Kamis, 11 April 2019

Survey Playgroup Rawamangun

Assalamu'alaikum! Kakak Z sekarang sudah berusia 3 tahunan. Sudah mulai senang berkegiatan, bisa duduk anteng beberapa menit. Dia selalu meminta adanya aktivitas. Sayangnya, seringkali ibu disibukkan oleh urusan rumah dan merawat adek, sehingga Z jadi cranky minta perhatian. Rasanya ini saat yang tepat untuk mulai menyekolahkan Z, supaya dia ada kegiatan, supaya punya teman, dan supaya ibu bisa me time barang sejam-dua jam (eh lupa, kan ada adek ya hahahaha).


Saat ditanyakan, apa Z sudah mau sekolah? Ia pun menjawab mau! Karena sebelumnya ibu sudah pernah membacakan buku cerita bertema masuk sekolah. Salah satu buku yang ibu bacakan yaitu "Charlie Chick Goes To School".

Maka dimulailah perjalanan kami survey berbagai playgroup di Rawamangun, lingkungan tinggal kami. Total ada 8 sekolah yang sudah kami (aku dan Z) kunjungi:
  1. Tunas Wiratama, Rawamangun Muka
  2. Little Nabawi, Cipinang
  3. Rodin, Jl. Gurame
  4. English Speaking Moslem, Jl. Gurame
  5. At Taqwa, Rawamangun
  6. Indonesia Montessori, Utan Kayu
  7. Al Azhar Rawamangun
  8. KB/TK Nuruddin, Jl. Cumi-cumi
Wah banyak ya! Z pun menikmati proses melihat-lihat sekolah ini, juga sempat ikut bermain di beberapa sekolah. Ini dia review singkat dan biaya masuk untuk tahun ajaran 2019/2020.

1. Tunas Wiratama

Ini salah satu sekolah yang kuincar, karena dulu aku pernah ikut kelas KeluargaKitaID di sana. Dilihat-lihat, kok sekolahnya menyenangkan. Kelasnya terbuka dengan sirkulasi udara yang baik, sistem sentra dan moving class, ada halaman bermain yang cukup luas, juga ada kolam kura-kura dan kandang kelinci.
Kelas playgroup, di lantai 2 dan tertutup

Kelas TK, sistem moving class ke sentra-sentra bermain/belajar (sentra rancang bangun, sentra bermain peran, sentra kreativitas, sentra bahan alam, sentra persiapan)

Ada jembatan dan kolam kura-kura... ini yang bikin ibuk naksir sekolahnya...



Namun ketika aku survey ke sana, agak kurang sreg dengan kelas KB yang terletak di lantai 2, ber-AC, dan tertutup sekali. Kalau kelas TK-nya sih terbuka tanpa AC, sistem moving class. Nah kalau bapake, berhubung pengennya sekolah Islam, dia jadi nggak sreg kalau daftar ke sini.

2. Little Nabawi

Ini sekolah incaran suami, karena kami berharap Z nanti SD-nya bisa di Nabawi. Namun seperti kabar yang beredar bahwa Nabawi ini sekolah mahal, aku cukup menelan ludah saat tau biaya preschool-nya.


Ruang kelas ber-AC, lantai parkit, mainan masih bagus-bagus dan bersih!

Playground outdoor-nya juga terlihat menyenangkan..
Ada harga ada rupa. Menjejakkan kaki ke dalam sekolahnya, terasa adem, nyaman, dan sangat bersih. Playground-nya juga luas, tertata apik, dan memang terlihat mahal. Z juga senang sekali waktu menjelajah sekolah Little Nabawi ini.



3. Taman Bermain Rodin

Di Rodin, selain ada taman bermainnya, juga ada daycare. Siapa tau sewaktu-waktu butuh menitipkan anak-anak di sini hehehehe.


Sekolahnya agak kecil, playground-nya berupa halaman rumah. Tapi kelebihannya, bisa masuk mulai kapan saja, dengan uang pangkal disesuaikan (misal masuk tengah tahun ajaran, ya bayar uang pangkal setengahnya). Ruang kelasnya sih terlihat bersih.

4. ESM (English Speaking Moslem)

Aku sebetulnya nggak tahu kalau ada TK muslim di situ. Taunya malah dari guru Rodin hahaha... Kami tanpa rencana pun langsung jalan ke ESM.

TK-nya tampak padat murid, dan kelihatannya sudah cukup lama berdiri. Kelasnya terlihat banyak tempelan bahan ajar membaca dan berhitung. Dan guru yang mengajak berkeliling, dengan semangat bercerita bahwa di ESM murid diajari membaca sejak dini, karena otak anak kecil masih sangat mudah menerima bahan pelajaran baru.

Hmmmmm agak berbeda dengan yang kuyakini sih, kalau anak belum benar-benar perlu belajar baca terlalu dini. Enaknya, di sekolah ini murid sudah sekalian dapat makan siang (disiapkan sekolah), jadi mereka belajar makan bersama-sama dengan tertib (dan ibu ga usah nyiapkan bekal). Tapi karena beberapa hal aku kurang sreg di sini.






Oiya di ESM juga bisa mulai di tengah tahun ajaran, dengan hitungan bayar setahun sejak masuk sekolah (misal bayar uang pangkal Feb 2019, berarti berlaku hingga Feb 2020).

5. Al Azhar YAPI Rawamangun

Datang ke sini Sabtu siang sama bapake. Ya tentu saja tutup, kan libur. Tapi terlihat sekolahnya besar sekali, dan sempat lihat pamflet biaya masuk TK Rp 21juta. Kalau playgroup yaaa sekitar segitu kurang dikit kali yaaa?



6. At Taqwa Rawamangun

Ini salah satu sekolah yang disetujui bapake (setelah Nabawi), karena beberapa anak teman kantornya ada yang bersekolah di sini. Arena bermainnya luas sekali. Sewaktu datang, Z ikut diwawancarai bu guru sebagai tes kesiapan masuk sekolah. Nggak seperti tes sih, hanya bermain-main sambil diobservasi bu gurunya. Ditanya jumlah, warna... Z banyak diem. Uh gemes juga, padahal Z udah hafal warna-warna dari sebelum 2 tahun (mamak sombonggg wkwkwkwkwkk). Tapi selowwww mak, namanya juga anak-anak ketemu orang asing, pasti masih malu-malu lah apalagi ditanya-tanyain mulu :p


Taman bermain, ada banyak mainan, juga pendopo untuk kegiatan anak-anak


Z diobservasi bu guru

7. Indonesia Montessori, Utan Kayu

Cukup tertarik ke sekolah berbasis Montessori, tapi ketika survei ke sana... duhhh ku tak sanggup perjalanannya T_T Masih agak jauh dari rumah, dan harus lewat jalanan macet (ah aku kok nggak setrong gini sih). Dapat daftar biayanya sih... Kalau ada yang penasaran, komen ya, nanti aku cari & foto dulu pamfletnya :))

8. KB/TK Nuruddin, jl. Cumi-cumi

Ini playgroup paling sederhana dari semua yang sudah aku survei bersama Z. Sangat dekat rumah, tapi malah terakhir disurveinya. KB/TK-nya kecil di perumahan, garasinya pun terpakai untuk belajar.


Fasilitasnya memang agak minim, mainan di halaman hanya ada 1 perosotan dan 1 ayunan. Ruang kelas playgroup sangat kecil, namun memang murid KB-nya baru 3 orang. Ruang kelas ber-AC, dan ada kamar mandi. Penting nih, buat yang pada sudah toilet training.

Uang pendaftaran Rp 2.000.000 dan SPP sekitar Rp 300ribuan per bulan.

---

Masih ada beberapa playgroup di sekitar Rawamangun yang belum aku kunjungi, misalnya Pelangi Alexandria, Al Azhar (belum tau detail harganya), dan Mentari Intelegensia. Tapi mamak sudah mumet @_@

Akhirnya, Z sekolah dimana?

Berhubung ibuk galau terus, lewatlah masa pendaftaran yang berdiskon besar :))) Tapi pada akhirnya, aku memilih untuk menunda sekolah. Nanti Z sekolahnya setahun lagi aja ya pas masuk TK. Rencana kalau nanti sudah makin nggak sanggup membersamai bocil belajar, cari kelas-kelas main yang sering ada di IG, atau ikut sekolah yang bisa masuk tengah tahun ajaran. Soalnya kalau dimasukkan sekolah sekarang, perjalanan menuju SD masih jauh, aku takut Z bosan dan mogok sekolah di tengah jalan.

Semoga review-reviewan ini bermanfaat buat buibu galau yang juga sedang cari sekolah. Minimal biar tau kisaran harga sekolah playgroup jaman sekarang. Ternyata dari yang murah sampe mahal semua ada, fasilitasnya juga beragam. Mana nih yang paling bikin sreg dihati?

Senin, 11 Maret 2019

6 Tips Agar ART Awet Bekerja di Rumah

Assalamu'alaikum!

Beberapa bulan belakangan, aku kesulitan mendapatkan ART yang betah di rumah. Terakhir punya ART yang loyal itu... ketika kakak Z masih bayi. Wahhhh sudah lama ya! ART selanjutnya ada yang bertahan hingga 5 bulan, dan paling cepat ada yang baru 2 minggu bekerja sudah resign. Terbayang nggak, rasanya baru lahiran 2 minggu terus ART minta pulang? Wah patah hati rasanya. Apa salah dan dosaku sebagai majikan sehingga ART keluar masuk seperti kutu loncat???


Rasa-rasanya sih, ART di rumah sudah diberi gaji standar ART sekitar. Nggak kecapekan kerja (maghrib mereka sudah istirahat). Ada hiburan nonton TV. Akupun nggak pernah marah ke ART. Mau ijin pulang, dikasih. Kalau aku keluar kota, mereka juga boleh pilih mau pulkam atau jaga rumah. Tapi kenapa yaaa pada nggak betah.

Nah dari obrolan bersama ibu-ibu di grup teman kuliah, aku banyak diberi tips-tips ala HRD kantoran untuk mempertahankan pegawai. Ternyata tipsnya bisa diaplikasikan untuk kita para ibu-ibu mempertahankan ART. Yukkkk mari kita simak.

1. Asisten Butuh Hari Libur

Sama seperti para pegawai kantoran, kalo kerja terus pastilah capek. Mereka juga butuh me time. Misalnya ART yang pulang pergi bisa libur untuk bersama keluarganya di hari Minggu. Atau ART menginap bisa libur 2 minggu sekali, untuk jalan-jalan atau bersosialisasi.

2. Asisten Butuh Harapan Kenaikan Gaji

Apalagi kalau kinerjanya bagus. Seperti orang kantoran, butuh tau kalau tahun depan ada kenaikan gaji sesuai inflasi. Dan tau kalau akan ada THR di hari raya.

Pastikan tiap mau menaikkan gaji, bilang ke asisten kalau mereka kinerjanya bagus dan harus dipertahankan. Jadi mereka merasa diapresiasi, lalu makin semangat bekerjanya.

3. Fixed Cost vs Variable Cost

Kadang bingung ya, ngasih asisten kenaikan gaji pokok, atau sekedar memberi 'uang tambahan' untuk mereka? Menurut temanku, asisten lebih suka fixed cost (gaji pokoknya dinaikkan) karena mereka punya gengsi juga, apalagi kalau ARTnya tipe yang suka ngerumpi sama ART tetangga *eh

Ada juga teman yang lebih suka memberi bonus uang tambahan, sehingga mereka nggak 'njagain' bulan depannya akan dapat segitu juga.

4. Asisten Butuh Lihat Dunia Luar

Misalnya kita ajak jalan-jalan saat weekend, atau diajak ke mall, atau ditraktir makan enak yang mereka jarang rasakan. Sama seperti pegawai kantor yang tiba-tiba ditraktir bosnya makan siang, pasti menambah loyalitas kepada atasan.

5. Tetapkan Jam Kerja

Misalnya, setelah jam 8 malam, sudah jadi hak ART untuk istirahat, maka kita sudah nggak boleh minta-minta tolong lagi. Atau apabila kerjaan sudah selesai sebelum jam tersebut, maka dia bebas istirahat atau nonton TV. Mau tidur siang juga nggak papa asalkan kerjaan beres.

6. Pahami Tipe Asisten Juga Berbeda-beda

Semua orang tipenya berbeda. Ada yang suka ngobrol, ada yang pendiam. Ada yang suka anak kecil, ada yang enggak. Pahami bagaimana cara membuat mereka senang. Apabila sudah cocok, pertahankan, karena lebih pusing apabila ditinggal ART, terutama apabila ART adalah support system dalam keluarga. Mengajari orang baru juga menghabiskan energi.


Nah setahun terakhir ini, aku dapat ART-nya memang habis magrib sudah istirahat ga turun-turun lagi. Nonton TV bebas, nggak disuruh pegang anak, diajak keluar mereka yang males... Tapi semua ada alasan sendiri-sendiri untuk pulang kampung... Yang 1 biasa kerja di warung makan selama 10 tahun, begitu kerja rumahan jadi nggak betah karena merasa sepi. Yang terakhir sepertinya kerja cuma buat cari modal untuk nyawah di kampung... Belum sempat mikir menambah gaji, eh terlanjur ditinggal duluan.

Lalu temanku memberi wejangan, "ART menurutku cocok-cocokan kok Tia. Bukan salah kita juga kalau kita udah berlaku sepantasnya mereka. Mau usaha di retained kayak gimana juga kalau emang udah gak mau kerja sama kita ya gak akan mau."

Dan karena tiap keluarga berbeda valuesnya, bisa jadi ART A cocok di keluarga B tapi nggak cocok di keluarga C. Bukan karena keluarga C kurang baik, tapi karena ya memang nggak cocok aja. Hmmm... mungkin memang belum rejeki aku dapat ART yang bener cocok dengan keluargaku, ya? Huhuhu... terima kasih tips-nya ya teman-teman (cc: Novita, Tita, Ridha, Eny), insyaaAllah akan kuingat kalau aku punya ART lagi.

Akhirnya sih sampai sekarang aku belum dapat ART menginap, tapi pakai ART harian yang datang 2 jam aja sehari untuk bantu beres-beres dan menyetrika.

Kalau kamu, pernah kena drama-drama seputar ART nggak?

Kamis, 29 November 2018

Cara Praktis Merawat Kulit dengan Natural Honey Hijab Hydra Fresh

Assalamu’alaikum teman-teman...

Jujur aja ya, sejak dulu, aku termasuk jarang melakukan perawatan kulit secara rutin. Adaaa aja alasannya. Saat kuliah terlanjur capek dengan tugas-tugas kuliah yang nggak jarang membuat begadangan. Pagi-pagi berangkat ke kampus naik angkot berpanas-panas, malas pakai pelembab karena bikin lengket. Eh saat jadi ibu setelah melahirkan, kembali semakin jarang merawat kulit. Sehabis ngelonin anak tidur, bawaannya ikut ketiduran. Lupa kalo ada skincare di meja. Lupa kalo kulit haus dan butuh perhatian. Paling rajin merawat kulit sebelum pernikahan aja, hahaha. Siapa yang sama kayak aku? Apa jangan-jangan aku aja yaa? *cari teman
Akibatnya udah pasti kulit jadi kering, kusam dan kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya. Apalagi sekarang aku juga sering aktif ajak anak main keluar rumah, tapi lupa pakai UV protection. Gosong deh sebagian kulit yang nggak ketutup baju panjang hijab. Pelik banget ya masalah kulit perempuan berhijab. Pakai sunblock lengket ke baju panjang, nggak pakai sunblock jadinya belang.


Minggu, 18 November 2018

Satu Hari di Bogor: Wisata Kuliner dan Staycation di Novotel

Assalamu'alaikum!

Sewaktu adik masih berusia 2 bulan dan bapake dinas keluar kota, kakung uti datang untuk menemani ibuk di rumah. Kami memutuskan berwisata ke Bogor, kota nostalgia masa mudanya kakung uti, dan ibuk yang pernah tinggal di sana hingga usia 10 tahun. Horeeee, kakak Z dan adik Z jalan-jalan.



Awalnya kami ingin memperlihatkan rusa di Istana Bogor kepada kakak Z. Tapi sayang, waktu itu sekeliling pagar Istana Bogor ditutup spanduk sehingga sama sekali tidak terlihat apa yang ada di halamannya. Kakak Z agak kecewa. Tapi tenang, kakak Z, nanti kita cari hotel yang ada kolam renangnya ya! Tapi sekarang mari kita jajan dulu...

Bogor Permai dan Siomay + Es Sekoteng

Tujuan utama ke Bogor, tak lain adalah untuk makan di kedai pinggir jalan, tepat di sebelah toko/restoran Boogor Permai. Di kedai tenda dijual laksa, soto mie, taoge goreng, siomay dan es sekoteng. Pilihanku siomay dan es sekoteng. Siomaynya enaaaaaaaaak kudu cobain, karena ya seenak itu! Hihihi... Rasanya lembut, gak amis, bumbu kacangnya juga enak. Z ikut menikmati siomay tanpa bumbu kacang karena pedas. Es sekoteng, isinya ada alpukat, serutan kelapa, juga merah delima (dari tepung sagu ya kalau nggak salah) dengan kuah sirop dan susu kental manis. Aku suka! Wajib coba!



Makan di warungan begini, agak was-was juga karena para abang-abang penjual pada ngerokok. Aku 'kan bawa bayi! Untungnya kemarin ada pasangan kakek-nenek berbagi meja dengan kami di salah satu sudut, tidak terkena asap rokok. Kalau mau aman memang bungkus aja, nggak makan langsung di warung. Tapi sensasi nikmatnya beda deh kalau dimakan di rumah.

Sebetulnya kepingin juga makan taoge goreng. Namun karena sudah terlanjur kenyang, kami memutuskan nanti sore aja kembali untung beli takeaway taoge gorengnya. Dari beberapa taoge goreng yang pernah kucoba, paling enak ya di pinggir Bogor Permai ini.

Karena kami parkir di Bogor Permai, kami juga menyempatkan beli beberapa kue dan roti di Bogor Permai. Kue dan rotinya lumayan enak-enak, sepertinya resep kuno. Di sana juga ada restoran dan minimarketnya. Toilet juga bersih. Cocok deh kalau mau melanjutkan perjalanan mampir dulu ke sini.

Kedai Kita, Makan Pizza Kayu Bakar

Tiap ke Bogor hampir selalu makan di sini. Kalau weekend, siap-siap antri buat duduk karena memang rame banget. Alhamdulillah kami kesana weekdays, nyaman sekali.



Menu yang disediakan bervariasi dari mi ayam, pasta hingga pizza. Pizza kayu bakar ini yang menurutku juara banget. Aromanya lebih menggiurkan daripada pizza yang dibakar di oven biasa. Pokoknya beda tipe pizza dengan Pizza H*t deh. Kami juga memesan mie ayam dan pasta lasagna yang juga enak.

Fasilitas di Kedai Kita 
Nggak usah kuatir kalau pergi ke Kedai Kita saat jam sholat, karena di sana ada mushola yang cukup lega untuk beberapa orang. Toilet bersih juga ada. Oiya, di depan Kedai Kita, ada taman kecil juga yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan-jalan saat anak mulai bosan.

Mau Menginap Di Mana?

Memang sejak berangkat dari Jakarta, kami berencana menginap di hotel, tapi belum tau hotel apa hihihi. Kakung bahkan baru beli baju renang saat kami mampir ke mall Botani Square, spesial untuk berenang menemani Z jika menginap di hotel.

Kami sempat tertarik dengan Hotel The Mirah yang dekat dengan Kedai Kita, karena desain interiornya cantik modern eklektik. Namun hari itu, walau weekdays, hotel-hotel Bogor banyak yang penuh. Kantor-kantor pada bikin acara konferensi di hotel. Kakak Z yang ikut turun untuk melihat suasana hotel (karena masih berharap siapa tahu ada stok kamar yang nggak di-listing di Travel*k*), agak kecewa juga karena nggak jadi menginap di Mirah. Tenang kakak, kita cari hotel lain.

Setelah cek berbagai situs pencari hotel, harganya sedang cukup tinggi semua (sepertinya sedang banyak konferensi di Bogor), kami putuskan sekalian saja menginap di hotel dengan fasilitas lengkap: ada kolam renang dan playground untuk aktivitas anak.

Review Hotel Novotel Bogor Golf Resort and Convention Center

Hotel Novotel terletak di Perumahan Bogor Raya, Sukaraja Bogor. Memasuki hotel ini, terlihat bahwa hotelnya cukup kuno tapi pastilah keren banget pada masanya. Ada beberapa air mancur menghiasi jalan masuk menuju lobby.

Atmosfer hotel ini terasa seperti resort di pantai Bali atau Lombok. Banyak sekali pepohonan yang menyejukkan. Lobby dan selasar tanpa AC, seperti di resort yaaa. Kamar hotelnya hanya ada 2-3 lantai, tapi memang luas sekali bangunannya.



Kami pun masuk kamar. Wow terasa kuno tapi tetap bersih sih. Memang standar kebersihan dan kerapian hotel chain Accor nggak perlu diragukan lagi. Namun yang aku cukup heran, kamar mandinya terpisah: toilet sendiri dan shower sendiri... dengan ruang shower hanya dibatasi tirai kain. Lah terus mandinya gimana dong? Ternyata ada pintu geser di sana, jadi kalau mau mandi harus ditutup semua pintu gesernya.

Picture source: Agoda

Ternyata wastafel ini bagian dari kamar mandi, yang harus ditutup pakai pintu geser - nggak ada kuncinya

Alhamdulillah meja wastafel cukup besar sehingga aku bisa memandikan adek bayi di sana. Mejanya disulap jadi baby tafel untuk ganti popok. Perlengkapan mandi dan ganti popok pun aman tersimpan. Kamar kami memiliki balkon yang nyaman. Setelah check ini, Z dan uti menggambar bersama di teras balkon. Lumayan ya ada kegiatan, sambil menunggu cuaca lebih teduh untuk berenang.

Uti dan kakak Z mengobrol di balkon.


Fasilitas Novotel Bogor Untuk Anak-anak

Kolam renang hotel ini cukup luas dan menyenangkan. Bentuknya nggak monoton hanya kotak gitu lho. Ada belok-beloknya, ada kolam dangkal, dan ada kolam dalam. Z pun yang biasanya takut renang, seneng banget di sini. Sore hari sudah berenang, besokannya juga minta berenang lagi.

Dekat kolam, ada juga playground outdoor untuk main panjat-panjatan, keseimbangan, ayunan dan perosotan. Foto-foto ini diambil keesokan harinya di pagi hari.



Ada juga playground indoor di dekat kolam renang. Sayang saat kami ke sana setelah renang sudah hampir maghrib, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Ada balok-balok kayu, mainan puzzle, juga troli untuk main shopping-shoppingan.

Aku dan kakak Z juga ditawarkan kru hotel untuk memberi makan kelinci. Sempat ragu, karena hari sudah menjelang maghrib, kandang kelinci harus berjalan kaki agak jauh dari wilayah kolam renang menuju taman dengan pohon-pohon besar. Tapi karena kupikir, kapan lagi mau kasih makan kelinci. Besok kan sudah check out. Akhirnya aku terima saja sawi-sawi yang sudah layu untuk makanan kelinci.

Hotelnya Nyaman Sih, Tapi Menjelang Malam...

Sepanjang jalan ke kandang kelinci dan kura-kura, kakak Z mulai cranky. Bayangan pepohonan mulai gelap. Suara jangkrik terdengar berisik, dan azan maghrib mulai berkumandang. "Ibuuuu takuuut, gendooong..." rengek kakak Z. Karena mulai rewel, aku asal saja ngasih makan kelincinya hahahaha. Kirain Z bakalan senang dengan kegiatan ini. Berhubung salah timing ya, dan Z takut suara jangkrik, dia jadi rewel. Ibu gendong Z selama ngasih makan kelinci dan perjalanan menuju kamar.

Di kamar, suasana tenang kembali. Kami pesan room service nasi goreng 1 porsi karena sudah nggak sanggup keluar hotel lagi. Hanya 1 porsi padahal ada kakung, uti, Z, dan busui? Tenang, stok camilan kami masih banyak dari Bogor Permai siangnya, juga ada buah dan apple pie.

Menjelang tidur, Z masih bermain-main di kamar. Tiba-tiba Z tanya, Bu apa itu yang dadah-dadah di kolong?" Ibu dan uti langsung diam dan mengalihkan pembicaraan. Udah ga usah mikir macem-macem, gitu pikirku saat itu. Lebih cepat tidur lebih baik.

Pas besoknya Z aku tanya lagi, kata Z yang dadah itu kucing. Z jawab asal sambil ketawa. Terlepas dari Z ngarang atau enggak, beberapa hari kemudian aku diceritain mertua yang pernah nginep di hotel ini juga, kalo memang beliau sempat mengalami hal-hal aneh di hotel. Huahaahhaaaa merinding gak?



Yah intinya setan mah ada dimana-mana ya, bahkan di sebelah kita sekarang juga mungkin ada. Tapi karena beda dunia, wajarnya ya gak bisa dilihat. Jadi ga usah takut... jaga sholat & zikir aja yaa...

Ini kandang kelinci dan kandang kura-kura di pagi hari


Sarapan Enak!

Alhamdulillah pagi tiba, cuaca cerah, burung berkicau dan pepohonan terlihat subur. Kami pun menuju restoran untuk sarapan.

Sarapan di Novotel Bogor lengkap & mewah banget banyak jenis makanannya. Buah potongnya ada buah naga juga lho. Puding rotinya enak. Bubur ayam enak. Salad juga enak. Pilihan kopi macem-macem, dan bukan sekedar kopi instan karena cappucino-nya beneran berbusa dari susu steam.

Beneran nggak rugi deh menginap dengan sarapan di hotel. Aku masih kebayang pengen tambah puding rotinya hehehe.

Overall puas banget nginap di Novotel Bogor karena seru buat anak-anak & makanannya enak 👍 Tapi apakah kalo lain kali ke Bogor, mau menginap di sana lagi? Hmmmm sepertinya mau coba-coba hotel lain juga sih, terutama kalau ada fasilitas kolam renang dan playground-nya. Ada rekomendasi hotel, buibuk?

Minggu, 30 September 2018

Tips Merawat Kulit Bayi dari Community Gathering With Ariston

Assalamualaikum!

Ada pengalaman lucu nih terkait urusan mandinya baby Z dulu. Kata bidan RS, memandikan bayi 'kan harus pakai air hangat. Suatu ketika si bayi pup di air saat dimandikan! Walah, buyar deh mandi air hangatnya. Banjir pup! Berhubung dulu belum punya water heater, nggak sempat merebus air lagi untuk menggantikan air hangat isi pup tersebut (antara mau nangis dan ketawa deh). Akhirnya bayiku langsung dibanjur air dingin dari keran... Byurrr! Duh kasihan kamu baby Z :p

Kalau punya bayi, selain urusan menyusui atau memberi nutrisi untuk bayi, masih ada urusan perawatan tubuh bayi yang perlu diperhatikan. Termasuk mandi. Kulit bayi yang masih sensitif tentu perlu perlakuan khusus. Di awal lahiran anak pertama, aku takut memandikan bayi lho. Badannya masih kecil dan terlihat lemah. Mau dicemplungin ke bak mandi bayi, takut pegangnya licin, takut airnya kepanasan, juga sebaliknya takut airnya terlalu dingin. 


Di event Community Gathering with Ariston Thermo Indonesia hari Sabtu, 7 September 2018 lalu, aku dan ibu-ibu lainnya belajar banyak mengenai perawatan kulit bayi dan jadi paham bahwa produk water heater Ariston dapat membantu ibu lebih mudah dan nyaman memandikan bayi. Acara inilah jawaban dari kekhawatiran ibu-ibu dalam urusan merawat kulit bayi :) Makasih udah diundang yaaaa, Mommies Daily!

Sumber foto: Instagram @mommiesdailydotcom
Event ini menghadirkan dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK, PhD, FINSDV, FAADV dari Indonesian Pediatric Dermatologist, Mr. Jacopo Guazzarotti, Marketing & Project Sales Ariston, Ms. Nina Fidyastuti Pratiwi, BM Ariston Thermo Indonesia, dan ibu muda selebriti Putri Titian. Apa aja sih yang dibahas?

Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Rasanya Jadi Ibu 2 Anak

Assalamu'alaikum...

Sepanjang proses menjadi ibu bagi dua orang jagoan kecil, aku mengalami roller coaster berbagai macam perasaan. Antara bahagia dan baper datang silih berganti.


Dari yang awalnya merasa ingin kasih adik buat mas Z, sampai perasaan 'kasihan ya mas Z masih kecil perhatiannya harus terbagi'. Ini dia timeline perjalanan perasaanku sebagai seorang ibu*. Juga di akhir nanti ada tips abal-abal dariku supaya nggak ada sibling rivalry antara mas Z dan adiknya.

*nggak semua ibu pasti merasa apa yang kurasakan yaaa

Sebelum Hamil Adiknya Mas Z: Berharap

Dari mulai datangnya haid pertama saat Z berusia 13 bulan (oh ya, mungkin karena efek memberi ASI, haid ku datangnya lama banget, baru datang 13 bulan pasca melahirkan), aku dan suami sudah memutuskan nggak pakai KB-KB-an. Toh dulu mas Z juga didapatkan dengan perjuangan program hamil. Takut kualat kalau pakai KB malah susah hamil lagi.

Ke Jepang sama Z, Oktober 2017... sebulan sebelum positif hamil.

Kami pun penasaran, sepertinya asik juga kalau mas Z ada adiknya. Beberapa kali mencoba test pack, belum hamil-hamil juga. Strip satu terus. Sabar ya mas Z, belum rejekimu mendapat adik... Padahal kami pengen memberi teman untuk Z.

Saat Tahu Hamil Adiknya Z: Bahagia dan Baper

Alhamdulillah! Ternyata ada rejeki juga mas Z bisa punya adik! Kala itu mas Z sudah 2 tahun, sedang proses toilet training dan sapih.

Perut mulai membuncit, saatnya memberi tahu Z kalau dia akan mempunyai adik. Karena berharap nggak akan terjadi sibling rivalry, aku tetap membiarkan Z gentle weaning, nggak serta merta stop ASI walaupun hamil. Ada kecemasan, kalau tiba-tiba distop menyusui dengan alasan "kasihan adeknya di perut" seperti yang dibilang banyak orang, nanti Z malah sebal dengan calon adiknya.

Baca: Drama ASI Part 4 - Proses Gentle Weaning

Saat hamil itu, entah mengapa sepertinya Z jadi lebih ngalem. Makan yang dulunya sudah bisa sendiri, kini maunya disuapi. Kalau tidur, maunya sambil peluk ibu. Pasca sapih, ritual tidur malam harus didongengin ibu, peluk-peluk dan cium ibu. Kalau tengah malam terbangun, maunya kembali peluk ibu lagi.

Kedekatanku dan Z saat hamil, ternyata membuatku baper. Seringkali perasaan sedih muncul. Terbayang gimana nanti ya kalau sudah ada adiknya? Sempatkah kami berpelukan tiap malam? Atau aku akan sibuk menyusui adiknya? Nggak terasa tiap kali mikirin Z, air mata pun menetes. Huks... kasihan Z, umurnya masih 2 tahun sudah harus belajar berbagi ibunya.

Lewat DM di Instagram, banyak ibu-ibu yang memberi semangat. Bahwa kalau ada 2 anak, kasih sayang ibu bukannya dibagi 2, tapi DIKALI 2. Aku sedikit terhibur. Tapi lalu baper lagi. Iya kasih sayangnya dikali 2, tapi perhatiannya tetap dibagi 2 kan? Huhuhuuuu...

Ada pula DM dari beberapa ibu dengan 2 anak, yang bercerita betapa sulit transisi saat adik lahir. Ada yang anak pertamanya merasa sedih karena bundanya kini selalu tidur hadap adik (karena menyusui), bahkan ada yang anak pertamanya kabur ke rumah nenek sambil bilang, "Ayah dan ibu sudah nggak sayang lagi sama aku..." Ya Allah...

Semua akan berubah dengan adanya anggota keluarga baru.

Saat Adiknya Lahir... Minggu Pertama: Berat

Minggu pertama merupakan masa terberat. Selain kondisi fisik ibu yang terasa babak belur (apalagi aku ada problem pelvic pain yang luar biasa sakit) dan emosional belum stabil, Z pun mulai harus beradaptasi dengan adik barunya.

Setelah Z terpaksa dipisah dengan ibu saat di menginap RS, Z jadi agak pendiam. Saat adik sudah di rumah, kakung membantu jemur adik di lantai 2 rumah kami, karena sinar matahari bisa masuk ke lantai atas. Lalu kakung menggendong adik turun. Mas Z yang melihat, langsung minta gendong kakung juga. Mulai cemburu sama adiknya :)

Malam hari, ketika mau tidur, Z merasa sedih karena ada adik di sebelah ibu. "Ibu bobok mana? Di deket adek?" Lalu ia menangis meraung-raung. Bapake langsung mengambil adek, menggendongnya keluar kamar. Memberi kesempatan ibu untuk hanya mengeloni mas Z.

Dalam hati, rasanya seperti patah hati.

Namun keesokan paginya, saat bangun mas Z langsung merangkak menuju adiknya. Ibu memperhatikan, penasaran Z mau ngapain. Lalu Z tiduran di sebelah adik sambil pegang tangan adik. Ibu bersyukur sekali, drama tadi malam mas Z cemburu sama adik nggak berlanjut.

Oiya, pernah sedih juga saat naik mobil bersama-sama, aku memangku adik, dan Z menolak keras duduk di car seat. Z menggelendot di sampingku. Diam-diam aku mbrebes mili. Rasanya seperti mengkhianati Z dengan memangku adik, bukan Z lagi...

Setelah Adik Lahir... Minggu Kedua: Beradaptasi

Di akhir minggu kedua, kehidupan seperti mulai tertata kembali. Walau ada kejadian ditinggal ART dadakan pulang kampung, namun rasanya semua dapat diatasi. Adik yang masih sering tidur, membantu ibu bisa menemani Z main. Badan ibu yang mulai pulih, membantu ibu untuk kembali melakukan rutinitas menemani Z jalan-jalan bersepeda pagi / sore. Yah meski menemani Z membuat badan ibu terasa remuk redam di malam harinya. Tapi dengan itu, mood Z kembali membaik dan nggak selalu uring-uringan di rumah.

Z naik sepeda, adik bobo di stroller...
Sayangnya, per minggu kedua ini, Z nggak mau kemanapun tanpa ada ibunya. Padahal dulu sudah sering diajak pergi sama eyangnya, sama pakde budenya, sekarang kalo ada yang ngajak pergi dia tanya, "Ibu ikut?"

Z mulai posesif sama ibu, sepertinya dia trauma dengan kejadian terpaksa dititipkan dan diinapkan di rumah ipar dan mertua waktu lahiran adik.

Setelah Minggu Keempat: Bahagia dan Banyak-banyak Sabar :P

Saat adik berusia sebulanan, Z sudah mulai sayaaaang banget sama adiknya (apalagi saat umur 2 bulan). Hasrat uyel-uyel adik makin tinggi. Pipi adik ditowel-towel, dicium-cium. Ibu senang sih... tapiiii itu adik jadi kebangun terus dari tidurnya, hahaha. Itulah kenapa harus banyak-banyak sabar.



Saat ini rasa 'kasihan Z mau punya adik' yang muncul saat hamil, sudah hilang... Malah ibu jadi suka ngomelin Z karena tingkahnya aneh-aneh. Lompat-lompat di kasur padahal ada adik tidur. Tiba-tiba minta mimik ibu lagi (tentu nggak kuturuti, ngga mau tandem huhuhuuuu). Atau saat ibu mimikin adek, Z minta pipis atau pup. Atau saat lagi khusyuk ganti popok penuh pup, Z minta ibu ambilin susu ultra mimi padahal Z bisa ambil sendiri. Waduuuu stok sabar ibu kudu dibanyakin deh.

Kadang kalau melihat Z, ibu pikir dia sudah besar. Ibu berharap Z bisa 'dewasa'.

Padahal Z itu belum 3 tahun lho bu!

Waktu ke mall sama kakung uti, adik dititipkan ke kakung uti sementara ibu menemani Z ke toilet. Sambil bergandengan tangan, Z melompat-lompat riang dan tertawa sama ibu. Ibu pun diselimuti perasaan haru lagi. Ya Allah, kadang ibu 'lupa' kalau Z ini juga masih kecil. Masih butuh banget perhatian ibu.

Betul saran dari banyak orang, tetap luangkanlah waktu untuk ibu me time sama kakak! Meski yaaaa kadang malah kakaknya nggak mau kalo nggak sama adik :D

Yang Aku dan Suami Lakukan Supaya Nggak Terjadi Sibling Rivalry

Sekarang, bersyukur banget Z sudah sayang sama adik. Belum ada rebut-rebutan mainan karena adik masih kecil banget hehehe. Tapi ini beberapa hal yang aku dan suami lakukan untuk meminimalisir rasa cemburu Z pada adiknya.

  1. Sejak hamil nggak pernah menjadikan "adik" sebagai alasan saat melarang Z melakukan sesuatu. Misalnya, "ibu nggak bisa gendong, kasihan adiknya di perut" atau "Z jangan nenen lagi, kasihan adiknya". Tapi gunakan kalimat seperti, "Perut ibu makin besar dan berat, sekarang sudah mulai nggak kuat gendong Z... kalau gendong, ibu bisa sakit trus masuk rumah sakit, nanti nggak ada yang temani Z tidur..."
  2. Kerjasama dengan suami saat jam tidur malam tiba. Misalnya saat ibu butuh mengeloni Z, bapake gendong adik. Perlahan mulai dibiasakan ritual tidur sambil ada adik. Misal tetap mendongeng untuk Z sambil menyusui adik.
  3. Menyiapkan kado-kadoan untuk Z, agar dia nggak merasa 'kenapa banyak kado buat adik tapi buat aku nggak ada?'
  4. Mengarahkan Z memberi izin baju dan mainannya kelak dipakai adik. "Z, baju Z yang ini udah kekecilan. Nanti dipinjemin ke adik ya?"
  5. Menceritakan betapa senangnya punya adik, yang masih kecil belum bisa ngapa-ngapain, kalau sudah besar bisa jadi teman main. Bisa melalui dongeng ngarang sendiri, atau pas kebetulan lihat lagu di youtube (ada versi little baby bum) tentang seorang anak mau punya adik. Memberi contoh tetangga yang anaknya lebih dari 1, wah senang ya ada temannya.
Pokoknya tetap berusaha adil dan jaga perasaan si kakak deh :)

Sore ini, sambil cium-cium adik, Z bilang ke ibu,
"Bu, Z sayang sama adek..."

Aih, ibu meleleh nak...