Kamis, 22 Juni 2017

The Truth About Marriage #1

Assalamu'alaikum...
Karena banyak terjadi kekonyolan-kekonyolan setelah menikah, terbitlah satu seri khusus: The Truth About Marriage ini. Mungkin nanti kalau sudah jadi kakek-kakek dan nenek-nenek aku dan suami bisa ketawa-tiwi baca dokumentasi via postingan ini :))

Foto jaman babymoon di Trick Eye Museum hehehe :p
Jadi, awal-awal menikah dulu, rasanya memang berbunga-bunga. Semua terasa romantis. Lama-lama sifat asli muncul, trus keromantisan bergeser jadi kekonyolan yang aneh-aneh (menurut versi kami). Suami kamu romantis? Atau lebih banyak konyolnya? :p

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #10 - Memberi Alternatif Untuk Bocah

Assalamu'alaikum,
Terasa banget begitu anak mulai bisa ngomong, ibuk harus putar otak tiap kali anak punya keinginan yang 'timing'-nya nggak sesuai menurut ibu. Benar-benar butuh ilmu komunikasi produktif untuk bargaining dengan bocah. Karena kalau nggak, tentulah akan berakhir dengan tangisan. Atau kalau terlalu banyak dilarang, belum tahu nanti efek jangka panjangnya gimana bagi bocah. Jangan sampai ia jadi suka takut untuk menyampaikan pendapat, atau melemahkan kepercayaan dirinya, atau membunuh kreativitasnya. Tantangan bagi ibu yaaa...

Misalnya hari ini, setelah mandi pagi, Z ingin main cat air. Kalo Zaki main cat, sudah pasti itu cat bakal dilukis-lukis ke tangan dan kakinya, lalu pernah juga ditumpahkan + diratakan ke lantai. Di situlah ibu merasa sedih (harus ngepel dan lap-lap) tapi juga pengen ketawa. Nah. Karena sedang ada agenda lain, ibu bilang aja, "Zaki, main catnya nanti sore aja ya sebelum mandi. Karena Zaki sudah mandi, kita mau ke rumah eyang, Zaki mau tulis-tulis pakai crayon aja ya?" "Ayooon (baca: crayon)," balas Zaki. Lalu dia lukis-lukis pakai crayon.

Lalu sedang nunggu GoCar datang di halaman rumah, ehhh Z minta siram-siram air. "Zaki, kita sedang nunggu mobil datang, nggak bisa siram-siram sekarang ya. Siram-siram bikin baju basah, kalau basah, Zaki nggak boleh naik mobil. Zaki mau main sapu-sapu dulu sambil tunggu mobil datang?"

Berbicara sama bocah 19 bulan ini, ibu harus selalu memberi alasan dan memberi alternatif pengganti untuk keinginannya. Harus kreatif ya mak!

Komunikasi dengan Suami
Di grup kelas Bunda Sayang hari ini, topiknya adalah perbedaan kebutuhan bicara wanita dan pria. Wah pas banget! Dalam sehari, rata-rata wanita butuh mengeluarkan 21.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Makanya kalau seorang wanita di rumah aja dengan anak kecil, sudah untung kalau bisa menggunakan 2.000-3.000 kata. Masih ada sisa 18.000 kata yang butuh disalurkan. Kapan lagi kalau bukan ketika suami pulang ke rumah :))) Padahal suaminya sudah kehabisan jatah kata dan mengharapkan kedamaian di rumah, sementara istrinya terlihat sedang 'mengomel' :)))

Akupun baru sadar. Tadi pagi, aku ngoceh ke suami suatu problematika yang sebetulnya sudah aku selesaikan sendiri solusinya. Lalu suami memberi solusi padaku. "Iya, udah aku kerjain kayakgitu kok," jawabku ketika diberi saran suami.

Lalu sebenarnya aku curhat buat apa? Ya sekedar pelampiasan bicara aja ya sepertinya :p

Siang pun ketika habis ada permasalahan dengan orderan taxi online, aku lapor ke suami. Karena aku telat keluar rumah 4 menit setelah taxi online datang, aku ditinggal, orderanku di cancel pak-nya. "Ibu kelamaan keluar, saya udah nunggu dari tadi!" Katanya ketika kutelpon parkir dimana. Ya Allah baru juga 4 menit pak, saya kan bawa anak kecil T_T Dalam hatiku bergumam begitu. Tapi aku cuma minta maaf saja ke paknya, sebelum dia tutup telpon.

Setelah aku curhat ke suami, bahwa aku cukup sedih dengan kejadian itu, suami bertanya, "Trus gimana?"

"Ya gampang sih, aku langsung order lagi, alhamdulillah dapat driver yang baik dan mobilnya bersih," jawabku.

As simple as that. Wanita seringkali bukan butuh solusi. Ia hanya butuh untuk didengarkan. Makanya ketika dapat materi tentang perbedaan pria dan wanita, aku merasa tepat sekali pembahasannya. Memang sudah fitrah, otak wanita dan pria diciptakan berbeda. Sekarang tinggal berpikir gimana cara memanfaatkan 21.000 kata itu menjadi kata-kata yang bermanfaat, bukan gosip, bukan ngomel-ngomel :D

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Selasa, 13 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #9 - Sepi di Rumah

Assalamu'alaikum,
Hari Senin, pak suami rencana ada buka bersama di kantornya. Wah, aku bakal buka puasa berduaan bocah di rumah nih, pikirku.

Sejak awal Ramadhan, buka puasaku selalu ada teman. Entah sedang di rumah ibu di Surabaya, sedang di rumah mertua di Jakarta, atau kalaupun di rumah sendiri, suami selalu pulang cepat dari kantor dan kami bisa menyiapkan buka sama-sama.

Lalu kepikiran buka puasa berdua bocah 19 bulan, kok sepi yaaa... Padahal jaman masih belum ada anak sih sendirian gak masalah juga hehehe. Sempat terpikir ikut ngeluyur buka di luar, tapi aku nggak siap menghadapi macetnya Jakarta di jam buka puasa. Plus, aku dan bocil lagi batuk pilek. Lebih baik di rumah, kan?

Makanya dari pagi, bocil sudah kukondisikan bahwa kami hanya berdua aja hari ini. "Nak, nanti bapak pulangnya malam, Zaki nggak usah nunggu bapak ya. Zaki main berdua aja sama ibu."

Beberapa kali kalimat ini aku ucapkan. Alhamdulillah, Zaki kooperatif. Nggak ada rewelnya. Eh sempat rewel sekali sih waktu pagi aku bawa ngaji ke rumah ibu pengajian, karena dia nggak familiar dengan tempat dan orang-orangnya, plusss lagi meler, jadi minta pulang.

Ketika bocah bobok siang, ibu bisa masak sop kaldu ayam kampung buat bocah. Lalu setelah dia bangun tidur, kami jalan-jalan berdua ke warung mi ayam dekat rumah, beli menu buka puasa untuk ibunya.

Hepi-hepi aja sih kita berdua ya nak :D Lalu lanjut main di rumah, sampai bapak pulang dehhh jam 8.30 malam.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #8 - Clear and Clarify

Assaalamu'alaikum,
Hari ini, berhubung tukang masak (baca: saya) telat bangun sahur, orang serumah juga pada kebablasan nggak sahur. Gara-gara kemarin tidur terlalu malam sepulang dari bukber nun jauh di sana, tidur jadi pulas banget, alarm pun nggak dengar.

Imbasnya puasa jadi agak lemas dan kepalaku sakit sekali, mungkin karena kurang gizi hahahha...

Buat hemat energi (dan mumpung libur), suami pun tidur sore lamaaaa sekali. Susah sekali kubangunin. Sampai aku ngomel-ngomel banguninnya karena sudah masuk waktu sholat ashar, mau minta tolong kirim takjil ke masjid. Tapi makin aku bangunin dengan ngomel, suami makin ngomel juga sambil narik selimut. "Iyaa bangunin 5 menit lagi," katanya. Di sini, lupa banget menerapkan komunikasi produktif :( Pada akhirnya dia bangun sih, tapi bete. Ya untungnya beberapa menit kemudian berangkat sholat dan hilang bete-nya.

Sorenya kami buka puasa di rumah mertua. Suami rencana pengen sholat tarawih di masjid raya beberapa kilometer dari rumah mertua sementara aku menunggu di rumah. Tapi sakit kepalaku makin menjadi, mau ngajak pulang aku nggak enak, masa mau menghalangi ibadah T_T Kalau aku, Ramadhan ini selalu tarawih di rumah karena aku dan bocil sedang flu berat, plus jam ngelonin bocil.

Suami yang lihat aku bersandar loyo, nanyain, "Yak, mau langsung pulang aja atau nunggu aku sholat tarawih? Kamu yang tau kondisi badanmu lho..."

Aku bisa aja sih bilang, "Terserah kamu..." Atau "Menurutmu gimana lho??" Sambil berharap perasaan sakitku dimengerti oleh suami. Tapi, kuputuskan untuk bilang, "Pulang aja yuk? Pingin istirahat di rumah, bocil juga udah ngantuk. Kamu nggak papa tarawih di rumah?"

Akhirnya kami pun pulang. Makasih yaa pak suami, hari ini mengalah demi istri... Untuk bicara sama laki-laki, memang nggak bisa sekedar kasih kode-kode lalu berharap dimengerti. Lebih baik bicara jelas dan gamblang inginnya bagaimana, tentu dengan intonasi yang baik yaaa :)

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Minggu, 11 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #7 - Obrolan di Mobil

Assalamu'alaikum,

Sabtu ini, ada 2 agenda keluarga kami: Bapake mau betulin laptop ke Ambassador dan sore ada buka bersama di rumah teman di Tangerang. Wow jauh yaaaa. Aku putuskan supaya nggak capek, baby Z dan aku istirahat di rumah aja ketika bapake ke Ambassador. Karena emaknya Zaki banyak urusan di rumah dan bapake juga ada kegiatan di luar, kami hampir-hampir nggak ada waktu untuk ngobrol bersama yang enak, padahal hari libur.

Bukber TI '05 ITS cabang Jakarta, Sabtu 10 Juni 2017

Ketika berangkat ke buka bersama, meskipun semobil, kami juga nggak sempat ngobrol serius karena bapake sibuk ngebut dan lihat google maps. Sementara aku? Sibuk jagain Zaki yang lompat-lompat di mobil, minta nyemil, pengen lihat truk dan mobil-mobil di jalan, pengen gelantungan, ahhh banyak lah :))) Sampai-sampai aku mabok darat, mual-mual keringat dingin akibat terlalu banyak tingkah di mobil. Untungnya nggak sampai membatalkan puasa, alhamdulillah...

Sepulang dari buka bersama, barulah suasana kondusif di dalam mobil. Baby Z tidur di mobil di pangkuan ibunya. Sehingga terciptalah waktu yang tepat untuk quality talk bersama suami :) Kami pun tidak dalam kondisi pegang gadget sehingga diskusi lebih fokus.

Banyak yang kami obrolkan, mulai dari hal yang urgent kepepet: mau memberi takjil apa untuk di masjid besok (besok giliran keluarga kami menyiapkan takjil masjid dekat rumah), mau beli di mana, diskusi masa depan seputar keinginan suami sekolah S2 (aamiin), soal investasi rumah, soal pekerjaan.

Kadang memang butuh sih obrolan ringan dan dalam (ciehhh) berdua saja. Obrolan di mobil, jadi salah satu waktu yang tepat. Asalkan ketika anak bobok dan lagi nggak sibuk dengan gadget / google maps ya :D

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Jumat, 09 Juni 2017

Komunikasi Produktif Day #6 - Nggak Mau Sedot Ingus

Assalamu'alaikum,
Hari ini, Zaki sedang agak rewel. Pileknya yang sudah berlangsung seminggu, belum sembuh-sembuh juga. Sudah beberapa hari terakhir ia menolak untuk disedot ingusnya (pakai alat), bahkan dilap aja gak boleh =_="
Kayak gini nih alat sedot ingusnya Zaki. Dulu awal-awal pilek mau pake dengan ikhlas, lama-lama nolak. Sumber gambar: asibayi.com

Jadi tiap aku mengeluarkan alat sedot ingus, Zaki langsung kabur dan bilang, "Nggaauuu..." (Nggak Mau) sambil geleng-geleng dan mukanya mau nangis. Perdebatan pun berlangsung. "Zaki, ingusnya ibu sedot ya supaya napasnya enak, supaya bisa nyusu juga..." Jawabnya tetap, "Ngaaauuu.." Sambil semakin menangis setiap aku membujuknya.

Puncaknya, saat dia meminta cemilan roti marie. Sejak batuk pilek, aku memang melarang ia makan cemilan, apalagi yang kriuk kriuk. Zaki pun paham bahwa ia batuk = nggak boleh nyemil. Tapi kali ini ketika dia sakau pengen roti marie, aku bilang aja, Zaki boleh makan cemilan ASALKAN mau disedot ingusnya. Aku belajar menggunakan pilihan sebagai bentuk komunikasi produktif.

Drama pun terjadi. Z keukeuh minta cemilan tapi nggak mau sedot ingus. Ibu bilang, kalau nggak disedot ingus ya nggak dikasih cemilan. Sampai Z nangis-nangis :(

Di sini ibu belajar konsisten sih dengan pilihan yang ibu kasih. Meski Z nangis meraung sampai didengar tetangga, kalau nggak sedot ingus ya nggak dikasih.

Jadi ingat pesan mbak Farida fasilitator kelas Bunda Sayang, dalam berkomunikasi produktif, nggak mesti harus dengan intonasi ramah. Ketegasan bisa aja diperlukan. Yang nggak boleh adalah intonasi meninggi karena emosi.

Ibu pun bertanya, kenapa Zaki nggak mau disedot ingusnya? Apakah sakit? "Akiiit..." kata Zaki sambil merengek. "Nanti kalau mau sedot ingus, ibu pelan-pelan ya sedotnya..." "Ngauuuu..." Tetap menolak.

Pada akhirnya, berhasilkah ibu sedot ingusnya? Berhasil, dengan paksaan. Beberapa saat sebelum tidur siangnya Z, kepala & tangannya Zaki ibu pegangin, lalu tangan kanan ibu pegang alat sedot ingus. Nangis itu pasti. Tapi ibu udah gak tahan dengar suara srat srot ingusnya Z yang tertahan di dalam hidung T_T Hasil sedot ingusnya banyak dehhh, lega lihatnya. Setelah nangis 5 menit, Zaki terdistraksi sama mainan, lalu tidur siang.

Trus ibu lupa ngasih imbalan roti marie, dan Zaki pun juga lupa tadi pengen roti marie. Yawes lah yaaa... Nyemil yang sehat-sehat aja pas batuk ya nak.. Buah, ato makan nasi lauk pauk sekalian.

Komunikasi dengan Pasangan
Ada satu koper suami dari luar kota yang belum dibongkar & dibereskan isinya, terbengkalai di ruang tamu. Kalau nggak dibereskan istrinya, mungkin itu koper bakal tetap di sana terus. Tapi istri lagi nggak ada energi beres-beres koper. Puasa, ngurus anak, nyusuin, beres-beres rumah, lemes bro (ah alasan aja sih). Intinya, pengen pak suami yang bongkar kopernya sendiri.

Jadi menerapkan eye contact aja ketika ngobrol santai. Minta suami sebelum pergi besok membereskan kopernya dulu. Sambil dibercandain, kalo koper gak beres, gak boleh pergi lho yaaaa hehehe. Iya, kata pak suami.

Moga besok beneran diberesin ya :D aamiin.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP