Rabu, 21 Oktober 2015

Tentang Penantian Kehamilan

Assalamu'alaikum blog...

Kado dari suami di awal tahun 2014 - alhamdulillah terpakai di tahun 2015 :')

Nggak terasa, usia kehamilanku sudah memasuki 37 minggu lebih 3 hari :) Kalau diingat-ingat dari perjalanan pernikahanku dan suami, nggak terbayang akhirnya aku bisa merasakan keajaiban yang terjadi dalam perut ini.

Sejak menikah September 2012, aku dan suami rajin banget ditanya-tanyain, "Udah isi belum?"
Sebulan, dua bulan, tiga bulan... Kami masih santai mendengar pertanyaan semacam itu. Toh kami juga hepi-hepi aja pacaran berdua hihihi. Mau nonton bioskop malam-malam, bisa. Suami dinas mendadak ke Bandung? Ikut lah, sekalian jalan-jalan dan main ke rumah eyang. Diajak mertua ke Eropa? Alhamdulillah bangeeeet!!


Tanda-tanda Kehamilan?

Memang ada momen-momen dimana aku merasakan tanda-tanda 'kayaknya aku hamil deh', yang ternyata cuma kegeeran semata. PMS mirip tanda-tanda hamil, sis! Berujung berurai air mata :))) Sempat 'telat' seminggu pasca jalan-jalan ke Korea, tapi bukan hamil juga. Setelah di-browsing, ternyata traveling bisa mempengaruhi jadwal menstruasi, karena metabolisme tubuh berubah. Mungkin karena di Korea suhunya minus, makanannya pun beda dengan yang kukonsumsi di Indonesia.

Sempat juga false alarm ketika sedang jalan di Kuala Lumpur (tuh kan kenapa kejadian-kejadian seperti ini munculnya ketika lagi traveling!). Di hari-H harusnya menstruasi, aku iseng testpack dengan hasil 2 garis - yang satu garis super tipis. Bahagianya luar biasa. Sayang siangnya tiba-tiba muncul flek, dan 2 hari kemudian pun si tamu bulanan mengucur deras. Kebayang lah betapa hancurnya hati ini. Sehari di KL dihabiskan dengan nangis sendirian di hotel, sementara suami sedang training.

Program Hamil

Hingga akhirnya 1.5 tahun pernikahan berlalu, makin sedikit yang tanya "Udah isi belum?". Justru aku dan suami yang jadi bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan kami? Dimulailah babak baru pernikahan kami: program kehamilan di Rumah Sakit. Serangkaian tes pun dilakukan. Dari tes darah, tes sperma, hingga HCG yang menyakitkan untuk mengecek lancarnya saluran ke indung telur.

Semua baik-baik aja. Nggak ada masalah yang menyebabkan aku sulit hamil. Maka obgyn menulis diagnosa, 'unidentified infertility'. Kami lalu program dengan minum suplemen dan penyubur. Setelah 3 cycle tamu bulanan masih datang, kami disarankan melakukan tindakan inseminasi. Saat itu tengah tahun 2014, kami merasa takut dan belum siap. Kok tau-tau sudah dirujuk inseminasi? Pengennya kan hamil alami. Kami nggak balik lagi ke obgyn tersebut.

Tahun 2015 datang, 2.5 tahun pernikahan. Rumah kami masih sepi-sepi aja, berdua aja. Mendadak teman sekantor suami, hamil semua. Yang bapak-bapak pun istrinya pada hamil. Nggak kebayang kalo aku yang kerja di kantor suami, pasti mewek di tengah kabar bahagia kehamilan teman-teman.

Kami memutuskan untuk mencoba program lagi. Kali ini aku sudah siap jika harus diinseminasi. Mau kehamilan alami dengan program, inseminasi, atau bayi tabung, semua adalah ikhtiar untuk punya keturunan. Di obgyn yang baru, aku menunjukkan semua hasil lab dari programku di tahun sebelumnya. Eh dokter bilang, data-data yang aku berikan sudah cukup, aku nggak perlu mengulang periode program dengan minum obat-obatan hormon. Kami bisa langsung inseminasi kalau bulan depan masih mens!

Bulan Februari 2015, proses insem dilakukan. Aku dan suami menjalaninya dengan sukacita. Kami pasrah dan nggak banyak berharap, tapi kami bahagia banget saat itu. Tiap hari bercanda mulu :D Kami beli mesin juicer supaya aku bisa rajin minum jus, biar sehat hahahaha... Sehari setelah insem pun kami main-main ke IKEA Alam Sutera. Hepiiii banget.

Kalau diingat-ingat, bulan Februari itu auranya super positif. Pada 2 minggu pasca tindakan insem, aku dijadwalkan tes darah beta-HCG untuk mengecek apakah terjadi proses kehamilan. Setelah ambil darah, aku masih sempat main ke Indonesia Fashion Week :p Sembari menunggu ambil hasil tes di malam hari.

Hasilnya? Seperti nggak bisa dipercaya, tes HCG menunjukkan aku hamil. Test pack pun semakin hari semakin jelas 2 garisnya. Suami masih berusaha tenang, nggak mau terlalu excited karena takut kejadian false alarm seperti tahun lalu. Kontrol dokter dijadwalkan 2 minggu pasca tes HCG.

Dua minggu kemudian, yakni ketika kehamilan memasuki usia 6 minggu, kami kontrol ke obgyn. Si dedek masih berbentuk seperti titik di dalam kantong kehamilan. Obgyn menawarkan kontrol 2 minggu lagi (usia kehamilan 8 minggu) untuk mengecek denyut jantung dedek. Tentu saja kami mau.

Di minggu ke-8 kehamilan, terdengar kencangnya denyut jantung dari alat doppler yang ditempelkan ke perutku. Speechless!! Benar-benar ajaib, makhluk kecil seukuran kacang merah di dalam rahim ini, sudah punya detak jantung. Aku dan suami pulang bergandengan tangan, tanpa bicara apa-apa. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan??

---
Nggak terasa, 2-3 minggu lagi kita ketemu ya, dedek. Bapak ibu sudah 3 tahun menantikan kamu :') Tiap hari tendanganmu makin terasa kencang, kayaknya udah pengen keluar dari perut ibu yaaaa... Sehat-sehat selalu ya dek, see you soon, insya Allah!