Jumat, 20 November 2015

Kelahiran Si Bocah Lanang

Assalamu’alaikum :D
Alhamdulillah, aku sudah melahirkan si dedek dengan normal, sehat dan selamat pada tanggal 28 Oktober yang lalu. Kalaupun sebelum ini ada postingan tentang List Belanja Perlengkapan Bayi dan Belanja Perlengkapan Bayi di Audrey & Rabbit, sesungguhnya itu adalah postingan terjadwal yang kubuat di hari aku tiba-tiba melahirkan :))) Oiya, aku berencana meng-update postingan tentang list belanja perlengkapan, karena setelah si dedek lahir, ternyata masih butuh beberapa barang lagi!
Berdasarkan saran dari apps Baby Center, pengalaman melahirkan sebaiknya segera dituliskan sebelum terlupakan! So, this is it...



26 Oktober 2015 - Kontrol Kehamilan Week 38
Senin sore, kontrol mingguan bersama suami. Dokter bilang posisi kepala sudah di bawah, dan si bayek bisa lahir kapan aja. Entah nanti malam, besok, atau sampai minggu depan. Aku dan suami menanggapi sambil lalu aja, masa iya nanti malam hehehehe.

27 Oktober 2015 - Kontraksi dan Pecah Ketuban
Ternyata sepupu yang hamil barengan dan hari perkiraan lahirannya jatuh setelah aku, malah udah lahiran tadi malam! Gara-gara pecah ketuban. Aku kaget, suami kaget. “Yak, kalo kamu tiba-tiba lahiran juga, gimana?” tanya suami cemas. “Tenang, kan belum tentu kita juga maju lahirannya. Bisa sekarang bisa 2 minggu lagi,” jawabku santai (padahal ada kepikiran juga sih hehehe).

Hari itu entah kenapa hawanya gloomy. Aku malas makan seharian. Untuk sarapan aku cuma makan sereal dan susu, trus makan siang ubi kukus. Aku bikin 2 postingan terjadwal, just in case tiba-tiba lahiran seperti sepupuku :p Selesai nulis blog, bawaannya kepingin beres-beres rumah, ngepel dan sikat-sikat WC.

Perut sering tegang. Katanya, kontraksi adalah rasa kencang di perut, dimana bagian bawah pusar keras seperti papan. Oke, mungkin aku sedang kontraksi. Tapi nggak tau, kontraksi beneran atau kontraksi palsu. Tau ‘kan, di trimester 3 bumil mengalami kontraksi palsu alias braxton hicks. Tapi aku nggak merasakan sakit, jadinya nyantai aja.

Kata mbak Tia Pratignyo, kalaupun kontraksi beneran, bumil mulai ke rumah sakit ketika kontraksi munculnya sudah 5 menit sekali - dimana tiap kontraksi berlangsung 1 menit, berulang selama 1 jam. Kurang dari itu, biasanya pembukaan masih sedikit dan bumil akan diminta pulang dari RS. Kontraksiku muncul dalam jeda waktu 1 hingga 2 jam sekali. Ah masih aman, pikirku. Bisa jadi minggu depan baru lahiran.

Senja pun tiba. Masih malas makan dan malas masak, apalagi suami sedang bike to work dan pulang agak malam. Setelah sholat magrib, aku ngantuk banget dan ketiduran…

Sampai tau-tau pukul 7.20 aku merasakan air merembes keluar dari bagian bawah. Aku loncat terbangun dari tidur, air masih tetap merembes. Ini pecah ketuban!!! Astaghfirullah!

Sambil berusaha tetap tenang, aku bingung mau ngapain: Telpon taxi dulu? Pakai pembalut dulu? Ambil barang-barang ke RS dulu dari mobil? Kabarin keluarga dulu? (FYI aku nggak bisa nyetir - kalau bisa nyetir mungkin naik mobil sendiri ke RS hehehe).

Kuputuskan aku kabari keluarga dulu via whatsapp grup, lalu siap-siap ganti baju untuk ke RS. Suami ditelpon 3 kali nggak diangkat. Pasti masih di jalan pulang naik sepeda T_T Lalu aku whatsapp grup keluarga kalau aku pecah ketuban. Eh ternyata semua pada ikutan panik. Telpon berdering dari sana sini nyuruh aku jangan panik, nawarin dijemput, endebra endebre. Malah jadi rempong hehehee.

Pas pak taxi datang, bertepatan dengan suami sampai di rumah. "Mau kemana Yak?" tanya suami. "Aku pecah ketuban!" Suami shock dan kami langsung bayar pembatalan taxi. Nunggu suami mandi sebentar sambil aku cuci-cuci piring dulu, lalu kami segera ke RS.

27 Oktober 2015 Malam - Menunggu Di Rumah Sakit dan Induksi
Sampai RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, aku langsung menuju Kamar Bersalin. Lapor ke suster, aku diminta berbaring di ruangan untuk cek ECG denyut jantung bayi dan cek kontraksi. Ternyata kontraksiku masih muncul 15 menit sekali. Dan aku nggak merasakan sakit. Entah mungkin ini sugesti karena aku sempat latihan relaksasi dan hypnobirthing kali ya :p

Bapak ibu mertua & kakak ipar datang menjenguk. Bingung bawa termos, bedcover blablabla untuk suamiku nungguin aku. Nyuruh suami masukin ke mobil tas-tas yang ngga perlu (kayaknya perlu semua deh kan aku udah pilihin isinya). Dan makin rame petuah ini itu, aku makin stres hahahaaa... Untung suami mengerti aku, dia meminta yang lain pulang dulu aja, karena belum tentu tiba-tiba lahiran sekarang juga. Kalau pada panik akunya juga gak nyaman, kan.

Suster datang untuk cek pembukaan, dan masyaAllah, rasanya cek pembukaan tuh sakit banget! Ngilunya bertahan sampe 15 menit setelah si suster mengeluarkan tangannya dari bawah sana T_T Ih amit-amit deh.

Melalui telpon, dokter menginstruksikan suster untuk menginduksi aku. Karena kalau sudah pecah ketuban harus lahir dalam 12 jam (katanya). Maka pukul 12 malam aku diinduksi via infus.

28 Oktober 2015 Menjelang Subuh - Kontraksi Hebat
Rasanya pecah ketuban itu nggak nyaman. Karena ada cairan dan darah yang terus menerus mengucur. Lalu frekuensi perut tegang makin bertambah.

Ada yang bilang, kontraksi menjelang lahiran itu bagaikan ombak. Datang dan pergi dengan intensitas yang bertambah hebat. Kala itu, aku baru mengerti maksudnya :)

Latihan napas relaksasi yang dipelajari di kelas Birth Education pun digunakan, seiring dengan rasa mulas yang bertambah parah. Alhamdulillah, malah suami yang ngingetin aku tentang cara napas yang benar. Untung banget deh dulu ngajakin dia ikut kelas edukasinya.

Pukul 4 ketika rasa mulas makin parah, suster cek pembukaan (lagi). Alamak sebel deh eike dicek-cek begitu, ngiluuuu. Pembukaan 5 katanya. Aku dipindah ke ruangan yang akan digunakan untuk bersalin.

Mertua telpon panik, nanya keadaannya sekarang gimana. Aku bilang, "Oh nggak papa kok bu, masih nyantai, nggak usah ke RS dulu..." padahal aslinya udah sakit banget hihihihiii... Tapi demi proses melahirkan yang damai aku putuskan memang hanya ada suami yang tenang di sampingku. Jangan kebanyakan orang.

Pukul 5, mulasnya nggak tertahankan, sampe aku beberapa kali jejeritan. Suami ngingetin jangan teriak, harus napas yang bener. Dalam hati sih udah sebel banget ama teori jangan teriak, wong sakit banget. Suster mengecek, oalah udah pembukaan 8! Dokter pun dihubungi untuk persiapan melahirkan.

Selanjutnya, semua terjadi begitu cepat. Sekitar pukul 6 dokter datang pake kaos oblong (penting diceritain). Aku disiapkan di posisi mengangkang (halo pelvic pain yang kuderita 4 bulanan, sesungguhnya posisi mengangkang sakit banget!), dan diminta untuk ngeden seperti mau BAB.

Dan sungguh, ngeden melahirkan itu berat sekali. Membayangkan ada bayi 3 kilo mau keluar dari lubang kecil di bawah sana. Kehabisan napas pun terjadi berulang-ulang. Istirahat sebentar, ngeden lagi. Aku mendengar suster, dokter, dan suami bilang, "Ayo terus, ngeden lagi, hampir keluar, pasti bisa!"

06.50 WIB - Mbrojol!
Tau-tau kejadian ini berlangsung cepat: ada makhluk keluar beserta tali pusar yang panjang, terdengar suara tangisan bayi, dokter bilang alhamdulillah, suami mengecup keningku, dan makhluk itu - si bocah lanang, diletakkan di dadaku.

Segera setelah bayi berada di dada, ia berhenti menangis dan... langsung tidur :D Ngga ada tuh IMD yang dia cari-cari puting, si bocah tidur ajaaaa... Pelekatan berlangsung sekitar 15 menit sebelum dia diangkat untuk observasi. Kepingin protes 'kurang lama' tapi sudah nggak ada energi.

Akupun dibiarkan istirahat dulu, sebelum dipindah ke ruangan rawat inap.

Sekitar pukul 9, keluarga mertua sudah ngumpul di ruanganku. Ipar protes karena bayinya nggak segera disatukan dengan ibunya (masih diobservasi di ruang bayi), padahal bayi ASI eksklusif harusnya selalu bersama ibu 24 jam. Suami pun disarankan mbak ipar agar bilang ke suster untuk segera membawa si bayi ke kamarku.

Alhamdulillah pukul 10 aku sudah berkumpul bersama si bocah lanang yang telah dimandikan, dan langsung belajar menyusui - meskipun belum ada ASI yang keluar :D Yaaa insyaAllah ada kolostrumnya ya dek!

Demikianlah catatan pengalaman lahiranku. Babak baru penuh drama ala emak-emak. Nanti menyusul cerita-cerita drama selanjutnya hehehe.

Oiya buat yang bertanya, di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, bayi bisa rooming in dengan ibunya.

Wah resmi sudah blog ini ketambahan satu label: Motherhood. So, welcome to motherhood, Tia!