Jumat, 17 Februari 2017

Jalan-jalan ke Kuntum Farm Field

Beberapa minggu lalu, emaknya baby Z pengen ngajak si bayi "Pengenalan Hewan". Berhubung sampai usia 1 tahun, hewan yang dia lihat baru kucing, cicak, semut dan kecoa (hahahaha). Eh, lebih deng. Pernah lihat ikan-ikanan dan bintang laut ketika pergi ke SEA Aquarium. Juga ayam dan burung yang kadang ditemui saat keliling kompleks. Yah intinya, untuk memperkaya khazanah jenis fauna, kami harus lihat hewan langsung! Bukan sekedar lihat di buku cerita.


Salah satu kandidat tujuan adalah Kebun Binatang Ragunan, atau Fauna Land di Ancol. Namun setelah dipertimbangkan, Ragunan pasti rame kayak cendol, sedangkan Fauna Land cukup mahal tiket masuknya. Akhirnya kami ke... Kuntum Farm Field di Bogor!

Rombongan kami terdiri dari: aku, bapake, baby Z, juga adikku yang sedang di Jakarta. Lalu ada mas N, ponakan yang hari itu dititipkan ke kami karena ibunya sedang pelatihan. Plus bibiknya N. Plus ajak bibik S yang kerja di rumah, supaya bibiknya N ada teman. Plus ajak bibik T yang kerja di mertua, karena kasihan kalo yang lain pada jalan-jalan, dia di rumah sendirian. Total 8 orang di dalam mobil. Kami pun pinjam mobil mertua yang kapasitasnya besar. Hari itu kami pengen nyenengin banyak orang. Lets go!

Terima kasih ya para bocah yang baik, anteng selama perjalanan. Nyemil teruuuusss :D

Tak dinyana, perjalanan ke Bogor diwarnai hujan deras dan macet. Perbekalan para bocah habis sebelum sampai di tujuan. Aku ketar ketir, berangkat jam 9.30 dari Jakarta, jam 12 siang masih belum masuk Bogor. Aku udah rese nyuruh bapake melipir ke mall terdekat aja karena takut bocah-bocah kelaparan. Tapi dengan keukeuh bapake bilang, "Tuh di Google Maps 20 menit lagi sampe..." diulang-ulang terus ngomong gitu dari 1 jam sebelumnya :))) Alhamdulillah jam 1 akhirnya kami sampai di Kuntum ketika hujan baru aja reda! Rejeki bisa jalan-jalan di Kuntum, subhanallah!

Kami pun langsung menuju restoran yang ada di wilayah Kuntum. Tempatnya outdoor, namun masih ada atapnya. Banyak kucing berkeliaran di sana, menanti sisa tulang belulang dari ikan bakar yang dipesan pengunjung. Menu yang kami pesan ikan bakar, ikan goreng, ayam lada hitam, nasi goreng, tumis toge, udang goreng tepung. Kalap pesan kebanyakan, lapar sih. Ternyata rasanya... so so. Lumayan lah kalau lagi kelaparan berat dan kepepet, tapi untuk kembali lagi ke sana? Hmmm... Enggak deh. Alangkah baiknya sebelum ke Kuntum sudah makan dulu sih. Karena keluar tol Bogor sebetulnya banyak banget resto yang 'nggenah' atau fast food yang terjamin bersih, tapi karena buru-buru jadi terlewat semua.


Lalu petualangan kami di Kuntum pun dimulai. Memasuki Kuntum, kami disambut 'pasar' yang menjual hasil kebun dan aneka produk oleh-oleh yang unik, seperti camilan khas Bogor, ataupun olahan tanaman herbal. Oke, kami nggak berlama-lama di sini. Wilayah ini bisa dinikmati sepulangnya kami nanti. O iya, di wilayah inilah kami membeli tiket masuk serta makanan ikan seharga Rp 5.000 sebungkus.

Pertama kali masuk, kami disambut wilayah ikan. Ikannya bermacam-macam, yang kuingat sih ada koi dan lele. Seru deh lihat lele besar-besar, begitu dikasih makan langsung hap hap hap, dipatil makanannya. Jangan sampe nyemplung ke kolam lele yaaaa nak anak!


Lalu ada wilayah hewan pengerat: kelinci dan marmut. Kandangnya cozy deh, super besar, dimana hewan-hewan dibiarkan bertebaran. Sayangnya karena weekend itu rame, kelinci-kelinci sudah pada kekenyangan diberi makan. Pas kami sodorkan sayuran, kelinci udah gak minat. Maunya cuma leyeh-leyeh di pojokan.

Menawarkan sayur ke kelinci yang kekenyangan = gak digubris, hehehe
Penjualan camilan dan makanan hewan
Untung marmutnya masih kelaparan. BTW Baby Z masih malu-malu lihat hewan berbulu gini...
Ada kandang sapi, kandang kambing... Baby Z kurang menikmati karena masih takut-takut. Emaknya pun kurang menikmati karena ada bau-bau sedap (wahahaha). Yang seru, ada kandang domba yang terbuka bebas, dimana anak-anak kecil boleh masuk dan bermain sama domba. Aku pun menyempatkan pegang bulu domba, yang ternyata bertekstur seperti wool tebal dan empuk. Gemesss!!! Sensasi rasanya tak terlupakan.

Baby Z takut lihat kambing


Naik Kuda di Kuntum Farm Field

Melihat ranch kecil di Kuntum, tergoda deh buat coba naik kuda. Kami tawarkan ke Z, mau naik kuda nggak? Sambil dekat-dekat kudanya. Awalnya sih dia takut (huhuhu masih takut semua binatang nih), tapi lama-lama penasaran setelah tau bapaknya mau naik kuda sama mas N. Belilah kami tiket naik kuda, Rp 30.000 untuk 1 putaran. Bentar banget sih itu 1 putaran, tapi gak papa lah, sekali-sekali.


Aku pun naik kuda bersama baby Z. Ngeri juga sih naiknya, karena pengamanku hanya pegangan ke kuda plus dijagain bapak-bapak penjaga kudanya. Aku berusaha jaga keseimbangan, tangan kanan pegangan kuda, tangan kiri pegangin baby Z di depanku. Awalnya dia excited, kemudian langsung cranky setelah kudanya jalan. Tuplak tuplak tuplakkk... Baby Z pun balik badan memelukku sambil merengek. Kucoba menghibur sampai habis 1 putaran. Untung track-nya pendek ya nak :p
Ibuk sumringah, anak ketakutan.


Buat anak 1 tahunan, sebetulnya playground paling menyenangkan ya dimana ada lahan kosong, sehingga dia bisa lari-lari. Beberapa kali baby Z kabur nggak mau dipegangin, lari kesana-sini. Alhamdulillah kamu senang ya nak...

Jalan-jalan sama mbak S & mbak T



Di perjalanan ini, aku dan suami dibuat terharu karena para mbak berterima kasih sudah diajak jalan-jalan, refreshing dari kegiatan domestik di rumah. Mas N pun bilang, "Oom, hari ini seru banget ya!!" Rasanya nggak sia-sia kami menempuh hujan dan macet ke Bogor. Semua bahagia :)


Kalo belum ada baby Z, mungkin kami nggak akan tertarik ke Kuntum. Kebiasaan weekend kami jaman dulu paling jauh hanya jalan ke mall, pemalas banget yaaa. Jadi kami bersyukur di usia baby Z yang mulai penasaran segala sesuatu, kami harus cari-cari kegiatan positif dan edukatif. Ternyata Kuntum SERU BANGET dan RECOMMENDED! Bahkan buat orang dewasa pun, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini seperti menangkap ikan, memetik sayuran, dan ada padepokan untuk acara khusus.

Informasi: 
Alamat Kuntum: Jalan Raya Tajur No.291. Jawa Barat - BOGOR
Jam Buka: Senin-Minggu 8.00 (Pagi) - 18.00 (Sore)
HTM: Rp.40.000/Org (siapkan uang lebih untuk beli makanan binatang dan kalau mau naik kuda)

Kamu ada rekomendasi tempat menarik lainnya kah buat weekend bersama bocah? Share yaaa ^_^ 

Jumat, 03 Februari 2017

Review: Boba 4G Baby Carrier

Sesungguhnya baby carrier adalah anugerah bagi emak-emak yang kurang terampil pakai gendongan kain tradisional. Dengan sedikit latihan dan beberapa detik pasang gesper, si bayi tergendong aman, nempel di badan ibunya. Dua tangan pun masih bisa bebas mengerjakan yang lain. Bagi yang pernah lihat Instagramku sedang menggendong bayi dengan gendongan depan, produk baby carrier yang kupakai adalah Boba.

Umur 4.5 bulan, pakai infant insert. Pertama kali bapake bisa menggendong bayi sampai ketiduran: diajak jalan ke mall hihihi.

Sejak hamil, aku udah penasaran dengan berbagai merk baby carrier. Dulu sempat kepingin Ergobaby, tapi setelah banyak banget yang pakai dan muncul banyak tiruannya, rasanya jadi malas beli. Lalu nemu merk Boba, yang fiturnya nggak se-dahsyat Ergobaby 360 (Ergobaby yang bisa gendong bayi berbagai posisi, hadap ibu, hadap depan, atau dijadikan backpack). Dari segi harga pun, Boba masih lebih terjangkau daripada Ergobaby original yang hanya bisa 2 posisi.

Sempat galau sih, karena di umur 4 bulanan kan si bayi suka banget gendong hadap depan. Boba nggak bisa buat bayi hadap depan. Kalau mau beli Ergobaby 360 pun harganya 2 jutaan rupiah. Untuk sebuah gendongan, bagiku harga segitu nggak masuk budget. Ditambah lagi, Ergobaby belum bisa dipakai bayi di bawah 6 bulan kecuali nambah beli infant insert. Alamak makin tinggi lagi donk budget-nya.

Sabtu, 17 Desember 2016

Family Trip Ke Singapura (Sama Si Bayi!)

Assalamu'alaikum!

Alkisah, di usia 3 bulan, bapake baby Z semangat banget bikinin paspor buat si bayek. Biar bisa go international, katanya. Kebayang nggak sih, anak umur 3 bulan disuruh foto paspor, belum bisa duduk sendiri pula. Cara fotonya di kantor imigrasi: bayi bersandar dipangku ibunya, sementara muka + badan ibunya ditutupin kain polos warna putih :))) Kebetulan pula waktu itu baby Z lagi ngantuk berat dan cranky. Alhasil foto paspor baby Z, mukanya nunduk cemberut bete abis, ahahaha.


Berhubung emaknya baby Z nggak kunjung pede untuk bawa si bayi terbang jauh-jauh, akhirnya nganggurlah itu paspor. Lah buat apa dulu buru-buru poto paspor, pas anaknya belum bisa senyum zzzz. Sampai akhirnya setelah Z berusia 1 tahun, keluarga kecil kami memberanikan diri liburan bertiga ke... Singapura! Yaaayyy!!! Yang penting ada stempel di paspormu ya nak :D

Gimana sih itinerary jalan-jalan di Singapura sama bayi umur 1 tahun?

Yang jelas, liburan kali ini kami nggak bisa terlalu ambisius pengen kesana-kemari. Itinerary super nyantai, bahkan lebih santai dari babymoon ke Singapura tahun lalu. BTW mungkin ada yang bertanya-tanya: tiap tahun ke Singapur, gak bosen?? Jawabannya adalah enggak bosen, karena objek wisatanya emang banyak banget hehehe.

Kira-kira beginilah itinerary dan cerita perjalanan kami.

Hari pertama (setengah hari): Jalan-jalan santai di kawasan Orchard ATAU Marina Bay Sands (pilih salah satu)

Tiba di bandara Changi jam 11 siang, kami istirahat dulu di sana. Duduk-duduk main wifi nyuapin makan (bekal) si bayi, plus ortunya ikut nyemil-nyemil perbekalan. Baby Z heboh banget melantai di Changi karena bosan duduk & digendong. Daripada cranky, sudahlah kami turuti aja dia merangkak di bandara.

Lalu kami beli tiket MRT untuk ke Lavender. Kami beli tiket biasa untuk sekali jalan, bukan tourist pass, karena itinerary kami nggak kemana-mana juga. Kalau punya tiket EZ link sih enak, tinggal isi ulang biayanya lebih hemat. Kalau tiket standar, bisa diisi ulang tapi maksimal untuk 6x perjalanan.

Stan Jollibean di stasiun MRT Lavender. Pudding & susu soya enak murah meriah!
 Kami check in di V Hotel Lavender pukul 13.00 siang. Review V Hotel Lavender menyusul ya! Pokoknya kami puas di hotel ini, karena lokasinya super strategis. Gedung hotelnya TEPAT di atas stasiun MRT Lavender. Mana kebetulan hari itu Singapura sedang hujan cukup deras. Kami nggak perlu kehujanan nyeberang-nyeberang jalan untuk cari hotel.

Setelah istirahat sholat sebentar di hotel, kami memutuskan hari itu mau jalan-jalan santai di The Shoppes at Marina Bay Sands aja. Itu lho, mall yang ada di hotel ikonik Marina Bay Sands bentuk perahu ituuu. Karena hujan, paling enak ngemall aja ya. Bagusnya transportasi umum di Singapura ini, stasiun MRTnya nyambung ke pusat-pusat wisata & belanja. Jadi nggak pake kehujanan deh.

Di mall, baby Z lumayan cranky karena kurang tidur siang. Ibunya spaneng T_T Pengen makan enak tapi bocahnya rewel. Akhirnya makan gantian sama bapake. Kalo lihat keluarga-keluarga lain anaknya anteng di stroller, atau makan dengan riang di baby chair sementara keluarga juga makan, hari itu baby Z memutuskan nggak mau di stroller & nggak mau di baby chair :)))

Kami makan di food court, pesan Yong Tau Fu dan Pepper Lunch (perasaan tiap ke mall ini nggak pernah pilih yang lain deh). Yong Tau Fu-nya dikit-dikit bisa disuapin ke baby Z (ambil tofu, bihun dan sayur-sayurannya). Dagingnya Pepper Lunch disuwir kecil-kecil. Beginilah MPASI ketika travelling, bayi ikut makanan bapak ibunya :p

Setelah makan, kami jalan-jalan tak tentu arah. Pengen lihat gondola di sungai artifisial dalam mall, tapi lagi maintenance, kosong nggak ada airnya *penonton kecewa. Pengen lihat barang-barang, tapi branded semua, takut masuk tokonya, takut ga bisa beli *ndeso wakakakakkk


 Akhirnya hujan pun reda, kami bisa jalan-jalan ke dek menikmati sore hari sambil makan pudding tofu yang dibeli di stasiun MRT. Pemandangannya cantik sekali, sayangnya banyak orang pada ngerokok di sini.

Jam 5an sore kami sudah bersiap naik MRT kembali ke hotel. Sebetulnya ada hasrat-hasrat pengen lihat Gardens by The Bay juga sih, nggak jauh dari situ. Tiap malam kan ada pertunjukan lampu di tamannya. Tapi sambil gendong bayi 9 kg (yang saat itu cuma mau digendong emaknya), rasanya perjalanan dari Marina Bay Sands ke Gardens By The Bay nggak sanggup kutempuh. Badan udah remuk redam, pengen segera balik ke hotel aja :))))) Berakhirlah petualangan hari itu.

Hari kedua: Sentosa SEA Aquarium, Tiger Sky Tower, dan Sentosa Line Cable Car

Setelah sarapan di hotel (beli nasi lemak di kios sebelah hotel lalu dibawa ke kamar :))))), kami pun pergi ke Sentosa. Jalur MRT-nya, kami pergi ke MRT Harbour Front untuk kemudian ke Vivo City mall, kemudian melanjutkan naik MRT Sentosa Express di Vivo City lantai paling atas.

Kami baru browsing tentang SEA Aquarium malam sebelumnya, kesimpulannya, worth to try lah. Eh di ticketing sebelum masuk Sentosa Express, ada penawaran bundling 3 atraksi di Sentosa - Day Fun Pass Play 3 - harganya S$ 44.90. P adahal kalau hanya beli tiket SEA Aquarium, harganya S$ 38.

Wowwww lumayan banget kan! S$38 bisa bebas pilih 3 dari list atraksi berikut:

  • 4D AdventureLand: Desperados in 4D
  • 4D AdventureLand: Extreme Log Ride
  • 4D AdventureLand: Journey 2: The Mysterious Island
  • Bi-Pedal Bicycle (2 Hours)
  • Butterfly Park & Insect Kingdom
  • Fort Siloso Combat Skirmish: Indoor Maze
  • MegaBounce or Parajump @ Mega Adventure
  • MOSH!
  • S.E.A. Aquarium, Resorts World Sentosa
  • Segway® Fun Ride (2 Rides)
  • Sentosa Merlion
  • Skyline Luge Sentosa (1 Luge & 1 Skyride)
  • Singapore Cable Car – Sentosa Line or K-Live Sentosa (Hologram)
  • The Flying Trapeze
  • Tiger Sky Tower
  • Trick Eye Museum Singapore
  • Wave House Sentosa – Catch-A-Wave (1 Try)
  • Wings of Time (Standard Seat)
  • Images of Singapore LIVE*
  • Madame Tussauds Singapore*

*Kalau mau ke Madame Tussaud, harus ke Images of Singapore juga, jadi otomatis terpakai 2 atraksi

Waaaa banyak banget pilihannya ya! Berhubung bawa bayek, yang seru-seru macam 4D AdventureLand kita skip dulu, padahal kepengen :p Sempat kepikiran masuknya gantian, tapi gak seru ah kalo gak sama-sama. Beberapa atraksi terkenal seperti Madame Tussaud dan TrickEye Museum pun sudah pernah kami kunjungi tahun lalu. Nggak cocok buat bawa bayi pula. Maka kami pilih: SEA Aquarium, Tiger Sky Tower, dan Sentosa Line Cable Car.

SEA Aquarium, Highlight of The Day!

Pertama masuk ke SEA Aquarium, kami disuguhi display sejarah bahari dari berbagai belahan dunia. Ada Indonesia juga lho di display tersebut! Melihat-lihat museum bahari ini, lumayan bisa 15-30 menitan. Tergantung dari seberapa kuat rasa ingin tahu kamu :D Kalo yang malas lihat museum atau lagi terburu-buru, zona ini di-skip juga bisa sih... Langsung aja ke arah akuarium.

Di lantai bawah, atraksi utama dimulai. Kami memasuki tunnel aquarium yang dipenuhi ikan hiu seliwer-seliwer santai, hehehe. Hiunya macam-macam jenisnya. Di sini aja rasanya udah senang banget.

Selanjutnya kami disuguhi berbagai akuarium berisi aneka biota laut. Baby Z senang banget di sini! Ketakutan aku dan suami, bahwa si bayi belum bisa menikmati suasana, terbantahkan :D Alhamdulillah ya!


Kami melihat-lihat ikan dan terumbu karang warna-warni, ubur-ubur yang menyala, ikan arwana, ahhh... banyak deh. Kadang kalo udah melihat satu area yang menarik, baby Z nggak mau diangkat. Maunya ngelihatin ikan aja sambil pegang kaca akuarium :))) Maafkan kami yaaa bagi para pengunjung lain yang pengen lihat ikan tapi terhalang si bocah.




Di akhir perjalanan, kami tiba di area dimana kami boleh pegang hewan laut: kerang atau bintang laut. Berhubung baby Z masih bayek, aku bantu gendong supaya dia bisa pegang bintang laut. Petugas di sana semuanya friendly, bintang lautnya diangkat ke arah baby Z. Pas pegang yang kedua kali, kerangnya dilempar baby Z ke akuariumnya. Untung nggak dimarahin, malah diketawain sama petugasnya. Maapkan ya mbak, namanya juga bocah ya...

Selesai dari aquarium, kami kelaparan. Aku dengan impulsif melihat ada resto unik: Slappy Cakes, di dekat area Universal Studio. Specialty-nya adalah pancake yang bisa kita panggang sendiri di meja, dengan adonan dan topping yang bisa dipilih. Wow aku mauuuu...

Berhubung harganya cukup mahal, kami beli 1 aja, hahahaa. Kalau nggak salah S$ 12 untuk 1 porsi pancake. Kami juga beli mushroom soup buat si bocah (ujung-ujungnya emak-bapaknya yang makan). Sebenernya mending beli KFC sih, lebih hemat plus lebih kenyang :p



Tiger Sky Tower, dan Sentosa Line Cable Car

Tiger Sky Tower adalah wahana super santai yang kegiatannya adalah masuk ke sebuah ruangan, lalu ruangan itu naik tinggi ke atas dan berputar pelan, sehingga kita bisa melihat pemandangan Sentosa dan sebagian Singapura dari ketinggian. 

Pemandangan yang difoto dari atas Tiger Sky Tower
Lumayan menghibur sih, pemandangannya bagus. Kami pun bisa duduk beristirahat, sementara baby Z tidur dalam gendongan.

Lalu untuk wahana terakhir, sambil galau mau kemana, kami putuskan naik Sentosa Line Cable Car. Wahana ini SANGAT SEJENIS dengan wahana sebelumnya. Sama-sama duduk santai, melihat Sentosa dari ketinggian. Tapi saat itu, rasanya memang sudah paling cocok :D Apalagi sore tersebut hujan rintik-rintik. Kami cari wahana yang terlindung dari hujan aja.


Oiya kami melihat burung merak berkeliaran bebas di dekat Butterfly Park
Berakhirlah perjalanan hari itu. Sore hari kamipun segera kembali ke hotel karena menggendong bayi 9 kg seharian bikin badanku pegal-pegal hahaha. Oh yes, baby Z minta gendong aku hampir setiap waktu, lagi ngalem dianya...

Hari Ketiga: Jalan-jalan di Bugis

Kalau turun di stasiun MRT Bugis, banyak objek yang bisa dikunjungi. Ekspektasi, bisa nengok Haji Lane tempat toko-toko unik, atau Kampong Glam dengan Masjid Sultan-nya yang instagrammable. Kenyataan: waktu kami habis di mall Bugis Junction :)))

Mall Bugis Junction ini menjadi salah satu nostalgia aku pergi ke Singapur tahun lalu saat babymoon. Dulu, hotel kami terletak di kawasan Bugis. Di Bugis Junction ada supermarket (bisa beli pisang untuk baby Z dan camilan untuk dibawa pulang ke Indonesia) dan banyak jajanan enak (ada Old Chang Kee, kebab, frozen yogurt dll.).

Belanjaan di supermarket Singapura. Makanan-makanan yang jarang dilihat di Indonesia.

Yang paling aku kangenin dan jadi tujuan utama di Bugis Junction adalah... Nando's Chicken! Restoran ayam panggang dengan bumbu khas peri-peri sauce selalu bikin aku terbayang-bayang. Kami pesan 2 porsi ayam panggang, namun ternyata baby Z makan sebagian besar ayamku :))) Aku jadi cuma makan sisa-sisa di tulangnya. Makasih pak suami, dikit-dikit nyuapin aku ayam panggangnya saat aku nyuapin bocah :p

Bocah doyan banget ayam Nando's!

MPASI Baby Z (1 Tahun) Saat Traveling

Oiya, bagi yang bertanya-tanya tentang MPASI si bayi saat traveling ini... Jawabannya adalah, aku nggak bikin MPASI rumahan. Waktu itu udah bawa beras dan mini rice cooker, ehhh ternyata colokan rice cooker-nya ketinggalan di rumah. Zonk.

Untungnya aku bawa beberapa porsi bubur instan, lumayan jadi penyelamat. Bubur instan-nya dipilih yang bertekstur dan gurih untuk 8 bulan ke atas. Kalau bubur instan encer untuk 6 bulan, baby Z nggak doyan.

Kami juga beberapa kali beli roti, karena ternyata saat itu si bayi sangat doyan roti. Beli jus segar tanpa es dan gula. Beli nasi lemak. Beli ikan goreng. Alhamdulillah si bayinya mau makan. Ini namanya MPASI kepepet, hehehe.

Dokter anak juga meyakinkan nggak papa kalau liburan cuma sebentar, beli makanan di tempat tujuan aja. Urusan MPASI homemade nggak usah dibuat stres, nanti liburannya nggak hepi. Yang penting makanan yang dibeli bersih, nggak pakai bumbu aneh-aneh (cabe & MSG). Toh liburannya cuma beberapa hari. Sampai rumah, kembali MPASI rumahan lagi :D

Mungkin banyak ibu-ibu yang beda pendapat ya, monggo disesuaikan dengan kebijakan masing-masing ^^

Beginilah cerita liburan ke luar negeri pertama kalinya dengan si bayek. Alhamdulillah ternyata menyenangkan, banyak momen yang berkesan. Kira-kira pengen liburan kemana lagi ya yang baby friendly? ;D

Rabu, 07 Desember 2016

Crafting: Dari Hobi Jadi Inspirasi

Assalamu'alaikum!
Beberapa bulan terakhir, aku merasa seperti nggak jadi diri sendiri. Rasa-rasanya ada bagian yang kurang dalam hidupku. Aih dramatis ya. Apakah bagian yang kurang itu? Ohhh, ternyata perasaan ini muncul karena aku lama nggak melakukan hobi crafting!


Sebegitu pentingnya peran hobi dalam kehidupan, seperti 'vitamin' untuk kesegaran jiwa. Melakukan hobi bisa melepas penat. Bikin hati senang. Bisa menjadi sumber penghasilan. Bahkan, bisa jadi inspirasi buat orang lain. Maka bersyukurlah orang-orang yang masih bisa menyelipkan hobi di tengah kesibukan. Atau bahkan, menjadikan hobi sebagai pekerjaan sehari-hari.

Menurutku, sebuah hobi dapat menjadi inspirasi apabila hobi tersebut di-sharing dengan orang lain. Caranya bisa dengan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki hobi serupa sehingga dapat berbagi ilmu. Atau, dengan membagikannya di media sosial agar dapat menginspirasi orang lain yang memiliki minat sama.

Dulu, blog ini menjadi tempat aku menuangkan kreativitas. Saat aku mulai menulis blog di tahun 2009, masih sedikit orang yang memiliki blog. Platform untuk berbagi inspirasi pun masih langka. Tak jarang aku mendapatkan komentar dari pengunjung blog, bahwa isi blog-ku sangat menginspirasi mereka. Senang banget rasanya, kalau ada yang bilang seperti itu. Seolah hidupku jadi lebih bermanfaat, hihihi. Lebay tapi emang bener lho.

Apa aja sih hasil kreativitas yang pernah aku share di blog? Mari bernostalgia :D

Jumat, 18 November 2016

Drama di Balik DIY First Birthday Baby Z

Assalamu'alaikum!


Ibu mana yang nggak bahagia, ketika bayi kecilnya menginjak usia 1 tahun? Bagiku yang sempat mengalami baby blues, rasanya dulu nggak kebayang si bayi bakal secepat ini gede. Kirain kerjaan sehari-hari bakal cuma nyusu-pup-ganti popok, ehhhh sekarang tingkah polahnya udah nggak terkendali. Wes nduwe karep dewe! Merangkak sana sini, naik tangga, gak mau dicuekin, minta cemilan, suka mainin remote dan banting-banting HP (maafkan kalo sekarang jadi susah dihubungi, soalnya baru bisa pegang HP kalo bayi bobok!) :D

Nah beberapa minggu sebelum ultah si bocah, aku sempat galau nih, mau bikin perayaan / syukuran atau enggak? Karena ada pro kontra soal pesta ultah. Takut boros lah, bayinya belum ngerti lah, nggak ada sunnahnya lah. Tapi di sisi lain, milestone 1 tahun ini sayang juga kalo nggak ada foto-fotonya. Banyak perubahan lho untuk bayi di usia 1 tahun. Contohnya, udah bisa pake baju anak umur 1 tahun dia udah boleh bebas makan seperti orang dewasa. Halo gula garam, kamu sudah halal! (Errrr, sebelumnya sih udah kena gulgar juga kok dalam bentuk biskuit bayi). Cuma, maksudnya, di usia 1 tahun ini, gula garam sudah boleh diberikan dalam batas wajar. Madu sudah boleh dimakan. Susu sapi sudah boleh diberikan.

Sampai akhirnya di H-2 sebelum ultah baby Z, aku memutuskan mau bikin acara pepotoan kecil-kecilan di rumah. You know, cuma sekedar potong kue ultah di depan dekor unyu buat foto.

Rabu, 26 Oktober 2016

Drama ASI #3: Milk Blister, Mastitis, dan Nasihat Abang Gojek

Assalamu'alaikum!

Kupikir, kunjungan ke klinik laktasi cuma urusan di awal-awal lahiran aja. Ternyata di usia bayiku yang 11 bulan, aku harus kembali menemui dokter laktasi.

Masalahnya adalah pada suatu hari, payudara kananku terasa nyeri ketika dibuat menyusui. Saat kuteliti, ada bintil seperti jerawat di ujung puting! Bintil itu berwarna putih. Yaaaa seperti jerawat matang T_T Sakitnya jangan ditanya. Saat disusui, aku harus menahan tangis huhuhu...

Setelah browsing, aku yakin bintil ini bernama Milk Blister. Asalnya dari sumbatan ASI. Di sebagian payudara memang terasa ada gumpalan keras. Bisa terjadi karena ASI nggak dikosongkan (sehingga sisa-sisa ASI menyumbat saluran air susunya), atau karena tekanan (misal pemakaian bra yang terlalu ketat) - kalau dalam kasusku sepertinya karena aku menyusui sambil tiduran, jadi bagian payudara ada yang tertekan ke kasur.