Senin, 02 Februari 2015

Pecinta Gratisan vs Gaya Hidup Minimalis

Sebelumnya pernah aku ceritakan kalau aku sedang berusaha hidup minimalis (ngomong thok, prakteknya susah). Sebuah gaya hidup, seperti ditulis theminimalist.com, yang berusaha memiliki barang sesedikit mungkin alias secukupnya.
"Minimalism is not a radical lifestyle. Minimalism is a tool I use to get rid of unnecessary stuff and live a meaningful life—a life filled with happiness, freedom, and conscious awareness. Because I strip away life’s excess, I’m able to focus on the important parts of life: health, relationships, passions, growth, and contribution. That’s what living a meaningful life is about for me." (theminimalist.com)
Sumber Gambar

Saat pindah ke rumah yang sekarang (dulu sempat 1 tahun hidup di rumah mertua, lalu sekarang sudah 1 tahun di rumah sendiri, hore!), aku bilang ke suami kalo kita harus hidup minimalis. Kenyataannya, liat rak lucu atau drawer warna warni di Informa kepengen. Sepatu masih bagus udah kepengen sepatu lain di Payless. Lalu beli-beli bunga plastik buat dekorasi. Walah tanpa disadari rumahku tiba-tiba penuh barang!

Okelah, barang-barang tersebut, bisa dibilang memang dibutuhkan. Rak digunakan untuk menyimpan barang. Bunga plastik untuk pemanis ruangan. Tapiii ada jebakan betmen yang jadi musuh orang minimalis:


Hobi Ngambilin Barang Gratisan!

Ini dia beberapa barang gratis yang jadi kelemahanku:
  • Sabun dan sampo dari hotel. Dibawa pulang karena mikir, "Siapa tau nanti butuh buat traveling." Pemikiran tersebut menyebabkan aku punya 2 laci penuh toiletries dari hotel! Sekarang aku dan suami bikin ultimatum untuk nggak lagi-lagi mengambil sabun dan sampo hotel.
  • Katalog dan majalah gratis. Ini juga nyusuh (nyampah - bahasa Suroboyo, red.). Saking nggak ada tempat nyimpan majalah, aku tumpukin majalah-majalah di tangga. Mau diloakin kok sayang. Hey buang kata 'sayang' itu! Toh sudah lebih dari 6 bulan juga nggak dibaca.
  • Peralatan makan dan masak yang ditawarkan orangtua. Waktu mau pindahan ke rumah baru, mertua menawarkan aneka panci stainless dan aneka perangkat saji masakan: piring, gelas, mangkuk dll. Aku seneng banget lah! Kenyataannya: sudah setahun panci dan alat saji yang besar-besar nggak terpakai. Hidup berdua suami, masaknya dikit. Pakai teflon yang kecil sudah cukup. Nggak pernah tuh tergerak buat ngeluarin wajan supergede. Memang di jaman emak kita muda dulu, masaknya banyak. Habis masak ditata pakai piranti saji di meja makan. Lah meja makanku aja cilik, pake perangkat saji nambah-nambahin cucian, meja pun tak cukup besar. Jadi wajannya aja ditaruh di meja ahahaha. Solusinya, mungkin alat masak tersebut bisa dijual. Uangnya diputar, dan suatu ketika kalau jumlah anggota keluargaku sudah banyak & butuh piranti besar, baru deh beli :) Jadi gudang nggak penuh dari sekarang.
  • Teh dan kopi-kopian dari hotel. Hotel memang surganya barang gratisan ya :p Kebiasaan suka ambil teh kopi yang disediakan gratis. Apalagi kalo suami dinas seminggu nginap hotel, pulang-pulang bisa panen teh kopi. Aku sampai bikin "coffee break corner" di rumah. Aneka teh dan kopi dipajang. Tapi jarang keminum juga, karena memang ngeteh bukanlah rutinitas. Pas kepingin ngeteh, liat kantong tehnya nggak tega dipakai, "Ini kadaluarsanya kapan yahh?" Dan berakhir dengan membuang teh-teh yang sepertinya sudah lama dan bulukan.
  • Merchandise dari workshop atau pameran. Selalu merasa senang yang 'semu' ketika dapat kipas plastik, blocknote, brosur, kalender, tempat pensil, gantungan IDcard... Banyak deh... Kalau ada kuis-kuis berhadiah printilan pun diikutin, demi "rasa bahagia" dapat barang gratis. Sumpel lagi ke laci printilan dan beberapa barang mblangkrak di sudut rumah. Aih sebeeeel...
Memperoleh barang gratis memang menyenangkan. Tapi kalau ujung-ujungnya cuma menuh-menuhin rumah dan harus disingkirkan, bukannya lebih baik dari awal nggak diambil? Atau ketika dapat, langsung diberikan ke orang lain yang juga membutuhkan. Tanpa disadari energi negatif dari barang-barang tersebut cukup besar lho. Misalnya, rasa sebal tiap buka laci isi printilan yang berantakan, atau bingung barang gratisnya harus disimpan dimana. Belum lagi kalau jadi sarang debu.

Let's face it, our home is not that big and we can't handle that much energy for clutters. Pakar minimalis selalu bilang, bijaklah dengan barang yang kamu bawa ke dalam rumah. Jangan buang-buang energi untuk memikirkan barang itu mau ditaruh dimana, disimpan atau dibuang, hingga dirawatnya bagaimana...

Kalau kamu, ada nggak sih barang yang sering diambil karena gratis tapi malah numpuk begitu saja?