Kamis, 09 April 2015

Belajar Investasi Reksadana Versi Newbie

Assalamu'alaikum. Serandom-randomnya isi blogku, lebih random lagi sekarang aku mau cerita tentang Reksadana :P Sebagai orang awam yang bukan ahli keuangan, aku bersyukur bapakku punya sertifikasi financial planner. Jadi, sejak lulus kuliah aku sudah 'dituturi' macam-macam tentang keuntungan investasi di Reksadana.

Sori gambarnya gak nyambung, asal edit aja :p Hayooo di tahun 90-an uang Rp 10.000 bisa buat beli apa aja ya?

Ngapain Investasi? Kenapa nggak Nabung aja?

Nabung di bank, bunganya segitu-segitu aja. Kalah sama inflasi / kenaikan harga. Jaman aku SD, harga Chiki Rp 350. Sekarang udah Rp 2.000-an aja! Kalau punya uang cuma disimpan, nilainya di masa depan pasti jauh lebih rendah dari daya belinya saat ini. Makanya kita butuh instrumen investasi yang (diharapkan) bisa meningkatkan nilai uang kita lebih tinggi dari inflasi.


Apa sih Reksadana itu?

Reksadana wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. [1]

Pengertian ini menurutku sulit dicerna hahaha. Tapi intinya begini. Orang-orang ingin menanamkan modal di perusahaan-perusahaan besar, dengan harapan ikut mendapat untung 'kan? Tapi untuk menanamkan modal dibutuhkan uang yang banyak. Bagaimana kalau uang yang kita punya hanya minimal Rp 100.000? Mau nanam modal dimana? Di Hongkong? *eh

Di reksadana, kita bagaikan membentuk suatu wadah patungan bersama orang-orang yang juga ingin menanamkan modal, lalu dana kita dikelola oleh Manajer Investasi. Manajer Investasi itulah yang akan membantu kita memilih, modal akan dimasukkan ke perusahaan mana saja yang menguntungkan. Tentunya Manajer Investasi adalah badan yang sudah berpengalaman dan punya sertifikat. Jadi kita ga usah ambil pusing, duit kita ditanamkan di Selkomtel, Pabrik Pupuk, atau perusahaan lainnya. Itu tugasnya Manajer Investasi.

Lalu bagaimana memulai beli Reksadana?

Di awal tahun 2011, di umur 24 tahun, Bapak mengajakku datang ke sebuah bank-sebut saja Mandi Sendiri. Bank Mandi Sendiri menjual berbagai jenis reksadana dari berbagai Manajer Investasi. Contoh Manajer Investasi adalah Schroder, BNP Paribas, Bahana, Danareksa, dsb. Masing-masing Manajer Investasi punya beberapa produk, misalnya Schroder punya produk reksadana syariah , reksadana campuran, reksadana saham dan pasar uang.

Kita bisa mengintip kinerja investasi produk-produk tersebut di infovesta.com. Di situs ini kamu bisa memilih kinerja Reksadana Pendapatan Tetap, Campuran, Saham, Pasar Uang, hingga Syariah. Bedanya apa? Silakan google "Jenis Reksadana" :D

Yang aku tanamkan di otak adalah 2 hal ini:
  1. Makin besar profit yang kamu harapkan, makin besar risikonya!
  2. Untuk tujuan keuangan jangka pendek pilih Reksadana yang paling aman (keuntungan kecil tapi risiko sedikit - reksadana Pasar Uang), sedangkan untuk tujuan keuangan jangka panjang pilih Reksadana yang memberikan profit besar dengan risiko besar (Reksadana Saham).

Mengintip infovesta.com bagian Reksadana (scroll ke bawah di homepage)

Tips ala aku sih, cari yang kinerja 1 tahun dan 3 tahunnya bagus (angkanya warna ijo). Karena kalau cuma lihat kinerja harian / 1 bulan yang lalu, walaupun untung, belum tentu jagka panjangnya tetap untung.

Reksadana langsung beli banyak atau diatur per bulan?

Enaknya di bank Mandi Sendiri, reksadanaku bisa diatur autodebet per bulan. Jadi tiap bulan, aku berinvestasi tetap sejumlah sekian rupiah. Karena harga reksadana naik turun, dengan cara beli dikit-dikit tiap bulan kita bisa menghindari risiko beli di harga tinggi (kita kan nggak tau, harga besoknya akan naik atau turun), jadi belinya dapat harga rata-rata deh.

Kalau kamu datang ke bank-nya, pasti dijelasin kok sama CS, list reksadana yang bisa dibeli, cara mengatur investasi bulanan, dan mau sampai kapan autodebetnya berjalan. Pastikan dia menjelaskan tentang reksadana ya, bukan produk tabungan berjangka-nya bank (kadang abis beli reksadana suka ditawarin produk-produk bank yang lain).

Kalau sudah beli reksadana, kapan boleh diambil?

Yah sabar mbak. Namanya investasi, kita berharapnya kan untuk jangka panjang, misal 5 tahun hingga 50 tahun ke depan. What? Lama amat? Yaaaa itu kan untuk tujuan yang lebih penting, misal uang pangkal sekolah anak, atau malah duit untuk pensiun.

Sebenernya sih bisa aja, beli reksadana lalu dicairkan beberapa bulan kemudian. Tapi untungnya nggak akan kerasa deh. Untuk pencairannya harus ke bank pula, diurus dokumennya. Ada juga sih bank yang bisa jual beli reksadana via internet banking. Tapi menurutku makin susah uangnya diambil, makin aman investasinya :D Nggak bisa dipakai belanja kepepet-pepet, apalagi kalau lagi musim diskon.

Reksadanaku nilainya turun! Rugi donk?

Ya bakalan rugi kalau pas nilainya turun, reksadananya malah kamu cairkan :p Makanya kan kita investasi untuk jangka panjang, walaupun harga harian naik turun, di jangka panjang nilainya cenderung naik. Maka pastikan Manajer Investasi yang kamu pilih kinerjanya bagus, salah satu caranya ya lihat di web infovesta yang tadi kusebutkan :)

UPDATE: Don't Put Your Egg in One Basket

Salah satu saran bagi yang mau menanamkan uangnya untuk beli reksadana, belilah beberapa produk yang portfolionya baik. Jangan cuma masukin uangmu di satu produk reksadana. Ini bertujuan untuk membagi risiko, misal yang satu nilainya agak jatuh, bisa jadi yang lainnya memberi pertumbuhan nilai yang tinggi.

Kalau tertarik belajar lebih lanjut...

Aku sarankan untuk baca bukunya Ligwina Hananto berjudul Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin. Di buku ini, mata bisa cukup terbuka terhadap pentingnya berinvestasi.

Sekian postingannya, walaupun (mungkin) kurang detail informasinya, semoga bisa membantu temen-temen yang sedang penasaran investasi ya ;) Buat yang paham soal reksadana, sharing tips-tips di komen yaaa...