Sabtu, 19 Agustus 2017

Family Project Day 7: Hari Silaturrahim

Assalamu'alaikum!

Hari ini Sabtu, artinya ada bapak di rumah! Yeaaayy!! Hampir tiap hari libur sepertinya kami selalu pergi keluar rumah, entah makan di luar (membebaskan ibu dari tugas memasak hehhe) atau jalan-jalan. Hari ini, kami ada banyak agenda:

Silaturrahim ke mas Makmun & istri yang baru punya baby!

Family Project Day 6: Lebih Banyak Kegiatan!

Assalamu'alaikum!

Gimana kabar Rumahku, PAUD-ku hari ini?
Hari ini, Z terlanjur mengawali hari dengan menonton Youtube di TV (lagu-lagu anak) karena emaknya butuh fokus di dapur buat masak yang belum kelar. Untuk menebus kesalahan tersebut (kebanyakan screen time), waktu aktivitas fisik motorik dan sensorik kudu ditambah yaaa...


Jam 10 siang Z diajak beli sayur di pak sayur. Aku beli buncis untuk dimasukkan ke sop. Masak sop selama Z tidur siang. Surprisingly, ketika makan sop, dia mencomot potongan buncis dan bilang, "Buncis!" Terharu ibu nak, betapa kuat daya tangkapmu, mengenal sayuran yang tadi ibu beli. Inilah mengapa sebagai ortu kita harus jaga ucapan dan perilaku ya, karena satu kali saja terucap, otak anak bisa sudah merekam.

Aktivitas hari yang cukup bermanfaat (hahaha) ini selain belanja sayur:
1. Main Mencocokkan dan Memasang Tutup Tempat Bekal
Mayan juga nih punya tempat bekal 1 set isi 4 warna warni (ini merk dr. Brown, kalo ada yang penasaran). Aktivitas sederhana yang cukup mencuri perhatian dan konsentrasi Z selama 5 menit.


Tujuannya, melatih kepekaan terhadap warna (merah dipasangkan dengan merah, dsb) dan melatih kekuatan & keterampilan tangan untuk menutup tempat bekalnya. Tutup tempat bekal ini berulir, kadang Z nutupnya agak miring (nggak rapat). Tapi untuk bocah seusianya (21 bulan), sepertinya memang wajar sih kalau belum bisa presisi :D

Setelah mencocokkan per warna, Z pun memutuskan membongkar semuanya dan memasang warnanya sembarangan heheheeee nggak mau diatur-atur. Lalu ia juga sempat menumpuk-numpuk tempat bekal jadi menara. Sederhana yaaa perlengkapannya, tapi lumayan banyak ide cara mainnya.

2. Main Pom Pom
Cukup menyediakan pom pom, capit kecil, dan wadah-wadah, jadilah permainan. Z menikmati main capit pom pom untuk memindahkannya dari wadah satu ke wadah lainnya (melatih motorik halus dan kekuatan otot tangan, serta koordinasi tangan dan mata). Setelah dapat 5-10 pom pom biasanya dia sudah gak sabar dan langsung menuang semua pom pom ke wadah satunya :))) Kalau dipikir-pikir, ini negatifnya adalah 'belum bisa bersabar'. tapi positifnya adalah 'Z akhirnya tahu cara praktis memindahkan pom pom tanpa repot mencapit satu-satu', kreatif juga ya :p

Kalau sudah bosan, pom pom bisa dimasukkan ke wadah dan pura-pura main jualan kue. Nanti ibu yang jadi pembeli, mau beli kue pom pom merah, atau pom pom pink, dst. Lumayan supaya makin terlatih mengenal warna :D

3. DIY Puzzle dari Kardus
Behubung belum punya mainan puzzle buat toddler (yang biasanya terbuat dari kayu), ayok lah bikin sendiri versi sederhananya. Cuma modal menggambar di kertas, tempel di kardus, potong deh.


Puzzle kali ini bertema kendaraan. Karena masih belum tau kemampuan Z dalam merangkai puzzle, ibu potong jadi 2 saja gambarnya. Ternyata.... anaknya memang belum bisa menyambungkan puzzle-nya sesuai arah yang benar. Kalau untuk mengumpulkan ungu dengan ungu, kuning dengan kuning sesuai warna kendaraan, Z bisa. Pada akhirnya puzzle disusun jadi kereta-keretaan sama Z :))) Wes sakkarepmu nak, gunakan imajinasimuuuu...

4. Sensory Play Tepung, Air, dan Warna
Menjelang jam mandi sore ibu siapkan kegiatan yang super simpel juga, pakai tepung terigu, pewarna makanan, dan air. Maksud hati ingin mengenalkan Z ke sensasi main tepung dicampur air yang terasa lembek-lembek becek. Tapi sesuai dugaan, Z jijik kena campuran tersebut. Dari kecil, Z memang agak takut dengan tekstur seperti creamy, bahkan ketika pegang kue ultahnya dulu, Z nangis histeris ketika tercolek krim kue hihihi.

Ibu masih cari cara, gimana ya supaya Z gak jijikan. Nanti kudu dibrowsing deh :)

Dari permainan ini, ia tertarik sama pewarnanya aja sih. Mungkin besok-besok main pewarnanya pakai es serut juga seru kali ya.


---

Malam setelah bapake pulang kantor, sambil cuci piring ibuk bilang ke bapak. "Pak, anaknya temenin main yang edukatif ya. Jangan dibiarin main sendiri terus bapaknya HP-an..." Ehehehe bapake ngguyu. Z pun lanjut bermain sama bapak. Main pom pom dan puzzle. Sambil ngoceh-ngoceh ceria. Happy deh PAUD-nya aktif sampai malam, nggak nyetel Youtube lagi :D

#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day6

Jumat, 18 Agustus 2017

Family Project Day 5: PAUD-nya Ke Rumah Eyang!

Assalamu'alaikum,

Melanjutkan project Rumahku, PAUD-ku yang lalu, kali ini rombongan PAUD (bapak ibu dan Z hehehe) main ke rumah Eyang (baca: ibu bapaknya suami, a.k.a mertuaku) yang berjarak sekitar 1 jam dari rumah. Ibu berangkat duluan hari Rabu naik Gocar, bapake menyusul pulang kantor langsung ke rumah Eyang. Kami menginap hari Kamis malam.

Poin-poin pembelajaran yang didapatkan ketika bermain ke rumah Eyang adalah...
1. Silaturrahim, karena di rumah Eyangnya, Z bisa bertemu eyangkung, eyang putri, oom, tante, dan sepupunya. Z belajar kalau bertamu, salam dulu ke orang yang lebih tua.

2. Bisa main Lego Duplo punya kakak sepupu Z yang melatih motorik halus, kekuatan tangan, kertelitian, dan kesabaran. Mulai akhir 20 bulan, Z sudha mulai senang menyusun Lego Duplo yang kotak-kotak sampai tinggiiii.. Meski kadang kalau nggak presisi kan nggak bisa nancep, di situlah Z suka frustrasi dan berakhir marah-marah lempar Legonya :D Sabar yaaaa naaakkk...

Selasa, 15 Agustus 2017

Family Project Day 4: Rumahku, PAUD-ku

Assalamu'alaikum!

Jaman sekarang, semua ibu pastilah sadar kalau pendidikan anak dimulai dari rumah. Kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik anak, sesungguhnya adalah tugas orang tua untuk mengembangkannya sebelum anak belajar di luar.

Ada banyak metode-metode pendidikan anak usia dini, namun saat ini aku sedang tertarik untuk mempelajari Montessori. Setelah lama ingin belajar namun nggak gerak-gerak juga, adanya Tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang (tema: Family Project) yang kuikuti membangkitkan lagi semangat untuk action. Tentunya ibu nggak bisa gerak sendirian dong. Ibu butuh dukungan bapak juga :D


Project Rumahku, PAUD-ku ini sebenarnya dimulai Sabtu lalu, yaitu dengan ibu membeli buku Montessori di Rumah, karya Elvina Lim Kusumo yang merupakan founder @IndonesiaMontessori. Ternyata di buku itu ada penjelasan yang lumayan lengkap mengenai metode Montessori, yang dulu cuma kupelajari via kulwapp dan browsing tak terstruktur. Kok nggak dari dulu yaaa aku belinya.

Namun di buku tersebut, kegiatannya lebih ditujukan ke anak umur 3 tahun ke atas. Gak papa lah, mari kita sesuaikan saja dengan kemampuan dan minatnya Z yang sekarang berusia 21 bulan.

Jadiiii... kegiatan Rumahku, PAUD-ku hari ini adalah:
1. Bermain ke Taman
Pagi-pagi, Z sudah minta main ke taman. Seperti biasa, dia suka main perosotan. Sekitar 4 kali merosot, lalu minta main yang lain. Ayunan, lari-lari, dorong stroller. Sempat juga pipis di WC taman, karena sedang belajar nggak pakai diapers. Yah meski sampai rumah ternyata kebobolan celananya basah juga, diem-diem dia pipis hahahaa. Masih belajar yaaa nak!

Aktivitas ke taman ini sangat bermanfaat untuk fisiknya (motorik kasar), mengenal alam/lingkungan (lihat tanaman, lihat kucing), dan sosial (menyapa tetangga dalam perjalanan ke taman, belajar bergantian main perosotan). Tentu saja main ke taman adalah tugas ibu menemani Z, karena bapake 'kan kerja ;)

2. Bermain Beras ala Montessori
Pulang dari taman, Z agak rewel karena frustrasi bermain rel kereta Thomas. Dia pengen bisa pasang rel sendiri, padahal 'kan sebetulnya mainan gitu buat anak 3 tahun ke atas yaaaa yang pincer grasp-nya sudah lebih terlatih... Jelas aja Z belum bisa masang dengan presisi. Ibu putuskan untuk menyiapkan permainan sensorik ala Montessori yang sangat mudah dan cepat: Main Beras!!

Untung kemarin sudah beli wadah plastik yang cukup besar untuk alas main Z. Ibu siapkan beras hitam yang sudah lama nggak dimasak, juga beras putih. Ibu juga menyiapkan corong, botol kecil (pake botol ASI wkwkwkk) dan sendok bebek. Ibu contohkan menuang beras, selanjutnya terserah Z mainnya gimana.

Di buku Montessori di Rumah, dijelaskan pentingnya area bermain khusus (entah meja ukuran anak-anak atau alas bermain di lantai) untuk memberi batasan wilayah kegiatan work-play Montessori. Aku cari alas seadanya di rumah, adanya karpet puzzle. Belakangan, aku menyadari alas ini agak nggak cocok karena kalau berasnya tumpah-tumpah bersihinnya susah hahaha.


Z lumayan anteng lho main tuang-tuang beras, meski selama bermain, ibu harus selalu mendampingi supaya nggak terjadi huru-hara misalnya beras dituang ke lantai :P atau minimal supaya berasnya nggak dimakan.

Dengan bermain beras ini, Z bisa merasakan tekstur beras berbutir kecil (kata Z "Kayak pasir gedeee..."), belajar konsep banyak dan sedikit (dari wadah yang diisi beras - ada yang banyak dan ada yang sedikit), belajar konsep penuh dan kosong, mendengar suara beras ketika mengisi botol, juga mendengar suara botol beling yang menggelinding, menandakan itu botol kaca, harus hati-hati karena bisa pecah.

Aktivitas bermain beras ini dilakukan 3 kali atas keinginan Z. Siang, sore, dan petang ketika bapake pulang kantor. Z langsung semangat menunjukkan permainan beras pada bapak yang mengambil tugas menemani Z main saat ibu menyiapkan makan malam. Ternyata pas main sama bapak, terjadi kekacauan berasnya tumpah-tumpah di lantai, dan bapak pun memendam ngomel wkwkwkwk. Akhirnya sapu-sapu sama si bocah :)))

3. Bermain Petik Bola
Permainan ini juga disukai oleh Z sejak ia bisa berdiri. Sangat cepat disiapkan, nggak sampai 1 menit! Caranya, rentangkan selotip besar, lalu tancapkan bola-bola plastik untuk 'dipetik'. Bisa juga pura-pura kalau bolanya itu buah, misalnya yang merah = apel, yang oranye = jeruk, dst.

Semua bola, Z yang pasang!

Kali ini, ibu biarkan Z memasang bolanya sendiri. Z semangat banget mengisi selotip sampai penuh bola. Ia belajar tekstur lengket dari selotip. Ia juga belajar, ada 2 sisi selotip: sisi yang lengket dan sisi yang licin. Belajar warna? Tak diragukan lagi dong :D Karena bolanya warna-warni, bocil bisa diminta menyebutkan warna-warna bolanya ketika dipasang.

4. Ke Masjid Sama Bapak
Jujur, aku sangat senang kalau Bapake pulang sebelum maghrib karena bisa 'me time' sebentar untuk sekedar menyelesaikan masak dengan tenang, mandi tanpa grusa grusu, dan solat tanpa digelendoti bocah hihihi. Bocil suka minta ikut bapake ke masjid, nggak lupa pakai peci dan sarung kecil.

Ini juga reminder buat Bapak supaya sebisa mungkin solat di masjid, karena Children See, Children Do. Semoga kenangan masa kecil Z solat bersama bapak, jadi kenangan yang indah. Moga bisa menumbuhkan fitrah spiritual dan kecintaan untuk sholat ya nak!

#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day4

Senin, 14 Agustus 2017

Family Project Day 3: Mengurangi Sampah & New Ideas!

Assalamu'alaikum!

Hari ini, aku mulai lebih tertib memilah sampah di rumah. Entah bagaimana caranya, sejak memulai project kok sepertinya sampah malah jadi berkurang :D Kayaknya mau nyampah jadi mikir-mikir dulu deh hehehe. Mau boros tisu, eh mending pakai kain lap saja. Mau beli susu kotakan kecil-kecil, ah tapi sampahnya banyak. Kemasan besar saja lah. Sederhana ya :D

Hari ini, aku juga memberanikan diri mencoba toilet training Z (21 bulan) selama sore hari. Hitung-hitung, mengurangi sampah popok. Meskipun 30 menit sekali harus ditawarkan pipis. Dan sempat pipis di celana tanpa bilang-bilang ketika jalan-jalan sore ke taman. Tau-tau di rumah, celananya udah basah aja, entah sejak kapan dia pipis. Z masih belum merasa risih dengan celana basah. Hmmm nggak papa, pelan-pelan latihan ya nak. Ibu juga sadar belum bisa melepas Z sepenuhnya dari diapers karena ia juga masih nyusu tiap tidur. Terbangun dikit, minta nyusu. Gitu terus sepanjang malam (dan tidur siang), sehingga tiap pagi diapers-nya pun selalu penuh pipis. Mungkinkah baru bisa full lepas diapers setelah disapih?

Yang bingung, ketika dapat rejeki nasi kotakan. Bingung deh ini memilahnya bagaimana. Akhirnya sampahnya dipisah betul-betul: sisa makanan masuk ke sampah organik, plastik-plastiknya dipisahkan.

Mau diapakan sampah organik hari ini?Setelah kubaca-baca di Cara Sederhana Membuat Kompos Skala Rumah Tangga, sepertinya besok sampah organiknya akan kutimbun di dalam pot, karena lahan tanah di rumah amat sangat sempit. Ini isi artikelnya, di bagian "...bagi rumah tangga yang tidak memiliki lahan..":

  • Sediakan ember, pot, kaleng bekas, ataupun wadah lainnya.
  • Lubangi bagian dasar dan letakkan di wadah yang dapat menampung rembesan air dari dalamnya.
  • Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari. 
  • Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala. 
  • Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos. 
  • Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama dua bulan.
  • Wadah siap dijadikan pot dengan kompos di dalamnya sebagai media tanam.


Di artikel aslinya, lengkap tuh tips bagi yang punya lahan (melibatkan proses menggali libang di tanah sedalam 50 - 100 cm), dan lahan terbatas (melibatkan penggunaan drum yang ditanam 10 cm dari permukaan tanah).

---
Hari ini, suami belum ada kontribusi di Family Project, berhubung habis subuh sudah berangkat ke kantor dan baru sampai rumah lagi pukul 8.30 malam. Duh kasihan, capek ya paaaak...

Tapi kami sempat ngobrol-ngobrol berkualitas dan terlontar beberapa ide project yang dapat kami lakukan:

  1. Project Merapikan Kamar Atas (dari "gudang" menjadi kamar yang dapat ditempati). Sasaran kamarnya ada 2, di rumah kami, dan di rumah mertua.
  2. Project Sosial: Memberi Makanan Untuk Pak Satpam. Tapi istri sudah protes duluan kalau istri yang harus masak hihihi... Lha wong kadang di rumah aja cuma bisa sempat nyeplok telor buat makan siangku dan bocil wkwkwkk
Tunggu besok yaaa untuk update-an project selanjutnya! Kamu ada ide family project apa untuk keluargamu?

#Level3 #KuliahBunsayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Day3

Minggu, 13 Agustus 2017

Family Project Day 2: Memulai Pilah Sampah!

Assalamu'alaikum!
Kalau ada yang baca postingan sebelumnya, minggu ini aku sedang mengerjakan Tantangan dari Institut Ibu Profesional kelas Bunda Sayang, berupa Family Project. Apa itu Family Project, bisa dibaca di post sebelum ini, ya..

Hari ini Minggu. Sejujurnya aku bingung, project apa yang harus dilakukan. Di antara sekian banyak ide project, mana yang mau dikerjakan di hari spesial ini, karena hari Minggu ada bapake di rumah. Sementara kalau weekdays, bapake berangkat jam 6 pagi dan pulang sehabis magrib.

Bapake kepingin nge-mall, ada barang yang mau dilihat. Rencana kami di mall sebentar saja. Tapi namanya bawa toddler yaaa, akhirnya lama juga di mall karena pas jam tidur Z kami putar-putar Z dulu di stroller sambil jalan-jalan.

Tau-tau sampai rumah udah sore aja T_T, mamak pun harus segera masak makan malam. Lhaaaaa.... lalu mana Family Project-nyaaaa... Rasanya aku terlalu nge-push suami tentang Family Project, dikit-dikit ngomongin project, sampai ia bisa jadi kurang semangat ikutan. Di kantor sudah mikir, eh di rumah disuruh mikir lagi sama istrinya =_=" Hmmm harus balik ke materi Komunikasi Produktif lagi, nih gimana quality talk sama pak suami.

Di dapur, saat semua anggota keluarga berkumpul + ada adikku (yang tiap weekend menginap di rumahku), kumulai saja project Memilah Sampah. Hal yang sederhana, tapi sebenarnya penting.

Project Day 2: 
Memilah Sampah Di Rumah
Tujuan: Cinta lingkungan, cinta kebersihan

Betapa kita sebagai manusia, sesungguhnya sudah dzolim sama bumi. Sampah-sampah yang kita hasilkan tiap hari, ujung-ujungnya tertimbun di TPA.

"Kan ujung-ujungnya walau dipisah, hasil akhirnya ke TPA juga?"
"Kalau pemilahan & daur ulang sampah yang modern seperti di Jepang, harus ada dukungan pemerintah kan?"

Nah kalau nunggu pemerintah, kita mau tetap begini sampai kapan? Harus memulai suatu gerakan dari rumah. Setelah didiskusikan, sampah yang akan dipilah di rumah adalah sebagai berikut:
1. Sampah makanan/sayuran yang dapat terurai
2. Sampah kemasan yang tidak berguna (misal plastik bekas mi, disposable diapers, baterai)
3. Sampah yang bisa bermanfaat untuk pemulung (misal botol bekas, dus susu cair)

Rencana jangka panjangnya, kami ingin membuat pengolahan kompos sederhana, misalnya biopori, untuk sampah-sampah nomor 1 (sampah makanan yang bisa terurai). Lalu poin nomor 2, kemasan-kemasan tak berguna, juga baiknya dikurangi. Karena pada akhirnya akan sampai di TPA juga, mengotori bumi juga T_T Duh ini nih yang bikin pengen cepet-cepet ngelatih Z toilet training, biar sampah diapers-nya berkurang.

Satu ide project, komitmennya jangka panjang yaaa.. Bismillah. Besok, aku akan belajar lebih banyak lagi alternatif pengolahan sampah apa saja yang bisa digunakan di lahan terbatas.


#KuliahBundayIIP #Tantangan10Hari #MyFamilyMyTeam #Level3 #Day2