Selasa, 21 November 2017

Return to Tokyo #3: Sensoji Temple & Sushi Halal Asakusa

Assalamu'alaikum!

Di hari ketiga kami di Tokyo, 23 Oktober 2017, ternyata cuaca sangat cerah. Padahal ada warning di hari tersebut, typhoon Lan akan melewati Tokyo. Memang dampak dari typhoon sudah dirasakan sejak hari sebelumnya (baca: Shinjuku When It Rains) yang diwarnai hujan dan angin kencang. Kami pun sudah siap-siap perbekalan kalau harus seharian di apartemen. Nggak disangka, Senin pagi itu, cerah alhamdulillah!


Bersyukur sekali kami nggak mengalami yang namanya terjebak badai di kala liburan. Di berita, memang ada beberapa kawasan di Jepang yang terkena dampak parah karena typhoon Lan. Makanya kaget juga saat matahari bersinar terik. Konon sehabis badai, langit memang akan sangat bersih dan cerah :)

Kami memutuskan pergi berwisata ke Asakusa. Tujuan utama kami adalah kuliner halal: ada pusat oleh-oleh cemilan halal, juga sushi halal di daerah Asakusa. Sebetulnya ada banyak lagi pilihan halal-food misalnya ramen dan yakiniku, tapi kami mau fokus ke sushi saja karena dimana lagi nemu sushi sertifikat halal di Tokyo? Apalah artinya ke Jepang tanpa makan sushi?? Eaaa...

Senin, 06 November 2017

Return to Tokyo #2: Shinjuku When It Rains

Assalamu'alaikum!

Kembali lagi dalam lanjutan cerita perjalanan ke Tokyo, hari kedua. Hari setelah perjalanan panjang yang melelahkan, dari Jakarta ke Tokyo. Pagi itu, Z tampak lebih segar setelah beristirahat. Aku memasak nasi dengan beras yang dibawa dari Indonesia, memanaskan bandeng presto (dari Indonesia juga), dan abon tuna Nonatuna (tentu dari Indonesia juga hihihi).

(Baca: Return to Tokyo #1: Traveling with Sick Toddler; JAL & NEX Review)

Pagi itu hujan turun cukup deras. Melihat ramalan cuaca, sudah bisa dipastikan kalau itinerary yang telah kami buat akan banyak yang berubah. Sudah jauh-jauh ke Tokyo, hujan pula. Apa kami harus di apartemen saja? Tentu enggak. Toh kami sudah membeli payung.



Gimana kabarnya dengan Z yang sedang sakit batuk pilek parah? Aku sempat browsing-browsing sih, kalau sebaiknya justru anak sakit pilek dibawa ke udara segar/dingin. Hal itu justru akan lebih melegakan saluran hidungnya. Jadi nggak masalah kalau dibawa keluar apartemen. Pokoknya aku pastikan Z istirahatnya cukup, dijaga waktu tidur siangnya, dan dapat asupan cairan dan makanan yang cukup. Kami juga harus keluar apartemen karena butuh belanja persediaan bahan makanan seperti telur dan buah-buahan.

Kami berencana mencegat taksi di jalan terdekat dari apartemen. Kami buka payung, Z digendong bapaknya, aku mendorong stroller berisi tas perlengkapan harian. Ternyata setengah jam ditunggu, taksi nggak ada yang kosong! Akhirnya kami naik kereta aja deh, dari Stasiun Shinjuku Sanchome ke Stasiun Shinjuku. Beda 1 stasiun saja.

Ke Odakyu Department Store, Makan Halal di Yoshiya Restaurant

Odakyu merupakan salah satu mall favorit suami ketika dulu ia pergi ke Tokyo. Barang-barangnya lengkap dan cukup variatif harganya. Nggak terlalu high class barang-barang mahal seperti Takashimaya. Akupun pernah mengunjungi mall ini, dan terkenang dengan 1 restoran yang menawarkan menu halal: Yoshiya!

Lokasi Yoshiya cukup mudah ditemukan, letaknya di depan lift lantai B1 dari stasiun Metro Shinjuku yang menyambung ke Odakyu mall. Resto ini punya 4 menu Muslim-friendly yang sudah mendapatkan sertifikasi halal Jepang. Pas banget, sampai di sana jam makan siang dengan perut kelaparan.
Japanese chicken curry... Enak!
Chicken rice bowl. Rasa ayamnya enak!
Menu yang sedang kosong: set nasi tempura & soba. Di beberapa hari berikutnya kami ke sini lagi dan alhamdulillah ada :D

Kalau lagi ramai, antriannya bisa cukup panjang. Kemarin kami hanya mengantri sekitar 15 menit untuk bisa masuk. Sayang sekali di hari itu ada 2 set menu yang kosong. Jadi pilihannya hanya Japanese Chicken Curry dan Spicy Chicken Rice Bowl. Kami pesan kedua jenisnya, 1 orang 1 porsi (aku makan berdua Z). Karena Z sedang tidur siang, kumasukkan saja bagian makanan Z ke kotak makan kosong yang selalu kubawa. Catatan: bawa tempat bekal kosong itu wajib, karena bisa menyelamatkan porsi makanan yang nggak habis, dan penting buat nyuapin anak sewaktu-waktu dibutuhkan!

Harga per set menu sekitar 1,000-1,500 Yen (1 Yen = Rp 120an). Cukup terjangkau untuk harga Jepang, yaaa... Kenyang pula. Kami pun dapat ocha gratis yang bisa di-refill.

Lokasi Yoshiya: Shinjuku Metro Restaurant Floor B1F, 1-1-2 Nishishinjuku , Shinjuku-ku, Tokyo 160-0023

Surga Anak-anak di Lantai 9 Odakyu Department Store, Shinjuku

Pasca makan siang, kami menuju lantai 9 Odakyu, yaitu bagian bayi dan anak-anak. Mertua langsung cari oleh-oleh untuk cucu di Jakarta. Dapat mainan untuk mas N. Sementara untuk cucu 1 lagi yang masih bayi, belum dapat. Karena harga perlengkapan bayi di sana sangat mahal. Misalnya 1 sepatu bayi aja bisa Rp 1 juta. Whattttt... Padahal bayi belum bisa jalan. Mending beli di OL Shop Indonesia yaaa...

Sambil aku melihat-lihat mainan anak, Z disuapi bapaknya. Aku terharu, nasi kari ayam yang tadi kubawakan dari restoran, hampir habis! Lahap sekali Z makan! Tanda-tanda mau sembuh ya nak T_T Duh senangnya ibuk..

Lalu kami menuju ruang ganti popok bayi yang... bagaikan surga! Surganya emak-emak yang kebelet gantiin popok bayi hehehe.
Terlihat ada timbangan bayi, meja ganti popok berjejer, tempat duduk ibu, dan sangat banyak kursi makan bayi (di foto ini cuma kelihatan 2 kursi hehehe)

Ruangan itu memiliki beberapa meja ganti popok berjejer, disediakan tisu bersih, disediakan plastik untuk membungkus popok kotor, ada wastafel, ada mesin air panas untuk susu atau makanan bayi. Yang aku lebih takjub lagi, yaitu banyak disediakan baby chair untuk dudukan bayi-bayi yang disuapi makan ibunya! I always adore how thoughtful Japanese people are! Bayi-bayi Jepang bisa duduk dengan tenang dan aman sementara ibunya nyuapin.

Ada pula vending machine diapers merk Genki. Harganya cukup mahal, 1 popok 100 Yen ~ setara Rp 12,000. Tapi aku dan suami semangat nyobain hehehe. For the sake of new experience! Juga ada vending machine minuman untuk orang dewasa. Inipun penting sih, karena saat nyuapin biasanya ibuke juga lapar... ganjel minuman dulu deh :P

Ruang menyusui juga sangat nyaman dengan sofa dan tirai privasi. Ahhhh bahagianya di sini, bisa santai berlama-lama...

Nah sebenarnya di lantai 9 ini, ada taman outdoor juga lho! Ada mainan perosotan dan panjat-panjatan untuk balita, juga tempat duduk-duduk yang nyaman untuk orangtuanya. Sayang di hari Minggu itu cuaca sedang kurang bersahabat untuk bermain outdoor. Namun beberapa hari setelahnya, aku sempat ke Odakyu lagi dan mengajak Z main di taman tersebut :) Menyenangkan!

What I Bought In Odakyu?

Ternyata niat awal yang 'ke Jepang ga usah belanja apa-apa' langsung gugur di hari pertama hehehe. Tak lain tak bukan karena demi bocah tercinta. Suami mengajakku beli raincover untuk stroller, karena melihat cuaca Jepang yang sering hujan, dan stroller pun basah dalam perjalanan ke Odakyu hari ini.

Ada raincover merk Aprica seharga ~3,900 Yen (lupa tepatnya berapa). Saat kami menanyakan SPG apakah kira-kira akan muat di stroller Joie Meet Float yang kami bawa, eh dengan sigap mbak SPG langsung mengeluarkan sample produk dari laci dan mencobanya di stroller kami. Alhamdulillah pas banget! Langsung kami putuskan untuk beli, dan mbak SPG pun dengan sigap langsung memasang raincover baru kami di strollernya Z.

Ini dia stroller Z setelah dipasangi raincover, aman nyaman dan hangat di dalam :)

Raincover ini jadi Best Buy kami selama di Tokyo, karena kepake banget! Sempat kepikiran beli 1 lagi buat oleh-oleh ponakan, tapi dipikir-pikir kalo buat di Indonesia bakalan nggak kepake. Ya kalo di Indonesia hujan 'kan ga bakalan juga ngajak bayi jalan-jalan keluar yaaa... Bener juga pemikiran suami. Jadi cuma beli 1 buat pemakaian pribadi deh.

Setelah beli raincover, kami lihat-lihat sepatu sport anak-anak aneka merk seperti Nike, Asics, dll yang imut dan lucu banget! Bikin pengen beli semuanya deh! Z pun beli 1 sepatu baru di sana.

Dan siang tadi saat Z disuapin makan bapaknya, sebetulnya aku membelikan mainan potong-potong buat Z. Bahannya dari kayu, kelihatannya built quality-nya sangat bagus. Ada yang dijual per set dan ada yang satuan. Aku beli yang satuan: pisau, wortel, semangka, kiwi, dll. Harganya mulai 160 Yen untuk yang sederhana (pisau) hingga 300-600an Yen untuk makanan yang lebih kompleks.

Dari Odakyu, kami sempat melipir ke beberapa mall tetangga untuk mencari titipan barang-barang dari orang lain. Tapi yang paling berkesan hari itu ya ketika di Odakyu :)

Di luar masih saja hujan malam itu. Kami mencari makan malam di daerah Shinjuku juga.

Makan Ramen Kuah Seafood di Menya Kaijin

Resto ramen ini sebetulnya bukan resto halal, namun web-web halal Jepang dan apps halal Jepang merekomendasikannya karena bahan-bahan yang dipakai insyaAllah aman. Pilih ramen yang seafood ya, jangan pakai ayam (karena ayam kan belum tentu dipotong dengan cara halal).

Yang bikin spesial ramen Menya Kaijin adalah kuahnya dari ikan. Yummm, sedap sekaliii. Suami sudah pernah makan di sini bulan April lalu, dan dia merekomendasikan pesan ramen yang ukuran kecil saja. Pas ramennya sampe, baru paham kalo ukuran kecil aja mangkoknya udah segede baskom. Gimana kalo ukuran besar ya hahahaha.

Cons-nya di restoran ini adalah nggak ada Baby Chair, sehingga aku harus memangku Zaki sambil menyuapinya makan ramen dan akupun kesulitan menyuap ramen ke mulutku sendiri. Tumpah-tumpah ke Zaki sis kuahnya! Lalu karena porsinya sangat besar, aku tanya ke waiter apa bisa sisa ramen di takeaway, dia bilang, "No.. no takeaway!"

Mangkoknya sebaskom, sendoknya segede sendok sayur... Wareg, sis! Nasi bakarnya kemakan setengah saja...

Sepertinya di Jepang, kalo sudah pesan makanan di restoran, ga boleh takeaway deh (CMIIW ya!). Orang Jepang selalu menghabiskan makanan yang mereka pesan. Padahal rata-rata menu set di Jepang tuh porsinya banyak lho. Mungkin karena mereka terbiasa jalan kaki ke tiap tempat dan ke stasiun kereta, butuh energi besar yaaa...

Lokasi Ramen Menya Kaijin: 2F (lantai 2), 3-35-7, Shinjuku, Shinjuku-ku, Tokyo

Going Back To The Apartment

Kami menutup hari dengan mencoba mencegat taksi untuk pulang ke apartemen di bawah gerimis hujan. Namun setengah jam menunggu, nggak ada taksi yang kosong ataupun bersedia mengantar. Kalaupun ada taksi kosong, supirnya menolak... dalam bahasa Jepang. Nggak tau deh nolaknya kenapa. Akhirnya kami jalan kaki lagi ke apartemen.

Tak lupa kami membeli beberapa bahan makanan seperti telur, teh, kopi dan sayur-sayuran di minimarket untuk persediaan di apartemen. Berdasarkan ramalan cuaca dan berita, besok dikabarkan ada typhoon Lan, "The Biggest Storm in Asia."

Baca headline-nya saja aku sudah ngeri! Kebayang kalau seharian besok kami harus mendekam di apartemen karena badai typhoon.

Bagaimana dengan Z? Alhamdulillah malam itu ia tidur nyenyak tanpa rewel seperti malam sebelumnya. Mungkin ada yang khawatir kalau anak sakit flu kok malah dibawa jalan di cuaca dingin dan hujan. Tapi nyatanya udara dingin dan lembab malah membantu melegakan hidungnya yang tersumbat pilek :)

Sampai ketemu lagi di cerita hari esoknya ya... Hari di mana diramalkan akan ada typhoon Lan.

Rabu, 01 November 2017

Return to Tokyo #1: Traveling With Sick Toddler & JAL Review

Assalamu'alaikum!
Buat kamu-kamu yang lihat akun Instagram-ku, mungkin sudah tau kalau minggu lalu aku baru saja melakukan perjalanan ke Tokyo, Jepang. Ya, ini merupakan kali kedua aku ke Jepang setelah sebelumnya menikmati musim sakura pada April 2017. Kok mau sih ke Jepang 2x dalam setahun? Jawabannya adalah, karena masih sangat banyak objek di Jepang yang belum dieskplorasi bersama suami tercinta. Pada trip sebelumnya kan aku hanya bersama suami selama 1 hari karena suami dinas dan aku jalan-jalan sama bapak ibuku :)

Rombongan kami, beserta semua barang bawaan: 2 koper besar, 1 koper kabin, 1 stroller, 1 ransel. Minimalis ya!
Yang bikin perjalanan kali ini terasa berbeda adalah... karena kami bayar sendiri tiket dan penginapannya! Hehehehe... Ya yang sebelumnya suami dibayarin kantornya karena urusan kerjaan, dan aku ditraktir ortuku. Maka ketika ada promo tiket murah Japan Airlines (JAL) seharga Rp 4juta untuk pulang pergi, suami langsung semangat untuk beli! Beruntung setelah beli, ternyata nawarin mertua eh pada mau ikut juga. Jadi untuk urusan penginapan bisa lebih murah karena bagi dua, pesan yang 2 kamar dalam 1 apartemen.

Bocah Sakit Sebelum Perjalanan :(

Nggak disangka, 3 hari sebelum berangkat ke Jepang, Z batuk pilek parah :( Sempat disertai demam ringan di awal-awal gejala sakitnya. Seperti kecolongan, padahal sudah lumayan berhati-hati jaga makanan dan aktivitasnya Z. Ya Allah, rasanya galau banget. Udah lumayan banyak mengeluarkan uang untuk liburan impian, ehhh anak sakit. Padahal beberapa bulan lalu baru aja baca blog Alodita, bagian Traveling With A Sick Toddler, mengenai perjalanannya ke Jepang awal tahun ini dan anaknya sakit sebelum berangkat. Kok ya beneran kejadian di Z.

Penerbangan kami jadwalnya pk. 06.40 pagi. Artinya kami sudah harus tiba di bandara pukul 04.40. Dan berangkat dari rumah jam... 3-an pagi! Aku hanya mengganti diapers Z dan langsung mengangkutnya ke taxi. Ternyata sampai di bandara dia melek segar bugar, hanya batuk pileknya masih tetap saja parah. Agak parno juga, takut menyebar virus Z dan takut Z ga nyaman selama perjalanan. Tapi sebelumnya aku sudah whatsapp DSA-nya Z dan disarankan membeli obat tetes hidung untuk Z di pesawat.

Yang paling sedih dari anak batuk adalah... kadang batuknya sampai muntah! Di bandara Soekarno Hatta aja aku sudah sekali menggantikan baju Z karena kena muntahan. Stok baju kudu banyak. Stok diapers yang kusiapkan juga mepet banget. Kesalahanku nggak memperhitungkan kebutuhan minum anak flu kan meningkat, volume pipisnya juga meningkat.

Aku beli Mango Chicken Pocket A&W dan Panini Starbucks di bandara untuk sarapan Z. Dua menu itu, 2 minggu lalu pernah kubeli saat di bandara dan Z makan dengan lahap! Namun kali ini, Z menolak :( Sedikit sekali asupan yang masuk untuk Z, hiks... Oiya untung sebelum berangkat sempat masak pan fried salmon (baca: salmon dipanggang di wajan hehehe sok keren amat bahasa Inggrisan :p), dibekal bersama nasi dan telur ceplok. Lumayan salmonnya digadoin Z. Namanya bocah lagi gak enak badan ya... Makan pun pilih-pilih...

Untungnya kami sempat membeli sarapan roti-rotian, karena dalam perjalanan 7 jam di pesawat (pagi berangkat, sampainya sore di Narita), makanan baru disajikan menjelang jam makan siang. Jadi tips-nya, selalu sedia perbekalan ya buibuk!

Review Makanan JAL dari Indonesia ke Jepang dan Sebaliknya

Ternyata, makanan yang disajikan di JAL sangat mewah untuk ukuran kelas ekonomi! Puas banget makannya. Aku pilih menu chicken curry. Konon, makanan di JAL dari Indonesia insyaAllah halal. Namun untuk yang dari Jepang, kita harus pesan menu khusus Muslim maksimal 2 hari sebelum keberangkatan. Jangan sampe ga pesan ya buibuk! Pun untuk makanan bayi dan anak-anak.

Ini dia tray makananku di pesawat, dalam perjalanan dari Jakarta ke Tokyo. Yakult dapat 2!! Waw jatuh cinta banget dengan servis macam gini hihihi...

Pestaaaa... ada salad sayur (paprika timun), buah potong, cake coklat, 2 yakult, nasi kari, dan 'bean soup' yang rasanya seperti sup miso

Makanan Z: pisang, 2 yakult, TOP & Kitkat (dibajak ibunya), kue macam pancake dan 3 kentang kecil sebagai main menu, pudding, kue muffin. 
Tray Z (children menu) lebih pesta pora lagi. Main menu-nya kue. Dapat coklat TOP dan Kitkat. Ya tentu aja coklat-coklatan tersebut langsung diumpetin ibunya. "Ini makanan ibu-ibu nak..." Wkwkwkwk kasihan kau Z. Yah daripada makin batuk, ya kaaan... Z pun dapat mainan kayu dari JAL.

Pokoknya memuaskan banget deh makanan selama perjalanan dari Jakarta ke Tokyo!

Sayangnya...
Sedikit cerita, saat penerbangan pulang dari Jepang, aku terlanjur memesankan Z children meal, sementara kami orangtuanya pesan Muslim meal. Beberapa menit sebelum boarding nama Z dipanggil petugas JAL. Dia menginformasikan dan memohon maaf, karena aku memesan children meal, ternyata children meal penerbangan dari Jepang isinya PORK :( And there's nothing they can do about that. Aku sudah ngga bisa menukar jenis makanan Z. Karena semua porsi makanan di pesawat sudah dihitung, dan pemesanan Muslim meal harus jauh hari sebelumnya. Jadi terpaksa aku menerima saja Children meal Z tapi minta main menu-nya disingkirkan dari tray sebelum disajikan ke Z.

Ketika akan disajikan di pesawat, pramugari pun berbicara padaku sambil menunjuk satu persatu makanan yang tersisa di tray Z. Sekotak pudding, pramugari bilang ada krim dari susu, namun dia ga yakin bahan-bahan pudingnya. Lalu ada kue kemasan, pramugari pun bilang info yang tertulis hanya No Milk dan No Egg (dalam bahasa Jepang). Lalu apa dong yang bisa dimakan Z?? Buah aja :)))

Nyesek yakkk cuma buah yang bisa dimakan. Plus air putih denk. Dan dari Jepang ini nggak ada yakult yang dibagikan (padahal udah berharap hehehe).

Pada akhirnya Z makan sebagian porsi chicken curry-ku. Meski agak pedas, namun Z doyan-doyan aja. Oiya selama di Jepang flu-nya membaik, jadi ketika perjalanan pulang, Z sudah suka makan :)

Tray Muslim Meal dalam penerbangan Tokyo-Jakarta. Semua berlabel halal, sampai di bagian belakang roti pun ada labelnya.

Jadi, note untuk bapak ibu muslim: kalau penerbangan dari luar negeri, pesankan saja Muslim Meal untuk anak Anda! Karena Children meal belum tentu halal...

BTW dari Tokyo ke Jakarta kami yang muslim dikasih dessert mangga potong, sementara penumpang lain dessertnya 1 cup eskrim Haagen Dasz... Waaaa... ngiler dan nyesek juga. Apa Haagen Dazs ga halal yakkk... Pokoke kesan-kesan naik JAL pulang dari Jepang nggak sebagus ketika berangkatnya deh... Karena urusan makanan :p

Review JAL - Japan Airlines

Enaknya naik JAL adalah leg room yang cukup luas meskipun di kelas Economy. Ada TV sebagai hiburan, dengan berbagai pilihan film box office atau kartun anak-anak. Minuman terus ditawarkan selama perjalanan, jadi nggak khawatir kehausan. Ada green tea, jus buah kemasan, teh, kopi... Menurutku dengan harga promo yang kami dapatkan (PP Rp 4juta per orang), perjalanan ini worth it! Karena nggak pakai transit sudah bisa sampai ke Tokyo. Jatah bagasi pun 30 kg per orang.

Yang paling aku suka adalah, ketika tiba di bandara Narita, stroller yang saat boarding dititipkan di pesawat, sudah siap di garbarata (bukan di conveyor bagasi ya!) Jadi anak sudah bisa duduk di stroller (dan tas diaper bag ibunya sudah bisa lepas dari punggung alhamdulillaaah) begitu tiba di Narita. Sangat nyaman sekali :)

Tuh jarak dari lutut ke kursi depan masih jauh! Suami yang kakinya panjang pun mengakui leg room JAL cukup luas dan nyaman buatnya.

Bandara Narita ke Tokyo dengan NEX

Bandara Narita itu sangat jauh dengan kota Tokyo-nya. Kami pilih beli tiket return NEX (kereta Narita Express), seharga 4,000 Yen. Harga itu lebih hemat daripada kalau beli tiket NEX sekali jalan (3,000 Yen). Kereta yang berhenti di Shinjuku ada pukul 18an malam, jadi kami menunggu sekitar 1 jam di stasiun dalam Narita.

Perjalanan didefinisikan Z sebagai, "Nggak sampe-sampe.." Karena ditempuh sekitar 1 jam lebih dalam kondisi badan capek, batuk pilek, dan nggak ada pemandangan (sudah gelap). Bosan!

Sesampainya di stasiun Shinjuku, kami langsung beli tiket ke Shinjuku Sanchome, stasiun terdekat dengan apartemen kami. Perjalanan keluar dari St. Shinjuku Sanchome harus ditempuh dengan tangga, sambil angkut koper, stroller, disambut angin kencang dan hujan rintik. Untung restoran yang kami incar berada sangat dekat dari pintu keluar stasiunnya.

Makan Malam di Ain Soph, Vegetarian Restaurant

Ada beberapa restoran halal dan halal-friendly di daerah Shinjuku, salah satunya Ain Soph yang merupakan restoran vegetarian. Kafenya kecil dan unik, suasananya hangat. Menu-menunya berbasis sayuran. Sayang masih menyediakan minuman beralkohol, jadi hati-hati kalau pesan minuman. Mending pilih air putih, teh, atau real fruit juice saja.


Ini dia menu pilihan kami. Harganya? Cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia. 1000-2000 Yen untuk 1 jenis makanan. Rasanya lumayan enak, tapi nggak ngangenin. Kembali kesana kedua kalinya? Hmmmm, nggak dulu deh. Berhubung kami bukan vegetarian, kami lebih ingin kuliner halal dengan protein hewani :P

Pesan ini untuk dimakan berlima. Gorengan (sepertinya terbuat dari tempe), sup tomat dan sayur, green curry, tofu omelette.

Going To The Apartment (AirBnB)

Di perjalanan menuju apartemen kami membeli payung transparan khas Jepang. Harganya sekitar 5000-6500 Yen (1 Yen = Rp 120) di minimarket. Bukan karena pengen gegayaan, tapi memang hujan sudah makin deras dan ramalan cuaca mengatakan akan banyak hujan dalam seminggu ke depan.

Alhamdulillah sampai apartemen bisa langsung mandi dan istirahat. Namun, Z malam itu sangat rewel dan menangis sepanjang malam. Sampai gendong-gendong, pindah tidur dari kamar ke sofa ruang tengah, pindah lagi ke kamar... Sedih deh. Keesokan harinya ibu mertua pun bilang kalau malam itu beliau sampai mbrebes mili dengar Z nangis. Pingin keluar kamar bantu nenangin, tapi takut malah jadi ga bisa tidur Z-nya. Namanya anak sakit kan cuma mau digendong ibunya ya...

Ketika pagi tiba (hari Minggu), Z masih tidur pulas, kami pun tenang melihatnya. Istirahat yang cukup ya nak... Ramalan cuaca hari Minggu itu hujan. Apakah kami di apartemen saja atau nekat jalan-jalan?

Bersambung ke episode berikutnya yaaa :)

Senin, 23 Oktober 2017

Arisan Resik: Tidak Tabu Membicarakan Kebersihan Wanita

Assalamu'alaikum buibuk!
Kalau membicarakan tentang kebersihan area kewanitaan, rasanya... hmmm... agak risih nggak sih? Kalau ada masalah mau ditanyakan ke siapa? Ke teman, malu... Ke dokter kandungan? Effort dan biayanya cukup besar. Ke internet? Banyak informasi yang kurang jelas kebenarannya.


Makanya aku senang sekali waktu hadir di Arisan Resik "Wanita Shalehah: Cantik Resik, Pandai Merawat Diri". Di acara ini hadir 2 pembicara spesial, dr. Rino Bonti Tri H. Shanti, Sp.OG yang membicarakan kebersihan area kewanitaan dari sudut pandang kedokteran, dan Nadiah Fatimah, yang membahasnya dari sudut pandang Islami.

Salah satu masalah yang membuat wanita banyak ke dokter kandungan (selain karena hamil tentunya, hihihi) adalah masalah keputihan. Sebetulnya area kewanitaan pasti akan mengeluarkan cairan fisiologis pada waktu tertentu misalnya saat masa subur atau mendekati haid. Selama cairan yang dikeluarkan bening, tidak gatal, dan tidak berbau, berarti tidak ada masalah. Namun apabila ada tanda-tanda infeksi kuman, jamur atau bakteri, kita harus segera mencari solusinya.

Ketika keputihan disertai rasa gatal, berbau busuk dan menyebabkan kemerahan atau rasa panas dan nyeri, harus diwaspada karena merupakan pertanda infeksi vagina. Infeksi vagina dapat disebabkan jamur (kandida), bakteri yang berbahaya, atau parasit trikomoniasis. Infeksi di vagina dapat berlanjut sampai ke saluran indung telur dan menyebabkan sumbatan. Keputihan juga berkaitan dengan infeksi menular seksual, dampak penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim atau karena kegananasan/kanker.


Untuk merawat area kewanitaan, dr. Rino Bonti, Sp.OG memberikan beberapa tips ini:
  • Selalu membersihkan area kewanitaan dari arah depan ke belakang karena urutan posisi miss V, saluran kencing, dan anus yang berdekatan dari depan ke belakang. Kalau dibersihkan dari belakang, dikhawatirkan ada kuman-kuman dari anus yang terbawa ke arah miss V.
  • Keringkan area kewanitaan dengan handuk atau tissue. Jangan basah-basah langsung dipakaikan dalaman ya sis! Nanti jadi lembab memicu tumbuhnya jamur.
  • Hindari pembersih area kewanitaan yang bersifat antiseptik membunuh kuman, karena justru akan mematikan flora alami yang baik. Antiseptik digunakan jika ada masalah berat dan bukan untuk penggunaan harian.
  • Rutin mengganti pembalut atau pantyliner 3-6 jam sekali walaupun kelihatannya tidak basah.
  • Gunakan pakaian dalam katun dan jangan pakai celana yang terlalu ketat.
  • Cuci dan keringkan pakaian dalam secara terpisah.
  • Ketika sedang traveling dan tidak tersedia air bersih untuk membilas sehabis buang air kecil, cukup gunakan tisu yang telah dibasahi air biasa. Lalu dilap dengan tisu kering.

Menjaga agar area kewanitaan tidak lembab merupakan cara yang paling diutamakan agar tidak menjadi tempat tumbuhnya jamur dan bakteri. Makanya, penting sekali untuk mengganti pakaian dalam atau pantyliner dan pembalut secara berkala (meskipun tidak terasa basah). Apalagi kalau sudah terasa basah. Cepat-cepat diganti yaaa buibuk!

Islam sangar mencintai kebersihan, buktinya dalam ilmu fikih, bab thaharah merupakan salah satu yang wajib dipelajari. Wanita pun wajib menjaga kebersihan dirinya terutama area kewanitaan. Minimal sekali dalam 40 hari, cukur dan rapikan rambut yang tumbuh di area kewanitaan agar terjaga kebersihannya.

Psssst... area kewanitaan yang sehat merupakan salah satu sumber keharmonisan rumah tangga lho. Coba kalau si istri sedang keputihan dan gatal-gatal berbau... Harus cepat ditangani ya! Rumah tangga harmonis, istri disayang suami. Suamilah kunci surganya istri.

Pesan untuk ibu-ibu: dandan cantik jangan ketika mau keluar rumah saja ya! Menyambut suami di rumah, istri juga harus cantik dong :)


Di Arisan Resik, kami jadi tau kalau Resik V Godokan Sirih merupakan produk yang sangat baik untuk merawat area kewanitaan karena PH-nya yang sesuai. Dibuat dari rebusan daun sirih asli seperti resep nenek moyang kita, ibu-ibu jadi praktis nggak harus membuat air rebusan sendiri. Aman digunakan setiap hari dan higienis. Apalagi sekarang Resik V Godokan Sirih sudah mendapatkan sertifikat halal, sehingga makin membuat kita tenang untuk menggunakannya.

Menurut saran dr. Rino Bonti, untuk masalah keputihan ringan, cukup rajin mengganti pakaian dalam dan menjaga area kewanitaan agar kering, dan boleh gunakan Resik V Godokan Sirih saja (tidak perlu cairan antiseptik pembunuh kuman). Namun jika keputihan sudah sangat mengganggu aktivitas, sebaiknya segera ke dokter kandungan untuk mendapatkan treatment yang tepat.

Senang banget deh dapat banyak informasi bermanfaat di Arisan Resik kemarin. Di sesi tanya jawab, baru sadar ternyata banyak banget yang pernah mengalami keputihan yang mengganggu. Akupun dulu begitu ketika hamil baby Z. Keputihan parah dan gatalnya mana tahan... Ternyata kita nggak sendirian!

Horee ketemu teman-teman kabinet IHB! Foto dari kamera Ola.

Semua peserta Arisan Resik. Kami juga dapat hampers Resik V, alhamdulillah! Foto dari kamera Ola.

Alhamdulillah dapat 3 botol Resik V dari acara Arisan Resik, jadi bisa langsung dicoba setelah sampai di rumah. Ukuran botolnya cukup oke dibawa ketika traveling. Isinya cair seperti rebusan sirih asli (bukan kental ala sabun). Mudah sekali digunakan, cukup basuhkan dan bilas setelah buang air kecil. Sangat oke digunakan di masa haid supaya terasa lebih bersih. Wanginya lembut seperti rebusan sirih dan ada harum bunga kenanga. Nggak perlu deh petik-petik dan rebus-rebus daun sirih :D


Jadi, siapa yang mau mulai stok Resik V di rumah nih? Dijamin banyak manfaatnya dunia akhirat ya buibuk, hihii...

#mengatasikeputihan
#manfaatdaunsirih
#resikVgodokansirih
#keputihan

Senin, 09 Oktober 2017

6 Tips Memandikan Bayi Saat Traveling

Assalamu'alaikum!
Traveling itu menyenangkan, semua pasti tahu. Kalo traveling bersama bayi, nah, itu baru tantangan. Betul nggak? Terutama buat ibu baru (seperti aku dulu). Semua barang perlengkapan bayi rasanya harus dibawa. Selamat tinggal era kejayaan backpacking di masa muda, selamat datang koper, stroller, dan diaper bag!

Baby Z pertama kali traveling di usia 7 minggu. Nggak jauh-jauh, dari Jakarta, kami hanya ke Bandung aja naik mobil. Jangan tanya gimana repot bawaannya. Seperti orang mau pindah rumah! Diapers, handuk khusus bayi, sampai baju satu lemari sepertinya kubawa semua.


Pertanyaan berikutnya adalah, haruskah aku bawa bak mandi bayi?? Semua yang baca ini pasti berkomentar, rempong amat sis?? Hahaha... Bagasi mobil jelas nggak muat lah kalau bawa bak mandi segala. Lalu gimana cara memandikan bayi ketika traveling dan menginap di hotel? Apakah bisa senyaman memandikan bayi ketika di rumah sendiri? Ini dia rangkuman tips dari pengalaman selama beberapa kali baby Z pergi-pergi :)

1. Bawa Perlak, Handuk dan Waslap
Dimana ada meja/alas datar, disitulah kita bisa memandikan bayi. Aku biasa memanfaatkan space mendatar di samping wastafel untuk menidurkan baby Z, lalu memanfaatkan gelas hotel untuk tempat air sabun. Bayi diseka-seka air sabun, ganti waslap air hangat, bersih deh bayinya :D

Alternatif lain, kamu bisa bawa produk bernama Baby Bather, sejenis kursi jaring untuk memandikan bayi. Tapi dulu baby Z nggak mau dimandikan di situ, akhirnya nggak terpakai. Bayimu bisa aja berbeda, mungkin dia anteng di bather.

Handuk bawa sendiri karena jaga-jaga handuk hotel hanya cukup untuk mandi bapak ibunya bocah. Handuk juga bisa dijadikan lapisan alas untuk memandikan bayi agar lebih empuk daripada hanya perlak saja. Plus, higienitas handuk yang dibawa sendiri lebih terjamin karena kita tahu deterjennya apa. Terutama buat kulit bayi yang masih sensitif.

Usia bayi dimandikan di perlak: sebelum 6 bulan atau selama masih mau ditidurkan

2. Manfaatkan Wastafel Sebagai Bak Mandi
Kalau wastafel ada penutupnya, bisa tuh diisi air hangat dan jadi bak mandi. Alasi wastafel dengan handuk kecil supaya nggak licin. Pegangi bayi supaya aman, dan hati-hati supaya bayi nggak kejedot kran air, ya.
Kadang aku mengkombinasikan tips 1 dengan tips 2 ini. Badan bayi disabuni dulu di atas perlak, lalu cemplung wastafel. Selesai mandi, bayi dibawa ke perlak lagi untuk dilap handuk kering.


Usia bayi dimandikan di wastafel: sebelum 8 bulan atau sebelum rusuh mau berdiri-berdiri. Agak bahaya kalau minta berdiri di wastafel.

3. Mandi di Shower / Bathtub Bersama Ortu
Cara ini dilakukan kalau sedang kepepet waktu terbatas, bocahnya sudah cukup aktif, nggak mau disabunin sambil tiduran. Gendong di shower, oles-oles sabun dan guyur air. Yang menggendong pun ikutan mandi deh, bersih dua-duanya. Atau, ikut berendam di dalam bathtub bersama bapak/ibu. Catatan: harus ekstra hati-hati ketika menggendong bayi dalam keadaan licin dan basah.

Lebih sip lagi kalau ada emak bapaknya lengkap. Ortu satu bagian nyabunin bayi, ortu satunya mandi duluan (basah). Lalu bayi diberikan pada ortu yang basah, dan selesainya bayi dihandukin ortu yang nggak ikut mandi (kering).

Usia bayi: kurang dari 1 tahun - karena setelah 1 tahun sebaiknya bayi nggak mandi bersama.ortu terutama yang berbeda jenis kelamin (misal bayi laki mandi bersama ibu)

4. Ketika Bocah Sudah Bisa Berjalan, Mandi di Mana Saja
Paling terasa mudah, memandikan bayi ketika ia sudah bisa berjalan! Ajak ia berdiri di bawah shower, sabuni, dan guyur shower. Semudah itu, hehehe. Tapi tetap harus dijaga agar anak nggak terpeleset di lantai kamar mandi yang licin, ya!

Usia bayi: di atas 1 tahun atau ketika sudah bisa berjalan

5. Tanya Resepsionis Apakah Ada Fasilitas Peminjaman Alat Mandi Bayi
Di beberapa hotel besar, ternyata kita bisa meminjam bak mandi bayi lho! Dulu saat menginap di Alila Solo, aku baru tahu di hari terakhir menginap, kalau mereka menyediakan bak mandi bayi asalkan kita memintanya. Setelah request, tiba-tiba ada bak mandi putih datang ke kamar. Telat ya tahunya, hanya sekali pakai deh!

Sayangnya pada kesempatan berikutnya ke hotel yang sama, bak mandi bayinya sedang full dipakai kamar-kamar lain. Memang saat itu kondisi hotelnya sedang full booked. Jadi daripada harus kecewa, terapkan lagi tips nomor 1-4. Akhirnya kumandikan baby Z di wastafel :)

6. Bawa Sabun yang Cocok Untuk Bayi
Urusan toiletries, terus terang beberapa kali aku menyepelekan. Pikirku, ketika traveling, beli saja sabun bayi yang ada di minimarket terdekat, toh traveling hanya beberapa hari. Pernah juga karena 'sudah cukup besar' dan aku nggak bawa sabun bayi, sabun hotel pun jadi deh untuk memandikan Z (jangan ditiru ya emak-emak yang budiman!).

Ternyata pasca traveling kulit baby Z jadi sering ruam! Di bagian kakinya muncul bruntusan kecil-kecil karena kulitnya kering. Bisa jadi karena efek AC hotel yang bikin kulit kehilangan kelembaban alaminya. Jangankan bayi, kulit kita orang dewasa aja jadi kering 'kan di ruangan ber-AC. Ditambah lagi aku pakai sabun bayi sembarangan yang belum tentu PH-nya sesuai dan bikin kulit baby Z makin teriritasi. Maafkan keteledoran ibu ya nak!


Alternatif sabun yang oke banget untuk kulit bayi yang sensitif adalah Lactacyd Baby. #LactacydBaby merupakan brand internasional yang terpercaya untuk menjaga kulit bayi dari iritasi ringan karena kandungan alami dari ekstrak Susu serta formulasi dengan pH yang sesuai dengan kebutuhan kulit bayi.

Lactacyd Baby sudah teruji secara dermatologi dan bisa digunakan setiap hari. Jadi ibu-ibu nggak perlu kuatir kelembaban kuliy bayi terkikis oleh sabun yang sifatnya bikin kulit kering. Nggak salah kalau Lactacyd Baby jadi #BabySkinExpert yang benar-benar mengerti kebutuhan kulit bayi.

Nah buat traveling, ada lho kemasan Lactacyd Baby 60 ml. Jadi nggak ada masalah kalau dibawa naik pesawat. Aturan maskapai terutama untuk penerbangan ke luar negeri 'kan membatasi jumlah cairan yang dibawa, maksimum 100 ml per botol.
Beli Lactacyd Baby bisa di apotek, sekalian beli peralatan tempur ketika liburan seperti vitamin buat ibunya dan minyak telon untuk dibawa pergi.

Dengan persiapan yang cukup, traveling sama bayi nggak perlu dibawa rempong. Kalau buat aku, kuncinya ada di perlak (sebelum anak bisa dimandikan sambil berdiri), handuk katun bayi, dan sabun buat bayi. Gimana dengan ibu-ibu? Adakah pengalaman unik waktu mandikan bayi saat liburan?

Selasa, 26 September 2017

Ohana, Hanamasa! Resto Favorit Keluarga

Assalamu'alaikum! Hari Selasa lalu, aku hadir di acara #HanamasaMeetUp. Alhamdulillah bisa makan sepuasnya bareng si bocil :) Rasanya sudah lama sekali nggak makan all you can eat di Hanamasa, terakhir sepertinya sebelum hamil baby Z, sampai kini ia hampir berusia 2 tahun. Lama ya! Seketika, Hanamasa pun membangkitkan kenangan indah di masa lalu sama keluarga.


Blogger-blogger #HanamasaMeetUp

Sedikit Nostalgia di Hanamasa...

Kalau ingat resto Hanamasa, aku jadi ingat masa lalu. Saat-saat masih muda, tinggal bersama bapak ibu dan adik di Surabaya.

Dulu, nggak banyak pilihan restoran All You Can Eat di Surabaya. Hanamasa menjadi salah satu pionir resto Jepang makan sepuasnya. Kami sekeluarga tentunya penasaran dengan resto yan berdiri megah di jalan Gubeng Surabaya, apalagi makanan Jepang sedang mulai populer di awal tahun 2000-an.


Setelah mencoba, ternyata kualitas bahan-bahannya segar, rasanya pun enak! Nggak lama, resto ini jadi resto favorit yang dikunjungi minimal setahun sekali tiap ulang tahun perkawinan bapak ibu di bulan September. Senangnya aku dan adik di masa remaja ditraktir makan besar sama bapak ibu :')

Di masa itu, tahun 2000-an awal, kalau nggak salah sekali makan di Hanamasa harganya masih sekitar Rp 75.000 per orang (lihat betapa tingginya inflasi yang terjadi di Indonesia yaa!). Tapi harga segitu pun jaman dulu tergolong nggak murah lho, meskipun sebenarnya harganya masuk akal dengan banyaknya makanan yang bisa dinikmati. Makanya kalau makan di Hanamasa, kami selalu luangkan waktu minimal 2 jam supaya bisa puas masak dan makan-makannya. Dalam waktu 2 jam tersebut, tentunya kami jadi bisa duduk semeja bersama dan ngobrol lebih lama. Quality time yang sangat menyenangkan sama bapak ibu dan adik.

Balik lagi ke #HanamasaMeetUp, kali ini aku ke Hanamasa bukan dengan keluarga, tapi dengan teman-teman blogger. Di acara ini, selain makan sepuasnya, kami juga jadi tahu beberapa kisah Hanamasa.

Kenapa Harus Makan di Hanamasa?

Yang pertama, adalah karena dagingnya sangat segar! Ternyata Hanamasa punya peternakan sendiri, dan perjalanan daging sapi dari pemotongan hingga sampai ke meja restoran dipastikan kurang dari 24 jam. #AwaliKesegaranMoo jadi slogan terbaru Hanamasa, karena sapi-sapi Moo yang sudah pasti segar!


Hanamasa cocok banget buat kita yang mau quality time bersama keluarga. Sambil masak sambil mengobrol. Berbagi tugas siapa yang masak siapa yang ambil bahan makanan. Seru deh :) Bahkan bagi yang nggak bisa masak sekalipun, pasti bisa memasak yakiniku dan shabu-shabu enak di restoran ini. Suasana yang nyaman di restoran juga bikin kita betah menikmati proses masak dan makan sepuasnya.


Oiya ada yang seru juga di Hanamasa. Kita bisa download app Augmented Reality Hanamasa di Google Play untuk bermain bersama sapi Kimo #awalikesegaranmoo. Sayangnya ketika aku berusaha log in, apps-nya error di HP-ku. Aih sayang yaaa, padahal penasaran.



Apa Aja yang Bisa Dimakan Sepuasnya di Hanamasa?

Umumnya, yang ke Hanamasa pasti kepingin makan yakiniku atau shabu-shabunya yang legendaris (cieh bahasanya legendaris amat, situ anak taun 90-an? Iya! Hihihii). Tapi selain yakiniku dan shabu, banyak banget lho yang bisa dinikmati.



Yakiniku, merupakan menu panggang-panggangan ala Jepang. Kita bisa ambil daging sapi, daging ayam, ikan, atau olahan daging untuk dipanggang di atas alat pemanggang Hanamasa yang telah dilumuri lemak daging. Sebelum daging ditata di panggangan, celupkan dulu ke saus niku tare (saus berwijen). Setelah dipanggang, celupkan ke saus soto tare (saus tanpa wijen). Sedap!

Menunggu kuah shabu-shabu mendidih sebelum memasukkan sayuran segar ke dalamnya

Untuk Shabu-shabu, kita bisa ambil sayur-sayuran, aneka jamur, bola-bola seafood alias bakso, hingga daging segar. Tinggal cemplung ke kuah shabu yang sudah disediakan. Menu shabu-shabu bisa jadi pilihan bagi orang tua atau kamu-kamu yang sedang diet, karena selain metode memasaknya rebus-rebusan berkuah, kita juga otomatis jadi banyak makan sayur :).



Ada pula area Robatayaki, yaitu sate-satean atau barbeque ala Jepang. Ada petugas Hanamasa yang spesial memanggang makanan untuk kita. Di sini kita bisa pesan aneka makanan bakar-bakaran seperti onigiri bakar (wajib coba! Baby Z doyan lho!), daging ayam, sosis bakar, juga jamur enoki gulung daging yang juga sedap. Oiya, di area ini juga ada tempura yang renyah dan enak. Wajib dicoba sambil menunggu masak-masaknya matang :)

Hidangan Pembuka juga tersedia lho, ada salad dan asinan. Letaknya di meja buffet daging yakiniku dan shabu-shabu. Kalau aku sih memilih skip hidangan pembuka supaya ada space kosong di perut buat aneka daging-dagingan hahaha. Tapi kalau mau lebih sehat memang sebaiknya nggak absen makan sayur, entah dari salad atau dari shabu-shabu Hanamasa :D

Ada yang berbeda dari pengalamanku makan di Hanamasa jaman dulu dan sekarang: Nasi-nya boleh ambil sendiri! Kalau dulu, nasi sudah diambilkan semangkuk untuk seorang. Kadang ada yang kurang, atau malah ada yang nggak kemakan karena lebih fokus makan lauk pauk. Dengan mengambil nasi sendiri, kita yang tahu berapa banyak porsi yang sanggup dihabiskan. Nasinya pulen! Nikmat banget dinikmati bersama daging panggang yakiniku, hmmm sedaaap..


Minuman dan Dessert di Hanamasa FX kemarin juga bebas dinikmati sepuasnya. Ada teh tarik yang bikin aku bolak-balik tambah... Sampai Z pun ikutan minta (kalau buat Z aku encerkan lagi dengan air putih yang banyak hehehe). Ada juga es cappucino buat kamu pecinta kopi. Selesai makan gurih, pasti pengen yang manis. Kita juga bisa makan pudding atau meracik minuman es sesuai selera misalnya diberi cincau, sirup, kolang-kaling dan aneka topping sesuka hati.

Mari masak, Z!

Seru 'kan makan di Hanamasa??

Meskipun demikian, ada yang kurang ketika kemarin aku ke #HanamasaMeetUp... Yang kurang adalah... keluarga! Hiks! Jadi kangen makan bareng keluarga, lho!! Suamik, bapak, ibu, adek, ayo ke Hanamasa lagi yok! Aku belum puas makan, terutama karena kemarin sambil jagain Z sendirian, jadi berasa kurang kenyang hahahaha. (BTW makasih lho tante Ola & Rommiy yang semeja, sempat jagain Z ketika emaknya melipir ambil daging dan sayur)

Ohana means Family. Kalo Hanamasa... means my Favorite Family Restaurant since my early teen age. Kapan terakhir kamu ke Hanamasa? Apa hidangan yang paling kamu suka di sana?