatangani form pemberian susu formula, daripada ia terus kususui berjam-jam dan terapi sinarnya nggak maksimal.

That's the first time he consumed that devil formula milk. Meskipun hanya 30 ml, tetap saja aku sedih. Tapi dengan kepala dingin, aku tau, susu formula bukan racun kok. Apa aku setega itu membiarkan bayiku kelaparan ketika disinar?

Alhamdulillah sore hari dedek boleh pulang. Bilirubinnya sudah aman. Sekaleng susu formula yang terbeli pun dibawa pulang.

Drama Menyusui Tanpa Henti dan Klinik Laktasi

Malamnya, pola menyusui bayiku nggak seperti yang dulu. Dulu bisa nyusu - tidur 2 jam - nyusu - tidur 2 jam. Sekarang ia menyusu dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi, ketiduran sebentar, ditaruh bangun lagi nangis lagi kelaparan. Otomatis aku pun nggak tidur.

Aku panik kenapa bayi ini nggak kenyang-kenyang. Akhirnya sepakat bersama suami, kami suapin susu formula 30 ml. Ia masih lapar. Tambah 30 ml lagi. Baru ia bisa tidur.  Lagi-lagi, setelah memberi sufor rasanya aku melakukan dosa besar.

Sebagai emak kebanyakan drama, aku nangis-nangis. Suami inisiatif cari klinik laktasi yang buka hari itu (Sabtu). Maka paginya kami pergi ke RS Carolus Salemba untuk janji pertama bersama dokter laktasi. Dokter mengajari teknik pelekatan yang benar, juga cara memerah ASI dengan tangan. Karena menurut beliau cara kerja pompa ASI itu seperti vacuum cleaner, sementara sedotan bayi berbeda. Hasil pompa tidak mencerminkan kapasitas ASI yang ada di payudara. Dokter menyarankan aku selalu menyusui lalu menyuapi hasil perah untuk mempercepat penambahan berat badannya.

Minggu depannya kami kontrol lagi ke klinik laktasi dan aku diajari cara memijat payudara untuk menambah ASI.

Namun dokter meresepkan aku obat Domperidone. Selidik punya selidik, Domperidone ini obat mual yang punya efek samping terhadap hormon prolaktin agar ASI makin banyak. Dari web dr. Jack Newman, pakar laktasi dunia, obat ini hanya diberikan kalau langkah peningkatan pasokan ASI yang lain belum berhasil.

Sementara itu pola menyusui si bayi masih tetap sama, tidak kenyang-kenyang walaupun sudah 2 jam menyusui. Aku mulai curiga, jangan-jangan bayi ini hanya ngenyot tapi nggak ada yang dihisap. Teknik kompresi payudara pun dilakukan, namun nihil. Jarang sekali terdengar si bayi meneguk ASI walaupun dia menghisap dengan kuat.


Full ASI Tapi Kurang Berat Badan

Di usia 1 bulan, kontrol pun dilakukan. Sambil menunggu dokter, aku menyusui dedek di ruang menyusui bersama ibu-ibu dengan bayi gemuk lucu. Ternyata usianya sama-sama 1 bulan, full ASI, dan ibu itu kaget melihat si dedek juga 1 bulan. "Saya kira masih seminggu bu... Kecil ya badannya.."

T_T Jleb jleb jleb... Aku tau ASI-ku kurang. Aku sudah menyusui berjam-jam dan dedek belum kenyang juga...

I felt like a failure...

Dokter anak pun terkejut ketika tau berat badan dedek 3,3 kg... Hanya naik 200 gram dari berat lahirnya yang 3,1 kg!

"Bu, ini udah bahaya, bisa-bisa nanti gagal tumbuh. Ibu harus nyusui kanan kiri ulang 3x, suapin hasil perah, dan kalau bayi masih lapar terpaksa ditambah sufor 30 ml..." saran dokter.

Sampai rumah rasanya aku makin stres, musnah harapan ASI eksklusif. Sedih melihat teman-teman yang ASInya berlimpah sekulkas. Sedih diberikan saran-saran yang mencegahku memberi sufor. Tapi rejeki orang kan beda-beda ya, begitu pula ASI... rejeki dari Allah. Aku putuskan mengikuti saran dokter, menambah sufor, demi kebaikan bayiku.

Memang, aku akui si dedek ini kerjaannya hanya nyusu. Nyaris nggak ada kesempatan ia terbangun dengan tenang, diajak main. Boro-boro main, wong dia lapar terus. Kerjaanku di rumah pun hanya menyusui. Semua urusan domestik digantikan oleh asisten yang diimpor dari rumah ibuku di Surabaya. Mau mompa juga nggak sempat, kan sepanjang hari bayinya nempel. Kasian kan bayi dan ibunya kalau seperti itu terus.

Lewat telpon, aku yang lagi nangis-nangis ditenangkan orangtuaku, "Meskipun kamu harus nambah formula, bukan berarti kamu ibu yang gagal, Yak... Yang penting kamu fokus ke perkembangan bayimu ya, supaya dia sehat..." Ibu mertua pun menghibur, nggak papa kok pakai formula, toh beliau juga di masanya pakai formula. Dan aku lihat, hubungan ke anak-anaknya tetap dekat banget.

Maka aku mencoba ikhlas menerima, aku memang belum bisa ASI eksklusif. Aku akan suplementasi bayiku dengan susu formula, sambil terus memberikan ASI sebanyak yang aku punya. Sedikit ASI lebih baik daripada enggak sama sekali 'kan?

Suplementasi Susu Formula, Bingung Puting, dan Tongue Tie

Awalnya, kami menyuapi dedek susu formula menggunakan cup feeder, bentuknya seperti cup kecil dari plastik. Tapi dedek usrek dan rewel banget. Lalu mbak asisten menyarankan pakai dot aja. Meskipun aku takut bingung puting, aku dan suami diyakinkan oleh salah satu dokter anak bahwa bingung puting itu hanya mitos.

Mulailah kami beli botol. Dedek pun minum sufor dengan lahap. And that moment, I kinda felt a little bit of heartbreak. He drank vigorously as if it is a relief from his hunger. Meskipun demikian, aku nggak berani ngasih sufor banyak-banyak karena takut produksi ASIku makin berkurang. Paling sehari aku memberi 60-150 ml sufor, terbagi dalam 3x pemberian.

Tandem ASI dan formula ini berlangsung sekitar 3 minggu sampai aku merasa dedek makin rewel dan nggak sabaran ketika kususui langsung dari payudara. Dia lebih memilih botol yang cepat bikin kenyang! Sedih banget deh rasanya. Ini bingung puting!

Aku langsung memutuskan, harus melakukan sesuatu terhadap pasokan dan aliran ASI-ku. Aku pergi ke Kemang Medical Care (KMC) yang super jauh dari rumah untuk terapi akupuntur ASI. Dokter akupuntur menyarankan aku juga cari second opinion ke klinik laktasi di KMC.

Dokter laktasi KMC memintaku segera buang semua dot, namun teruskan suplementasi sufor 6x 60 ml menggunakan alat Medela SNS sampai berat badan dedek masuk ke chart normalnya. Waow. Jumlah mililiternya bikin kaget, jauh lebih banyak dari yang aku berikan biasanya. Selain itu, dosis obat Domperidone-ku ditambah.

Dokter juga memeriksa lidah dedek, dan menemukan tongue tie tipe 4 serta lip tie, sehingga harus di-insisi. Tongue tie dan lip tie ini bisa jadi menyebabkan bayi nggak bisa menghisap ASI dengan optimal, berakibat pada berat badan yang kenaikannya lambat, dan supply ASI yang berkurang karena 'nggak tersedot' dengan maksimal.

Jujur, aku memang agak berharap si dedek ada tongue tie, sebagai alasan mengapa pasokan ASIku nggak banyak. Kuputuskan tanda tangan form untuk insisi. Dan dipotonglah tali lidah si bayi.

.
.
.

Apakah setelah itu drama ASI berakhir dan aku bisa menyusui dengan mudah?

Ternyata belum hehehe. Hingga kini, aku masih mengonsumsi Moloco, Domperidone, aneka booster ASI dari Mama S*ya, coklat Mamam*lky, makan daun katuk (meski seminggu hanya 3x), dll dll. Namun penyusuan masih berlangsung berjam-jam dan dari siang ke malam LDR-nya lambat sekali.

Sempat curiga sebenarnya aku ada breast hypoplasia / insufficient glandular tissue, suatu kondisi medis dimana kelenjar air susu nggak berkembang dengan sempurna pada saat pubertas dan kehamilan. Karena dari beberapa cirinya, di aku juga ada.

Aku masih tergantung dengan Medela SNS sebagai sarana suplementasi, berharap tiap stimulasi di puting mampu meningkatkan produksi ASI. Aku juga masih nggak bisa pisah lebih dari 15 menit dari dedek, takutnya dia haus lagi haus lagi hehehe...

Alhamdulillah sudah beberapa hari aku bisa mengisi SNS dengan ASI perah, yang dipompa sambil menyusui tengah malam. Jadi nggak tergantung sufor lagi. Berat badan dedek pun mendekati target yang ditentukan dokter anak.

Kalau dipikir-pikir, mungkin sekarang ASIku sudah cukup, hanya perlu diatur timing-nya saja. Memompa saat pasokan sedang banyak di penyusuan dini hari dan diberikan ketika ASI seret antara jam 8 pagi hingga 8 malam (dibagi sedikit-sedikit di SNS, supaya bayinya nggak rewel menyusu lambat keluar ASI).

Tentunya manajemen ini nggak mudah, kalo mau ke luar rumah harus diatur kapan pakai SNS-nya, dimana bisa nyuci-nya, dan kapan harus menyiapkan isinya lagi. Apalagi kalau pakai ASI perah, nggak bisa lama di luar kulkas. Kalau pakai sufor bisa minta air panas di restoran, tapi entah terjamin kebersihannya apa enggak.

Aku sempat berpikir, minimal 'melakukan perjuangan ini' hingga dedek 3 bulan. Using SNS is kind of pain in the ass hahahaa... Setelah itu aku bisa memilih untuk meneruskan dengan sufor. Eh tau-tau 3 bulan sudah terlewati :D Dan aku mau melanjutkan target perjuangannya... hingga 6 bulan. Syukur-syukur kalau bisa menyusui terus hingga tersapih dengan alami.

Semoga ASI bisa banyak dan lancar kapan pun dedek butuh menyusui. Semoga ASI-ku bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dedek. Tak henti-hentinya kupanjatkan doa ini tiap sholat.

Pengalaman ini membuatku lebih membuka mata, untuk nggak seenaknya men-judge seorang ibu yang memberi anaknya sufor. You never know what she's been going through.

Semua ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Betul nggak?

UPDATE: Alhamdulillah perjuangan membuahkan hasil... Baca:
Drama ASI #2: Akhir yang Bahagia